Bodhisatva Mengenakan Topi

Bodhisatva Mengenakan Topi

(Erabaru.or.id) – Pada zaman dahulu kala, di sebuah pedesaan di Jepang tinggalah sepasang suami-istri tua yang ramah. Meskipun mereka bekerja dengan tekun dan rajin, namun tetap saja sangat miskin, dan nyaris tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup untuk makan 3 kali sehari. Pada suatu hari, si nenek memberitahu pada si kakek: “Suamiku, besok sudah datang tahun baru, tetapi coba lihat gentong tempat beras kita, hanya tersisa sedikit ketan, dan itu hanya cukup untuk sesuap nasi saja. Jika begini terus, harus bagaimana baiknya?”

Saat itu, ekspresi muka kakek tampak murung, dan terhadap tahun baru yang akan segera tiba, sedikit pun tidak merasa bahagia. Di saat itu juga, tiba-tiba nenek menemukan beberapa daun di sudut rumah, sisa daun yang pernah dipakai dulu, nenek saat itu juga merasa optimis kembali, dan mengatakan, “Suamiku, coba lihat begitu banyak daun, mengapa tidak kita manfaatkan daun-daun ini dan dirajut menjadi topi? Dengan demikian, bisa dijual di pasar, dan bisa membeli beberapa beras ketan! Bagaimana menurutmu?” Sang kakek menjawab, “Ehm, benar-benar sebuah ide yang bagus!”

Lalu, mereka segera mulai merajut topi, dan dengan susah payah, akhirnya mereka berhasil membuat 5 buah topi, kemudian si kakek berkata, “Ehm, dengan demikian, saya bisa membawanya ke pasar dan menjualnya di sana. Setelah mendapatkan uang, saya akan membeli sejumlah beras ketan, juga wortel dan sayur-mayur atau apa saja!”

Lalu, nenek mengikat topi-topi itu dan menyerahkan pada sang suami untuk dipikul, dan dengan diiringi kata perpisahan si istri, sang kakek melangkah keluar pintu, pergi ke pasar menjual topi. Saat itu, di luar salju turun sangat lebat, di atas permukaan tanah telah tertimbun selapisan salju yang tebal. “Suamiku! Kamu harus baik-baik membawa diri, hati-hati di jalan, ya!”

“Ya, saya tahu.” Kakek mulai berangkat seusai berkata, sembari jalan, kakek melihat 6 orang berdiri di depan, ia menghampiri dan begitu melihat, “Oh! Ternyata Bodhisatva! Kenapa di atas kepalanya dipenuhi dengan timbunan salju?” Sambil berkata, kakek lalu membuang timbunan salju di atas kepala Bodhisatva. “Saya mau ke pasar menjual topi. Setelah ada uang, saya akan membeli sejumlah beras ketan untuk membuat kue tahun baru untuk dipersembahkan pada para Bodhisatva. Namun, sekarang terpaksa saya hanya bisa menggunakan salju-salju ini membuat bola salju untuk dipersembahkan pada Bodhisatva, dan mohon pada para Bodhisatva untuk bersabar sejenak!”

Seusai berkata, si kakek lalu memungut salju, dan dijadikannya bola salju, kemudian satu per satu bola-bola salju itu diletakkan di hadapan Bodhisatva. Dan dengan tulus diam-diam ia berdoa sejenak, melihat waktunya juga sudah tidak pagi lagi, lalu segera merapikan sejenak bekalnya, kemudian segera berangkat.

Si kakek tiba di pasar yang ramai dikunjungi orang yang hilir mudik. Di saat itu, segenap pasar disibukkan dengan tamu yang membeli barang-barang untuk kebutuhan tahun baru. “Ayo! Ayo! Wortel, wortel putih semuanya ada! Dan sayur-mayur serta buah-buahan berkualitas tinggi! Serba ada, ayo, cepat beli!” Suara teriakan penjual di sana-sini.

Melihat seruan yang demikian bersemangat sejumlah pedagang kios yang menjual sayur-mayur maupun beras, si kakek juga ikut berteriak, ”Maukah membeli topi bermutu tinggi, ayo cepat beli! Topi bermutu tinggi!” Sekalipun kakek berteriak dengan bersemangat, namun pada malam tahun baru ini, siapa sih yang mau membeli topi? Setelah cukup lama menunggu, tidak seorang pun yang datang. Orang-orang semuanya hampir mengenakan topi untuk bepergian, sebab salju benar-benar sangat lebat. “Yah! Jika seperti ini tidak laku terjual, saya rasa untuk membeli beras atau sayur-mayur pun tidak bisa lagi. Dan jika nenek melihat saya pulang dengan tangan hampa, pasti sangat kecewa!”

Kakek menarik napas panjang, melamun memandangi pejalan kaki yang berjalan tergesa-gesa, sedikit pun tidak ada cara lain dalam benaknya. Demikianlah, tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri, Matahari sudah terbenam, langit pun mulai menjadi gelap. Dan para pedagang kaki lima yang menjual sayur-mayur serta beras juga telah menutup kiosnya, bersiap-siap pulang ke rumah untuk merayakan tahun baru. Berangsur-angsur pejalaan kaki di pasar perlahan-lahan mulai bubar, hanya sisa jalan raya yang lengang dan sunyi.

Dengan langkah kaki berat, si kakek yang kecewa dan kelelahan berjalan pulang di jalan yang tertimbun salju tebal itu. Dan di saat demikian, sayup-sayup kakek mendengar suara lonceng “tang! tang!” yang berasal dari kuil, purnama juga mulai naik ke paraduannya. “Oh, suara lonceng dalam kuil bergema, tahun ini telah berakhir. Saya harap, semoga tahun depan akan menjadi sebuah tahun yang baik.” Dengan diam-diam kakek berdoa dalam hatinya. Seorang diri ia berjalan dalam kesendiriannya, berjalan, dan berjalan, dan akhirnya dengan susah payah baru tiba di sekitar pedesaan.

Ketika kakek menengadahkan kepalanya, terlihat lagi Bodhisatva bumi di siang hari itu, dan salju kembali menutupi kepala mereka. Lalu, kakek menjulurkan tangan yang sudah membeku, dan mulai membersihkan satu demi satu tumpukan salju di atas kepala mereka. Di saat itu, karena saking laparnya tenaga kakek hampir tidak ada lagi.

“Oh! Bodhisatva, hari ini tidak satu pun topi saya yang terjual, semula bermaksud membeli sejumlah kue tahun baru untuk dipersembahkan pada kalian, namun sekarang tidak bisa lagi. Mohon kalian maafkan, kini hanya tinggal sejumlah topi ini, jika tidak keberatan, biarlah saya mengenakan topi ini di atas kepala kalian saja!” Lalu satu demi satu kakek mengenakan topi-topi itu ke atas kepala Bodhisatva, sekaligus mengikat talinya. Namun, ternyata topinya hanya berjumlah 5 buah, padahal ada 6 sosok Bodhisatva, sekarang bagaimana baiknya?

Kakek merenung cukup lama, dan akhirnya terpikirkan olehnya untuk melepas kain di atas kepala yang ia kenakan untuk dipakaikan pada Bodhisatva tersebut. “Ehm, kini selesailah sudah, 6 Bodhisatva semuanya telah ada topinya.”

Sambil berpikir, kakek melepaskan kain kepalanya dan dikenakan pada Bodhisatva, namun kain kepala itu telah basah diguyur salju. “Waduh, apa boleh buat, mau tidak mau meminta Bodhisatva tahan sejenak.” Dengan demikian, 6 buah kepala Bodhisatva tidak perlu merasa kedinginan lagi. Kemudian, kakek berlutut di atas tanah, lalu membuat 6 buah bola salju, dan satu per satu dipersembahkan di hadapan Bodhisatva, setelah itu ia pulang ke rumah.

Si kakek yang kain kepalanya telah dipersembahkan pada Bodhisatva, membiarkan kepalanya sendiri menjadi putih ditutupi salju. Dan dengan suara nyaring ia berkata: “Nek! Saya pulang!” Nenek bergegas keluar dari dalam rumah, “Saya telah membuatmu susah, suamiku. Apakah topi-topi itu sudah habis terjual?” “Semuanya telah lepas tangan,” jawab kakek, lalu ia menceritakan secara rinci semua kejadian yang terjadi hari ini kepada nenek, ia masih merasa cemas nenek bisa marah. Namun tak disangka malahan nenek tersenyum, sedikit pun tidak marah. Dan kakek merasa sangat aneh.

“Itu kan hal yang baik! Kamu telah melakukan hal yang baik, bagaimana saya bisa marah? Hanya sayangnya, kita tidak memiliki gulungan beras ketan untuk dipersembahkan kepada Bodhisatva, angin dan salju yang demikian besar di luar, tidak sampai sakit kedinginan kan? Cepat pergi ke tungku api menghangatkan badan, jangan sampai sakit nanti,” ujar si nenek.

Anak-anak sekalian, coba kalian lihat, melihat kakek pulang dengan tangan hampa, si nenek bukan saja tidak marah malah memuji kakek telah melakukan hal yang baik. Dengan tanpa pamrih sepasang suami-istri tua ini membantu orang lain, namun bagi mereka sendiri, bagaimanakah harus melalui tahun baru yang tanpa makanan? Baiklah, mari kita dengarkan kelanjutannya.

“Ini adalah tahun baru tanpa kue tahun baru,” kata kakek kepada nenek. Akhirnya, untuk melewati tahun baru, mereka terpaksa hanya makan sayuran yang telah diawetkan dan dicampur dengan bubur.

Di saat itu, kakek mempunyai ide baru lagi, ia mengatakan, ”Meskipun tidak ada beras, kita juga bisa berbuat seolah-olah sekarang sedang membuat kue tahun baru.” Lalu ia menepuk-nepuk dengkulnya sendiri dengan telapak tangan, dan nenek juga membuat gerakan seolah-olah sedang membuat kue tahun baru. Tepat di saat demikian, tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara “hayo! hayo!” dari luar. Ini seperti orang yang sedang menarik kereta luncur, suaranya sangat nyaring, pada saat bersamaan nenek dan kakek mendengarnya.

Mereka merasa sangat aneh, larut malam yang dingin membeku ini, siapa sih yang mau bekerja di luar sana? Lebih baik keluar untuk melihat-lihat. Ketika kakek hendak berdiri, tiba-tiba terdengar ada orang sedang bicara, “Hei, di manakah rumah kakek yang membantu saya mengenakan topi? Di manakah rumah sang kakek yang baik hati itu?” Ternyata, itu adalah 6 Bodhisatva yang dikenakan topi dan diikatkan kain kepalanya oleh kakek hari itu. Mereka menarik sebuah kereta luncur yang sangat besar dan perlahan-lahan menuju rumah kakek. Di atas kereta luncur banyak sekali beras, ketan, wortel, sayur-mayur dsb.

“Rumah kakek telah sampai, dan di sinilah kakek yang baik hati itu tinggal.” Setelah para Bodhisatva berkata, kereta luncur yang dipenuhi dengan muatan makanan itu lalu persis berhenti di depan pintu rumah kakek. Selanjutnya, para Bodhisatva menurunkan beras dan sayur-mayur yang ada di atas kereta luncur: “Heiyo! Heiyo!” Mereka terus berseru dengan berirama, setelah menurunkan semua makanan-makanan itu, kemudian mereka meninggalkan tempat tersebut sesuai jalan semula.

Kakek dan nenek membuka pintunya, namun dalam selintas itu, Bodhisatva telah lenyap tak berbekas, hanya meninggalkan jejak kereta luncur. Kakek dan nenek tercengang heran oleh kejadian yang datangnya tiba-tiba itu.

Di hadapan mereka terdapat banyak makanan yang bertumpukan bagaikan gunung. Dan menghadapi barang-barang yang dianugerahkan Bodhisatva, kakek dan nenek dengan tulus merapalkan telapak tangan mengucapkan terima kasih. “Terima kasih atas anugerah Bodhisatva, demi beberapa topi Bodhisatva mengantarkan hadiah, terima kasih banyak sang Bodhisatva.”

Setelah itu, mereka memasukkan hadiah-hadiah itu ke dalam rumah. Dan di saat demikian, nenek mengeluarkan perkakas untuk menanak nasi yang telah ditimbuni debu yang tebal-tebal itu, bersiap membuat kue tahun baru. Mereka juga memanggil semua orang yang berada di sekitar untuk datang bersama-sama menikmati makanan malam tahun baru yang sangat mewah itu.

Keahlian nenek sangat hebat, hanya dikarenakan miskin, selalu tidak ada kesempatan mempertunjukkan keahliannya, sekarang Bodhisatva menganugerahkan begitu banyak barang, baru mempunyai kesempatan mempertunjukkannya sejenak. Sambil menikmati makanan, semua orang mulai bernyanyi. Demikianlah mereka melewati tahun baru dengan bernyanyi dan menari.

Anak-anak sekalian, kisah mengenai Bodhisatva mengenakan topi berakhir sampai di sini. Kita benar-benar merasa gembira untuk si kakek dan nenek yang baik hati, sifat lahiriah mereka yang baik dan tindakan yang tulus mempersembahkan dan menaruh hormat pada Bodhisatva, telah mendapatkan balasan yang paling baik, dan inilah prinsip hukum mengenai kebaikan ada balasan baiknya.
by :Speed
(Cerita Fei-Fei, sumber: http://www.minghui.net)