Ojo Golek Jenang, Tapi Goleko Jeneng

Oleh: Diantika PW

“Goleko jeneng nembe jenang…”
Ojo Golek Jenang, Tapi Goleko Jeneng
PEPATAH Jawa ini sempat dipopulerkan Si Juru Kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan. Ungkapan yang dilontarkan Mbah Maridjan kala itu dimaksudkan untuk menyindir para politisi yang ingin berkuasa, tetapi belum populer di masyarakat. Jenang diartikan sebagai simbol kekuasaan, sedangkan jeneng simbol dari popularitas.
Pepatah kuno tersebut pun sebenarnya menjadi sebuah kiasan nasehat, bahwa untuk memperoleh rejeki (pekerjaan) orang harus bisa menjaga nama baik terlebih dahulu. Tak hanya mementingkan hasil, tetapi harus menunjukkan kinerjanya terlebih dahulu. Sebagaimana tertulis dalam Kitab Jaya Baya yang menggambarkan keburukan sifat sebagian besar manusia di zaman ini, “Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit.”
Setelah kewajiban dikerjakannya, dengan sendirinya ‘jenang’ itu akan didapatkan. Namun jika manusia itu tidak berusaha meraih prestasinya secara maksimal, maka sebaiknya juga tidak perlu mengharapkan sepotong ‘jenang’ legit tersebut. Artian jenang ini pun luas, bisa saja berbentuk pendapatan maupun kompensasi dari nilai kerjanya.
Meski begitu, pada kenyataannya, banyak orang yang belum punya jeneng, tapi sudah bisa menggasak berkarung-karung jenang. Orang tidak perlu lagi bersusah payah menunjukkan prestasi dan produktivitas kerja, namun memilih jalan singkat dengan korupsi demi keuntungan sebanyak-banyaknya. Payahnya, pernyataan kitab Jaya Baya pun terbukti, “Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran, akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin.”
Segala cara untuk menutupi kebusukannya itu pun di tempuh. Tidak heran, jika pencitraan pun terjadi di mana-mana. “Akeh pangkat sing jahat lan ganjil. Njabane putih njerone dhadhu.” Laiknya sindiran Filsuf Friedrich Nietsche, bahwa orang besar itu tidak akan ada, yang ada adalah orang-orang yang menciptakan citra ideal. Para komunikator politik dan pemimpin-pemimpin politik sangat lekat hubungannya dengan pencitraan.
“Golek jeneng nembe golek jenang” sebenarnya diartikan sebagai penyelarasan jiwa dengan hukum alam. Jika belum bisa menunjukkan prestasi, dedikasi, dan produktivitas, maka buang jauh-jauh mimpi untuk mendapatkan rejeki apalagi kekuasaan. Jika hal ini dipaksakan, maka ketidakadilan lah yang terjadi dan selalu akan menimbulkan korban. Maka, hanya keteguhan imanlah yang pada akhirnya mampu menolak godaan-godaan para ‘pengemis’ kekuasaan itu.
(Diantika PW/CN27)