Tips Menuju Insan Kamil

Tips Menuju Insan Kamil
Ditulis Oleh Aminuddin bin Halimi  Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling baik dan dimuliakan. Allah menyempurnakan bentuk tubuhnya dan menganugerahkan akal pikiran atau otak yang kemampuannya sangat menakjubkan beserta kalbu. Allah menghargai, menghormati dan memuliakan manusia melalui kasih sayang-Nya tanpa pilih kasih dan tanpa putus. Kemudian Allah menganugerahkan amanat (tugas-tugas keagamaan)itu kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Tetapi ia enggan memikulnya. Maka mau tidak mau, manusialah yang mengemban amanat itu. Beruntunglah manusia yang mengemban amanat itu diperlengkapi dengan otak cemerlang dan lambaian kemurahan, kasih dan sayang. Meskipun tidak sedikit manusia yang dhalim lagi bodoh.
Melalui penghargaan, penghormatan dan kemuliaan yang diberikan Allah kepada manusia, ia layak menjadi khalifah. Maka amatlah bodoh jika ia mengabaikan amanat itu, apalagi jika justru berbuat durhaka atau dhalim dengan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan. Diciptakannya lebih baik dari binatang, dimaksudkan agar manusia tidak berprilaku seperti binatang, tetapi lebih baik, bahkan dapat mencapai puncak kesempurnaan yang disebut “insan kamil”.
Untuk menuju tahap insan kamil, manusia ditempa dengan liku-liku ujian dan cobaan lewat batu sandungan dan kawat berduri serta jurang yang dalam. Dan tidak semua manusia berhasil. Hanya orang-orang ulet, rajin dan tahan bantinglah yang sukses menjadi insan kamil.
Pada tahap awal, manusia disebut makhluk biologis yang bertingkah laku seperti binatang, yaitu : makan, minum, tidur, melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis. Biasanya dialami pada usia 1 sampai 15 tahun atau pada usia kanak-kanak. Anehnya, masih ada manusia yang bertingkah laku seperti anak-anak, makan, minum, tidak mau bekerja, suka meminta-minta. Kalau kegiatan sehari-hari ia hanya makan, minum, tidur, mencari uang untuk makan, atau melampiaskan nafsu atau memuaskan keinginan belaka, maka tidak ada bedanya dengan hewan. Alangkah hina dan rendah, orang yang hidupnya hanya berorientasi kepada uang, harta dan kekayaan.
 Tahap kedua, manusia disebut makhluk sosial. Manusia memahami bahwa hidupnya tidak sendirian dan satu sama lain saling membutuhkan. Adanya saling membutuhkan ini, manusia mulai membuat aturan yang disepakati tentang perkawinan yang hal ini tidak dilakukan dalam kehidupan hewan. Aturan-aturan lain pun dibuat dalam rangka mengatur kehidupan bersama, kehidupan sosial dan kehidupan bermasyarakat. Tetapi karena manusia sejak awal, sejak Nabi Adam sudah diperkenalkan tentang aturan-aturan agama oleh para Rasul sebagai pedoman hidup, maka manusia tidak membuat aturan, melainkan mematuhi dan mentaati ajaran agama yang dibuat oleh Allah swt, meski tidak semuanya.
Pada tahap ketiga, manusia disebut makhluk politis. Mereka manuntut hak-haknya dalam roda pemerintah atau roda organisasi. Dalam hukum politik berlaku menang dan kalah. Ada orang yang diuntungkan dan ada orang yang dirugikan. Bahkan kebenaran sering diukur dengan suara mayoritas meski bertentangan dengan Alqur’an, karena ada slogan yang berbunyi bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Karena berlaku menang dan kalah, maka mereka saling bersaing bahkan bertengkar, saling menjegal, saling menguasai, dan lain-lain. Orang bilang bahwa politik itu kotor. Padahal Allah melebihkan sebagian manusia atas sebagian yang lain dan menjadikan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar mereka saling mengenal, saling melengkapi dan saling membantu.
Jika pada tahap ini, manusia mampu mewujudkan jati dirinya sebagai khalifah di muka bumi, dalam arti mampu mengayomi, melindungi dan melayani semua rakyat tanpa membeda-bedakan warna kulit, suku, ras dan agama, dan orang lain dijadikan sebagai kawan bukan lawan, maka dia akan mampu menjadi insan kamil yang diidam-idamkan rakyat dan bangsa.
Untuk menuju insan kamil, manusia harus mampu mengamati, mengkaji dan memahami ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan Allah  yang terbentang luas di jagad alam raya ini, dan mengkaji pula ayat-ayat Alqur’an. Pada yahap ini disebut makhluk intelektual. Dan layak disebut khalifah ketika dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuannya untuk memakmuran bumi, bukan untuk membuat kerusakan. Dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemaslahatan umat.
Kini kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) cukup pesat, terutama di bidang teknologi komunikasi. Dunia yang luas sudah dipandang kecil. Dan informasi seluruh dunia, mudah dan cepat diakses, disadap atau diterima dalam waktu singkat. Jika kemajuan di bidang iptek tidak diimbangi dengan iman dan taqwa (imtaq), maka manusia tidak mampu menerima mandat sebagai khalifah. Justru sebaliknya membuat kerusakan di muka bumi.
Oleh karena itu, keuntungannya manusia memiliki kalbu dan perasaan yang bekerja memberi pertimbangan sebelum melangkah atau mengambil keputusan. Sehingga tindakannya diharapkan tepat sesuai dengan missinya sebagai khalifah. Nabi Muhammad saw bersabda : “Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging, apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya berikut perilakunya, dan apabila rusak (buruk), maka rusaklah seluruh tubuhnya berikut perilakunya. Ingatlah, itu adalah hati.” (HR Bukhari).
Pada saat manusia melibatkan perasaan hati di dalam melakukan perbuatan, mempertimbangkan akibat yang mungkin terjadi, termasuk perasaan senang, optimis, ikhlas dan pasrah. Maka manusia disebut makhluk emosional. Dan yang menentukan berhasil tidaknya manusia adalah kecerdasan emosi ini atau Emosional Question (EQ) bukan Intelektual Question (IQ). Allah hanya mengikuti keinginan hamba-Nya dan itulah kemurahan dan kasih sayang Allah yang harus dicermati dan dimanfaatkan sungguh-sungguh serta harus disyukuri.
Kalbu atau emosi sangat rentan dengan lingkungannya, mudah terpengaruih oleh keadaan, situasi dan kondisi serta alam pikiran. Untuk mencerdaskan emosi diperlukan proses, tempaan, gemblengan dan latihan serta pelbagai ujian. Ada pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Maka jika penngalaman yang dilalui lebih banyak mengandung hal-hal positif, mengandung nilai-nilai spiritual yang dapat mendekatkan perasaan hamba kepada Allah dengan melakukan praktek ibadah mahdhoh (ritual) dan ibadah sosial sebagaimana yang dipraktekkan Rasulullah saw, maka tidaklah terlalu sulit untuk menuju insan kamil sekaligus menjadi khalifah. Pada saat manusia melakukan aktivitas ibadah atau penghambaan kepada Allah, ia disebut makhluk spiritual
Di samping itu, untuk menuju insan kamil,  seseorang harus pandai memadukan tiga kecerdasan tadi, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dan harus melalui proses panjang yang berliku-liku. Kesimpulannya ada tujuh tahap yang harus dilalui oleh manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi, dan sekaligus menjadi insan kamil, yaitu : tahap biologis, sosiologis, politis, intelektual, emosional, spiritual dan insan kamil.  Selamat Mencoba.