Rp 100.000 aja bang, kita ke depan Stasiun Jatinegara, di situ ada kamar kok.

KOMPAS.com/Fabian Januarius Kuwado Meski bulan puasa, geliat esek-esek di Jl. Raya Bekasi Timur, Jatinegara, Jakarta Timur, tetap terasa. Dari pukul 21.00 WIB, kupu-kupu malam tersebut mangkal dan menjajakan diri kepada pengendara kendaraan bermotor yang lewat.

JAKARTA, KOMPAS.com – Bibirnya merah bergincu, baju ketatnya mengikuti garis tubuh yang sintal, tangannya melambai ketika beberapa kendaraan bermotor melambatkan laju hingga berhenti di hadapannya. Gerakan manja pun keluar dari tubuhnya. Menarik para pria hidung belang untuk tunduk di hadapannya.
Rp 100.000 aja bang, kita ke depan Stasiun Jatinegara, di situ ada kamar kok. Aku bisa naik ojek, kamu ngikutin dari belakang. Bayar Rp 20.000, ya sudah, tinggal dipotong aja.” ujarnya saat Kompas.com menelusuri kegiatan itu, Sabtu (28/7/2012) malam.
Itulah gambaran kehidupan malam di Jl. Raya Bekasi Timur, Jatinegara, Jakarta Timur. Meski memasuki bulan Ramadhan, aktivitas esek-esek pinggir jalan tersebut seakan tak mengenal kata henti. Menjelang petang, gadis-gadis belia bermunculan dari gelapnya tembok pinggir rel, memenuhi sekitar 100 meter jalan yang mengarah ke Pulogadung tersebut.
Emang ngaruh kalo bulan puasa? Nggak ngaruh kali,” jawab Jawilem, salah seorang PSK (Pekerja Seks Komersil) dengan santai. Meski bulan puasa, wanita yang jika matahari terbit mengaku ikut berpuasa tersebut mengatakan, pelanggannya tak berkurang secara signifikan.
Hari ini saja, Jawilem yang menurut si empunya nama merupakan singkatan dari “Dijawil Ora Gelem” itu sudah melayani dua pria hidung belang sejak sore, hampir sama dengan kondisi pada saat bukan bulan puasa. “Puasa mah tetep, emang mentang-mentang cewek malem apa! Yang sore udah sih, yang malem belom,” lanjutnya sambil meminta sebatang rokok.
Kondisi itu senada dengan Nia PSK lainnya. Wanita yang mangkal di tempat tersebut selama 1 tahun terakhir itu mengaku, meski berpuasa, dirinya tak memiliki cara mencari nafkah selain seperti yang sekarang dilakoninya. Ia mengaku, penghormatannya kepada bulan suci ini hanya kerelaannya memotong jam kerja satu jam hingga pukul 03.00 WIB atas alasan memenuhi kewajiban sahur.
Dirinya juga mengaku tak takut apabila Satpol PP melakukan razia terhadap orang-orang sepertinya. Selain ada “pihak” yang menjaga, ia juga paham seluk beluk jalan di tempat tersebut. “Kan kalau ada Kamtib ya tinggal kabur, gampang lah” lanjutnya.
Seakan hari biasa, kehidupan esek-esek pinggir rel itu pun makin ramai. Menujukan pukul 02.25 WIB, Jawilem dan Nia kembali beraksi setelah beberapa motor dan dua buah mobil sempat berhenti dan lewat begitu saja. Mereka akhirnya dihampiri seorang pemuda tegap berumur sekitar kepala dua. Setelah ngobrol sekitar 5 menit, anggukan keduanya menjadi bahasa tubuh yang terakhir di jalan tersebut, sebelum keduanya hilang berpelukan di motor bersama dinginnya malam di bulan Ramadhan.
Jawilem, Nia serta rekan seprofesinya adalah potret buram ibukota. Atas alasan ekonomi, seluruh “kupu-kupu malam” yang kebanyakan berasal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya tersebut rela menjual tubuhnya. Ironisnya, gema takbir Ramadhan tak juga mengurungkan niatnya untuk memutar haluan hidup. Lagi-lagi urusan perut menjadi alasan klise namun nyata dalam kehidupan sebagian warga metropolitan ini.

Editor :
A. Wisnubrata