Industri Tahu Sebagai Industri Pangan

 Industri  tahu  merupakan  industri  pangan  yang  populer  di masyarakat,  bahan  bakunya  banyak  dijumpai,  pengolahannya  mudah, bergizi, dan harganya terjangkau

Industri  tahu  merupakan  industri  pangan  yang  populer  di
masyarakat,  bahan  bakunya  banyak  dijumpai,  pengolahannya  mudah,
bergizi, dan harganya terjangkau. Dampak positif    industri tahu yang  lain
adalah  terserapnya  tenaga  kerja,  terpenuhinya  gizi  masyarakat,  dan
peningkatan pendapatan masyarakat. Namun demikian, muncul pula dampak
negatif yaitu polusi lingkungan karena limbah tahu yang kaya bahan organik
dan potensial terjadi degradasi secara alami.
Menurut  Rahardjo  dalam  Trismilah  et  al  (2001)  limbah  cair  dari
tahu   mengandung  bahan  organik  dan  nutrien  tinggi  yang  terdiri  dari  air
90,72 %,  protein  1,8%,  lemak  1,2%,  serat  kasar  7,36%,  dan  abu  0,32 %.
Limbah  cair  dari  tahu  yang  paling  berbahaya  apabila  dibuang  secara
langsung ke  lingkungan adalah whey  yang merupakan hasil  samping proses
penggumpalan dan kandungan bahan organiknya sangat tinggi (Suryandono,
2004).
Dengan melihat  komposisi  limbah  tersebut, maka  sistem  anaerobik
sangat tepat untuk mengolah limbah cair tahu. Pengolahan langsung dengan
aerobik menghadapi banyak kendala seperti timbulnya busa dan banyaknya
bahan organik yang tidak terdegradasi (Anwar, 2005)
Produk  samping  dari  pengolahan  limbah  yang  kaya  bahan  organik
secara anaerobik adalah munculnya biogas akibat aktivitas mikrobia dalam
reaktor  pengolah  limbah.  Biogas  adalah gas  mudah terbakar yang
dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-
bakteri anaerob. Kandungan biogas didominasi oleh CH4 (gas metana) yang
berpotensi besar  sebagai sumber  energi untuk memasak, pemanasan atau
dikonversi menjadi listrik.
Pengolahan  limbah  secara  anaerobik  dapat  berfungsi  ganda,  yaitu
sebagai  pengolah  limbah  dan  sekaligus  penghasil  sumber  energi  berupa
biogas sehingga  diperlukan  sosialisasi  lebih  lanjut  tentang  potensi
tersebut  dengan  menggunakan  reaktor  yang  efisien  dan  efektif  serta
mudah  digunakan.  Pengaplikasian  teknologi  ini  dalam  industri  diharapkan
dapat mengurangi  biaya  produksi.  Lebih-lebih  di  saat mahalnya  BBM  dan
tidak tersedianya bahan bakar penggantinya, maka biogas  ini bisa menjadi
salah satu alternatif yang bisa dipilih untuk mendukung proses produksi.
Banyak model  reaktor yang  telah digunakan untuk mengolah  limbah
organik  secara  anaerob  untuk  menghasilkan  biogas,  diantaranya  adalah
Batch Digester,  Fixed  Dome  (Chinese)  Digester,  Floating  Dome  (Indian)
Digester,  Beg-Red  Mud  (Taiwan,  China)  Digester,  Plug  Flow  Digester,
anaerobic  Filter,  Anaerobic  Baffled  Reactor  (ABR),  Anaerobic  Contact
Digester, dan Upflow Anaerobic Sludge Blanket (UASB).