Fenomena murid SD yang mengikuti les pelajaran semakin lama semakin umum,

Fenomena murid SD yang mengikuti les pelajaran semakin lama semakin umum, jika anak kita tidak diberi les, apakah pelajarannya akan lebih jelek dari anak orang lain?
Cara penanggulangan masalah ini, kita harus memahami secara mendalam sebab dari pelajaran anak yang kurang baik, mengambil tindakan sesuai dengan keadaan nyata, bukan secara membabi buta memberikan les untuk anak.

Selalu menambah waktu belajar anak, membuat anak tidak memiliki waktu untuk mencerna pengetahuannya. Karena saya dan suami berdua harus pergi bekerja, maka terpaksa membiarkan dua anak saya setelah selesai menerima pelajaran di sekolah SD, dilanjutkan ke tempat les Anqin untuk mengikuti les pelajaran.

Anak perempuan saya setelah naik ke kelas lima, suatu hari atas kemauannya sendiri dia memberikan pendapat bahwa tempat les di Anqin terlalu bising, dia ingin pulang sendiri ke rumah menyelesaikan pekerjaan rumahnya sendiri.

Saya sendiri juga mengamati, kelas yang lebih tinggi pelajarannya semakin banyak muridnya, guru-guru les di Anqin setiap guru harus melayani puluhan murid, tidak bisa meluangkan waktu terlalu banyak untuk meneliti pelajarannya. Lagipula dia juga sudah besar, sudah waktunya untuk belajar mandiri. Oleh karenanya saya menyetujui permintaan anak perempuan saya itu, menghentikan les, dan membiarkan dia pulang ke rumah.

Pada mulanya, saya mengundang seorang guru pribadi untuk memberikan dia les, setiap minggu dua kali, memperkuat pelajaran matematikanya yang agak lemah.

Setelah diamati selama satu semester, merasakan hasilnya agak kurang memuaskan, kemudian saya memutuskan untuk memberhentikan guru les, dan saya sendiri yang mengajarnya.

Sifat anak saya ini agak menyepelekan permasalahan, waktu ujian tidak pernah tegang, juga tidak pernah membuka buku atas kemauan sendiri, maka nilai pelajaran dalam sekolah acapkali mengalami naik dan turun secara drastis, pelajaran yang dia ulang pelajari, nilai ujiannya bagus, yang tidak diulang, nilai yang diperoleh akan sangat jelek sekali.

Saya merasakan peran saya seperti seekor kerbau tua, selalu menarik dan memaksa dia untuk berjalan maju ke depan, sangat melelahkan. Pada suatu hari ketika anak perempuan saya sudah duduk di kelas 6 SD, saya berdiskusi dengan dia tentang sebuah prinsip besar.

Pertama-tama memastikan bahwa dia sudah besar, sudah berakal, seharusnya sudah harus bisa menyadari dan menikmati kesenangan dari belajar, serta belajar atas kemauan sendiri, adapun soal matematika, harus sepenuhnya mengerti prinsip, soal yang mirip, paling penting bisa dimengerti dengan tuntas, bukan dari sudah menghitung berapa banyak soal, karena menghitung banyak soal, hanya bisa mempercepat kecepatan berhitung saja.

Dan les, adalah tugas yang memberatkan, setiap hari pelajaran di sekolah sudah cukup banyak, ada sebagian teman sekelas, setelah pulang dari les, tiba di rumah selesai mengerjakan pekerjaan rumah sudah hampir tengah malam.

Kehidupan semacam itu seharusnya bukan kehidupan yang kita dambakan. Maka, saya lalu memberikan dia masa pengamatan, jika dari hasil penilaian dia bisa belajar dengan serius dan atas kemauan sendiri, saya akan menambah uang saku untuknya, jika tidak demikian terpaksa memilih jalan bergabung dengan tempat les, melewati hari-hari yang sangat berat.

Melalui penjelasan saya secara panjang lebar, anak perempuan saya sepertinya tersadarkan, sikap belajarnya mengalami perubahan yang sangat besar, setiba di rumah, dia bergegas menyelesaikan tugas sekolahnya, bahkan memanfaatkan waktu istirahat.

Dan saya, menjadi guru pengajar matematikannya, setiap hari selesai mengerjakan tugas sekolah, pasti memanfaatkan waktu istirahat, memberi penjelasan sekali lagi, kecuali membiarkan dia sepenuhnya mengerti, juga mengajarkan jawaban serta teknik berhitungnya. Sebelum ujian semester, menuntut dia untuk mengulang dan belajar sendiri, menulis soal-soal ujian sendiri.

Suatu kali, saya mengingatkan dia untuk mengulang pelajaran PPKN, dengan sangat yakin dia mengatakan sudah bisa semua, akhirnya selesai menjawab soal ujian, baru menemukan ada banyak soal jawabannya tidak pasti.

Melalui peristiwa ini, dia juga telah menyadari, sangat banyak sekali hafalan yang belum mantap. Setelah itu, dia mendapatkan angka 100 ujian mata pelajaran PPKN. Setiba di rumah, dengan sangat gembira dia memberitahu saya berita baik ini, gurunya baru-baru ini juga mengatakan, hasil rapornya mendapatkan kemajuan yang sangat jelas.

Teringat, sewaktu kita masih SD tidak pernah mendengar ada teman sekelas yang les pelajaran, tetapi sekarang, jika Anda berjalan di jalanan sekitar pukul 6 malam, Anda akan melihat segerombolan anak-anak SD keluar dari tempat les-lesan, tidak salah jika ada banyak orang tua murid yang meragukan efektivitas dari kebijakan perubahan mengajar.

Pada kenyataannya, kita bisa melihat dari tubuh anak kita, tas sekolahnya bertambah berat, waktu untuk tidur berkurang, waktu mereka bermain juga tidak sebanyak zaman kita.

Memberi nasihat kepada para orang tua murid yang setelah pulang kantor, mempertimbangkan kemampuan diri sendiri, jika masih mampu mengajar anak, seharusnya terjun sendiri, dan bukan membiarkan waktu berkumpul dengan anak setelah dia pulang dari sekolah, diserahkan lagi kepada tempat les.

Saya yakin dari proses kita mengajar anak kita sendiri, maka kita bisa lebih mengerti pemikiran anak, perjalanan pertumbuhan mereka, bahkan melalui pengalaman saling berbagi rasa, bisa membuat hubungan orang tua dengan anak menjadi lebih dekat dan akrab, bahkan juga bisa mencapai tujuan tumbuh dalam kebersamaan. (The Epoch Times/lin)