Karakteristik Limbah Cair Industri Tahu

 Karakteristik Limbah Cair Industri Tahu Pengetahuan tentang karakteristik  limbah  sangat penting karena untuk     menentukan teknologi apa yang harus dipilih dalam penanganan limbah.

Karakteristik Limbah Cair Industri Tahu
Pengetahuan tentang karakteristik  limbah  sangat penting karena
untuk     menentukan teknologi apa yang harus dipilih dalam penanganan
limbah.  Metode  penanganan  limbah  yang  telah  berhasil  pada  suatu
industri belum tentu berhasil diaplikasikan untuk industri lainnya.
 Limbah  cair  pabrik  industri merupakan  limbah  agroindustri  yang
mengandung  bahan  organik  dan  nutrien  tinggi.  Lettinga  et  all.  (1994)
menyatakan  bahwa  bahan organik  tersebut  dapat  dikenali  melalui
karakteristiknya yaitu dapat dioksidasi dan mengandung karbon.
Karakteristik  limbah  cair  tahu  antara  lain  (Nurhasan  dan
Pramudyanto, 1991) :
a. Temperatur  limbah  cair  tahu  biasanya  tinggi  (60  – 80
OC)  karena
proses  pembuatan  tahu  butuh  suhu  tunggi  pada  saat  penggumpalan
dan penyaringan.
b. Warna  air  buangan  transparan  sampai  kuning  muda  dan  disertai
adanya suspensi warna putih. Zat terlarut dan tersuspensi mengalami
penguraian hayati maupun  kimia  sehingga berubah warna.  Proses  ini
merugikan  karena  air  buangan  berubah    menjadi  warna  hitam  dan
busuk yang memberi nilai estetika kurang baik.
c. Bau air buangan industri tahu dikarenakan proses pemecahan protein
oleh mikroba alam sehingga timbul bau busuk dari gas H2S.
d. Kekeruhan pada  limbah disebabkan oleh adanya padatan tersuspensi
dan terlarut dalam limbah cair pabrik tahu.
e. pH rendah.
Limbah  cair  tahu mengandung  asam  cuka  sisa  proses  penggumpalan
tahu sehingga  limbah cair tahu bersifat asam. Pada kondisi asam  ini
terlepas zat-zat yang mudah menjadi gas.
f. COD dan BOD tinggi.
 Pencemaran  limbah  cair  organik  pada  suatu  perairan  diukur  dengan
uji COD dan BOD (Indriyati, 2005). Angka COD biasanya lebih besar
2  – 3  kali  angka  BOD.  Nilai  COD  menunjukkan  banyaknya  oksigen
yang  digunakan  dalam  proses  oksidasi  oleh  zat-zat  organik  yang
terkandung dalam limbah cair yang ekuivalen dengan nilai konsentrasi
kalium  dikromat  (K2Cr2O7)  (Ginting,  1992).  Angka  COD  merupakan
ukuran  bagi  pencemaran  air  oleh  bahan-bahan  organik  yang  secara
alamiah  dapat  dioksidasikan  melalui  proses  biologis,  dan
mengakibatkan  berkurangnya  oksigen  terlarut  dalam  air
(Algert,1987).  Wagiman  (2004)  menyatakan  bahwa  fluktuasi  COD
berada  pada  jangkauan  antara  10.000  – 100.000  mg/L. Malina  dan
Pohland (1992) dalam Damanhuri et al.(1997) menyatakan bahwa nilai
COD limbah cair tahu di atas 4.000 mg/L. Jadi, nilai COD limbah cair
tahu berkisar antara 4.000 – 100.000 mg/L.
 Santika  (1987) dalam Wagiman, et.all.  (2003) menyatakan bahwa
limbah cair tahu secara alami sudah mengandung mikroorganisme karena
kandungan bahan organiknya tinggi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa
konsentrasi  mikroorganisme  limbah  cair  tahu  sangat  tinggi  yaitu  10-1
mikrobia,  yang  berarti  limbah  tahu  di  sentra  industri  tahu  Gamping
termasuk  kategori  tercemar  berat.  Limbah  cair  yang  dihasilkan
mengandung  padatan  tersuspensi  maupun  terlarut,  akan  mengalami
perubahan fisika, kimia, dan hayati yang akan menghasilkan zat beracun
atau menciptakan media untuk tumbuhnya kuman dimana kuman ini dapat
berupa  kuman  penyakit  atau  kuman  lainnya  yang  merugikan  baik  pada
tahu  sendiri  ataupun  tubuh  manusia.  Bila  dibiarkan  dalam  limbah  cair
akan  berubah  warnanya  menjadi  coklat  kehitaman  dan  berbau  busuk
yang  bisa  mengakibatkan  sakit  pernapasan.  Apabila  limbah  cair  ini
merembes ke dalam tanah yang dekat dengan sumur maka air sumur  itu
tidak  dapat  dimanfaatkan  lagi.  Apabila  limbah  ini  dialirkan  ke  sungai
maka  akan  mencemari  sungai  dan  bila  masih  digunakan  maka  akan
menimbulkan  penyakit  gatal,  diare,  dan  penyakit  lainnya  (Nurhasan,
1991).
 Limbah  cair  dari  tahu  yang  paling  berbahaya  apabila  dibuang
secara  langsung  ke  lingkungan  adalah  whey  yang  merupakan  hasil
samping  proses  penggumpalan  dan  kandungan  bahan  organiknya  sangat
tinggi  (Suryandono,  2004)  dan  pHnya  rendah  karena mengandung  cuka
sisa bahan untuk pembuatan tahu. Secara  fisik, whey berwarna kuning,
kental, dan berbau menyengat jika tersimpan lebih dari 24 jam.
Tabel 2.2 Karakteristik limbah cair tahu (whey)