Pengendalian Limbah Cair Tahu dengan Sistem Anaerobik

 Pengendalian Limbah Cair Tahu dengan Sistem Anaerobik Salah  satu  dasar  pertimbangan  dalam  pemilihan  teknologi pengolahan  limbah  cair  adalah  karakteristik  limbah  cair  (Pusteklim, tanpa tahun)

Pengendalian Limbah Cair Tahu dengan Sistem Anaerobik
Salah  satu  dasar  pertimbangan  dalam  pemilihan  teknologi
pengolahan  limbah  cair  adalah  karakteristik  limbah  cair  (Pusteklim,
tanpa tahun).
Dengan  melihat  karakteristik  limbah  cair  tahu  di  atas,  maka
limbah cair tahu tergolong  limbah cair yang mengandung bahan organik
yang  tinggi  dan  pada  umumnya  biodegradable atau  mudah  diurai  oleh
mikrobia.  Kondisi  tersebut  akan  sangat  menguntungkan  untuk  diolah
dengan  proses  biologis,  yaitu memanfaatkan  kehidupan mikrobia  untuk
menguraikan zat organik. Menurut Metcalf dan Eddy (1991), penanganan
limbah secara biologik adalah untuk menghilangkan bahan-bahan terlarut
dan  bahan  padat  koloid  yang  tidak  mengendap  (non  settleable  colloid
solid).
 Jenie  dan  Winiati  (1993)  menyatakan  bahwa  sistem  biologik
merupakan sistem utama yang digunakan untuk menangani limbah organik
secara  aerob  maupun  anaerob.  Proses-proses  yang  berlangsung
berdasarkan  pada  dasar-dasar  mikrobiologi.  Mikroorganisme
 Beberapa alasan yang dipakai untuk penggunaan proses anaerobik
dalam penanganan  limbah antara  lain  :  laju reaksi  lebih tinggi dibanding
aerobik, kegunaan produk akhir dan stabilisasi bahan organik (Wagiman,
2004)
 Karakteristik  proses  pengolahan  anaerobik  dapat  dijelaskan
sebagai berikut (Pusteklim, tanpa tahun) :
1. mampu  menerima  beban  organik  yang  tinggi  per  satuan  volume
reaktornya sehingga volume reaktor relatif  lebih kecil dibandingkan
dengan proses aerobik
2. tanpa energi untuk prosesnya tetapi dapat menghasilkan energi
3. menghasilkan surplus lumpur yang rendah
4. pertumbuhan mikroba yang lambat
5. membutuhkan stabilitas pH pada daerah netral (6,5-7,5)
 Menurut  Lettinga  (1994)  faktor-faktor  lingkungan  yang  sangat
berpengaruh pada pengolahan  limbah secara anaerobik adalah suhu, pH,
adanya  nutrien  essensial  (makronutrien,  nitrogen,  phosphor,  dan
mikronutrien), serta tidak adanya senyawa racun.
Bakteri-bakteri anaerobik mesofilik mampu tumbuh pada suhu 20
– 45
o
C  (Jenie  dan Winiati,  1993).  Proses  digesti  akan  optimum  pada
suhu 35 – 40
OC untuk range mesofil dan 55
OC untuk termofil. Nilai dan
kestabilan  pH  pada  reaktor  anaerobik  sangat  penting  karena
metanogenesis  terjadi  pada  kisaran  pH  netral  (6,3  – 7,8).  Senyawa
racun  yang  berpengaruh  adalah  logam  berat,  senyawa  kloro-organik,
oksigen  dan  sulfida.  Sebagian  oksigen  masuk  saat  distribusi  influen,
namun  selanjutnya digunakan dalam metabolisme oksidatif  pada proses
asidogenesis  sehingga  tidak  ada  lagi  oksigen  terlarut  dalam  reaktor
(Lettinga, 1994).

Iklan