Kebutuhan harus dibedakan dengan keinginan

Kebutuhan harus dibedakan dengan keinginan. Kebutuhan setiap orang sehari-hari sebenarnya bisa disebut terbatas.  Kebutuhan yang bersifat dasar  hanya terdiri atas makan, minum, pakaian, dan rumah sebagai tempat istirahat bersama keluarganya. Kebutuhan selain itu, berupa perawatan kesehatan, pendidikan, rekreasi, dan jaminan masa tua. Jumlah itu semua  tidak terlalu banyak, manakala tidak ingin berlebih-lebihan.
Adapun yang tidak terbatas itu adalah untuk memenuhi keinginan. Keinginan biasanya tidak terbatas. Berapa saja kurang. Sudah memiliki rumah, kendaraan yang bagus, dan berapapun tabungan yang ada, ternyata masih kepingin menambah. Memiliki rumah satu dan bagus masih menginginkan memiliki dua rumah dan bahkan lebih. Demikian pula, kendaraan, tabungan dan lain-lain, ingin selalu ditambah. Mereka menginginkan agar tidak ada pesaing atau orang lain yang melebihi dirinya.
Kebutuhan hidup sehari-hari seseorang,  yang disebut terbatas itu,  bisa dibuktikan dengan mudah. Untuk memenuhi kebutuhan makan, sehari hanya perlu sepertiga kilogram beras. Artinya,  setiap bulan dikalkulasi hanya perlu maksimal  10 kg beras. Jumlah itu sudah berlebih. Ukuran normal, biasanya setiap orang  hanya memerlukan 8 kg  beras setiap bulan. Sehingga, kalau dihitung lebih lanjut, setahun hanya memerlukan kurang lebih satu kuintal.  Artinya, orang yang hidup 70 tahun,  hanya membutuhkan 7 ton. Satu hektar sawah,  jika dikelola secara baik, panen yang dieroleh bisa untuk mencukupi kebutuhan itu.
Namun sayangnya,  manusia tidak saja berkemauan memenuhi kebutuhannya, melainkan juga keinginannya. Sementara keinginan itu tidak pernah bisa dibatasi. Oleh karena itu, terhadap harta  orang merasa selalu kurang. Hartanya sudah tidak terhitung jumlahnya, tetapi masih merasa tidak cukup. Bahkan dibandingkan dengan orang biasa yang kekayaannya tidak seberapa, orang kaya biasanya lebih bersemangat mencari tambahan, hingga seolah-olah umurnya hanya digunakan untuk menambah harta.  Mereka tidak menyadari bahwa harta itu tidsak akan memberi manfaat apa-apa bagi dirinya, kecuali agar disebut sebagai orang kaya itu.
Akhir-akhir ini, saya mendapatkan informasi tentang beberapa orang kaya yang  sudah tidak membutuhklan apa-apa, termasuk juga kekayaann yang menumpuk itu. Orang yang saya maksudkan itu, seorang di antaranya adalah sebagai pengusaha. Umurnya sudah di atas 80 tahun. Ia mengaku sehat, tetapi sudah tidak berani makan banyak-banyak. Terhadap makanan, ia membatasi sendiri. Pada setiap hari hanya makan nasi pecel dan sepotong tempe.  Minumnya juga hanya air putih dan teh. Ia juga sudah tidak berani makan makanan yang mengandung kolestrol, seperti sate, durian, emping mlinjo dan apalagi segala macam jerohan.
Seorang kaya  lainnya lagi, oleh karena penyakit yang sudah lama diderita, sekalipun masih merasa kuat,  tidak berani makan kecuali nasi beras dari menir. Lauk pauk dibatasi kecuali sayur ala kadarnya. Mengkonsumsi segala macam daging dan ikan tidak berani. Padahal kekayaannya luar biasa banyaknya. Sebagai pengusaha besar, apapun dimiliki. Kendaraan, rumah, dan aset lainnya tidak akan habis dikonsumsi oleh beberapa kali keturunannya. Sayangnya, ia hanya bisa menikmati kekayaannya yang amat sederhana, ialah nasi dari menir itu.
Masih ada orang kaya lainnya yang saya  ketahui. Ia seorang pedagang sukses. Kekayaannya juga luar biasa banyaknya. Oleh karena jenis penyakit yang sudah lama dideritanya, Oleh dokter, ia hanya dibolehkan mengkonsumsi buah-buahan, terutama pepaya.  Makanan yang sehari-hari dikonsumsi oleh orang yang sehat, seperti nasi, gule, rawon dan lain-lain, sudah tidak menarik dan bahkan ditakuti olehnya. Makanan yang dianggap enak oleh kebanyakan orang justru dianggap sebagai ancaman kesehatan bagi orang ini. Oleh karena itu, kebutuhannya sehari-hari, sudah sangat terbatas. Padahal kekayaannya sangat melimpah. Itulah, maka judul tulisan ini  bahwa kebutruhan manusia itu sebenarnya amat terbatas, sedangkan keinginan saja yang selalu tidak terbatas. Wallahu a’lam.  
Iklan