Manakala sebuah komunitas kebetulan mendapatkan pemimpin yang inovatif, visioner, dan progresif

Banyak orang mengatakan bahwa posisi pemimpin dalam setiap komunitas adalah sangat penting. Pemimpin biasanya menggambarkan siapa yang dipimpinnya. Manakala sebuah komunitas kebetulan mendapatkan pemimpin yang inovatif, visioner, dan progresif  maka  akan maju dan atau dinamis. Begitu pula sebaliknya, sebuah komunitas menjadi stagnan dan bahkan mundur, adalah sebabkan oleh pemimpinnya.
Atas dasar pandangan tersebut, maka mencari pemimpin tidak gampang. Sekalipun  dikatakan bahwa setiap orang adalah pemimpin, maka tidak semua orang mampu  melakukan peran-peran  kepemimpinan sebagaimana diharapkan. Jumlah pemimpin yang memiliki visi dan kekuatan penggerak, ternyata tidak banyak. Ituah sebabnya mencari orang seperti itu ternyata tidak mudah.
Dalam proses mencari sosok pemimpin itu, maka kemudian orang  mempertanyakan, apakah pemimpin itu dilahirkan atau bisa dibentuk.  Dalam perdebatan itu, sementara orang mengatakan bahwa pemimpiun itu selalu dilahirkan. Artinya bahwa  kepemimpinan itu dipercayai sebagai bakat atau pembawaan sejak lahir.  Seorang yang memiliki bakat kepemimpinan, maka di mana dan kapan pun akan muncul sebagai pemimpin dan begitu pula sebaliknya.
Sementara orang lainnya memandang bahwa pemimpin itu bisa dibentuk. Maka kemudian siapapun yang mendapatkan pendidikan kepemimpinan yang memadai, maka suatu ketika  mereka akan tampil sebagai seorang pemimpin yang handal. Benar bahwa bakat akan  menjadi bekal bagi seseorang untuk tampil menjadi pemimpin, tetapi pendidikan juga  tidak kurang strategis. Banyak orang menjadi seorang pemimpin oleh karena telah melewati pendidikan yang dipersiapkan untuk menduduki posisi-posisi kepemimpinan itu.
Pendapat berikutnya adalah mereka yang mengkombinasikan antara bakat dan pendidikan. Seorang yang berbakat, akan tetapi tidak memiliki kesempatan atau pengalaman maka bakatnya itu tidak akan berkembang. Oleh karena itu, bakat itu harus diasah agar kemampuannya menjadi lebih tajam. Oleh karena itu antara bakat dan pendidikan harus dikombinasikan hingga menjadi lebih sempurna.
Salah satu tugas pemimpin adalah menggerakkan dan mengarahkan mereka yang dipimpin untuk meraih tujuan bersama.  Maka kekuatan yang diperlukan adalah integritas seseorang di hadapan mereka yang dipimpinnya. Melalui integritas dan atau ketulusannya itu, maka mereka yang dipimpin akan mengikutinya. Bisa jadi seorang pemimpin memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas dan mendalam, akan tetapi manakala tidak mampu mempengaruhi atau menjadikan yang dipimpinnya percaya dan loyal, maka kelebihann ya itu tidak banyak artinya bagi komunitas yang dipimpin.
Oleh karena itu, pada diri seorang pemimpin agar memiliki   kekuatan penggerak, sebagaimana yang dicontohkan oleh rasulullah,   harus memiliki sifat-sifat siddiq, amanah, tablig,  dan fathonah. Keempat sifat itulah yang sebenarnya yang kemudian menjadikan seseorang  diikuti pikiran-pikiran, jiwa,   dan perbuatannya oleh mereka yang sedang dipimpin.  Tentu sebagai orang biasa, keempat sifat itu tidak akan mampu dimiliki secara sempurna, akan tetapi pada kadar tertentu harus ada pada diri seorang pemimpin.
Seorang  yang tidak bisa dipercaya dan atau tidak mampu menjelaskan pikiran dan pandangannya kepada mereka yang dipimpin misalnya, tidak akan mampu menggerakkan dan mengarahkan  komunitas yang dipimpinnya. Pengetahuan atau ide yang diperlukan oleh sebuah komunitas bisa didatangkan dari berbagai sumber, akan tetapi kekuatan agar bisa dipercaya selalu datang sendiri dari pribadi seorang pemimpin. Kekuatan  berupa integritas, komitmen dan atau ketulusan itulah setidaknya harus dimiliki,  dan akhirnya menjadi modal strategis sebagai seorang pemimpin. Wallahu a’lam.