Adat atau Tradisi dalam Beribadah (1)

Adat atau Tradisi dalam Beribadah (1)
26/01/2010
Setiap komunitas selalu mempunyai adat dan tradisi khas sesuai dengan peradaban
dan falsafah hidup mereka. Adat dan tradisi tersebut lahir sebagai akibat dari
dinamika dan interaksi yang berkembang di suatu komunitas lingkungan masyarakat.
Oleh karenanya, bisa dikatakan, adat dan tradisi merupakan identitas dan ciri khas
suatu komunitas.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adat atau tradisi bermakna kebiasaan perilaku
yang dijumpai secara turun-temurun. Karena bermula dari kebiasaan dan itu
merupakan warisan dari pendahulu, maka akan terasa sangat ganjil ketika hal itu tidak
boleh dilakukan atau dilakukan tapi tidak sesuai dengan kebiasaan yang berlaku.
Allah SWT menciptakan manusia dalam kemajemukan yang terdiri atas suku, bangsa
dan tersebar di berbagai tempat. Kemajemukan tersebut melahirkan adat dan tradisi
yang sangat beragam. Namun demikian manusia dibekali software yang tidak
diberikan kepada makhluk lain, yaitu akal. Dengan akal inilah manusia menjadi
makhluk yang sangat terhormat dan diharapkan bisa menjadi khalifah di muka bumi
serta mampu menciptakan kreasi-kreasi baru yang membawa kemaslahatan bagi
sesama. Dengan kesempurnaan yang dimilikinya, Allah SWT ‘menaruh harapan’
bahwa mereka mampu melakukan yang terbaik di muka bumi. Semua itu sebagai
amanah Allah SWT yang harus kita manifestasikan untuk meningkatkan ketakwaan
kepada Allah Yang Maha Esa.
Masyarakat Indonesia memiliki beragam adat dan tradisi yang berbeda dengan
negara-negara lain, bahkan dari satu daerah ke daerah yang lain. Beragamnya agama,
bahasa dan budaya adalah keniscayaan dalam konteks keindonsiaan.
Ketika masuk ke Indonesia lewat Walisongo, Islam begitu ramah menyapa umat.
Tidak ada tindakan anarkis dan frontal melawan tradisi. Kelihaian Walisongo
mengakomodasi budaya setempat ke dalam ajaran-ajaran Islam, menampakkan hasil
yang luar biasa. Para masyarakat yang sebelumnya menjadi penganut kuat ajaran
dinamisme dan animisme, pelan-pelan berbondong-bondong menghadiri majelismajelis
yang diselenggarakan Walisongo. Mereka hadir bukan karena dipaksa, tapi
karena sadar bahwa ajaran Islam sangat simpatik dan ‘patut’ diikuti.
Itu hasil kreasi yang patut diapresiasi. Islam adalah agama yang mampu berakumulasi,
bahkan hampir bisa dikatakan tak pernah bermasalah dengan budaya setempat.
Bahkan budaya bisa didesain ulang atau dimodifikasi dengan tampilan yang elegan
menurut syara’ dan lebih berdayaguna demi meningkatkan kasejahteraan hidup.
Dengan demikian, kehadiran Islam di tengah masyarakat, dimanapun dan sampai
kapanpun, akan selalu menjadi rahmatan lil alamin.
Islam Mengakomodasi Adat
Adat atau tradisi yang dimaksud di sini adalah adat yang tumbuh dan berkembang
disuatu komunitas dab hal itu –secara prinsip- tidak terdapat dalam ritual syariah
Islam, baik pada masa Rasulullah SAW.
Adat atau tradisi semacam ini adalah sah-sah saja dan tak masalah. Tentunya dengan
catatan, adat atau tradisi tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur Islam,
mempunyai tujuan mulia dan disertai niat ibadah karena Allah SWT. Dalam Kaidah
fikih dikatakan, “al-Adah Muhakkamah ma lam yukhalif al-Syar’” (Tradisi itu
diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan dasar-dasar syariah).
Sahabat Abdullah bin Abbas mengatakan: Setiap sesuatu yang umat Islam
menganggap baik, maka menurut Allah baik juga, dan yang mereka anggap buruk,
maka buruk juga manurut Allah” (Diriwayatkan Al-Hakim)
Ia juga berpesan: Sesungguhnya Allah melihat hati hambanya, selalu ditemukan hati
Muhammad SAW, sebaik-baiknya hati hambanya, lalu memilihnya untuk-Nya, dan
mengutusnya. Lalu melihat hati hambanya selain Muhammad, dan ditemukan
beberapa hati sahabatnya, lalu menjadikannya menteri bagi nadi-Nya. Setiap suatu
yang umat Islam menganggap baik, maka menurut Allah baik juga, dan yang mereka
anggap buruk, maka buruk juga menurut Allah” (Diriwayatkan oleh Ahmad)
Dalam Hasiyah as-Sanady disebutkan, “Bahwa sesungguhnya sesuatu yang mubah
(tidak ada perintah dan tidak ada larangan) bisa menjadi amal ibadah selama disertai
niat baik. Pelakunya mendapatkan imbalan pahala atas amal tersebut sebagaimana
pahalanya orang-orang yang beribadah”. (Hasiyah as-Sanady, Jilid 4, hal.368)
Imam Syafi’i memberikan batasan ideal tentang adat atau tradisi ini, menurutnya,
selama adat atau tradisi itu tidak bertentangan dengan dasar-dasar syariat, itu hal
terpuji. Artinya, agama memperbolehkannya. Sebaliknya, jika adat atau tradisi
tersebut bertentangan dengan dasar-dasar syariat, hal itu dilarang dalam Islam.
Menurut Imam Syafi’i yang dinukil oleh Baihaqi dalam kitabnya Manakip As Syafi’i
lil Baihaqi: Hal baru (bid’ah) terbagi menjadi 2 (dua) macam. Adakalanya hal baru
itu bertentangan dengan Al-Qur’an, as-Sunnah, al-Atsar, atau ijma Ulama. Itulah
bid’ah yang tercela. Sedangkan hal baru yang tidak bertentangan dengan dasar-dasar
agama tersebut adalah bid’ah yang terpuji. (Fathul Bari, karya Ibn Hajar, jilid 20,
hal:330)
H Fadlolan Musyaffa’ Mu’thi, MA
Rais Syuriyah PCNU Mesir
Iklan