Adat atau Tradisi dalam Beribadah (3-habis)

Adat atau Tradisi dalam Beribadah (3-habis)
09/02/2010
Dalam berijtihad masing-masing ulama mempunyai blue print yang berbeda. Namun,
secara substansial, para ulama tetap melandaskan ijtihad kepada dasar-dasar yang
telah digariskan oleh Al-Qur’an dan Al-Hadis.
Dalam hal tidak adanya legimitasi syara’, amalan-amalan yang tidak dijalankan atau
bahkan ditinggalkan Rasulullah SAW tidak berarti otomatis dilarang, baik bersifat
makruh atau haram. Coba kita menerungi sejenak fenomena kontemporer yang kita
temui dalam kehidupan sehari-hari dan beberapa riwayat tentang kehidupan Nabi
berikut ini:
Di era global yang serba canggih ini, kita tentu menemukan banyak sekali hal-hal
baru yang belum pernah terjadi pada zaman Rasulullah SAW, sahabat tabi’in atau
bahkan tabi’it tabi’in. Apakah kemudian kita akan mengatakan bahwa semua yang
belum pernah ada pada zaman mereka harus kita tinggalkan?
Kalau kita katakan bahwa sesuatu yang ditinggalkan Rasulullah SAW harus kita
tinggalkan juga, berada juta hal ‘haram’ yang sudah kita lakukan, baik dari segi
ibadah ataupun non-ibadah? Misalnya, pada zaman Rasulullah SAW, fenomena shalat
tarawih tidak dikemas seperti yang sekarang kita lihat di masjidil haram. Pelaksanaan
shalat tarawih di sana sekarang kita lihat menggunakan sesuatu yang serba elektronik;
pengeras suara, listrik, pendingin ruangan (AC), dan lain-lain.
Contoh lain pada sisi non-ibadah. Bukanlah Rasulullah SAW terkenal dengan
kesahajaan dan kesederhanaannya? Beliau tidak baju mahal dan elegan. Sekarang,
berapa ratus juta muslim di dunia yang mengenakan baju-baju bermerk? Apakah akan
kita katakan juga bahwa itu sebuah perilaku haram yang telah manjadi budaya? Tentu
saja tidak.
Kalau kita cermati dalil-dalil baik dari Al-Quran dan Al Hadis, pendapat ulama
tampak sekali bahwa Allah SWT tidak pernah menghitamputihkan legimitasi sebuah
hukum. Silahkan kita kaji persoalan yang ada sesuai dengan kaidah-kaidah fikih yang
telah ditetapkan semenjak lama. Jadi, janganlah kita membelanggu diri dalam
beragama dengan mengharamkan semua persoalan-persoalan yang belum dilegimitasi
syara’.
Marilah kita telisik beberapa sebab; kenapa Rasulullah SAW meninggalkan perkara
tertentu? Apakah seluruhnya karena diharamkan Allah SWT atau karena alasan
tertentu, misalnya Rasulullah SAW tak mau makan makanan tertentu karena memang
tak selera dan sama sekali bukan karena haram –seperti orang Indonesia disuruh
makanan mukhalil (makanan khas Mesir) yang agak gimana gitu rasanya. Mari kita
perhatikan beberapa riwayat berikut ini:
a. Adakalanya, Rasulullah SAW meninggalkan sesuatu karena hal itu belum pernah ia
makan atau mencicipi sebelumnya. Maka ketika dihidangkan dihadapinya dan
dipersilahkan untuk dimakan beliau tak berselera. Misalnya tentang penolakan
Rasulullah SAW makan daging dhab (nama binatang). Hal ini sebagaimana
diceritakan oleh Ibnu Abbas RA.
b. Adakalanya, Rasulullah SAW meninggalkan sesuatu karena beliau terlupa. Hal ini
pernah terjadi dalam kasus Rasulullah SAW lupa melakukan sujud sahwi
sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud RA.
c. Adalakanya, Rasulullah SAW meninggalkan sesuatu dikarenakan beliau takut –jika
itu dilakukan secara terus-menerus umat akan menyangka bahwa aktifitas Rasulullah
SAW itu sebuah kewajiban- yang harus dikerjakan umatnya. Hal ini sebagaimana
diriwayatkan Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah melakukan jamaah sholat
taraweh hanya 4 (empat) kali di bulan Ramadhan. Lainnya beliau lakukan sendiri di
rumah.
Dan masih banyak lagi hal-hal yang ditinggalkan Rasulullah SAW yang tidak karena
diharamkan Allah, tapi lebih karena, misalnya lupa, khawatir atau tak selera karena
tak terbiasa.
Olah karena itu merilah kita tunaikan ibadah ajaran-ajaran Islam secara proporsional.
Hal-hal yang sudah jelas-jelas wajib, harus ditunaikan yang haram, harus
ditinggalkan; yang sunah lebih utama ditunaikan dan yang makhruh lebih baik
ditinggalkan; yang mubah boleh ditunaikan dan boleh di tinggalkan. Ketentuan
tentang ini semua telah diatur secara rapi dalam Al-Qur’an, Al-Hadis dan ketentuanketentuan
detil yang dihasilkan dari ijtihad para ulama.
Sedangkan fenomena-fenomena baru, yang belum mendapatkan legimitasi hukum
dari Al-Qur’an atau Al-hadis hukumnya mubah. Artinya, tidak diperintahkan dan
tidak dilarang. Lantas bagaimana ? Hukumnya diserahkan kepada maslahat manusia.
Jika hal itu memberikan implikasi positif, maka dianjurkan. Sebaiknya, jika
memberikan implikasi negatif, maka dilarang. Dalam hal ini dikembalikan kepada
ijtihad ulama yang berkompeten dan beberapa ulama mengkatagorikan hal ini sebagai
tindakan bid’ah yang hasanah atau hal baru yang baik.
H Fadlolan Musyaffa’ Mu’thi, MA
Rais Syuriyah PCNU Mesir