DALIL-DALIL TENTANG BOLEHNYA GERAKAN SAAT SHOLAT APABILA ADA HAJAT

DALIL-DALIL TENTANG BOLEHNYA GERAKAN SAAT SHOLAT APABILA ADA HAJAT
 Ada beberapa dalil yang sangat jelas menunjukkan, bolehnya gerakan seperti mematikan dering HP di tengah sholat ini. Kami cukupkan di sini beberapa saja:
Dalil Pertama:
عَنْ أَبِيْ سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : بَيْنَمَا رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ، إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ، فَلَمَّا قَضَى رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ : مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَائِكُمْ نِعَالِكُمْ قَالُوْا رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَام أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا
Dari Abu Sa’id al-Khudriرضي الله عنه berkata, “Suatu ketika Rasulullah رحمه الله pernah sholat mengimami para sahabat, tiba-tiba beliau melepas sandalnya dan meletakkannya di sebelah kirinya. Tatkala para sahabat melihat hal itu, maka mereka pun langsung melepas sandal-sandal mereka. Setelah selesai sholat, maka Rosululloh bertanya, ‘Kenapa kalian melepas sandal-sandal kalian?’ Mereka mengatakan, ‘Karena kami melihat engkau melepas sandal, maka kami juga melepas sandal kami.’ Selanjutnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengatakan, ‘Sesungguhnya Jibril عليه السلام tadi datang kepadaku seraya mengabarkan kepadaku bahwa pada sandalku ada najisnya.'” (HR. Abu Dawud: 650, Ahmad: 3/20, Ibnu Khuzaimah: 1017, Ibnu Hibban 5/560)
Dalam hadits ini secara jelas Nabi صلى الله عليه وسلم melakukan gerakan di tengah sholat yaitu melepas sandal.
Dalil Kedua:
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هو شَيْطَانٌ
“Apabila salah seorang di antara kalian sholat menghadap sutroh (pembatas) dari manusia, lalu ada seorang yang ingin untuk lewat di depannya maka hendaknya dia menahannya, kalau masih tidak mau maka hendaknya dilawan karena diaadalah setan.” (HR. al-Bukhori: 487 dan Muslim: 259)
Dalam hadits ini Nabi صلى الله عليه وسلم menganjurkan kepada orang yang sedang sholat untuk menghalangi orang yang hendak lewat di depannya. Tidak diragukan lagi bahwa hal itu termasuk gerakan dalam sholat.
Dalil Ketiga:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ : نِمْتُ عِنْدَ مَيْمُونَةَ رضي الله عنها وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عِنْدَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي فَقُمْتُ على يَسَارِهِ فَأَخَذَنِيْ فَجَعَلَنِيْ عَنْ يَمِينِهِ
Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata, “Saya pernah tidur di rumah bibi Maimunah رضي الله عنها, ketika Rosululloh  صلى الله عليه وسلمtinggal bersamanya malam itu, lalu beliau berwudhu lalu sholat malam, saya pun berdiri sholat di samping kirinya, lalu Rosululloh صلى الله عليه وسلم menarikku dan meletakkanku di samping kanannya…. ” (HR. al-Bukhori: 666 dan Muslim: 184)1
Dalam hadits ini juga Rosululloh صلى الله عليه وسلم melakukan gerakan di tengah sholat karena ada tujuannya.
Sebenarnya, masih banyak dalil-dalil lainnya lagi yang menunjukkan bolehnya gerakan di tengah sholat apabila memang ada hajarnya. Namun, menurut kami tiga hadits di atas cukup untuk mewakili lainnya.



1.     Faedah: Hadits ini memuat banyak sekali faedah, sebagian penulis menghimpun faedah-fedah yang terkandung di dalamnya, sehingga mampu mencapai seratus faedah. Lihat buku 100 Faedah Muhimmah fi Haditsin Li Habril Ummah karya Muhammad bin Hasan al-Bulqosi.