Mikrobia dalam Pengolahan Limbah Cair Tahu

Mikrobia  merupakan  salah  satu  faktor  kunci  yang ikut menentukan  berhasil  tidaknya  suatu  proses  penanganan  limbah  cair organik secara biologi
Mikrobia  merupakan  salah  satu  faktor  kunci  yang ikut
menentukan  berhasil  tidaknya  suatu  proses  penanganan  limbah  cair
organik secara biologi. Keberadaanya sangat diperlukan untuk berbagai
tahapan dalam perombakan bahan organik.
Marchaim  (1992)  menyatakan  bahwa  efektifitas  biodegradasi
limbah  organik menjadi metana membutuhkan  aktifitas metabolik  yang
terkoordinasi  dari  populasi  mikrobia  yang  berbeda-beda.  Populasi
mikroba  dalam  jumlah  dan  kondisi  fisiologis  yang  siap  diinokulasikan
pada media fermentasi disebut sebagai starter.
Bakteri, suatu grup prokariotik, adalah organisme yang mendapat
perhatian  utama  baik  dalam  air  maupun  dalam  penanganan  air  limbah
(Jenie dan Winiati, 1993). Jadi,  dalam proses anaerobik, mikrobia yang
digunakan  berasal  dari  golongan  bakteri.  Bakteri  yang  bersifat
fakultatif  anaerob  yaitu  bakteri  yang mampu  berfungsi  dalam  kondisi
aerobik  maupun  anaerobik.  Bakteri-bakteri  tersebut  dominan  dalam
proses penanganan limbah cair baik secara aerobik ataupun anaerobik.Marchaim  (1992)  menyatakan  bahwa  digesti  atau  pencernaan
bahan  organik  yang  efektif membutuhkan  kombinasi metabolisme  dari
berbagai jenis bakteri anaerobik.
Beberapa  jamur  (fungi)  dan  protozoa  dapat  ditemukan  dalam
penguraian  anaerobik,  tetapi  bakteri  merupakan  mikroorganisme  yang
paling dominan bekerja didalam proses penguraian anaerobik. Sejumlah
besar  bakteri  anaerobik  dan  fakultatif  yang  terlibat  dalam  proses
hidrolisis  dan  fermentasi  senyawa  organik  antara  lain  adalah
Bacteroides,  Bifidobacterium,  Clostridium,  Lactobacillus,
Streptococcus.  Bakteri  asidogenik  (pembentuk asam)  seperti
Clostridium, bakteri  asetogenik  (bakteri  yang memproduksi  asetat dan
H2)  seperti  Syntrobacter  wolinii  dan  Syntrophomonas  wolfei  (Said,
2006)
Bakteri  metana  yang  telah  berhasil  diidentifikasi  terdiri  dari
empat genus  (Jenie dan Rahayu, 1993) :
1. Bakteri  bentuk  batang  dan  tidak  membentuk  spora  dinamakan
Methanobacterium.
2. Bakteri  bentuk  batang  dan  membentuk  spora  adalah
Methanobacillus.3. Bakteri bentuk kokus yaitu Methanococcus atau kelompok koki yang
membagi diri.
4. Bakteri bentuk sarcina pada sudut 90O dan tumbuh dalam kotak yang
terdiri dari 8 sel yaitu Methanosarcina.
Bakteri  metanogen  melaksanakan  peranan  penting  pada  digesti
anaerob  karena  mengendalikan  tingkat  degradasi  bahan  organik  dan
mengatur  aliran  karbon  dan  elektron  dengan  menghilangkan  metabolit
perantara  yang  beracun  dan meningkatkan  efisiensi  termodinamik  dari
metabolisme perantara antar spesies.
Soetarto  et  all. (1999)  menyatakan  bahwa  bakteri  metanogen
merupakan  obligat  anaerob  yang  tidak  bisa  tumbuh  pada  keadaan  yang
terdapat  oksigennya  dan  menghasilkan  metan  dari  oksidasi  hidrogen
atau senyawa organik sederhana seperti asetat dan metanol serta tidak
dapat menggunakan karbohidrat, protein, dan substrat komplek organik
yang  lain.  Bakteri  penghasil  metan  bersifat  gram  variabel,  anaerob,
dapat mengubah CO2 menjadi metan, dinding selnya mengandung protein
tetapi  tidak  mempunyai  peptidoglikan.  Bakteri  ini  merupakan  mikrobia
Archaebacteria yang merupakan jasad renik prokariotik yang habitatnya
sangat ekstrim. Archaebacteria  adalah kelompok prokariot yang sangat berbeda dari eubacteria. Dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan
(murein),  tidak  sensitif  terhadap  kloramfemikol.  Pada
Methanobacterium  sp.,  dinding  selnya  mengandung  materi  seperti
peptidoglikan  yang  disebut  pseudopeptidoglikan  atau  pseudomurein
tersusun dari N asetil glukosamin dan asam N asetil talosaminuronat (2
gula  amino).  Asam  amino  yang  ada  semuanya  bentuk  L  (pada
peptidoglikan  bentuk D). Dinding  sel  Archaebacteria  tahan  terhadap
lisosim. Methanosarcina sp. mengandung dinding sel tebal galaktosamin,
asam  glukuronat,  dan  glukosa.  Dinding  sel  Methanococcus  dan
Methanomicrobium  mengandung protein dan kekurangan karbohidrat.
Dwidjoseputro  (1998)  menyatakan  bahwa  ciri  genus
Methanobacterium  adalah  anaerob,  autotrof/heterotrof,  dan
menghasilkan gas metan. Bakteri autotrof  (seringkali dibedakan antara
kemoautotrof  dan  fotoautotrof)  dapat  hidup  dari  zat-zat  anorganik.
Bakteri heterotrof membutuhkan zat organik untuk kehidupannya.
Substrat yang digunakan oleh bakteri metanogen berupa  karbon
dengan sumber energi berupa H2/CO2, format, metanol, metilamin, CO,
dan  asetat.  Kebanyakan  metanogen  dapat  tumbuh  pada  H2/CO2, akan
tetapi  beberapa  spesies  tidak  dapat  memetabolisme  H2/CO2.  Nutrisi yang dibutuhkan oleh metanogen bervariasi dari yang sederhana sampai
yang  kompleks.  Berkaitan  dengan  asimilasi  karbon,  ada  yang  berupa
metanogen  autotrof  dan  heterotrof.  Di  habitat  aslinya,  bakteri
metanogen  terantung dari  bakteri  lain  yang menyuplai  nutrien  esensial
seperti  sisa  mineral,  vitamin,  asetat,  asam  amino,  atau  faktor-faktor
tumbuh lainnya (Main and Smith, 1981).
Bakteri  yang  berperan  dalam  penguraian  limbah  organik  secara
alami  tumbuh  secara  lambat  sehingga  diperlukan  penambahan  inokulasi
pengurai limbah. Salah satu merk dagang inokulum yang biasa digunakan
adalah  Bio2000.  Kemasan  Bio2000  mendiskripsikan  bahwa  Bio2000
merupakan  serbuk  pengurai  limbah  organik  yang  didalamnya  terdapat
bakteri dan bahan-bahan alami yang dapat menghasilkan bifido bacteria
(bakteri  yang  menguntungkan)  sehingga mampu  memacu  penguraian
limbah organik  lebih cepat. Komposisi Bio2000 adalah air  (3 %), % abu
(72,46),  protein  kasar  (3,57 %  ),  lemak  kasar  (  0,27 %),  serat  kasar
(9,37), kalsium (19,12 %), fosfor (0,1 %), dan lain-lain (11,33 %). Bakteri
yang diinokulasikan adalah bakteri amilolitik (35,43 %), selulotik ( 26,64
%), proteolitik (20,84 %), dan lipolitik (17,13 %).