PEMBATAL PUASA DI ZAMAN MODERN

1. بخاخ الربو (Bronkodilator)
Yaitu sebuah alat yang berisikan obat pembuka saluran bronki yang menyempit oleh denyutan, yang disemprotkan ke mulut untuk mengobati atau meredakan penyakit sejenis asma/sesak napas.1
Alat ini mengandung beberapa unsur di dalamnya, antara lain: air, oksigen, dan bahan-bahan kimia lainnya.
Hukumnya?
Para ulama berbeda pendapat tentang alat ini menjadi dua pendapat:
Pendapat pertama. Mereka mengatakan bahwa alat ini tidak membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Syaikh Bin Baz,2 Ibnu Utsaimin,3 Ibnu Jibrin,4 dan keputusan Lajnah Da’imah.5
Dalil mereka:
*   Menurut mereka alat ini tidak membatalkan puasa lantaran bukan termasuk makan dan minum, bahkan unsur yang masuk ke dalam rongga hanya angin saja.
*   Andaikata kita katakan ada unsur kimia yang masuk ke dalam rongga walaupun sedikit, maka ini hanyalah perkiraan yang belum pasti, dan ini adalah sesuatu yang meragukan. Sedangkan asal hukum puasa adalah sah/tidak batal, sampai ada pembatal yang jelas.
Pendapat kedua. Mereka mengatakan bahwa alat seperti ini membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Fadhl Hasan Abbas,6 Syaikh Muhammad Mukhtar as Salami, dan para ahli medis di zaman ini.7
Dalil mereka:
*   Menggunakan alat ini hampir dipastikan adanya unsur kimia yang masuk ke dalam rongga sehingga membatalkan puasa.
Pendapat yang kuat. Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama, yaitu alat ini tidak membatalkan puasa, lantaran tidak bisa dipastikan unsur bahan kimia dari alat ini yang masuk ke dalam rongga, sehingga asal hukum puasa adalah sah. Kemudian alat ini di-qiyas-kan dengan siwak yang mempunyai beberapa unsur bahan kimia, yang apabila siwak digunakan, pasti unsur-unsur kimia8 yang berupa angin itu masuk ke rongga, padahal Rasulullah صلى الله عليه وسلم menggunakan siwak walaupun beliau sedang berpuasa.9
Walaupun demikian, sebaiknya tidak menggunakan alat (bronkodilator) ini ketika berpuasa kecuali terpaksa.10



1.      Dokter di Rumah Anda hal. 296 pada kolom “Informasi Penting”
2.      Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 15/265.
3.      Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 19/209-210.
4.      Fatawa ash Shiyam hal. 49.
5.      Fatawa Islamiyyah 2/131.
6.      At Tibyan wal Ithaf fi Ahkam ash Shiyam wal I’tikaf hal. 115.
7.      Lihat majalah al Majma’ thn. ke-10, juz 2, hal 65,76,364,dan 378.
8.      Sebagaimana telah dilakukan penelitian medis terhadap siwak yang mempunyai delapan unsur bahan kimia yang sangat bermanfaat untuk memelihara gigi, gusi, lidah, dan sebagainya (majalah Majma’ al Fiqhi thn ke-10, juz 2, hal. 259).
9.      Sebagaimana dalam HR. Bukhari dan Fathul Bari 4/158.
10.  Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 15/265.