PEMBATAL PUASA DI ZAMAN MODERN 4

4. قطرة الأنف (Obat Tetes Hidung)
Hidung adalah saluran (jalan) yang sangat berkaitan erat dengan tenggorokan dan dapat mengantarkan sesuatu yang masuk melalui hidung menuju tenggorokan, diteruskan ke dalam rongga manusia, sebagaimana telah diketahui dengan kenyataan dan juga dengan dalil syar’i, sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
وَ بَالِغْ فِي الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ اَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا
“Hiruplah air dalam-dalam ke hidung kecuali kalau engkau berpuasa”1
Hukumnya?
Para ulama berbeda pendapat dalam penggunaan tetes hidung ketika sedang berpuasa.
Pendapat pertama. Mereka mengatakan tidak membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Syaikh Haitsam al Khayyath dan ‘Ajil an Nasyami.2
Dalil mereka:
*   Menurut mereka bahwa tetes hidung yang masuk ke dalam rongga sangat sedikit, dan cairan yang sangat sedikit itu kalau dibandingkan dengan bekas berkumur ketika wudhu masih jauh lebih sedikit; padahal seorang yang berkumur ketika berwudhu bisa dipastikan ada sisa-sisa airnya masuk ke rongganya dan sudah dimaklumi bersama bahwa puasanya tidak batal.
*   Tetes hidung walaupun masuk ke dalam rongga manusia tetapi dia tidak berfungsi sebagai pengganti makan dan minum.
Pendapat kedua. Mereka mengatakan bahwa tetes hidung membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Syaikh Bin Baz,3 Ibnu Utsaimin,4 Muhammad as Salami, dan DR. Muhammad al Alfi.5
Pendapat yang kuat. Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, yaitu tetes hidung yang sampai masuk ke dalam rongga membatalkan puasa. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hal, diantaranya:
*   Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang telah lalu:
وَ بَالِغْ فِي الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ اَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا
“Hiruplah air dalam-dalam ke hidung kecuali kalau engkau berpuasa”
Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang orang yang berpuasa untuk terlalu dalam ketika menghirup air ke hidungnya. Tidaklah kita mengetahui hikmahnya melainkan bahwa dikhawatirkan (apabila terlalu kuat menghirup air ke dalam hidung) air akan masuk ke dalam rongga sehingga membatalkan puasa, lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarangnya, dan sudah kita maklumi bersama bahwa air yang masuk ke hidung ketika berwudhu (ber-istinsyaq) tidak akan menggantikan makan dan minum.6
*   Hidung adalah saluran yang berkaitan sangat erat dengan mulut dan keduanya adalah jalan (saluran) menuju rongga manusia; ini terbukti dengan kenyataan, berbeda dengan mata. Oleh karena itu, suatu ketika seorang yang tersedak akan keluar makanan dan minuman dari mulut dan hidungnya. Begitu juga kita menjumpai suatu ketika ada seorang muntah dari mulut dan hidungnya secara bersama-sama.
*   Bahkan akhir-akhir ini telah digunakan cara memasukkan cairan pengganti makanan dan minuman melalui hidung bagi orang yang sedang mengalami gangguan pada mulutnya (NGT = Nasogastric Tube, selang untuk memasukkan makanan dan minuman dari hidung dan terhubung sampai ke lambung -admin). Wallahu a’lam.



1.      HR. Tirmidzi: 27, Abu Dawud: 2366, Ibnu Majah: 407, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 935
2.      Lihat majalah al Majma’ thn. ke-10, juz 2, hal. 385 dan 399.
3.      Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 15/261.
4.      Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 19/206.
5.      Lihat majalah al Majma’ thn. ke-10, juz 2, hal. 81.
6.      Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 15/280.