PEMBATAL PUASA DI ZAMAN MODERN 5

5. قطرة العين (Obat Tetes Mata)
Pembahasan masalah ini sebenarnya bisa di-qiyas-kan/ digabungkan kepada pembahasan penggunaan “celak mata” ketika sedang berpuasa, baik celak yang berfungsi untuk obat mata, atau hanya untuk sekedar berhias. Masalah penggunaan celak mata bagi orang yang berpuasa telah dibahas oleh para ulama terdahulu.
Hukum celak mata ketika berpuasa
Para ulama terdahulu berbeda pendapat tentang penggunaan celak mata ketika sedang berpuasa.
Pendapat pertama. Mereka mengatakan celak mata tidak membatalkan puasa. Ini adalah madzhab imam Abu Hanifah, dan madzhab imam Syafi’i,1 dan juga dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawanya 25/242.
Dalil mereka:
* Mereka mengatakan celak mata walaupun sampai terasa di tenggorokan tidaklah membatalkan puasa; lantaran mata bukan termasuk saluran yang mengantarkan sesuatu ke dalam rongga manusia, dan karena Nabi صلى الله عليه وسلم hanya menyebutkan hidung saja yang ada kaitannya dengan tenggorokan sebagaimana dalam hadits yang telah lalu.
Pendapat kedua. Mereka mengatakan celak mata membatalkan puasa apabila terasa di tenggorokan. Ini adalah pendapat madzhab imam Malik dan madzhab imam Ahmad.2
Dalil mereka:
*   Menurut mereka, mata sangat berkaitan erat dengan tenggorokan sehingga mengantarkan sesuatu yang masuk ke mata kemudian menuju rongga manusia, dan ini terbukti, bahwa seorang yang menggunakan celak mata (terutama jenis celak yang dingin) dia akan segera merasakannya pada tenggorokannya.
Pendapat yang kuat tentang celak mata adalah pendapat yang pertama, yaitu celak mata tidak membatalkan puasa, walaupun sampai terasa pada tenggorokan atau pada rongga manusia. Pendapat ini dikuatkan oleh beberapa hal, diantaranya:
*   Rasulullah صلى الله عليه وسلم hanya melarang ber-istinsyaq (menghirup atau memasukkan air ke hidung) dalam-dalam ketika sedang berpuasa, dan tidak melarang yang lainnya.
*   Terbukti dengan keadaan para sahabat yang menggunakan celak mata, dan mereka tidak membatalkan puasanya dengan penggunaan celak mata.
*   Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan para sahabatnya menggunakan celak mata secara umum setiap saat tanpa dikecualikan ketika puasa (lihat HR. Bukhari kitab ath Thib: 18).
*   Adapun perkataan bahwa mata ada kaitan erat dengan tenggorokan, maka ini bukanlah dalil syar’i, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.
*   Celak mata bukan makanan dan minuman yang dimasukkan ke dalam rongga melalui mulut atau hidung, juga tidak berfungsi sebagai makanan dan minuman, dan tidak dapat menggantikan keduanya.
Tetes mata dan pendapat yang kuat
Kami tidak menumpai pembahasan tetes mata bagi orang yang berpuasa di dalam kitab-kitab para pendahulu. Akan tetapi, kami menjumpainya telah dibahas oleh para ulama kontemporer; kebanyakan mereka mengatakan bahwa penggunaan obat tetes mata tidak membatalkan puasa walaupun sampai terasa di tenggorokan. Ini adalah pendapat Syaikh Ibnu Baz,3 Ibnu Utsaimin,4 DR. Fadhl Muhammad Abbas,5 DR. Wahbah az Zuhaili, DR. Shiddiq adh Dharir dan kebanyakan ahli medis.6
Pendapat mereka didasari oleh dalil-dalil yang telah lalu. Selain itu, juga dikuatkan oleh beberapa hal, diantaranya:
*   Menurut penelitian, kelopak mata tidak bisa menampung sedikit pun dari benda cair. Oleh karena itu, bila seseorang meneteskan satu tetes obat mata (yang ukurannya ± 0,06 mm), pasti cairan itu keluar/tumpah dari kelopak mata; padahal satu tetes itu sangat sedikit. Sehingga cairan yang masuk ke dalam kelopak mata sangatlah sedikit, apalagi yang sampai ke tenggorokan adalah lebih sangat sedikit lagi; dan ini menjadikan hal tersebut dianggap tidak ada (dimaafkan).
*   Telah terbukti dalam penelitian medis bahwa yang dirasa pada tenggorokan hanya sekedar rasa dan tidak ada wujud zat/bendanya. Hal itu lantaran terlalu sedikitnya cairan yang bisa ditampung oleh kelopak mata, kemudian cairan yang sangat sedikit tersebut diserap urat-urat kelopak mata dan habislah cairan itu, kemudian tinggallah sisa-sisa rasa cairannya saja yang dapat
*   Adapun rasa cairan di tenggorokan, maka itu tidak harus membatalkan puasa, dan itu bukan alasan syar’i untuk membatalkan puasa. Oleh karena itu, sebagai bandingan, apabila ada seseorang yang menginjak buah Handhalah7 kemudian dia merasakan pahitnya buah ini di tenggorokan dan alat pencernaannya, maka puasanya tidak batal dan tetap sah.



1.      Lihat Fathul Qadir 2/257, dan Majmu’ Syarh al Muhadzdzab 6/315.
2.      Lihat at Taj wal Iklil 3/347, dan al Furu’ 3/46.
3.      Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 15/260.
4.      Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 19/206.
5.      Lihat at Tibyan wal Ithaf fi Ahkam ash Shiyam wal I’tikaf hal. 110.
6.      Lihat majalah al Majma’ thn. ke-10, juz 2, hal. 378,381,385,dan 392.
7.      Buah Handhalah rasanya sangat pahit, banyak dipakai untuk bahan obat-obatan. Lantaran sangat pahitnya, buah Handhalah dapat digunakan untuk membersihkan pencernaan (obat urus-urus) hanya dengan menginjaknya beberapa saat sampai dirasa pahitnya di tenggorokan dan pencernaannya, lalu orang yang menginjaknya merasa mual, kemudian keluarlah isi perut saat itu juga; akan tetapi sangat berbahaya bagi wanita hamil, karena bisa mengakibatkan keguguran hanya dengan menginjaknya (Min Fawa’id Syaikh DR. Sami’ as Shaqir حفظه الله fii Syarh Kitab ash Shiyam min Zad al Mustaqni’)