PEMBATAL PUASA DI ZAMAN MODERN 8

8. التبرّع بالدم (Donor Darah)
Yaitu mengeluarkan sebagian darahnya untuk diberikan kepada orang lain yang membutuhkan. Masalah ini belum pernah dibahas oleh para ulama terdahulu. Hanya saja, para ulama kontemporer menyamakan/meng-qiyas-kan donor darah dengan masalah bekam/cantuk (pengobatan dengan cara mengeluarkan sebagian darah kotor), yang keduanya sama-sama mengeluarkan darah. Oleh sebab itu, sebelum menentukan hukum donor darah bagi orang yang berpuasa, perlu dijelaskan hukum bekam bagi orang berpuasa.
Hukum bekam ketika berpuasa
Para ulama berbeda pendapat tentang pembekaman, termasuk membatalkan puasa ataukah tidak.
Pendapat pertama. Mereka mengatakan bahwa bekam membatalkan puasa. Ini adalah madzhab Hambali, Ishaq, Ibnul Mundzir, dan mayoritas fuqaha (ahli fikih),1 dan dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, dan juga Ibnu Utsaimin dalam fatwanya.
Dalil mereka:
*   Menurut mereka bekam adalah salah satu hal yang dapat membatalkan puasa.
عَنْ رَافِعِ بْنِ خَادِجٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ : أَفْطَرَ الحَاجِمُ وَ المَحْجُوْمُ
Dari Rafi’ bin Khadij رضي الله عنه berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: ”Berbuka (batal puasa) orang yang membekam dan dibekam.”2
Pendapat kedua. Menurut pendapat kedua, bekam tidak membatalkan puasa. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama secara umum, baik dari kalangan ulama salaf (terdahulu), maupun khalaf (ulama masa kini).3
Dalil mereka:
*   Menurut mereka ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم pernah berbekam sedangkan beliau sedang dalam keadaan puasa, sebagaimana dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما beliau berkata:
احْتَجَمَ رَسُوْلُ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ وَ هُوَ صَائِمٌ
“Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah berbekam sedangkan beliau berpuasa.”4
Pendapat yang kuat. Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, yaitu berbekam tidak membatalkan puasa, dengan alasan dalil yang tersebut di atas; dan dikuatkan oleh beberapa hal di antaranya:
*   Hadits Ibnu Abbas رضي الله عنهما yang menyatakan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم berbekam dalam keadaan puasa adalah me-nasakh (menghapus) hadits yang mengatakan batalnya puasa seorang yang berbekam dan yang dibekam. Hal ini dibuktikan bahwa Abu Sa’id al Khudri رضي الله عنه mengatakan:
رَخَّصَ رَسُوْلُ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ لِاصَّائِمِ فِي الحِجَامَةِ
“Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberi rukhshah (keringanan) bagi orang yang berpuasa untuk berbekam.”5
Berkata Ibnu Hazm رحمه الله: “Perkataan Nabi صلى الله عليه وسلم ‘memberi rukhshah’ tidak lain menunjukkan arti larangan sebelum datangnya rukhshah (sehingga asalnya dilarang, lalu diizinkan). Oleh karenanya, benarlah perkataan/pendapat bahwa ini (hadits Ibnu Abbas رضي الله عنهما) me-nasakh hadits yang pertama.” (al Muhalla 6/204)
* Pendapat ini diperkuat dengan adanya hadits-hadits lain yang mengisyaratkan bahwa hadits Rafi’ bin Khadij رضي الله عنه dihapus, seperti:
عَنْ ثَابِتٍ البُنَّانِي قَالَ سُئِلَ أَنَسٌ بْنُ مَالِكِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كُنْتُمْ تَكْرَهُوْنَ الحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ عَلَي عَهْدِ رَسُوْلِ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ؟ قَالَ لاَ إِلَّا مِنْ أَجْلِ الضَّعْفِ
“Dari Tsabit al Bunani beliau berkata: Telah ditanya Anas bin Malik رضي الله عنه: “Apakah kalian (para sahabat) di zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم membenci bekam bagi orang yang berpuasa?” Beliau menjawab: “Tidak (kami tidak membencinya), kecuali kalau menjadi lemah (karena bekam).”6
Dari penjelasan di atas, menjadi jelas bahwa donor darah tidak membatalkan puasa, karena di-qiyas-kan kepada masalah bekam menurut pendapat yang kuat adalah tidak membatalkan puasa.
Demikianlah, pembahasan singkat tentang pembatal-pembatal puasa di zaman modern ini. Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus dan selalu memberikan petunjuk-Nya, sehingga kita dapat menaati-Nya dalam setiap perintah-Nya; demikian juga dalam kewajiban berpuasa, sehingga kita berhak memasuki pintu surga yang bernama ar Rayyan. Amiin.



1.      Lihat al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab 6/349.
2.      HR. Tirmidzi: 774, Ahmad 3/465, Ibnu Khuzaimah: 1964, Ibnu Hibban: 3535; hadits ini telah dishahihkan oleh imam Ahmad, imam Bukhari, Ibnul Madini (lihat al Istidzkar 10/122). Demikian juga al Albani menshahihkannya dalam Irwa’ul Ghalil: 931, Misykatul Mashabih: 2012, dan Shahih Ibnu Khuzaimah: 1983.
3.      Lihat al Fatawa al Hindiyyah 1/199, Bidayatul Mujtahid 1/281, dan al Majmu’ 6/349.
4.      HR. Bukhari:1838,1939, Muslim: 1202.
5.      HR. Nasa-i 3/432, Daruquthni 2/182, Baihaqi 4/264; Daruquthni mengatakan seluruh perawinya terpercaya, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Shahih Ibnu Khuzaimah: 1969
6.      HR. Bukhari 4/174; lihat Fathul Bari dalam penjelasan hadits ini, dan juga perkataan al Albani رحمه الله yang menguatkan masalah ini dalah Misykatul Mashabih: 2016