Potensi Limbah Cair Industri Tahu Sebagai Sumber Energi Alternatif Biogas

Biogas dikenal sebagai gas rawa atau lumpur dan bisa digunakan sebagai bahan bakar. Biogas adalah gas mudah terbakar yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob.
Biogas dikenal sebagai gas rawa atau lumpur dan bisa digunakan
sebagai bahan bakar. Biogas adalah gas mudah terbakar yang dihasilkan
dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri
anaerob. Pada umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses untuk
menghasilkan biogas (Anonim, 2005).
Whey merupakan bagian limbah cair tahu yang paling berbahaya.
Pengolahan  limbah  cair  tahu  secara  anaerobik  memungkinkan  konversi
whey menjadi  biogas  karena  whey mengandung  bahan  organik  cukup
tinggi  sebagaimana  yang  ditunjukkan  oleh  nilai  CODnya.  Pembentukan
biogas terjadi  selama proses fermentasi berjalan (Setiawan, 2005).
Pembuatan dan penggunaan biogas di Indonesia mulai digalakkan
pada awal tahun 1970-an dengan tujuan memanfaatkan buangan atau sisa
yang  berlimpah  dari  benda  yang  tidak  bermanfaat  menjadi  yang
bermanfaat,  serta mencari  sumber  energi  lain  di  luar  kayu  bakar  dan
minyak  tanah.  Pembuatan  biogas  bisa  dengan  drum  bekas  yang  masih kuat atau sengaja dibuat dalam bentuk bejana dari tembok atau bahan-
bahan lainnya (Suriawiria, 2005).
Biogas dipergunakan dengan cara yang sama seperti penggunaan
gas  lainnya yang mudah terbakar dengan mencampurnya dengan oksigen
(O2). Untuk mendapatkan hasil pembakaran yang optimal perlu dilakukan
proses pemurnian/penyaringan karena biogas mengandung beberapa gas
lain yang tidak menguntungkan (Anonim, 2005).
Biogas  dapat  digunakan  untuk  kepentingan  penerangan  dan
memasak. Lampu atau kompor yang sudah umum dan biasa dipergunakan
untuk  gas  lain  selain  biogas  tidak  cocok  untuk  pemakaian  biogas,
sehingga  memerlukan  penyesuaian  karena  bentuk  dan  sifat  biogas
berbeda  dengan  bentuk  dan  sifat  gas  lain  yang  sudah  umum.  Pusat
Teknologi Pembangunan (PTP) ITB telah sejak lama membuat lampu atau
kompor  yang  dapat  menggunakan  biogas,  yang  asalnya  dari  lampu
petromak atau  kompor  yang  sudah  ada.  Kompor  biogas  tersebut
tersusun  dari  rangka,  pembakar,  spuyer,  cincin  penjepit  spuyer  dan
cincin  pengatur  udara,  yang  kalau  sudah  diatur  akan  mempunyai
spesifikasi  temperatur  nyala  api  dapat mencapai  560°C  dengan  warna nyala  biru  muda  pada  malam  hari,  dan  laju  pemakaian  biogas  350
liter/jam.  (Suriawiria, 2005).
Gas metan mempunyai  nilai  kalor  antara  590  – 700  K.cal/m3.
Sumber  kalor  lain  dari  biogas  adalah  dari  H2 serta  CO  dalam  jumlah
kecil, sedang karbon dioksida dan gas nitrogen tak berkontribusi dalam
soal  nilai  panas.  Nilai  kalor  biogas  lebih  besar  dari  sumber  energi
lainnya,  seperti  coalgas  (586  K.cal/m3)  ataupun  watergas  (302
K.cal/m3). Nilai  kalor  biogas  lebih  kecil  dari  gas  alam  (967  K.cal/m3).
Setiap kubik biogas setara dengan 0,5 kg gas alam cair (liquid petroleum
gases/LPG),  0,5  L  bensin  dan  0,5  L  minyak  diesel.  Biogas  sanggup
membangkitkan tenaga  listrik  sebesar 1,25 – 1,50 kilo watt hour  (kwh)
(Setiawan,2005).
Biogas merupakan  gas  yang  tidak  berwarna,  tidak  berbau  dan
sangat  tinggi  dan  cepat  daya  nyalanya,  sehingga  sejak  biogas  berada
pada  bejana  pembuatan  sampai  penggunaannya  untuk  penerangan
ataupun  memasak,  harus  selalu  dihindarkan  dari  api  yang  dapat
menyebabkan kebakaran atau ledakan (Suriawiria, 2005).
Pembuatan biogas dimulai dengan memasukkan bahan organik ke
dalam digester,  sehingga bakteri anaerob membusukkan bahan organiktersebut dan menghasilkan gas  yang disebut biogas. Biogas  yang  telah
terkumpul di dalam digester dialirkan melalui pipa penyalur gas menuju
tangki penyimpan gas  atau langsung ke lokasi penggunaannya, misalnya
kompor. Biogas dapat dipergunakan dengan cara yang sama seperti cara
penggunaan gas  lainnya yang  mudah terbakar.  Pembakaran  biogas
dilakukan dengan mencampurnya dengan oksigen (O2). Untuk
mendapatkan hasil pembakaran yang  optimal  perlu dilakukan proses
pemurnian/penyaringan karena biogas  mengandung beberapa gas  lain
yang  tidak menguntungkan. Keuntungan lain yang  diperoleh adalah
dihasilkannya lumpur yang dapat digunakan sebagai pupuk. Faktor-faktor
yang mempengaruhi produktivitas sistem biogas antara  lain jenis bahan
organik yang  diproses, temperatur digester,  ruangan tertutup atau
kedap udara, pH, tekanan udara serta kelembaban udara. Komposisi gas
yang terdapat di dalam biogas adalah 40-70 % metana (CH4), 30-60 %
karbondioksida (CO2)  serta sedikit hidrogen (H2) dan hidrogen sulfida
(H2S)  (Anonim,2005).
Dari proses fermentasi dihasilkan campuran biogas yang terdiri
atas,  metana  (CH4), karbon  dioksida,  hidrogen,  nitrogen  dan  gas  lain
seperti H2S. Metana  yang dikandung  biogas  ini  jumlahnya  antara  54  –70%,  sedang  karbon  dioksidanya antara 27  – 43%.  Gas-gas  lainnya
memiliki persentase hanya sedikit saja (Setiawan, 2005).