Budaya Malem Ganjilan di Jember

Budaya Malem Ganjilan di Jember
Malam lailatul qodar atau yang sering disebut malam seribu bulan bagi umat muslim dimaknai sebagai malam yang penuh rahmat. Banyak kegiatan dilakukan dalam rangka memeperbanyak amal ibadah di malam itu. Ada hal unik yang dilakukan oleh sebagian umat muslim di daerah Kota Jember yaitu maleman ganjil.
foto budaya malam ganjilan
Seperti pada umumnya yang kita ketahui di malam-malam bulan ramadhan, umat muslim melaksanakan sholat taraweh di mushola atau masjid di sekitar tempat tinggalnya. Begitu juga yang dilakukan oleh umat muslim di daerah Jember. Namun jika kita amati di sepuluh malam ganjil terakhir yaitu malam 21 hingga 29 dimana dikenal sebagai malam-malam turunnya lailatul qodar, beberapa masyarakat muslim Jember yang pergi ke mushola untuk menunaikan ibadah sholat taraweh di malam itu berangkat dengan membawa tumpeng.
foto budaya malam ganjilanSelepas sholat taraweh para jamaah biasanya berkumpul melingkar di emperan Mushola. Ditengah-tengah mereka terkumpul beberapa tumpeng yang sudah dibawa oleh para jamaah. Setelah semua jamaah berkumpul imam sholat taraweh kemudian akan membacakan beberapa doa atau tahlil yang kemudian diamini oleh para jamaah. Selesai memanjaatkan doa maka acara makan tumpeng bersama pun dimulai. Tampak begitu akrab mereka membagi makan yang ada, kemudian menikmatinya bersama-sama.
Umat Islam yang melakukan amalan itu meyakini bahwa apa yang meraka lakukan adalah sebagai bentuk untuk menyambut datangnya malam lailatul qodar. “Malam lailatul qodar kan disunahkan untuk memperbanyak amal ibadah, melalui tumpengan kita bisa saling berbagi dengan sesama dan memperkuat ukhuah islamiah”, ujar Moeawan seorang imam mushola di Desa Sidomulyo Kecamatan Semboro Kabupaten Jember ini. Menurut pria yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang ini, menjalankan ibadah maleman ganjil dengan membawa tumpeng bukanlah sebuah kewajiban. “Yang penting bisa berkumpul bersama bersilaturahim, tahlilan bareng, kalau ada rejeki lebih ya mbuat tumpeng dimakan bersama-sama, ” jelas bapak dari empat anak ini.
Menurut beberapa kalangan tradisi malem ganjilan ini sesungguhnya sudah lama muncul seiring dengan masuknya Islam ke Pulau Jawa. Wali songo menyebarkan Islam di Jawa dengan melakukan akulturasi Islam dengan budaya Jawa, yaitu menggunakan budaya Jawa untuk menyebarkan ajaran agama Jslam. Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa malam ganjilan diilhami dari Serat Ambya yang menyebutkan bahwa setiap tanggal ganjil dimulai sejak 21 Ramadhan Nabi Muhammad SAW turun dari Gunung Nur, yaitu setelah menerima wahyu berupa ayat-ayat suci Alquran.
Menurut seorang kawan, ritual maleman ganjil dalam pandangan Islam termasuk bid’ah. “Malem ganjilan ya termasuk bid’ah hasanah, seperti halnya shalat taraweh berjamaah”, ujanya.
Iklan