Kemusyrikan di Televisi

 Kemusyrikan di Televisi   
SAHRUL Gunawan, pemain sinetron Indonesia – dan belakangan juga menyanyi – dikabarkan memilih untuk undur diri dari perannya dalam komedi Jin dan Jun. Alasannnya, dia tak ingin terjebak dalam peran stereotipe. Apa pun alasannya, sah-sah saja adanya. Setidaknya, dia tak “dipecat” produsernya – sekalipun jika ada pemecatan, alasan yang berada di baliknya haruslah terlebih dulu diketahu, untuk dijadikan perdebatan atau diskusi.
Saat saya menjadi pembicara dalam sebuah simposium tentang pertelevisian, seorang penanya menyatakan bahwa televisi Indonesia sudah penuh dengan kemusyrikan. Hal-hal yang musyrik itu kemudian antara lain dia contohkan lewat judul Jin dan Jun. Selain itu, Putri Duyung, Bidadari, Misteri Nini Pelet, Dendam Nyi Pelet, Dilarang Jatuh Cinta, Mister Hologram, termasuk Si Manis Jembatan Ancol dan Kembalinya Si Manis Jembatan Ancol.
Yang dimaksudkan dengan kemusyrikan itu adalah mempersekutukan Tuhan atau menduakannya, sehingga Tuhan tak lagi Maha Esa, sehingga kesegalaan Tuhan berada di bawah makhluk lain. Dalam Putri Duyung misalnya, sosok yang dimainkan Ayu Azhari itu bukan saja dieksplorasi dan diekploatasi keluguannya sebagai makhluk bukan manusia normal umumnya, melainkan juga digambarkan mampu ber-abrakadabra menciptakan sesuatu yang awalnya tak ada menjadi ada, termasuk mobil volkswagon kodok. Juga dimainkan oleh bintang yang sama, Bidadari juga kerap datang di saat salah satu tokoh dalam kisah ini dalam kesulitan dan meminta pertolongan.
Maknanya, jika dalam kesusahan, atau ingin mendapatkan sesuatu secara mendadak, logikanya menjadi: mintalah pertolongan Bidadari dan/atau Putri Duyung. Nyaris sejajar dengan dua tokoh yang dua-duanya dimainkan Ayu Azhari adalah figur Mister Hologram, yang diperankan Teddy Syah. Sosok remaja dalam kisah sinetron yang bernuansa komedik ini juga mengeksplorasi dan mengeksploatasi betapa lugunya sosok Tuan Hologram yang muncul dari layar komputer itu. Namun, lebih dari itu adalah: Tuan Hologram ini juga punya kuasa untuk melacak detak jam, menghentikannya, atau melakukan berbagai hal yang tidak bakal bisa dilakukan umumnya manusia normal.
Memang, sih, ada argumentasi tandingan untuk kekuasaan-kekuatan Tuan Hologram ini, yakni: sosok hologram merupakan representasi dari sebuah kecerdasan manusia – yang sesungguhnya juga diamanatkan Tuhan sebagai berkah dan karunia-Nya. Memang, argumentasi itu tidak salah. Tinggal nantinya, dalam kisah-kisah selanjutnya, adakah keberadaan sosok Tuan Hologram ini berelasi dengan kemungkinan keimanan dan religiusitas, misalnya.
Bagaimana dengan Dilarang Jatuh Cinta yang menggambarkan sosok arwah yang dimainkan Elma Theana? Dia tewas karena tersambar kendaraan yang melintas. Karena belum diterima di alam baka, selain karena dirinya merasa masih perlu berbhakti pada masyarakat, dia bermaksud memanfaatkan sisa waktunya menjelang dibukanya gerbang alam baka untuk berbuat baik. Maka, tetap hidup berwadah dan berfisiklah sosok Elma Theana di dunia. Lantas, dia pun menjadi pencari nasabah untuk asuransi dan beberapa profesi lainnya.
Tak terlalu susah baginya untuk mendapatkan nasabah, karena indra keenamnya – atau siapa tahu: ketujuhbelas – yang merupakan kesistimewaan sebagai makhluk-antara (antara hidup dan mati) sangat membantunya untuk melihat hal-hal sekitar yang oleh umumnya manusia tidak terlihat.
Tampaknya, senada dan seirama pula yang ditampilkan dalam judul-judul lain yang saya sebutkan sebelumnya. Dalam Si Manis Jembatan Ancol – termasuk sekuelnya – juga digambarkan kuasa arwah untuk membalas dendam terhadap para pemerkosanya. Maknanya, saat sebagai manusia biasa, dendam itu tak bakal terlampiaskan. Atau dalam analogi yang lebih luas: secara manusia biasa, secara manusiawi, tak ada persoalan yang bisa diatasi.
Justru karena itulah, logikanya, masyarakat membutuhkan Nini Pelet, Nyi Pelet, “Elma Theana”, bidadari, Putri Duyung, dan Tuan Hologram untuk mengatasi pelbagai persoalan duniawi ini.
Dalam forum diskusi berbeda, ada yang menyatakan bahwa film-film model-model beginian itu merupakan representasi produk impor, bukan milik bangsa sendiri. Diam-diam dan dalam forum itu saya katakan, Jin dan Jun – sekalipun produsernya asal India – tentulah dia merupakan produk dalam negeri. Alasannya, jin itu bukan milik bangsa asing. Buktinya, dalam tabligh akbar di Parkir Timur Senayan, beberapa tahun berselang, selain yang ummat Gus Dur, yang hadir yang tak tampak adalah para jin. Bahkan pasukan jin. Seolah pasukan jin ini merupakan khasanah milik organisasi masyarakat tertentu itu.
Bedanya adalah: ummat dalam organisasi masyarakat tersebut tak menempatkan jin bersejajar dengan Tuhan. Buktinya, dalam doa mereka, mereka tetap berseru pada Sang Ilahi, sementara dalam Jin dan Jun, sosok Jun yang dimainkan Sahrul Gunawan itu bahkan menganggap Oom Jin sebagai satu-satunya jalan keluar.
Kalau soal kemusyrikan ini dipertanyakan kepada produser dan broadcaster televisi, pastilah mereka akan menjawab: masyarakat suka, pasar menghendaki.
Tanpa harus menengok peringkat atau television rating pun bakal ketahuan bahwa sebagian masyarakat kita juga menggemari soal ini. Bukti tambahannya: bersamaan dengan kemerdekaan (mendirikan perusahaan) media, tak sedikit media yang memfokuskan tulisannya perihal dunia klenik. Entah itu wawancara dengan jin Laut Selatan untuk meneropong masa depan Indonesia, entah itu interview dengan para pengawal bayangan buron Hutomo “Tommy Soeharto” Mandalaputra, entah itu yang lainnya dan yang sejenisnya.
Maknanya, dalam masyarakat Indonesia, siapa tahu ada yang benar-benar berkubang dalam permusyrikan, selain ada yang setengah percaya terhadapnya, ditambah ada yang ingin jalan pintas. Yang jelas, keseharian Indonesia memang sudah bikin sumpeg kan? @