Islam mengajarkan agar selalu memenuhi janji atau kesanggupan,

Islam mengajarkan agar selalu memenuhi janji atau kesanggupan, sekalipun  itu berat melaksanakannya.  Akhir-akhir ini,  sudah dua kali,  saya menyanggupi  berceramah di dua tempat yang berjauhan. Pertama, pada hari yang sama, saya   harus memberi ceramah di dua pondok pesantren yang berjauhan tempatnya, yaitu pagi di Tebu Ireng Jombang, sedangkan malamnya di Pondok Pesaantren  Salafiyah Syafi’iyah Asem Bagus, Situbondo. Kedua, mengisi ceramah Nuzulul Qur’an yang di antara kedua tempatnya  berjarak juga cukup jauh, yaitu di Istana negara Jakarta dan di Tual, Maluku.
Antara Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang dengan Pondok Pesantren Salafiyah as Syafi’iyah Asem Bagus Situbondo, harus ditempuh tidak kurang dari 9 jam dengan kendaraan darat. Jarak itu masih harus ditambah lagi dengan perjalanan pulangnya, yang juga tidak kurang dari 7 jam.  Demikian pula perjalanan ke Jakarta untuk memenuhi kesanggupan ceramah di Istana, dan  kemudian diteruskan ke Tual, Maluku.  Jarak antara ke dua kota itu amat jauh.
Menuju Kota Tual  dari Jakarta cukup melelahkan. Berangkat dari Jakarta jam  01.30 nyampai di Ambon  sudah jam  07.00 pagi.  Kemudian  perjalanan diteruskan dari kota Ambon ke Tual masih harus naik pesawat lagi sekitar satu setengah jam. Perjalanan dari Malang ke Jakarta, Ambon, Tual,  dan kemudian besuk harinya pulang ke Malang lagi, ternyata cukup melelahkan.   Tapi memang, apapun beratnya tugas berdakwah harus dijalani. Di tengah kelelahan itu, saya teringat di masa kecil.  Pada waktu  kecil dulu, saya sering diajak oleh orang tua berdakwah, atau berceramah dari satu desa ke desa lain dengan berjalan kaki. Sering di tengah perjalanan,  orang tua, mengungkapkan keinginanannya, agar  saya menjadi da’i. Rupanya doa orangtua   tersebut terkabulkan.
Perjalanan sejauh itu memang berat. Apalagi harus mengikuti jadwal penerbangan pesawat yang harus berganti-ganti.  Demikian pula ketika harus menempuh perjalanan darat,  juga harus bersabar tatkala mengalami kemacetan. Perjalanan darat antara Jombang ke Asembagus Situbondo rawan kemacetan, apalagi antara Pasuruan sampai Problolinggo.  Kendaraan berupa truk  pengangkut barang, bus, dan lainnya yang sedemikian  banyak menjadikan jalan macet, sehingga harus pelan.  Kondisi seperti itu, menjadikan bepergian dengan kendaraan darat dan pesawat terbang menjadi sama-sama melelahkan.
Utungnya perjalanan yang melelahkan itu adalah untuk berdakwah. Berdakwah menjadi terasa penting oleh karena kegiatan itu bisa  mengingatkan diri sendiri, sambil mengajak orang lain. Bukan sebaliknya, yaitu  mengajak orang lain sambil mengingatkan diri sendiri. Kiranya, sebagai manusia biasa, yang selalu berada pada posisi salah dan lupa, maka harus ada mekanisme yang memiliki makna untuk  mengingatkan diri sendiri lewat dakwah itu. Oleh karena itu, sebenarnya berdakwah menjadi sangat penting dilakukan bagi semua orang,  ialah untuk mengingatkan diri sendiri itu.
Hal yang menarik lainnya, ketika berceramah, lebih-lebih  di  Indonesia Timur,  adalah tentang kerukunan dan kebersamaan.  Dua bulan terakhir ini, saya berceramah di Gubernuran Manado dan juga di kediaman Walikota Tual, Maluku,. Pada kegiatan  itu ternyata dihadiri,  bukan saja oleh umat Islam, tetapi juga oleh para tokoh  dan umat agama lain. Rasanya agak aneh, ceramah tentang isra’ mi’raj dan nuzulul Qur’an,  mereka  yang mendengarkan adalah orang-orang yang berlatar belakang berbagai agama, yaitu agama Hindu, Katholik, Protestan,  dan bahkan juga Kong Hu Cu, dan Islam sendiri.
Pada kesempatan ceramah  itu, saya mengajak gurau kepada yang hadir. Saya mengatakan bahwa  suasana pengajian menjadi indah sekali.  Orang  yang belum tentu mempercayai al Qur’an pun mendengarkan ayat-ayat al Qur’an dan juga makna yang dikandungnya. Mereka tatkala mendengarkan uraian tentang ayat-ayat al Qur’an dan juga hadits Nabi  menunjukkan apresiasinya dengan tertawa  dan mengangguk-angguk. Entak itu semua bagi mereka, apa  maknanya. Makna itu, tentu secara persis,  hanya diketahui oleh mereka yang bersangkutan. Akan tetapi, keadaan seperti itu, menurut hemat saya,  sangat indah.  Walaupun  mereka bukan muslim,  dengan selalu mengikuti kegiatan itu, maka  akan memperoleh pengertian, bahwa Islam, al Qur’an,  dan hadits nabi itu memang indah. Wallahu a’lam