Kiranya semua orang, secara garis besar,

Suatu ketika saya diingatkan oleh  seorang yang jika dilihat dari usianya  sudah sangat senior, tentang sesuatu  yang sangat sepele, yaitu  kecambah. Biji-bijian  kacang, kedelai,  dan sejenisnya jika sudah tua adan tersentuh oleh air,  maka akan segera menjadi kecambah.  Biasanya kecambah itu digunkana untuk sayur, tetapi adakalanya digunakan  sebagai bibit untuk ditanam.
Kiranya  semua orang, secara garis besar,  sudah tahu tentang kecambah dimaksud. Setelah tersentuh air, maka biji  kedelai, kacang atau sejenisnya itu akan terbelah, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan mengeluarkan akar dan calon daun. Akar  tersebut dalam waktu singkat akan memanjang, dan itulah yang disebut kecambah.
Orang tua  yang mengingatkan saya tersebut  mengajak saya untuk memperhatikan kehidupan kecambah dan mengkaitkannya dengan  pendidikan. Orang tua itu ingin menjelaskan tentang pendidikan yang seharusnya dijalankan dengan menggunakan perumpamaan  kecambah. Saya mengikuti saja keinginna orang tua tersebut, barangkali ada sesuatu yang memang benar-benar berguna.
Dijelaskan bahwa,  biji-bijian itu tatkala  mengawali  kehidupannya adalah  membentuk akar terlebih dahulu. Fungsi akar adalah untuk menyangga seluruh  tumbuhan itu dan sekaligus digunakan mencari saripati makanan dari dalam tanah. Selain itu,  tumbuhan muda tersebut akan membentuk daun yang akan digunakan untuk asimilasi,  atau mengolah saripati makanan yang akan digunakan sebagai energi untuk menopang kehidupan  tumbuhan itu.
Rupanya orang tua tersebut ingin menjelaskan bahwa kehidupan ini memerlukan makanan. Tanpa makanan,  maka kehidupan akan berhenti atau mati. Oleh karena itu, apapun  dan bagaimana pun sumber-sumber makanan itu harus  disiapkan  hingga mencukupi. Bagi tumbuihan maka yang dibentuk terlebih dulu adalah akarnya. Tanpa sari patri makanan yang diperoleh lewat akar, maka biji-bijian tersebut tidak akan tumbuh secara sempurna dan bahkan mati.
Kehidupan seseorang, menurut pandangan orang tua tersebut, mestinya mengikuti  kecambah itu.  Sejak mengawali kehidupan,    anak-anak   seharusnya  dipersiapkan agar mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Kecambah saja mengembangkan akar untuk mencari makanan, apalagi manusia. Orang tua dimaksud ingin mengingatkan,  bahwa dalam mendidik jangan melupakan hal yang terkait dengan kebutuhan pokok tersebut.
Sementara ini disinyalisasi, bahwa orientasi pendidikan belum mengarah pada hal tersebut. Akibatnya, anak-anak sesudah lulus sekolah menengah dan bahkan   menjadi sarjana, sekedar mendapatkan pekerjaan atau memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri belum mampu. Banyak lulusan sekolah menengah dan bahkan sarjana masih menganggur, atau belum bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Kedaan seperti itu, menurut pandangan orang tua tersebut, adalah sebagai akibat pendidikan yang tidak berorientasi untuk menyiapkan hidup anak-anak di masa depan.
Mungkin pada zaman dahulu, ketika masyarakat masih mengantungkan diri pada hasil pertanian, peternakan atau nelayan yang bersifat tradisional, tanpa berlatih lewat lembaga pendidikan, sekedar mendapatkan rizki, tidak menjadi masalah. Anak-anak akan belajar  bekerja dan mencari kehidupan dari orang tuanya masing-masing.  Akan tetapi di alam modern seperti ini, tanpa ada bekal pengetahuan dan ketrampilan yang cukup, maka akan kesulitan mendapatkan pekerjaan atau mengembangkan ekonominya.
Dalam dunia yang semakin modern seperti ini, maka justru yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan adalah membekali para siswanya agar  mampu bekerja untuk  mendapatkan  sumber-sumber kehidupan. Lapangan pekerjaan di alam modern ini selalu mempersyaratkan bagi siapapun memiliki pengetahuan, pengalaman,  dan skill yang memadai.  Tanpa itu semua  maka rasanmya sulit dibayangkan,  bagaimana seseorang mendapatkan pekerjaan, kecuali jenis lapangan pekerjaan kasar yang tidak membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan.
Demikian itulah, apa yang dimaksd  oleh  orang tua tersebut, bahwa pendidikan di zaman modern seperti sekarang  harus membekali para siswanya sesuatu yang paling utama adalah kemampuan  untuk mandiri terutama dalam mendapatkan sumber kehidupan. Lembaga pendidikan yang tidak memperhatikan aspek itu akan menjadikan lulusannya tidak berhasil beradaptasi terhadap tuntutan masyarakatnya, dan akhirnya akan mengalami kegagalan. Pengangguran terdidik dan bahkan sarjana, menurut orang tua dimaksud, hanya oleh karena lembaga tidak mau memperhatikan hal sederhana, semisal tumbuh-tumbuhan,   yang  sejak awal sudah mempersiapkan kebutuhan hidup lewat akarnya.

Pandangan orang tua dimaksud sebenarnya sangat sederhana,  namun demikian masih luput dari perhatian para ahli pendidikan.  Mereka  sedemikian bersemangat mengajari para siswa hal-hal yang bersifat akademik, misalnya  ilmu biologi, fisika, kimia, matematika,  sosiologi, psikologi dan lain-lain, yang pada kenyataannya   belum tentu dibutuhkan. Beberapa jenis bidang ilmu tersebut bukanlah tidak penting. Semua itu  adalah sangat penting, namun  mestinya tidak boleh melupakan hal yang juga perlu lainnya.  Manakala kecambah  saja mempersiapkan kebutuhan hidupnya lewat  akar terlebih dahulu,  maka demikian pula seharusnya  kehidupan manusia. Sejak awal seharusnya, mereka  dibekali dengan   kemampuan bekerja untuk mendapatkan sumber-sumber kehidupannya. Wallahu a’lam