Membiasakan Kegiatan Menulis

Sementara orang mengatakan bahwa,  menulis itu sulit dan terasa menjadi beban, Namun  ternyata  anggapan itu tidak selalu benar. Saya  mencoba untuk membuat tradisi menulis pada setiap hari dan sudah berjalan selama empat tahun.  Alhamdulillah kegiatan itu tidak pernah berhenti sekalipun hanya sehari. Semula saya  bertekad, sekalipun hanya beberapa alinea akan menulis apa saja yang sedang saya pikirkan setelah shalat subuh pada setiap hari itu.  Ternyata niat itu terlaksana hingga saat ini  telah berjalan empat tahun.
Kadang rasa bosan muncul, akan tetapi ketika sudah memulai maka  semangat itu muncul kembali dan berusaha untuk menyelesaikannya. Apalagi sudah biasa merasakan bahwa nikmat dan atau rasa puas yang diperoleh dari menulis,  di antaranya adalah tatkala sedang membuat kalimat akhir atau  penutup. Pada saat itu, terasa sangat gembira.
Selanjutnya kegembiraan itu menjadi bertambah  manakala setelah tulisan dimaksud saya posting lewat website atau lainnya ternyata dibaca orang. Pada ketika itu tumbuh perasaan senang, oleh karena apa yang  saya tulis  dibaca orang. Perasaan telah memberi sesuatu kepada orang lain, ternyata menumbuhkan rasa puas, dan bahkan kepuasan  itu lebih besar atau sempurna  dibandingkan dengan ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain.
Dari kegiatan menulis itu saya baru bisa menghayati hadits nabi  yang mengatakan bahwa tangan di atas lebih mulia dari pada tangan di bawah.  Kegiatanh memberi lebih mendatangkan kebahagiaan daripada sekedar menerima. Orang biasanya menyangka bahwa tatkala seseorang mendapatkan sesuatu dari orang lain akan selalu  gembira. Padahal kegembiraan yang lebih sempurna justru dirasakan oleh pihak pemberi, dan apalagi pemberian itu disampaikan dengan ikhlas dan juga diterima dengan rasa puas pula.
Terkait dengan kegiatan menulis pada setiap hari itu, saya seringkali mendapatkan pertanyaan, di antaranya bagaimana mendapatkan idea yang akan ditulis pada setiap pagi itu. Selama ini saya tidak pernah merasakan kekurangan ide.  Hal itu kiranya juga akan dialami oleh setiap orang yang memang  berniat  menulis. Sehari-hari, setiap orang dalam menjalani hidupnya akan mendapatkan pengalaman, memikirkan dan merasakan tentang sesuatu, menghadapi tantangan dan berusaha menjawabnya. Hal dimaksud   terkait apa saja, baik dengan persoalan ekonomi, politik, agama, pendidikan, hukum, pengalaman unik,  dan lain-lain,  mulai dari lingkup kecil hingga kadangkala sesuatu yang besar.
Saya merasakan atau mendapatkan pegalaman  seperti itu, dan itulah sebenarnya apa yang saya tulis pada setiap hari.  Menulisnya juga gampang asalkan  tidak berambisi menjadi yang istimewa atau selalu sempurna. Baik dan atau tidaknya sebuah tulisan, menuruit hemat saya adalah manakala tulisan  itu mudah dipahami, pesannya jelas, mengikuti alur logika pada umumnya, dan terasa  akan ada manfaatnya. Menulis bagi saya  tidak harus menunggu hingga data atau informasi sempurna. Selain  itu, juga tidak perlu dipersiapkan berlama-lama. Sebab, diskripsi atau uraian itu akan ketemu atau keluar sendiri tatkala sedang menggerakkan tangan di atas mesin ketik yang ada di komputer itu.
Menulis bagi saya, adalah mirip dengan orang yang sedang berdialog. Tatkala seseorang berdialog, maka pikiran dan perasaannya berusaha agar lawan bicaranya mengerti,  paham, dan meyakini  terhadap apa yang sedang diungkapkan. Di tengah-tengah proses menulis itu akan muncul pikiran menambah dan menyempurnakan informasi, memperjelas makna kata atau konsep yang sedang digunakan, berargumentasi, mengajak membandingkan, dan seterusnya.  Maka sekali lagi, menulis  sebenarnya mirip dengan berdialog. Bedanya, tatkala menulis lawan dialognya tidak muncul di hadapannya,  tetapi apapun sebenarnya esensinya adalah sama.   
Rasa nikmat yang diperoleh oleh seseorang, termasuk nikmat menulis akan sulit disampaikan secara sempurna kepada orang lain.  Bisa saja perasaan senang atau nikmat  itu digambarkan dengan kalimat panjang dan juga dilengkapi dengan  berbagai pengalaman yang menarik. Tetapi saya yakin, tidak akan bisa disampaikan secara sempurna. Oleh karena itu agar nikmat menulis itu juga bisa dirasakan, maka cara yang terbaik adalah melakukannya sendiri. Dengan cara menulis dan mempostingkannya lewat website atau media lainnya, maka pengalaman dan nikmat itu akan terasakan sendiri. Apalagi, kalau kegiatan itu dilakukan secara terus menerus maka selain menikmati juga akan memiliki tradisi menulis, yang saya yakini, akan besar sekali manfaatnya. Wallahu a’lam.
Iklan