Mengajak Umat Membuktikan Keistimewaan Ajaran Agamanya

Suatu saat, saya kedatangan beberapa orang dari daerah yang agama penduduknya bermacam-macam. Disebutkan pemeluk Islam di daerahnya itu hanya sekitar 9 %, sedangkan lainnya beragama Katholik, Protestan, Hindu,  dan Konghucu. Agama yang menjadi  mayoritas adalah  Katholik. Mereka menyebut bahwa Islam di daerah itu masih pada taraf berkembang,  yaitu baru mulai dikenal  pada tahun 1950 an, dibawa oleh para pedagang dari daerah lain sambil berdakwah.
Kesempatan itu,  saya gunakan untuk mencari tahu,  bagaimana Islam dihayati dan dijalankan oleh masyarakat yang berbeda-beda pemeluk agama itu. Saya menanyakan secara garis besar, apa yang membedakan antara masing-masing pemeluk agama itu. Saya menyebutkan misalnya, dari aspek pendidikan masing-masing pemeluk agama, solidaritas sesama pemeluk agama dan dengan lainnya, kualitas kehidupan di antara mereka yang berbeda-beda itu,  dan lainnya.
Atas dasar pertanyaan itu, mereka menjawab bahwa perbedaan itu  baru pada kegiatan ritual masing-masing. Pemeluk agama Islam menjalankan ibadah di masjid, pemeluk agama Katholik  dan agama Protestan di Gereja,  pemeluk Hindu di Pura, dan Konghucu di Klenteng. Pemeluk agama Islam ketika bulan Ramadhan  menjalankan ibadah  puasa, pemeluk Katholik dan Protestan memperingati hari natal, pemeluk Hindu melakukan ibadah nyepi pada hari nyepi. Selain itu, menurut pengakuannya sulit dibedakan.
Saya kemudian menanyakan, bagaimana dengan tingkat pendidikan di antara mereka yang berbeda-beda agama itu, apakah bisa dibedakan secara menyolok. Mereka mengaku bahwa selama ini belum bisa dibedakan. Rata-rata mereka sama saja. Bagi mereka yang memiliki biaya cukup,  menyekolahkan putra-putrinya hingga perguruan tinggi. Sedangkan yang kurang mampu, mencukupkan hingga tamat sekolah dasar atau sekolah menengah.
Hubungan antar pemeluk agama yang berbeda di daerah itu tidak mengalami hambatan, sebagian masih disatukan oleh hubungan kekerabatan. Tidak sedikit di antara mereka yang berbeda-beda agama masih memiliki hubungan saudara atau kekerabatan,  sehingga perbedaan agama tidak selalu menjadi penghalang untuk saling berkomunikasi di antara sesama. Pada saat-saat tertentu, misalnya dalam acara pesta keluarga, mereka saling  diundang dan datang. Perbedaan agama tidak menjadi hambatan ketika masing-masing menyelenggarakan pesta keluarga yang harus didatangi.
Dalam dialog dengan mereka itu, saya memanfaatkan kesempatan itu untuk  menjelaskan  bahwa sebenarnya ajaran Islam memiliki kelebihan atau bahkan keistimewaan. Misalnya, Islam sangat mementingkan ilmu pengetahuan. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad mengingatkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan, hingga ayat yang pertama kali turun adalah perintah untuk membaca. Kemampuan membaca, manakala  dikaji secara saksama,  adalah merupakan  pintu sukses dalam segala aspek kehidupan ini.
Lebih lanjut, saya menjelaskan bahwa orang yang mampu membaca secara tepat tentang peluang-peluang ekonomi, maka yang bersangkutan akan bisa menguasai sumber-sumber ekonomi, hingga  akan menjadi seorang kaya. Seseorang yang mampu membaca kehidupan politik, hukum, kekuatan militer dan lain-lain, maka akan memenangkan persaingan di bidang-bidang tersebut. Akhirnya membaca memang menjadi kunci keberhasilan dalam setiap usaha apa saja. Membaca adalah  pintu masuk dan bahkan kunci penguasaan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kaum muslimin di mana dan kapan saja mestinya   berpendidikan lebih tinggi dan menguasai ilmu pengetahuan.
Saya juga menjelaskan bahwa Islam datang ke muka bumi untuk membangun kualitas kehidupan manusia.  Ajaran Islam menjadikan umat agar menjadi lebih unggul. Keunggulan itu misal ditunjukkan dari kemampuan mereka  menjaga amanah atau kepercayaan dari siapapun.  Sebagai umat yang berkualitas unggul, kaum muslimin seharusnya  selalu menjaga pikiran, jiwa  dan raga agar tidak  terkotori oleh penyakit apapun yang membahayakan  terhadap dirinya dan orang lain. Pikirandan  jiwa  perusak, mengganggu atau merugikan orang lain, sifat dengki, tamak, permusuhan, dan lain-lain sejenis itu,   harus ditinggalkan jauh-jauh.  Selain itu, sebagai seorang muslim harus selalu berpikir agar hidupnya bisa memberi manfaat bagi orang lain. 
Pemeluk Islam, saya katakan  juga harus bisa berbuat adil  terhadap  siapapun.  Keadilan adalah menjadi cita-cita dan sangat dijunjung tinggi oleh Islam.  Namun tatkala saya menyebut tentang keadilan itu, segera dikomentari, bahwa aspek itu belum bisa dilakukan oleh pemeluk agama manapun. Masyarakatnya masih sangat terikat dengan marga atau suku. Masing-masing selalu mengedepankan atau mementingkan kesukuannya. Tatkala seseorang menduduki posisi tertentu, maka  selalu memihak  kepentingan suku masing-masing. Sikap mementingkan sukunya sendiri  dirasa amat sulit untuk diubah.
Selain harus menjalankan ritual untuk membangun kekuatan spiritual, yaitu  seperti banyak berdzikir, shalat lima waktu, puasa, mengeluarkan zakat,  dan menjalankan haji bagi yang mampu, saya menjelaskan bahwa umat Islam harus mengedepankan kerja secara sungguh-sungguh dan profesional. Itulah  dalam konsep Islam, disebut sebagai  amal shaleh.  Siapa saja yang beriman dan beramal saleh serta mampu menjaga akhlak yang mulia, —–dalam Islam, akan mendapatkan kebahagiaan hidup,  baik di dunia maupun di akherat kelak.
Dari penjelasan tersebut, di antara mereka masih  mengatakan bahwa untuk sementara ini, perbedaan itu baru tampak  pada bentuk kegiatan ritualnya masing-masing.  Semua aspek ajaran Islam yang  saya kemukakan tersebut belum tampak  dijadikan dasar berperilaku, sehingga belum  membedakan dari penganut agama lainnya. Tentang pendidikan,  integritasnya terhadap amanah atau kepercayaan, kepedulian terhadap kaum lemah dan lingkungan dan lain-lain,  masih sama. Bahkan ajaran tersebut  belum dipahami sebagai bagian dari ajaran Islam. Guru agama di sekolah dan juga sekolah Islam, sebagaimana yang mereka ketahui,  masih  sebatas mengajarkan tata cara shalat dan rukun Islam lainnya.
Lewat pertemuan dan dialog itu, sekalipun penganut Islam masih merupakan minoritas,  saya mengajak untuk menampakkan diri sebagai  kelompok yang memiliki keunggulan, baik dalam ilmu, kualitas hidup, amanah, dan cara bekerja,  dan lain-lain. Misalnya, setiap bekerja harus  memulai dengan membaca basmallah,  mengakhiri dengan mengucapkan hamdallah, dan menunaikannya dengan sungguh-sungguh, ikhlas, amanah, sabar dan istiqomah. Dengan cara itu, maka lama kelamaan umat Islam akan meraih keunggulan dibanding umat lainnya. Wallahu a’lam.