Beberapa contoh Kepercayaan Nyai Ratu Kidul di Tanah Jawa

 contoh-contoh tentang kepercayaan terhadap Nyai Ratu Kidul di tanah Jawa ini.

Saya akan memberikan contoh-contoh tentang kepercayaan
terhadap Nyai Ratu Kidul di tanah Jawa ini. Contoh ini hanyalah
sejumlah kecil dari fakta di masyarakat Jawa, diantaranya:

a.  Dalam Serat Wedatama karya Mangkunegoro IV (1853-1181)
terdapat syair sebagai berikut:
Wikan wengkuning samudra
Kederan wus den ideri
Kinemat kamoting driya
Rinegem kagegem dadi
Dumadya angratoni
Nenggih kang Ratu Kidul
Ndedel nggayuh gegana
Umara marak marepek
Sor prabawa lan Wong Agung Ngeksiganda

Kurang-lebih terjemahannya sebagai berikut:
  Mengetahui batas samudera
  Semuanya telah dijelajahi
  Dipesonanya masuk ke kalbu
  Tergenggam digenggam jadi
 Jadilah yang menguasai
 Yaitu Ratu Kidul
  Terbang mencapai angkasa
  Lalu datang menghormat
 Kalah perbawa dari Orang Besar Mataram (Sutowijoyo).
 
b.  Di Keraton Jogjakarta diciptakan tari Bedaya Lambangsari dan
Bedaya Semang yang dilakukan untuk menghormati Nyai Ratu
Kidul. Tiap tahun Sultan Jogja mengadakan ulang tahun (menurut
tahun Saka) di Pantai Selatan. Di sebelah Barat Keraton Jogja juga
didirikan bangunan di komplek Taman Sari (Istana Bawah Air) yang
dinamakan Sumur Gumuling, yang diyakini sebagai tempat
pertemuan antara Sultan Jogja dengan Nyai Ratu Kidul.
(anglefire.com, 2004). 
Bandingkan dengan Gedung Putih di Washington D.C.! Gosip
asmara  penguasanya bukan dengan Dewi Hantu, tapi dengan
sekretaris kepresidenan.
Keraton Jogjakarta mempunyai hubungan erat dengan Laut Selatan
dilihat dari praktek keagamaan, seperti upacara labuhan. Masyarakat
Jawa mempercayai adanya lampor, yaitu perjalanan makhluk halus
yang saling berkunjung. Lampor itu ditandai dengan suara ribut
gemerincing (Y. Argo Twikromo, tembi.org, 2004).

c.  Di Surakarta, dibangun Panggung Sanggobuwono yang dipercaya
sebagai tempat pertemuan Nyai Ratu Kidul dengan raja-raja
Surakarta. Panggung itu dibuat pada tahun 1782 Masehi
(jawapalace.org, 2004). 
Jadi, jaman sekarang ini Nyai Ratu Kidul harus sibuk membagi
waktu untuk menjadi isteri raja Jogja (Hamengku Buwono), raja
Surakarta (Paku Buwono), raja Adikarto atau Pakualaman (Paku Alam) dan penguasa Mangkunegaran (Mangkunegoro) yang sama-
sama raja-raja keturunan Sutowijoyo?

d.  Komunitas nelayan di Pantai Pangandaran Jawa Barat setiap bulan
Suro (Muharam) mengadakan hajat larung sesaji untuk
dipersembahkan kepada Nyai Ratu Kidul. Untuk membiayai hajat
sesaji tersebut dilakukan penarikan iuran kepada para anggota KUD
sebesar 0,25 % dari nilai hasil tangkapan ikan setiap kali melaut.
Nilai seluruh iuran tahun terakhir waktu itu (1998) mencapai  Rp.
30 juta (indomedia.com, 2004). 
Jer basuki mawa bea  untuk mistik. Nelayan Pangandaran
mengharapkan basuki (keselamatan) dari Nyai Ratu Kidul.

e.  Di Hotel Samudra Beach, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, ada kamar
nomor 308 yang khusus, terdapat lukisan Nyai Ratu Kidul dan
perangkat sesajen, kosmetika, dan tempat tidur. Kamar 308 itu
dipercayai sebagai tempat singgah Nyai Ratu Kidul. Manajemen
Samudra Beach Hotel mempunyai alasan bahwa itu hanya
pertimbangan bisnis (Ahmad Zulfan, egroups.com, 1999).
Ini berarti bisnis hotel tersebut memanfaatkan animo calon
konsumen yang percaya dengan Nyai Ratu Kidul atau para penganut
kepercayaan mistik. 

f.  Dalam berita Media Indonesia, 23 Oktober 1999 ditulis bahwa
lukisan Nyai Ratu Kidul (Nyi Roro Kidul) menghiasi ruang Wakil
Presiden di Istana Kepresidenan. Waktu itu yang baru menjadi
wakil presiden adalah Megawati Soekarnoputri sedang melihat-lihat
calon kantornya itu (Yoyok P. H., hamline.edu, 1999). 
Kenyataan itu tidak otomatis bisa ditafsirkan bahwa wakil presiden
sebelumnya adalah pemuja Nyai Ratu Kidul. Tapi apa salahnya jika
dikatakan: Pemasang gambar atau penyuruhnya, suka dengan
lukisan Nyai Ratu Kidul. Selanjutnya terserah pembaca untuk
menafsirkannya sendiri.

g.  Kepercayaan luas masyarakat Jawa tentang larangan memakai
pakaian warna hijau jika jalan-jalan di Pantai Selatan.
h.  Banyak kasus para wisatawan di pantai Selatan terseret ombak dan
tenggelam, yang selalu dipercaya masyarakat; karena dibawa oleh
Nyai Ratu Kidul.