Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Majapahit

Di jaman Majapahit, di hutan Mentaok ada kerajaan bernama
Mataram yang diperintah oleh seorang ratu bernama Lara Kidul
Dewi Nawangwulan. Sang ratu tersebut adalah keturunan raja

Tanah Melayu yang diambil menantu oleh Raja Majapahir, Bre
Wengker (1456-1466), dikawinkan dengan Raden Bondan Kejawan
atau Kidang Telangkas (atau dalam cerita rakyat dikenal dengan Jaka
Tarub). Dalam dongeng dikisahkan bahwa Lara Kidul Dewi
Nawangwulan bukanlah puteri kerajaan Tanah Melayu, melainkan
bidadari yang baju terbangnya dicuri oleh Jaka Tarub ketika mandi
di sendang bersama-sama dengan bidadari lainnya. 
Perkawinan antara Raden Bonda Kejawan (Jaka Tarub) dengan
Lara Kidul Nawangwulan melahirkan anak perempuan bernama
Dewi Nawangsih yang menjadi ratu penerus penguasa Mataram.
Selanjutnya pemerintahan Dewi Nawangsih dilanjutkan anak
perempuannya bernama Ni Mas Ratu Angin. 
Pada waktu Sutowijoyo, Ki Juru Mertani dan Pemanahan
diberikan hadiah hutan Mentaok oleh Sultan Hadiwijoyo, maka
dimulailah pembabatan hutan tersebut dan di situ bertemulah
Sutowijoyo dengan Ni Mas Ratu Angin. Atas persetujuan Sultan
Hadiwijoyo maka Sutowijoyo dikawinkan dengan Ni Mas Ratu
Angin. Ini dimaksudkan sebagai legitimasi kekuasaan Sutowijoyo
untuk menjadi raja Mataram sebab Sutowijoyo bukan keturunan
raja, sedangkan dalam darah Ni Mas Ratu Angin mengalir darah raja
Majapahit. Ni Mas Ratu Angin inilah yang dimitoskan sebagai Nyi
Ratu Kidul. 
Versi ini mungkin berbenturan dengan cerita silsilah
Sutowijoyo. Mungkin Ni Mas Ratu Angin bukan anak dari Dewi
Nawangsih, tapi keturunan yang lebih jauh ke bawah, sebab jika
ditelusuri ternyata anak dari Dewi Nawangsih adalah termasuk Ki
Getas Pandawa yang merupakan buyut dari Sutowijoyo. Jika Ni Mas
Ratu Angin adalah anak Dewi  Nawangsih, maka sama halnya
Sutowijoyo mengawini saudari buyutnya, yang semestinya sudah
nenek-nenek keriput.