Binokuler: Menikmati Fisika Batik Sebagai Jejak Sains Modern Dalam Seni Tradisi Indonesia

Binokuler: Menikmati Fisika Batik Sebagai Jejak Sains Modern Dalam Seni Tradisi Indonesia
PP Iptek TMII

Nenek moyangku seorang fisikawan’, demikian sepenggal lirik lagu Pelaut yang digubah sedikit oleh Rolan Mauludy Dahlan untuk membuka acara talkshow Binokuler (Bincang Sains & Teknologi Populer) Oktober di PP-IPTEK, hari Minggu, 11 Oktober 2009. Dia adalah seorang Peneliti “Batik Fisika” dari Departemen Ekonomi Evolusioner Bandung Fe Institute yang juga menjadi penulis buku Fisika Batik.
Dengan tema “Menikmati Fisika Batik Sebagai Jejak Sains Modern Dalam Seni Tradisi Indonesia”, Rolan yang bertindak sebagai narasumber bersama dengan tim acroBatik menyampaikan materi tentang fisika batik kehadapan pengunjung PP-IPTEK. Batik yang baru saja dikukuhkan menjadi warisan budaya dunia asal Indonesia merupakan fenomena yang menarik untuk dipelajari. Pada awal paparannya, Rolan menyampaikan bahwa tujuan belajar fisika adalah untuk mengetahui keteraturan dibalik fenomena alam termasuk juga batik.
Penggalan lirik yang mengawali tulisan ini bukannya tidak bermaksud, karena menurut Rolan, dari serangkaian penelitian-penelitian, ditemukan kalau motif batik yang diciptakan orang-orang terdahulu itu ada rumusnya dan dibutuhkan suatu kejeniusan untuk menemukan pola dasar. Seperti teori segitiga, jika kita menggambar segitiga yang diambil dari titik-titik tengah ketiga sisinya, maka akan muncul segitiga-segitiga yang lebih kecil. Ada perpecahan yang terus menerus. Kalau rumus pecahannya sudah kita ketahui, kita bisa merancang motif-motif baru yang jumlahnya bisa ribuan, miliaran bahkan sampai tak terbatas dengan bantuan komputerisasi.
Pada kesempatan ini Rolan dan tim Acrobatik juga sempat mendemonstrasikan software Fisika Batik yang namanya “mBatik”. Dengan software tesebut dihasilkan pola-pola fraktal yang sangat indah. Menurut Rolan, fraktal merupakan geometri yang mampu mengakomodasi konsep tentang kemiripan dengan diri sendiri. Satu desain utuh batik memiliki sifat kemiripan dalam banyak skala dan pola pandang. Dijelaskan juga bahwa motif batik umumnya memiliki dimensi fraktal 1.5 – 1.7, yang berarti bahwa motif batik tidak cukup digambarkan oleh benda berdimensi satu namun berlebihan jika digambarkan benda berdimensi dua.
Menutup talkshow kali ini Rolan memberikan kesimpulan al: Fisika batik menunjukkan betapa jeniusnya nenek moyang kita. Sudah sepantasnya kita mengapresiasi batik, sehingga kita harus bangga memakai batik buatan Indonesia. Fisika batik menujukkan bahwa fisika itu menyenangkan, dan Kita dapat memahami banyak fenomena alam dari sisi lain yang sebelumnya belum pernah terpikirkan.

Sumber : Ristek, 11 Oktober 2009