Fraktal dalam Selembar Kain

Fraktal dalam Selembar Kain
Ricky Reynald Yulman

HINGGA kini masih banyak anggapan motif batik sekadar simbol bermakna filosofis. Padahal motif yang telah dilukis di permukaan sehelai kain oleh para leluhur ini jauh lebih dari itu, termasuk fenomena alam dan sosial terlihat rumit, yang secara sederhana ternyata telah dikuasai bangsa ini sejak lama.
ADALAH Bandung Fe Institut (BFI) dan Surya Research International (SRI) sejak enam tahun lalu meneliti pola ornamen batik yang ada di Pulau Jawa. Hasilnya, para peneliti menemukan kebijaksanaan terpendam dalam penggambaran dunia, yang berbeda dengan konsep geometri Aristotelian yang gencar dikenalkan ilmuwan barat.
“Saya pernah tanya ke beberapa teman, bentuk apa yang kira-kira menginspirasi para leluhur membuat motif batik mega mendung khas Cirebon. Jawabannya beragam. Malah ada yang bilang mirip kupasan kulit jeruk,” ungkap Rolan Mauludy Dahlan, peneliti BFI, di sela Workshop Batik Fisika di Museum Seni Barli pekan lalu.
Rolan lalu menunjukkan beberapa variasi motif batik mega mendung dengan gradasi warna berbeda. Setelah motif mega mendung divisualisasi berulang (iteratif) menggunakan bilangan pecahan sampai jumlah tertentu secara komputatif, barulah tampak pola yang begitu mirip kumpulan awan mendung di langit.
Dalam ilmu fisika, pola berulang pada motif batik tersebut dikenal sebagai fraktal. Berbagai pendekatan sains menyadari banyak fenomena alam dan sosial terlihat rumit, acak, chaos bisa digambarkan nenek moyang dengan cara sederhana.
Luar biasanya bangsa kita sudah menggunakan pola fraktal pada motif batik dibuat sejak masa Raden Wijaya (1294-1309) memimpin Kerajaan Majapahit. Ilmuwan Benoit Mandelbrot (1982) sendiri menegaskan, konsep fraktal ini mampu memecah kebuntuan geometri dalam mengukur garis pantai dan obyek yang tampak acak.
“Setelah diteliti pola fraktal seperti pada motif batik terdapat pula pada pigmentasi kerang, sulir cangkang kerang, bunga salju, pertumbuhan sel kanker, hingga pola pergerakan harga saham, forex maupun indeks dalam bidang ekonomi,” ungkap Rolan.
President BFI Hokky Situngkir menjelaskan,pada perkembangan sejarah ilmu pengetahuan konsep fraktal yang baru ditemukan ratusan tahun lalu, diakui lebih baik dan lebih tepat dalam memandang dunia. Pada motif batik yang menerapkan konsep fraktal ribuan tahun lalu, telah ditemukan perpaduan harmonis antara teknologi dan budaya.
Kajian berdasar sifat fraktal yang menyadari ketidakpurnaan model semesta yang salah satunya ditunjukkan dengan pengetahuan akan dimensi yang bukan bilangan bulat, tapi justru pecahan.
“Jadi motif batik tak sesederhana anggapan banyak orang. Wajar kalau sekarang banyak orang luar negeri berburu artefak sejarah budaya Bangsa Indonesia itu, untuk diteliti. Karena batik telah menginspirasi warga dunia di bidang sains dan bisa menjadi sumber kreativitas,” tegas pria berkacamata ini.
Hokky mengingatkan bahwa penelitian motif batik menggunakan metode fisika, baru dilakukan BFI terhadap motif batik yang ada di Pulau Jawa. Di luar Pulau Jawa masih banyak lagi motif kriya tekstil nontenun yang belum diteliti. (ricky reynald yulman)

Lebih dari 6 Ribu Motif

PENELITIAN batik yang kemudian disebut sebagai batik fisika atau batik fraktal oleh BFI, tak terhenti pada kajian menelusuri motif batik tradisional. BFI telah mengembangkan motif-motif tersebut melalui software batik fisika versi 1.0 untuk mengreasikan batik inovatif.
Beberapa siswi SMKN 14 Bandung (Sekolah Menengah Seni Rupa) jurusan tekstil, peserta Workshop Batik Fisika di Museum Barli, tampak tak menemui banyak kendala dalam memanfaatkan software ini.
Ada diskusi kecil di sela ketekunan mereka mengamati rancangan motif batik di screen laptop. Mereka bisa mengreasikan berbagai motif batik tradisional menjadi motif batik hibrid (penggabungan dua motif batik tradisional) dan batik inovatif.
“Di perpustakaan digital kami, IACI, baru ada sekitar 6.000 database motif batik. Perkiraan itu baru sepersepuluh jumlah motif batik yang dimiliki bangsa kita. Tapi melalui batik fisika motif-motif tersebut bisa kita kembangkan lagi,” terang Deni Khanafiah, peneliti BFI.
Hampir semua tahap membuat batik fisika mirip dengan proses membuat batik. Satu-satunya yang membedakan proses tersebut dilakukan dengan memanfaatkan teknologi komputer untuk membuat ragam motif.
“Motif batik yang sudah dibuat di komputer lalu dicetak. Kemudian disalin di atas kain polos menggunakan pensil. Kalau pembuat batik yang sudah terlatih biasanya langsung melukis motif menggunakan malam,” terang Rini Ambarwati, Kepala Program Studi Kria Tekstil SMKN 14 Bandung.
Proses pemalaman atau melukis motif batik di atas kain menggunakan canting berisi malam yang dipanaskan, bisa berlangsung berhari-hari. Begitu pula dengan proses pewarnaan.
Namun, kemajuan di bidang teknik pencetakan memungkinkan batik fisika dicetak menggunakan beberapa cara lain. Misalnya menggunakan cetak digital, sablon, atau menggunakan cap yang terbuat dari tembaga. (ricky reynald yulman)
Belajar Lewat Internet
MELALUI situs fraktal.bandungfe.net, tak hanya tersedia berbagai informasi tentang batik fisika serta kajian ilmiah dari para peneliti tentang motif batik tradisional. BFI menyilakan pengunjung mencoba membuat beberapa motif batik fisika hanya dengan beberapa langkah mudah.
Melaui situs ini diterangkan pula tiga tipe pola fraktal yang secara komputasional dapat menjadi motif batik fraktal generatif. Fraktal sebagai batik, hibira fraktal batik, dan batik inovasi fraktal.
Bandung Fe Institute

Sumber : Tribun Jabar, 15 Februari 2009