Hacker Indonesia Menguasai Komputasi Logika

Hacker Indonesia Menguasai Komputasi Logika
A-84/das

Ilmu komputasi logika atau computational logic telah berkembang menjadi bidang penelitian yang prestisius di Jerman dan negara-negara Eropa, karena disiplin ini bersifat lintas keilmuan/kedisiplinan meliputi ilmu komputer, matematika, logika, dan kecerdasan buatan.
Ketua Jurusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Yudi Prayudi menyatakan, ilmu komputasi logika belum menarik banyak minat sebagai bidang penelitian di negeri ini. Namun, dia menduga banyak kalangan hacker di Indonesia yang justru sangat bagus penguasaan komputasi logika dengan mengaca pada tingginya kasus kejahatan hacking. “Saya menduga hacker-hacker kita cukup menguasai komputasi logika,” kata dia, Senin (4/10).
Menurut dia, pengembangan ilmu ini sangat mendesak karena menjadi dasar kajian pada bidang automated reasoning, semantics dan verification. Komputasi logika khusus disediakan untuk para pengembang sistem yang lebih berkonsentrasi pada diskripsi problem yang diselesaikan dibandingkan dengan memikirkan mekanisme komputasi aktual dari problem tersebut.
“Dengan paradigma ini, sebuah sistem dapat dibuat dengan cepat dan sederhana, serta dapat dipahami dan dipelihara dengan mudah. Sistem yang dimaksud tidak hanya berupa software, namun juga hardware. Saat ini bidang ilmu komputasi logika adalah salah satu pionir pendidikan dan penelitian di Eropa,” kata dia. Termasuk para hacker, tambahnya, dengan menguasai komputasi logika, mereka bisa mendeteksi dan mengkritisi kelemahan program tertentu dalam komputer.
Dia menyatakan, Teknik Informatik UII bekerjasama dengan TU Technische Universitat (TU) Dresden dan DAAD Jerman untuk meng-upgrade dan tukar pikiran. TU Dresden dan DAAD Jerman dikenal sebagai pusat peneltian dan pengembangan ilmu komputasi logika terkemuka di Eropa. Bentuk kerjasamanya dengan menyelenggarakan The Third Indonesian Summer School on Computational Logic, 4-9 Oktober.
Menurut dia, terdapat tujuh peserta yang memperoleh beasiswa dari TU Dresden dan DAAD Jerman ikut dalam kegiatan tersebut. Mereka akademisi dari Jerman, Taiwan, India, Vietnam, Filipina, Polandia dan Tanzania. Peserta yang hadir mengikuti kegiatan tersebut adalah 57 orang dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Sedang peserta dalam negeri sebanyak 30 akademisi dari berbagi perguruan tinggi di Indonesia.
Yudi Prayudi menambahkan, kegiatan kuliah musim panas soal komputasi logika tersebut diharapkan bisa memantik minat antarakademisi untuk membentuk jaringan peneliti bidang ini, untuk pengembangan komputasi sistem cerdas maupun teorinya. Karena itu, kegiatan demikian tidak bisa hanya satu sesi, harus dilanjutkan secara simultan baik antarakademisi dalam negeri maupun peserta luar negeri. (A-84/das)***

Sumber : Pikiran Rakyat, 4 Oktober 2010