Komputasi paralel meniru otak

Komputasi paralel meniru otak
GOMBANG NAN CENGKA

Sebagai sistem yang cerdas, kita sering membandingkan chip komputer dengan otak manusia. Namun tentunya keduanya tidak sama. Tidak hanya bahan keduanya jauh berbeda, prinsip kerjanya juga tidak sama.
Perbedaan cara kerja ini tampak langsung pada kinerja masing-masing sistem. Dalam hal memproses informasi secara berurut (se-kuensial), komputer yang ada saat ini jauh lebih unggul daripada otak manusia. Namun persoalan yang ada tidak selalu dapat dipecahkan secara berurut. Banyak di antaranya mesti diselesaikan secara paralel. Dalam hal ini otak manusia masih lebih unggul.
Saat ini prosesor komputer pun sebenarnya sudah mulai bergeser ke pemrosesan paralel. Bila prosesor banyak inti dulunya hanya didapatkan untuk produk komputer kelas atas, pada saat ini prosesor seperti ini mudah didapatkan dengan harga murah di pasaran. Mal ini sebenarnya menyulitkan juga, karena para pemrogram belum biasa memecahkan masalah pemrosesan paralel, bahkan pada superkomputer sekali pun.
Meniru otak
Sekelompok peneliti dari Jepang dan Amerika Serikat mencoba meniru cara kerja otak manusia buat memecahkan komputasi paralel ini. Tim yang terdiri dari Anirban Bandyo-padhyay, Ranjit Pati, Satyajit Sahu, Ferdinand Peper dan Daisuke Fujita ini mencatat bahwa sel saraf manusia hanya “berdenyut” 1.000 kali per detik, jauh lebih lambat daripada komputer yang mampu memproses 1.013 instruksi per detik. Namun, otak manusia mampu memecahkan masalan dengan lebih efisien.
Dalam makalahnya yang diterbitkan dalam jurnal Nature Physics edisi 25 April 2010, tim peneliti tersebut melaporkan telah meniru rangkaian pengolahan informasi di otak yang dapat memecahkan masalah kompleks, menggunakan lapisan molekul organik. Sistem tersebut telah berhasil melakukan serangkaian kerja komputasi, termasuk simulasi logika digital konvensional, perambatan panas dan pertumbuhan kanker.Selain dapat mengolah Informasi secara paralel, sistem ini juga dapat berubah dan menyesuaikan diri untuk mengolah masalah yang kompleks. Lapisan molekuler ini juga lebih resistan terhadap kerusakan.

Sumber : Bisnis indonesia, 27 Apr 2010