Nyai Ratu Kidul Pasca Sutowijoyo

Nyai Ratu Kidul Pasca Sutowijoyo
 

Sepeninggal Sutowijoyo tahun 1601, Mataram diteruskan oleh
anak Sutowijoyo yang bernama Raden Mas Jolang alias Pangeran
Nyokrowati alias Pangeran Seda  Krapyak, yang bergelar Prabu
Nyokrowati, yang memerintah  sampai dengan tahun 1613
(meninggal tahun 1613). Selanjutnya pemerintahan Mataram
diteruskan oleh anak Sutowijoyo yang lainnya, yaitu Raden
Rangsang yang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo dari tahun
1613 sampai 1646.
Masa-masa pemerintahan Sultan Agung tersebut wilayah
Mataram semakin luas. Ibukota kesultanan dipindah dari Kerta ke
Plered. Pada masa itu Surabaya yang sulit ditaklukkkan berhasil
dikuasai. Wilayah kekuasaan Mataram sampai ke Sukadana,
Kalimantan dan Madura. Seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur
berhasil dikuasai, sampai ke Cirebon, Jawa Barat.
Sultan Agung dikenal sebagai raja yang taat beribadah ritual
Islam, mengirimkan utusan ke Mekah untuk memperdalam ajaran
Islam untuk menjadi penasehatnya. Sultan Agung pun memperoleh
gelar Islam yaitu: Sultan Abdul Muhammad Maulana Matarami. Jika
gelar itu diterjemahkan, kurang-lebih adalah: “Penguasa, abdi dari
Muhammad, pemimpin Mataram.” Ia juga yang mengubah tahun
Saka yang merupakan Tahun Matahari (Tarikh Syamsiah) menjadi
tahun Jawa-Islam yang berdasarkan perhitungan Tahun Bulan
(Tarikh Qamariah) untuk disesuaikan dengan Tahun Hijriah. Pada
tahun 1633 Masehi adalah tahun 1555 Saka, dan dijadikan menjadi
tahun 1555 Jawa-Islam (jawapalace.org, 2004).
Berturut-turut, setelah Sultan Agung, Mataram diperintah oleh:
–  Amangkurat I (1646-1677);
–  Amangkurat II (1677-1703);
–  Amangkurat III (1703-1704);
–  Pakubuwono I (1708-1719);
–  Mangkurat IV (1719-1727);
–  Pakubuwono II (1727-1745);
–  Pakubuwono III (1749-1788);
Setelah itu, Mataram terpecah menjadi dua, Jogjakarta yang
diperintah oleh Sultan Hamengku Buwono I dan Surakarta yang
diperintah Pakubuwono III. Selanjutnya Mataram tidak hanya
menjadi Jogjakarta dan Surakarta. Jogjakarta mempunyai pecahan
Adikarto (Paku Alaman) yang diperintah oleh Paku Alam dan
Surakarta mempunyai pecahan Mangkunegaran yang diperintah oleh
Mangkunegoro.
Pasca Sutowijoyo, tidak ada cerita tentang Nyai Ratu Kidul
dalam membantu para raja keturunan Sutowijoyo, yang seheboh
kisah kerjasama Nyai Ratu Kidul dengan Sutowijoyo. Tahun 1782,
Pakubuwono III membangun Panggung Sanggabuwono yang
menurut mitosnya adalah sebagai tempat pertemuan antara
Pakubuwono dengan Nyai Ratu Kidul. Tapi juga ditengarai bahwa
panggung itu digunakan oleh Pakubuwono III untuk mengamati
wilayahnya dari dalam keraton (termasuk memata-matai benteng
Vastenburg milik Belanda). Ketika Belanda menegur pembuatan
Panggung Sanggabuwono maka  Pakubuwono III berdalih bahwa
tempat itu untuk pertemuannya dengan Nyai Ratu Kidul
(jawapalace.org, 2004). Sebuah alasan adat yang mesti ditoleransi
Belanda. 
Kisah Nyai Ratu Kidul juga muncul kembali setelah
Mangkunegoro IV  yang memerintah Mangkunegaran (1853-1881)
mengarang Serat Wedatama. Rupa-rupanya di situlah muncul
kerinduan terhadap mitos Nyai Ratu Kidul, meskipun harus
mengalami perubahan. 
Pada masa pemerintahan Pakubuwono X, juga terdapat kisah
bahwa akhirnya Pakubuwono X dan keturunannya sudah bukan lagi
menjadi suami Nyai Ratu Kidul, tapi menjadi anak, karena adanya
salah ucap dari Nyai Ratu Kidul. Ini merupakan suatu perubahan
untuk mengarah pada rasionalitas, sebab tidak akan logis menurut
Hukum Adat Jawa atau Islam, jika Nyai Ratu Kidul yang sosok
perempuan itu melakukan poliandri (harus menjadi isteri dari
Pakubuwono, Hamengku Buwono, Paku Alam dan Mangkunegoro).
Kisah-kisah Nyai Ratu Kidul pada masa pasca Sutowijoyo lebih
banyak berupa  gugon tuhon  (cerita dari mulut ke mulut) tentang
kisah-kisah insidentil yang terjadi di sekitar lingkungan Laut Selatan.
Tetapi, tidak ada salahnya jika dalam sub bab ini saya ceritakan
sedikit bagian sejarah tentang keadaan Mataram setelah Sultan
Agung meninggal dunia, agar bisa diketahui gambarannya; seberapa
jauh peran Nyai Ratu Kidul dalam turut mempertahankan keutuhan
Mataram dan kesejahteraan masyarakatnya.
Pada masa pemerintahan Amangkurat I di Mataram mulai terjadi
pemberontakan. Ahli-ahli sejarah menyatakan bahwa
pemberontakan itu disebabkan ketidakbijaksanaan Sultan dalam
menjalankan pemerintahan. Tetapi menurut saya ada faktor lainnya,
yaitu: kebiasaan ambisi para pemimpin daerah atau bupati yang
tadinya dikuasai secara paksa sehingga selalu mempunyai keinginan
secara merdeka memerintah daerahnya sendiri.
Pemberontakan kepada Mataram di jaman Amangkurat yang
sangat terkenal adalah yang dilakukan oleh Trunojoyo, anak dari
Bupati Cakraningrat di Madura. Trunojoyo berhasil menguasai Jawa
Timur, memindahkan pusat pemerintahannya di Sedayu, lalu ke
Kediri, hingga terus mendesak ke arah Barat dan akhirnya menguasai
Karto ibukota Mataram.
Mataram dikalahkan Trunojoyo sehingga Amangkurat I lari ke
Batavia, meminta bantuan Belanda yang merupakan musuh Mataram
itu. Amangkurat I menggadaikan harga diri Mataram kepada
Belanda, sebab ia tidak mau takluk kepada Trunojoyo. Tapi
Amangkurat I meninggal dan diganti anaknya, Amangkurat II.
Lucunya, penobatan Amangkurat II dilakukan oleh Belanda di
Batavia. 
Tidak beda dengan ayahnya, Amangkurat II juga menggadaikan
Mataram kepada Belanda dengan menandatangani Perjanjian Jepara
tahun 1678, yang isinya:
(1)  Amangkurat II diangkat menjadi raja Mataram dan menerima
bantuan dari Belanda;
(2)  Belanda berkuasa atas Pelabuhan Semarang dan memiliki hak-
hak untuk berdagang;
(3)  Mataram harus mengganti kerugian perang yang diderita
Belanda.
 Amangkurat selanjutnya bisa kembali ke Jawa Tengah tapi
dengan bantuan dan perlindungan Belanda. Lalu Belanda mulai
menyerang Trunojoyo, hingga akhirnya terpaksa ia harus
menyerah kepada Kapten Jonker di Gunung Willis Jawa Timur.
Lalu Trunojoyo diserahkan kepada Amangkurat II, tetapi dengan
kejam Amangkurat II membunuh Trunojoyo dengan keris. Sebuah
watak biadab yang sama persis dengan watak Sutowijoyo.
Karena Amangkurat II tidak tahan di bawah pengaruh Belanda
maka ia meminta bantuan dengan Untung Suropati (Adipati
Wironegoro) di Pasuruan (Bangil). Setelah Amangkurat II
meninggal maka kekuasannya dilanjutkan Amangkurat III yang
juga bekerjasama dengan Untung Suropati dalam menentang
Belanda.
Pada waktu itulah kekuatan Mataram mulai pecah karena taktik
pecah-belah Belanda. Adik Amangkurat II yang bernama Pangeran
Puger dijadikan alat Belanda untuk memecah kekuatan Mataram.
Pangeran Puger inilah yang kemudian diakui Belanda menjadi raja
Mataram dengan gelar Pakubuwono I. Dalam suatu peperangan
dengan Belanda di Bangil, Untung Suropati meninggal sehingga
kekuatan Amangkurat III lumpuh dan ia menyerah kepada
 Belanda. Lalu Belanda membuang Amangkurat III ke Srilanka. Dan,
Mataram diperintah Pakubuwono I.
Saya tidak akan terlalu panjang untuk meneruskan sejarah
kekacauan Mataram tersebut. Cukuplah keadaan sejarah yang saya
uraikan di atas menunjukkan fakta bahwa Mataram yang konon
menjalin kekuatan mistik dengan penguasa Laut Selatan, Nyai Ratu
Kidul, ternyata tidak berdaya menghadapi serangan Trunojoyo.
Yang membantu mengembalikan  kekuasaan raja Mataram bukan
Nyai Ratu Kidul, tapi Belanda.
Bahkan ketika Amangkurat II yang tidak tahan lagi bekerjasama
dengan Belanda, ia meminta bantuan Untung Suropati, mantan
budak dari Bali yang  sangat gagah berani dan mati dalam keadaan
terhormat itu. Ketika Untung Suropati meninggal dunia,
Amangkurat III pun tidak berdaya, menyerah kepada Belanda dan
dibuang ke Srilanka. Alangkah malang nasib raja Mataram yang
konon adalah suami dari Nyai Ratu Kidul itu.
Sampai pada batas sejarah tersebut, ternyata Nyai Ratu Kidul
sama sekali cuek, tidak mempunyai peranan apa-apa dalam
menyelamatkan Mataram. Itulah ironisnya kepercayaan yang telah
terlanjur meyakini bahwa ada poros aliansi kekuatan antara
Mataram sebagai komunitas manusia dengan Laut Selatan sebagai
komunitas lelembut, yang terjalin sejak Mataram diperintah oleh
Sutawijaya.
Mengapa Mataram dan raja-rajanya (pasca Sultan Agung) bisa
sampai bernasib tragis seperti itu? Apa yang kurang, padahal
meskipun miskin terjajah oleh asing, masyarakat Jawa tetap loyal
kepada Nyai Ratu Kidul untuk selalu memberinya sesajen dan
memuja-mujanya setinggi langit, mengimajinasikannya sebagai
Sang Ratu yang luhur dan melindungi? 
Nyai Ratu Kidul benar-benar tega dan tidak kasihan melihat
Amangkurat I yang lari tunggang-langgang mengais bantuan
kepada Belanda. Nyai Ratu Kidul begitu tega membiarkan
Amangkurat II menandatangani  penyerahan sebagian wilayah
Mataram kepada Belanda. Nyai Ratu Kidul hanya  plonga-plongo
melihat Amangkurat III dirantai tentara Belanda dan dibuang ke
Srilanka. 
Dengan kenyataan itu, pantaskah orang-orang Jawa selalu
mengidolakan Nyai Ratu Kidul, memberinya sesajen dan memuja-
mujanya?