Pembangkangan Sutowijoyo Kepada Pemerintah Pajang

 Pembangkangan Sutowijoyo Kepada Pemerintah Pajang   Setelah Ki Pemanahan meninggal dunia tahun 1584 maka Sultan Hadiwijoyo mengangkat Sutowijoyo menjadi penguasa Mataram, dengan kewajiban untuk  selalu tunduk kepada Pajang. Artinya, Mataram tetap dianggap daerah kekuasaan Pajang oleh Sultan Hadiwijoyo.

Pembangkangan Sutowijoyo Kepada Pemerintah Pajang

Setelah Ki Pemanahan meninggal dunia tahun 1584 maka
Sultan Hadiwijoyo mengangkat Sutowijoyo menjadi penguasa
Mataram, dengan kewajiban untuk  selalu tunduk kepada Pajang.
Artinya, Mataram tetap dianggap daerah kekuasaan Pajang oleh
Sultan Hadiwijoyo.
Namun setelah Sutowijoyo menjadi pengganti Ki Pemanahan,
dengan sengaja ia tidak mau sowan (menghadap) kepada Sultan
Hadiwijoyo. Sutowijoyo memulai  pembangkangan tersebut secara
taktis. Ia selalu mempengaruhi para mantri dan bupati yang akan
sowan kepada Sultan Hadiwijoyo. Mereka diikat dengan perlakuan
yang baik, sampai-sampai secara tidak sadar membuat “kontrak
politik” untuk bekerjasama. Yang dikatakan tidak sadar tersebut
adalah bahwa para mantri dan bupati tersebut tidak mengetahui
bahwa Sutowijoyo mempunyai rencana untuk membangkang
kepada Sultan Hadiwijoyo.
Karena beberapa lama Sutowijoyo tidak sowan kepada Sultan
Hadiwijoyo, maka Sultan memerintahkan utusan untuk mengawasi
perkembangan Mataram. Ternyata Mataram mulai membangun
tembok keliling di istana. Konon pembangunan pagar atau tembok
keliling itu atas saran Sunan Kalijaga. Utusan Pajang tersebut dalam
cerita rakyat bernama Ki Wilamarta dan Wuragil. Menurut adat
kebiasaan dan tatacara kenegaraan waktu itu, Wilamarta dan
Wuragil yang datang ke Mataram sebagai wakil Sultan Pajang yang
harus dihormati, sehingga Sutowijoyo pun harus memberikan
hormatnya. Namun  Sutowijoyo menemui utusan Sultan tersebut di
jalan, ia sengaja tidak mau turun dari kudanya untuk memberikan
hormat kepada utusan Sultan Pajang. Itulah terutama isyarat yang
ditangkap oleh para utusan Pajang, bahwa Sutowijoyo benar-benar
membangkang kepada kekuasaan Pajang.
Kisah tersebut saya ceritakan agak panjang lebar dengan
maksud menunjukkan kepada  pembaca bahwa Sutowijoyo
menjalankan politiknya dengan cara melanggar etika politik waktu
itu. Hal ini sangat berguna untuk dihubungkan dengan
kepercayaan Nyai Ratu Kidul tersebut dalam kaitannya dengan
kejujuran Sutowijoyo.
Konon, karena Ki Juru Mertani dan Sutowijoyo merasa sulit
menandingi kesaktian Sultan Pajang dan kehebatan pasukan
Pajang, maka Sutowijoyo pergi ke Parangtritis untuk menemui
Nyai Ratu Kidul, dan Ki Juru Mertani mendapatkan tugas untuk
menemui penguasa Gunung Merapi. Selanjutnya Nyai Ratu Kidul
sanggup untuk memberikan bala bantuan jin dan setan untuk
menghadapi rencana peperangan. Disamping bersekutu dengan
Nyai Ratu Kidul, Sutowijoyo juga didukung oleh Sunan Kalijaga
yang memberi nasihat untuk menyusun benteng-benteng (pagar) di
Mataram. 
Kisah peperangan Mataram melawan Pajang disulut oleh sebuah
peristiwa yang agak persis dengan penyebab terjadinya Perang
Dunia I. Adik perempuan Sutowijoyo dikawinkan dengan seorang
Tumenggung yang dikenal dengan Tumenggung Mayang. Dari
perkawinan tersebut dipunyai anak yang diberi nama Raden
Pabelan, yang di masa remajanya terkenal sangat ganteng dan mata
keranjang. Suatu saat Tumenggung Mayang menyuruh Raden
Pabelan untuk menggoda puteri Sultan Pajang (Sekar Kedaton).
Puteri ini akhirnya jatuh cinta kepada Raden Pabelan. 
Suatu saat Raden Pabelan tertangkap ketika sedang berada di
Taman Kaputren (tempat isteri dan putri raja yang berada dalam
komplek istana). Hingga akhirnya Raden Pabelan meninggal di
tangan prajurit Pajang. Menurut kisahnya, tertangkapnya Raden
Pabelan oleh prajurit Pajang karena atas rencana Tumenggung
Mayang sendiri yang jengkel dengan perilaku anaknya itu. Tapi
dalam analisis politik ini akan menjadi lain, sebab pasti ada
pertanyaan: Apakah sesederhana  itu alasan Tumenggung Mayang,
sebab peristiwa ini menjadi penentu kehancuran Pajang. Kisah ini
dapat dibandingkan dengan cerita upaya politik Sutowijoyo dalam
menguasai tanah perdikan Mangir dengan cara mengumpankan
anaknya, Puteri Pambayun.
Peristiwa itu dilaporkan prajurit kepada Sultan Pajang sehingga
Sultan Hadiwijoyo ini marah-marah dan menghukum Tumenggung
Mayang, ayah Raden Pabelan, dengan dibuang ke Semarang. Dalam
perjalanan pembuangan Tumenggung Mayang tersebut diiringi
sekitar seribu pasukan Pajang dengan senjata lengkap. 
Atas peristiwa itu, isteri Tumenggung Mayang yang tidak lain
adalah adik Sutowijoyo, mengirim surat kepada Sutowijoyo,
memberi kabar bahwa Tumenggung Mayang akan dibuang ke
Semarang.
Menerima pemberitahuan tersebut maka Sutowijoyo
mengumpulkan para prajuritnya serta para bupati dan mantri
sahabatnya untuk mempersiapkan diri guna merebut Tumenggung
Mayang dari pasukan Pajang yang sedang menawannya. Sutowijoyo
merasa berkewajiban untuk menyelamatkan adik iparnya itu. Tapi
lagi-lagi, ini adalah sebuah alasan politis. 
Rencana perlawanan Sutowijoyo itu dikritik Ki Juru Mertani. Ki
Juru Mertani tersebut telah turut berjasa dalam membunuh Arya
Penangsang (berarti juga berjasa untuk memperoleh bumi
Mataram). Ki Juru Mertani menasihati Sutowijoyo agar jangan
melawan Sultan Pajang dengan tiga alasan. Pertama, Sultan Pajang
adalah raja yang berdaulat. Kedua, Sultan Pajang adalah ayah
angkat Sutowijoyo. Ketiga, Sultan Pajang juga telah memberikan
banyak pelajaran dan pengalaman  sehingga sama halnya sebagai
guru Sutowijoyo. Namun Sutowijoyo terlanjur berambisi untuk
menjadi Raja Jawa. Meskipun nasehatnya tidak digubris
Sutowijoyo, Ki Juru Mertani tetap mendukung Sutowijoyo, sebab
Sutowijoyo diyakininya telah memperoleh rekomendasi ramalan
dari Walisongo (Sunan Giri); akan menjadi Raja Jawa.
Selanjutnya berita pengerahan pasukan Mataram didengar oleh
Sultan Pajang. Hal itu mengindikasikan adanya upaya
pemberontakan oleh Mataram sebab Tumenggung Mayang adalah
tawanan Pajang, tetapi akan direbut oleh Mataram. Maka Sultan
Hadiwijoyo sendiri berangkat memimpin pasukannya untuk
menundukkan Mataram.
Di sinilah taktik dijalankan. Pasukan Sutowijoyo menggunakan
strategi teknis dan magis. Pasukan Mataram dibagi menjadi tiga
barikade. Satu barikade kecil bertugas menyerang (mengecoh)
pasukan Pajang, lalu berlari mundur, sehingga seluruh pasukan
Pajang mengejar barikade pasukan Mataran pengecoh ini.
Selanjutnya dua barikade pasukan Mataram lainnya bertugas
melakukan serangan mendadak dari sisi kiri dan kanan pasukan
Pajang yang sedang mengejar satu barikade pasukan pengecoh
tersebut. Maka kocar-kacirlah pasukan Pajang. 
Pada waktu itu Gunung Merapi sedang dalam keadaan aktif.
Maka taktik magis atau mistik juga dijalankan. Bendhe Kyai Becak
diperintahkan untuk dibunyikan jika ada letusan gunung Merapi.
Pasukan Pajang juga harus menghadapi aliran lahar gunung Merapi.
Saat itulah pasukan Pajang mulai berpendapat bahwa mereka juga
melawan para lelembut, pasukan dari penguasa Gunung Merapi
yang diperintah Nyai Ratu Kidul. Maksud Sutowijoyo tercapai,
yaitu: merontokkan spirit para prajurit Pajang.
Banjir lahar malam hari membuat pasukan Pajang banyak yang
hanyut. Karena kehilangan banyak pasukan maka Sultan
Hadiwijoyo menarik pasukannya untuk kembali ke Pajang. Namun
dalam perjalanan Sultan Pajang ini jatuh dari gajah tunggangannya
sehingga jatuh sakit.
Ketika sampai di istana Pajang, Sultan Hadiwijoyo berwasiat
kepada anaknya, Pangeran Benowo, agar ia tidak melawan kepada
Sutowijoyo. Bahkan Sultan Pajang sendiri sudah percaya bahwa
Sutowijoyo telah ditakdirkan menjadi menjadi Raja Jawa
sebagaimana ramalan Sunan Giri. Sultan Hadiwijoyo, penguasa
Pajang itupun rontok semangatnya  karena isu mistik tersebut. Ia
telah kehilangan keyakinan dan keimanan Islamnya, bahwa dengan
semangat dan usaha, manusia bisa mencapai takdirnya sebagaimana
orang yang sakit menjadi ditakdirkan sembuh karena berusaha
mengobati dirinya. 
Sultan Pajang itu dikalahkan bukan oleh kejituan ramalan
Sunan Giri, tapi oleh pengaruh atau akibat ramalan yang telah
menjatuhkan semangatnya. Suatu ramalan adalah bukan karena
manusia mengetahui apa yang akan terjadi, melainkan sebuah
ketajaman analisis. Buktinya,  tidak semua ramalan menjadi
kenyataan, bahkan ramalan atau Jangka Jaya Baya yang dimitoskan
itu juga tidak selalu tepat. Jangka Jayabaya tidak menggunakan
“ilmu weruh sakdurunge winarah” (ilmu mengetahui peristiwa
yang belum terjadi) seperti yang diyakini para penganut mistik,
tetapi menggunakan ilmu falak atau ramalan bintang. 
Saya kutipkan dasar ramalan bintangnya Jayabaya dari Kitab
Primbon Quraisyn Adammakna, yaitu: “Marga manut primbon
ilmu palintangan, katon lintang kemukus, siji-sij ne saben 100
tahun mung  apisan temu gelang.” (Sebab menurut primbon ilmu
perbintangan, nampak komet, satu-satunya setiap 100 tahun hanya
satu siklus.) Begitu pula para Walisongo juga mendalami ilmu falak
yang digunakan meramal masa depan, seperti ramalan bintang di
koran-koran dan tabloid itu. Hanya saja menurut Islam, analisis
masa depan menyangkut nasib  manusia tidak boleh dijadikan
sebagai ramalan yang diyakini  pasti akan terjadi. Itu suatu
kesombongan. Boleh jadi, Sultan Hadiwijoyo sedih memikirkan
akhir karirnya atas ramalan Sunan Giri bahwa telah waktunya
muncul Raja baru di Jawa. 
Selanjutnya Sultan Pajang meninggal dunia tahun 1587. Pada
waktu itu kekuatan politik di Jawa yang paling kuat waktu itu
adalah Mataram sebab tidak ada lagi orang yang lebih kuat selain
Sutowijoyo. Demak sudah lama di bawah pengaruh Pajang. Tetapi
dengan meninggalnya Sultan Hadiwijoyo pun Pajang sudah tidak
lebih kuat daripada Demak. 
Sepeninggal Sultan Hadiwijoyo maka Pajang menggelar sidang.
Sidang tersebut juga dihadiri oleh Sutowijoyo yang habis melayat
ayah angkatnya itu. Di situ Sunan Kudus masih membuktikan
pengaruhnya. Sunan Kudus memutuskan Pangeran Benowo
menjadi Adipati Jipang Panolan. Sedangkan jabatan Sultan Pajang
diberikan kepada menantu Sultan Hadiwijoyo yaitu Adipati Demak
dengan alasan bahwa anak tertua  dari Sultan Hadiwijoyo adalah
isteri dari Adipati Demak.
Keputusan Sunan Kudus tersebut  menjadikan posisi Mataram
semakin kuat, sebab dengan diangkatnya Adipati Demak menjadi
Sultan Pajang maka di Pajang terjadi kekacauan politik dan sosial
karena sifat kolusi Adipati Demak yang membawa para pejabat
Demak ke Pajang serta mengurangi hak-hak asli tanah rakyat
Pajang yang harus dibagi dengan para pendatang dari Demak.
Situasi semakin tidak terkendali.
Pangeran Benowo yang sudah menjadi Adipati (Bupati) Jipang
meminta bantuan kepada Sutowijoyo untuk mengatasi situasi di
Pajang, tetapi ditolak dengan alasan bahwa urusan Pajang adalah
urusan Pangeran Benawa dengan saudara-saudaranya. Tapi, karena
Pangeran Benawa tidak rela Pajang dikuasai oleh Adipati Demak
maka ia menyatakan menyerahkan Pajang kepada Sutowijoyo. 
Dengan penyerahan itulah maka Sutowijoyo menerimanya
dengan senang hati sehingga mengerahkan pasukannya untuk
menyerang Pajang. Akhirnya Pajang berhasil dikuasai Mataram.
Maka pusat kekuasaan di Jawa Tengah waktu itu berada di
Mataram, di bawah kendali Sutowijoyo alis Panembahan Senopati.

Iklan