Racun Dunia Penulisan

 

Jonru, menyebutnya sebagai racun dunia penulisan. Apa saja racun tersebut?  Ini dia…
1.  Saya tak mungkin bisa. 
Ini adalah penyakit kronis yang mendesak dibumihanguskan dari wilayah otak Anda.
Sekali Anda terjangkit, maka diperlukan usaha ekstra agar kembali ke jalur waras.
Solusinya? Coba baca kisah orang-orang sukses yang berasal dari latar belakang tidak
menyenangkan. Jika mereka bisa sukses dengan keterbatasan yang ada, kenapa Anda
tidak?

2.  Bagaimana kalau…
Kegagalan seringkali datang kepada orang yang tidak berani mengambil resiko.
Bukannya saya mengajarkan judi lho, karena judi jelas-jelas dilarang Bang Haji. Bila
dibekali wawasan yang teoat guna, resiko sebanding dengan tingkat value yang didapat.
High risk, high return!

3.  Terlalu banyak mikir. 
Salah satu produk pendidikan formal adalah para pemikir yang berkompeten di
bidangnya. Namun untuk urusan ngeblog, mikirnya jangan terlalu lama. Terlalu banyak
pertimbangan akan menyeret Anda ke dalam situasi tidak focus dan cenderung melebar
kemana-mana. Idealnya, tuangkan pikiran Anda begitu ide itu melintas di jalur
pemikiran.

4.  Takut salah.
Kalau tidak mau salah, jangan jadi manusia. Mending jadi malaikat saja. Itulah kalimat
singkatnya. Dari kesalahan-kesalahan posting artikel, kita jadi lebih cerdas dan terasah
menganalisa kesalahan untuk perbaikan ke depan. Justru mereka yang tidak pernah
salah adalah yang merugi karena sudah pasti belum pernah melakukan perbuatan
nyata.

5.  Wajar, dia kan…
Saat melihat putra mantan presiden berhasil menjadi presiden berikutnya, terbayang
dalam pikiran Anda bahwa itu wajar saja, dia kan putra presiden. Tapi coba Anda tengok
riwayat tukang becak yang berhasil menulis buku best seller. Apakah Anda masih bisa
menggunakan alasan ini?
6.  Nanti saja setelah…
Sikap menunda-nunda adalah musuh terbesar dalam manajemen waktu. Anda tidak
tahu apakah masih ada kesempatan lebih banyak lagi setelah ini. Atau yang lebih
ekstrim lagi, apakah ada jaminan bahwa besok pagi Anda masih bisa terbangun di pagi
hari dalam keadaan bernyawa?

7.  Saya belum layak.
Tidak ada kualifikasi khusus supaya tulisan Anda diterima oleh penghuni blogosphere.
Ngeblog itu nggak ribet kok. Tidak peduli usia ngeblog Anda baru sehari, bahkan bagi
yang tidak lulus SD pun berpeluang mempunyai super blog.

8.  Silau melihat hasil.
Sisi jelek blogger Indonesia adalah mudah tersepona oleh kemajuan orang lain,
sementara membiarkan diri menjadi penonton bagi keberhasilan blog tetangga. Kagum
boleh saja, tapi Anda juga harus memikirkan bagaimana mengelola kekaguman tersebut
sebagai motivasi untuk mencapai pencapaian diri yang lebih baik. 

9.  Menyalahkan orang lain dan keadaan.
Hasil yang Anda terima di masa kini adalah efek perbuatan Anda di masa lalu.
Menyalahkan orang lain bukanlah sikap ksatria. Karena masa depan ada di tangan
Anda sendiri, bukan di tangan peramal, mentor, investor bahkan fasilatator kegiatan
blogging Anda selama ini.