Dekatkan Anak pada Teknologi


Dekatkan Anak pada Teknologi
Fransiskus Saverius Herdiman

DALAM beberapa dekade terakhir, industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berkembang pesat. Bahkan, TIK telah memainkan peran sangat vital dalam perkembangan ekonomi dunia. Pada pertengahan tahun 90-an, TIK mulai menampakkan kekuatannya dan mengungguli industri lain yang selama ini dipandang sebagai sektor utama seperti otomotif, elektronika, dan lain-lain.
Yearbook of World Electronics Data 2007 menyebutkan laju rata-rata pertumbuhan industri TIK mencapi 2 hingga 3 kali lipat dibanding laju rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia. Bahkan saat ekonomi dunia dilanda krisis setelah terjadinya kasus “911” industri TIK masih tetap tumbuh signifikan. Lebih menarik, Asia dipandang sebagai pasar TIK yang mengalami pertumbuhan terbesar di dunia dengan laju pertumbuhan lebih dari 26Negara tetangga Malaysia misalnya, mencatatkan 60ari ekspor manufakturnya adalah dalam bidang TIK.
Guru Besar Tetap Bidang Komputasi Numerik pada Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI), T. Basaruddin dalam orasi ilmiah berjudul “Industri Perangkat Lunak Indonesia: Prospek dan Strategi Pengembangannya” mengatakan Indonesia sebenarnya – dengan jumlah penduduk empat besar dunia – merupakan pasar TIK dan perangkat lunak yang sangat diperhitungkan dunia.
Hal ini, tampak selama beberapa tahun terakhir. Katanya, ada kecenderungan peningkatan penggunaan TIK yang cukup pesat. Jumlah pengguna internet di Indonesia misalnya, saat ini diperkirakan mencapai 20 juta orang atau meningkat 9 kali lipat dibandingkan dengan tahun 2000.
Fisikawan Yohanes Surya mengaku, perkembangan tekonologi komunikasi informasi saat ini sangat pesat. Menurutnya, ada tiga pilar yang menguasai dunia saat ini yakni: nano teknologi, bioteknologi dan information communication technology (ICT). Kata Surya, begitu dominannya perkembangan teknologi sampai-sampai masa depan yang gemilang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan dunia ini.
“Yang terpikirkan dari masa depan yang gemilang adalah teknologi. Masa depan gemilang tak dapat terpikirkan tanpa teknologi,” ujarnya.
Kemajuan sebuah negara kata Surya, sangat bergantung pada seberapa besar negara itu melakukan investasi dalam bidang tekonologi. Jepang misalnya, pada tahun 1960-an sudah mulai berinvestasi dalam bidang teknologi. Pada waktu itu, barang produk Jepang memiliki kualitas jelek. Tapi 48 tahun kemudian, produksi Jepang sudah merajai pasar dunia. Selain itu, produk Jepang memiliki kualitas yang mumpuni.
Agar Indonesia bisa menjadi bangsa yang maju, kata Surya, tidak lain dan tidak bukan kecuali mengembangkan bidang teknologi komunikasi informasi.

Sejak Dini

Menurut Basaruddin, pendidikan di bidang TIK di Indonesia relatif baru yaitu mulai pada awal 80-an. Walau demikian, sejalan dengan pesatnya kemajuan di bidang ini, berbagai program TIK juga berkembang pesat.
Data Akademi Pendidikan Tinggi Komputer (Aptikom) menyebutkan, Indonesia saat ini memiliki sekitar 640 perguruan tinggi yang menawarkan program studi terkait TIK. Setiap tahun meluluskan tidak kurang dari 15.000 lulusan bidang TIK dari berbagai jenjang pendidikan.
Meski dari sisi jumlah kata Basaruddin lulusan pendidikan cukup memadai, tapi jika dilihat dari tingkat pengusaan TIK – khususnya perangkat lunak – masih tergolong rendah dan kekurangan. Hasil survei ISV tahun 2007 menunjukkan, Indonesia kekurangan tenaga pengembang perangkat lunak yang bermutu.
Menurut Basaruddin, Sistem Pendidikan Nasional sebagaimana digariskan dalam UU Nomor 20 tahun 2003 secara umum cukup kondusif untuk mendukung pengembangan industri pada umumnya termasuk perangkat lunak. Aspek mutu dan relevansi serta pentingnya spirit dan budaya keriwausahaan misalnya, sudah dituangkan sebagai indikator penting pengembangan pendidikan di Indonesia sebagaimana tertuang dalam Program Pembangunan Nasional (Propenas) serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009.
“Sayangnya secara keseluruhan pendidikan di Indonesia masih mengalami kelemahan dalam hal mutu maupun akses,” ujarnya.
Angka partisipasi kasar (APK) pada jenjang SMP, SMTA, dan Perguruan Tinggi misalnya, berturut-turut adalah 80.552,6 an 17,2APK ini jauh tertinggal dibawah Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Menurut Surya, siswa Indonesia memiliki potensi yang luar biasa besar. Hal itu misalnya ditunjukkan dari kesuksesan siswa Indonesia dalam berbagai ajang kejuaraan dunia.
“Banyak siswa Indonesia yang luar biasa berbakat. Hal ini dapat saya saksikan selama 13 tahun mendampingi mereka dalam ajang olimpiade internasional,” kata Surya.
Karena itu, Surya masih berharap bahwa Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar dan menyaingi bangsa lainnya.
Untuk itu, Surya mendorong para orang tua agar sejak dini mendekatkan anak pada dunia teknologi. Misalnya, dengan memasukkan mereka pada berbagai lembaga kursus komputer.
“Bukan sekadar bermain game, tapi harus melatih mereka agar bisa membuat program game, kata Surya.
Badaruddin mengatakan, sudah saatnya pemerintah melakukan penguatan industri perangkat lunak yang didukung oleh sarana dan prasarana teknologi informasi dan komunikasi yang memadai.
Selain itu, melakukan mobilisasi bakat di perguruan tinggi. “Sejarah perkembangan industri perangkat lunak di negara maju menunjukkan, perusahaan pengembang perangkat lunak lahir dari lingkungan kampus. Seperti terjadi di Stanford dan MIT,” ujar Basaruddin.

Sumber : Jurnal Nasional (6 Maret 2008)