IBM World Community Grid akan Tangani Krisis Beras

IBM World Community Grid akan Tangani Krisis Beras
Sarie

Seiring dengan meningkatnya keprihatinan akan krisis pangan dunia, IBM dan periset-periset di Universitas Washington hari ini meluncurkan sebuah program baru untuk mengembangkan kumpulan padi yang lebih kuat serta dapat menghasilkan butiran beras yang lebih besar dan mengandung lebih banyak nutrisi.
Program tersebut dijalankan melalui IBM World Community Grid, sebuah grid komputer dengan daya pemrosesan sebesar 167 teraflop, setara dengan superkomputer terbesar nomor tiga di dunia. Grid komputer ini akan memanfaatkan daya yang tidak digunakan dan disumbangkan oleh lebih dari satu juta PC dalam suatu inisiatif yang baru, proyek ‘Nutritious Rice for the World’, yang akan meneliti beras di tingkat atom dan kemudian mengkombinasikannya dengan teknik-teknik pengembangan silang tradisional yang umum digunakan oleh para petani.
Proyek ini dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari dua tahun, padahal jika menggunakan sistem yang lebih konvensional dibutuhkan waktu sekitar 200 tahun.
“Dunia sedang mengalami tiga revolusi secara berbarengan: genetika dan biologi molekuler, kapasitas penyimpanan dan daya komputasi, serta komunikasi. Revolusi komputasi memungkinkan ilmuwan di seluruh dunia untuk mengatasi berbagai masalah yang sangat rumit sebagai sebuah komunitas dan secara real-time. Meskipun belum ada jurus yang jitu, produksi beras dapat di revitalisasi dengan bantuan teknologi baru. Komunitas dunia harus berinvestasi untuk saat ini maupun untuk jangka yang lebih panjang,” papar Robert Zeigler, Director General, the International Rice Research Institute, yang berpusat di Filipina.
World Community Grid akan menjalankan sebuah program pembuatan model 3D yang diciptakan oleh ahli-ahli biologi komputasi dari Universitas Washington untuk meneliti struktur protein yang membentuk blok bangunan beras. Pemahaman struktur diperlukan untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi protein tersebut dan untuk memungkinkan para periset mengidentifikasi protein mana saja yang dapat memproduksi lebih banyak butiran beras, mengusir hama dan berbagai penyakit atau menyimpan lebih banyak nutrisi. Pada akhirnya, proyek ini akan menciptakan peta protein terbesar dan terlengkap disertai fungsi-fungsinya yang terkait. Hal ini membantu ahli pertanian dan petani menentukan tanaman mana yang harus dipilih untuk pengembangan silang guna menghasilkan beras yang lebih baik.
“Permasalahan yang kita hadapi adalah bahwa terdapat antara 30.000 dan 60.000 struktur protein berbeda yang harus kita teliti. Jika kita menggunakan pendekatan experimen tradisional di laboratorium, diperlukan puluhan tahun untuk mengidentifikasi fungsi dan struktur terperinci dari berbagai protein utama. Dengan menjalankan program piranti lunak kami pada World Community Grid, kita dapat mempersingkat prosesnya dari 200 tahun menjadi kurang dari 2 tahun,” tutur Dr. Ram Samudrala, Principal Investigator dan Associate Professor di Fakultas Mikrobiologi Universitas Washington.
Proyek ini, dimulai dengan hibah sebesar USD2 juta dari the National Science Foundation, memungkinkan negara-negara produsen beras untuk beradaptasi secara lebih baik dengan perubahan iklim di waktu mendatang karena mereka dapat secara cepat menemukan tanaman yang tepat untuk pengembangan silang, dan menciptakan ?hibrida super? yang lebih tahan terhadap pola cuaca yang berubah-ubah.
Universitas Washington, bersama-sama mitra-mitranya dan IRRI, akan berdiskusi untuk menemukan cara agar proyek ini lebih maju dengan menggunakan World Community Grid, terutama berfokus pada protein yang menjadi sasaran.
Penelitian ini juga penting karena pengetahuan yang didapat dengan model 3D dapat dengan mudah dialihkan untuk bibit lainnya, seperti jagung, gandum dan barley.
World Community Grid sendiri membuat tonggak sejarah baru yang diharapkan dicapai minggu depan, ketika grid ini menampung satu juta komputer terdaftar guna membantu penelitian ilmu pengetahuan canggih. Setiap minggu, ribuan orang bergabung dalam proyek ini, yang secara signifikan telah mempercanggih proyek-proyek penelitian penyakit, seperti kanker dan AIDS. Proyek beras bernutrisi ini adalah proyek terbaru yang memanfaatkan grid tersebut, dan dapat berdampak besar pada kesehatan di seluruh dunia.
“Proyek ini sangat membantu petani-petani di sleuruh dunia menanam bibit yang lebih baik dan membantu mengurangi bencana kelaparan. Jika anda ingin menjadi bagian dari sesuaatu yang besar, anda dapat mengambil langkah kecil hari ini juga dengan menyumbangkan waktu komputer anda yang menganggur. Para relawan dapat secara pribadi membantu mempercepat proyek ini dan dapat memberikan perbedaan besar bagi para petani dan mereka yang membutuhkan,” jelas Hartini Haris, Country Marketing Manager dan Corporate Community dan Corporate Affairs Leader, IBM Indonesia melalui keterangan resmi, Jumat (13/6/2008).
Siapapun yang memiliki komputer dan akses Internet dapat menjadi bagian dari solusi ini. Untuk menyumbangkan waktu komputer anda yang tidak terpakai, anda dapat mendaftar di situs resmi Community Grid dan menginstal sebuah program perangkat lunak yang gratis, berukuran kecil dan aman ke dalam komputer anda. Ketika komputer anda menganggur, data diminta dari server World Community Grid. Komputer-komputer ini kemudian mengerjakan komputasi tersebut dan mengirimkan hasilnya kembali ke server, dan kemudian meminta pekerjaan lainnya. Sebuah screen saver memberitahu pengguna ketika komputer mereka sedang digunakan oleh grid.
World Community Grid, grid kemanusiaan publik terbesar saat ini, memiliki lebih dari 380.000 anggota dari 200 negara dan menghubungkan sekitar satu juta komputer. Para relawan inilah yang memberikan perbedaan karena setiap kali seseorang menyumbangkan waktu komputernya, para ilmuwan dapat menyelesaikan penelitiannya secara lebih cepat. Sebagai contoh, proyek AfricanClimate at Home baru saja menyelesaikan proses pengumpulan data, dan analisa penelitiannya akan segera dimulai.
“Proyek tersebut tidak akan secepat ini kemajuannya tanpa bantuan World Community Grid. Hasil yang dicapai dapat membantu kami memahami secara lebih baik bagaimana perubahan permukaan tanah di Afrika Selatan dapat mempengaruhi iklim, selain membuka jalan untuk penelitian aspek iklim lainnya,” Hartini menambahkan.
Selain itu, the Cancer Institute of New Jersey menerima hibah penelitian sebesar USD2,5 juta dari the National Institute of Health pada tahun 2007 berkat proyek Help Defeat Cancer yang berjalan pada World Community Grid. Proyek FightAIDS at Home menyelesaikan penelitian HIV/AIDS hanya dalam waktu enam bulan (yang seharusnya membutuhkan lima tahun). Lima proyek lainnya kini sedang berjalan pada World Community Grid, sedangkan proyek-proyek lainnya akan segera menyusul.

Sumber : Okezone (13 Juni 2008)