Sekilas tentang komputasi tersebar

Sekilas tentang komputasi tersebar
red

Sesibuk apa pun komputer Anda, pasti ada saja daya komputasi yang terbuang. Selama satu periode tertentu, sebuah komputer rumahan mungkin hanya menggunakan 15apasitas prosesornya.
Daya komputasi yang menganggur ini dapat dimanfaatkan oleh bidang komputasi tersebar (distributed computing) yang biasa disingkat sebagai DC.
Dalam konsep DC, suatu tugas komputasi yang besar dan rumit dipecah ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil. Tugas-tugas kecil ini kemudian didistribusikan ke komputer-komputer biasa, seperti komputer rumahan, yang terhubung lewat jaringan.
Jaringan komputer rumahan seperti ini dapat menyaingi superkomputer yang lebih besar dan lebih mahal, dengan biaya jauh lebih murah.
Komputasi tersebar ini sudah diusahakan pada 1988. Akan tetapi, komputasi tersebar baru pertama kali muncul di muka publik dengan proyek Great Internet Mersenne Prime Search (GIMPS), yang dimulai pada 1996. Proyek komputasi tersebar lain yang juga cukup populer ialah SETI@Home, dan Folding@Home.
Lebih ampuh
GIMPS merupakan usaha untuk mendayagunakan komputer untuk keperluan riset dasar teori bilangan.
Tujuan GIMPS adalah mencari bilangan prima Mersenne terbesar.
Bilangan prima Mersenne adalah bilangan prima yang lebih kecil dari satu dari suatu bilangan pangkat dua. Tiga bilangan prima Mersenne adalah 3 (22-1), 7 (23-1), 31(25-1).
Sampai saat ini, proyek GIMPS sudah menemukan 10 bilangan prima Mersenne.
Bilangan terbesar terakhir yang diketahui dari proyek ini adalah 232582657-1, yang ditemukan pada 4 September 2006.
Tujuan proyek GIMPS buat banyak orang terdengar terlalu abstrak.
Meskipun lebih mengawang-awang, paling tidak SETI@Home (Search for Extraterrestrial Intelligence at Home) merupakan proyek yang kerjanya lebih mudah dicerna. Proyek SETI @Home bertujuan mencari tanda-tanda keberadaan makhluk cerdas di luar Bumi.
Usulan pertama proyek SETI@Home diajukan pada 1996 pada konferensi internasional bioastronomi di Capri, Italia.
Proyek ini direalisasikan pada Mei 1999. Daya komputasi yang dihimpun lewat proyek ini digunakan buat menganalisis data yang dikumpulkan oleh teleskop radio di Arecibo, Puerto Rico.
SETI@Home merupakan proyek komputasi tersebar yang paling populer di dunia.
Saat ini lebih dari 5,2 juta komputer di seluruh dunia mengikuti proyek ini. Jumlah tersebut melebihi target awal yang hanya 50.000 sampai 100.000 komputer pribadi. Belum ada peradaban luar angkasa yang sudah diidentifikasi, tetapi proyek ini sangat membantu dalam analisis teles-kop radio.
Penggunaan komputasi tersebar tidak hanya terbatas di bidang astronomi atau matematika.
Penerapan yang mungkin lebih langsung terasa adalah di bidang ilmu-ilmu hayati, seperti yang dilakukan oleh proyek Folding@Home.
Proyek ini diluncurkan pada 1 Oktober 2000, di bawah pengawasan Departemen Kimia Universitas Stanford.
Folding @Home memegang rekor Guinness sebagai klaster komputasi tersebar paling ampuh di seluruh dunia. Daya komputasi proyek Folding @Home menembus angka 1 peta FLOP� (Floating Point Operation per Second) pada Maret 2007.
Sebagai perbandingan, superkomputer IBM Blue Gene/L di Laboratorium Nasional Lawrence Livermore di California mencatat angka benchmark 478,2 teraFLOP atau kurang dari setengah yang dapat dicapai oleh Folding@Home. Buat apa saja daya komputasi sebesar itu? Folding@Home memanfaatkannya untuk melakukan simulasi perakitan (folding) molekul protein.
Simulasi tersebut diharapkan dapat memudahkan para ilmuwan buat memahami berbagai penyakit seperti Alzheimer dan sapi gila.
DC dan malware
Sadar atau tidak, pembuat malware sebenarnya saat ini mengendalikan sumber daya komputasi tersebar yang termasuk terbesar di seantero jagat.
Komputer-komputer yang tertular Storm Worm-yang mulai merebak pada 2007-menurut ahli sekuriti mampu menyaingi superkomputer IBM Blue Gene.
Pada Agustus 2007, Peter Guttman dari Universitas Auckland, New Zealand memperkirakan Storm Worm ini mengendalikan 1-10 juta prosesor di seluruh dunia.
Komputer-komputer seperti ini biasa disebut ‘botnet’. Sejauh ini jaringan botnet ini hanya digunakan untuk kerja yang relatif ‘enteng’ seperti mengirim e-mail sampah alias spam.
Akan tetapi, seperti komputasi tersebar lainnya, jaringan botnet hasil penularan malware seperti ini dapat digunakan untuk keperluan lain.
Yang cukup berbahaya misalnya bila para kriminal tersebut menggunakannya untuk memecahkan enkripsi, yang merupakan salah satu komponen penting dalam pengamanan komputer.

Sumber : Bisnis Indonesia (15 Februari 2008)