Superkomputer Digunakan untuk Diagnosa Osteoporosis

Superkomputer Digunakan untuk Diagnosa Osteoporosis
Arief Lukman (FTI – Universitas Atmajaya)

IBM dan para ilmuwan dari Swiss Federal Institute of Technology menggunakan IBM BlueGene/L untuk membangun simulasi tulang manusia yang kompleks, dimana dapat mendiagnosa osteoporosis lebih awal.
Osteoporosis adalah penyakit yang secara harafiah berarti tulang keropos merupakan penyakit yang menyerang satu dari tiga wanita dan satu dari lima pria diatas umur 50 tahun. Disebabkan oleh hilangnya kepadatan tulang.
Seperti yang diungkapkan oleh Alessandro Curioni, Manager bagian Computational Sciences di IBM Zurich Research Laboratory, kepada ComputerWorld mengatakan bahwa osteoporosis menyerap biaya kesehatan tertinggi setelah kanker. Selain itu, dengan menggunakan superkomputer buatan IBM ini, para ilmuwan mendekati diagnosa awal yang sangat penting.
“Itu merupakan hal yang penting, khususnya karena hal tersebut sangat mempengaruhi banyak wanita lanjut usia,” ujarnya. “Para dokter memerlukan diagnosa awal. Dengan diagnosa awal tersebut, mereka dapat mencoba untuk memperlambat proses dari osteoporosis tersebut. Namun permasalahannya, sangat sulit untuk melakukan diagnosa, kecuali penyakitnya sampai pada tahap yang lebih parah. Untuk mengetahui Anda berada dalam resiko pada tahap awal merupakan hal sangat sulit sekali (untuk didiagnosa).”
Biasanya, para dokter sering menggunakan mesin sinar X untuk mendiagnosa penyakit tersebut. Mereka hanya mempunyai data yang akurasinya menengah, karena tulang mempunyai sebuah spon ditengahnya, Jadi sulit untuk mendeteksi kekuatan tulang.
Menemukan metode yang lebih baik, para ilmuwan dari Swiss Federal Institute of Technology bekerjasama dengan para ilmuwan dari IBM Zurich Research Laboratory, mereka menggunakan simulasi parallel untuk mendapatkan gambaran yang jelas dari tekanan yang dinamis ke tulang, dimana dapat berubah bergantung dari beban / berat badan. Peta menunjukkan kepada dokter secara tepat dimanakah tulang terlemah dan dimana tulang yang kemungkinan mengalami keropos.
“Kami tidak hanya melihat kepadatannya saja, tapi juga distribusi tekanan di dalam tulang,” ujar Curioni.”Anda menaruh berat badan atau tekanan diatas tulang, jika tulang meng-akumulasi tekanan tersebut didalam satu tempat, kemungkinan besar tulang tersebut akan retak atau patah.”
Dengan menggunakan BlueGene/L, tim ini mencoba untuk mengadakan simulasi pertama pada tiap 5 milimeter bagian dari tulang. Dengan melakukan komputasi selama 20 menit, superkomputer ini menghasilkan data simulasi sebesar 90 GB.
Superkomputer ini memberi para ilmuwan sebuah kemampuan komputasi untuk mendapatkan simulasi dari bagian tulang yang kecil sampai struktur tulang secara keseluruhan. “Kemampuan tambahan dalam komputasi sangat dibutuhkan untuk mempunyai deskripsi yang baik mengenai distribusi tekanan dalam struktur tulang. Hal ini merupakan langkah awal untuk melakukan diagnosa yang lebih baik di tahap awal,” ujar Curioni.
Dia memperkirakan kurang lebih 10 tahun, komputer desktop yang ada sekarang akan mempunyai kemampuan superkomputer, dan hal tersebut memudahkan para dokter untuk melakukan simulasi di kantornya sendiri.

Sumber : beritaNET.com