Fenomena Politik Windows vs Linux

Fenomena Politik Windows vs Linux
Siti Nur Aryani (FE UI)

Masalah perangkat lunak komputer bukan sekadar soal teknis atau soal variabel dan parameter. Di era serba-komputer sekarang ini bisa jadi masalah itu mengarah pada soal politik, bahkan ideologi. Di Prancis hal itu terjadi.
Alkisah, Pemerintahan Kota Paris melalui Departemen Teknologi Informasi-nya melakukan studi kelayakan berkaitan dengan rencana penerapan sistem perangkat lunak berbasis Linux. Asumsi prastudi, jika hasil riset membuktikan Linux lebih murah dan efektif, maka pemerintah akan mengalihkan 17.000 perangkat PC yang selama ini menggunakan Windows.
Studi yang berlangsung selama tiga bulan lebih pada tahun lalu itu akhirnya mengambil kesimpulan. Pemerintahan Kota Paris merekomendasikan agar tetap mempertahankan Windows untuk 17.000 desktop-nya. Sebab, sekalipun Linux lebih murah, tanpa lisensi dan bisa menghindari monopoli Microsoft, tapi ?menurut studi kelayakan itu? akan membutuhkan banyak biaya untuk mengimplementasikannya. ?Kami harus mengeluarkan banyak uang untuk mewujudkan implementasi Linux,? kata Carsten Urban, kepala departemen TI kota Paris, kepada majalah Bussines Weeks.
Menurutnya, jika pemerintahan kota Paris benar-benar menerapkan Linux, akan menambah biaya pemrograman ulang program komputer dan biaya pelatihan ribuan pegawai. Carsten menambahkan, hasil studi bandingnya di Jerman, bahwa pemerintahan kota Heidenheim Jerman juga tidak mengadopsi Linux karena alasan biaya. Akibat keputusan itu, banyak penggemar Linux yang kecewa atas keputusan itu. Pasalnya, kalangan masyarakat pengguna komputer di Paris sudah banyak yang memilih Linux.
Di tengah-tengah gencarnya promosi perangkat lunak PC dan server oleh Microsoft yang cenderung memonopoli pasar, banyak warga Eropa yang semakin terbuka melakukan resistansi. Perdebatan sengit pun sering masuk dalam parlemen di kota-kota seperti Paris, Wina, Munchen, London, dan Roma. Perdebatan itu sering mengarah pada persaingan visi masa depan komputasi. Kelompok masyarakat yang pro-Linux seringkali mengolok-olok konvensi Microsoft yang menjual perangkat lunak dengan harga murah sebagai ?sogokan?. Sementara para marketing Microsoft tak mau kehilangan pasar dengan terus merayu konsumen dengan berbagai cara.
Di Eropa, Linux dalam lima tahun terakhir ini bukan lagi perangkat lunak yang hanya berada di tangan pemrogram idealis guna membantu mengembangkan sebuah alternatif standar terbuka atas sistem operasi dari Microsoft. Linux sudah menjadi ikon perlawanan atas dominasi Microsoft. Secara makro, penguasaan Linux di pasar komputer Eropa sampai tahun 2004 mencapai 23 persen , nomor dua setelah Microsoft. Kenapa orang Eropa cukup simpatik pada Linux?
Alasannya, selain tidak suka dengan model monopoli yang dilakukan Microsoft, sikap pro-Linux juga dipengaruhi oleh “sentimen” budaya. Orang Eropa berempati pada Linux karena perangkat lunak itu diciptakan oleh seorang warga Finlandia, Linus Torvalds. Dan budaya komunitarian dari gerakan standar terbuka sejalan dengan aspirasi politik kiri. Bahkan model bisnis Linux yang serba murah dan memberikan layanan kepada masyarakat bawah ini dianggap sejalan dengan prinsip sosialisme utopis.

Fenomena Peralihan

Kegandrungan orang Eropa pada Linux bukanlah sekadar kabar berita yang dibesar-besarkan media untuk memanas-manasi Microsoft. Sebagaimana diberitakan Business Weeks (No.25-26/III/1-8/04), Kota Wina Austria sudah mengubah ratusan PC dari 16.000 PC yang dimilikinya ke Linux. Bergen, kota terbesar kedua di Norwegia, sudah memutuskan untuk mengubah sejumlah server database yang beroperasi dengan sistem operasi UNIX ke Linux, bukan ke Windows, dan konon sewaktu-waktu akan mengubah 32.000 PC yang digunakan di sekolah-sekolah Bergen ke Linux.
Lebih fenomenal lagi terjadi di Pemerintahan Kota Munich Jerman, yang bermaksud mengganti 14.000 PC-nya ke Linux pada tahun 2008 nanti. Meskipun ada tawaran rabat 35 persen dari Microsoft, tapi Pemerintah Kota Munich tetap berusaha melanjutkan program pindah ke Linux itu.
Kontan, fenomena peralihan massal ini membuat gerah Microsoft. Tak heran jika sekarang perusahaan Microsoft di Eropa gencar mencari simpati agar masyarakat Eropa, terutama pemerintahan tidak beralih ke Linux. Di Kota Newhan, London, ketika banyak pejabat di pemerintahan itu santer mengeluarkan isu pindah ke Linux, Microsoft menyatakan dukungan akan memberikan harga lebih murah, yakni sebesar AS$ 600.000 kepada pemakai Windows dalam setiap tahun. Terdengar pula banyak kabar beredar di beberapa kota di Eropa, Microsoft gencar mengampanyekan tentang cacat dan mahalnya biaya Linux. Kegagalan penerapan Linux di Kota Muchen atas 50.000 server-nya yang tidak bisa mengakses internet, sering dijadikan propaganda hitam oleh Microsoft dalam menjatuhkan Linux.
Tapi, sekali pun demikian, kalangan penggemar Linux sampai saat ini tidak pernah kehilangan akal dan terus melawan propaganda hitam Microsoft. Penjualan perangkat lunak Linux dengan harga murah terus berjalan. Perusahaan komputer berbasis Linux, Gartner Inc, mengatakan, perdagangan Linux akan terus meningkat dari 4,4 persen tahun 2004 menjadi 5,7 persen pada 2005.
Fenomena di atas tentu sangat menarik untuk terus diamati. Pergeseran dalam bisnis perangkat Lunak dua kubu yang semakin keras bertarung di pasar komputer global ini ke depan tidak mustahil akan merembet ke negara-negara lain. Eropa kita ketahui paling progresif mengalami kemajuan dalam bidang penggunaan komputer dibanding benua lain, termasuk Negara Adidaya Amerika Serikat.
Seperti sentimen-sentimen konsumen terhadap produk-produk lain, sentimen penggemar Linux bukan tanpa alasan. Fenomena yang bisa diterima dari alasan perang antara Linux versus Windows bukan sekadar mahal-murahnya biaya, atau karena sentimen budaya masyarakat Eropa. Kedua alasan ini bukanlah alasan utama untuk menguak segi positifnya pertarungan itu.

Di Indonesia

Selama ini hanya Microsoft yang menjadi raja terkuat di pasar global komputer. Linux hadir untuk menawarkan diri menjadi alternatif. Kalau alasan monopoli yang dipakai, barangkali kelak di negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia, akan ada “kreativitas” perlawanan terhadap dominasi produk Microsoft. Kontroversi Windows versus Linux belum terjadi di Indonesia, sebab pengguna teknologi komputer kita belum sebanyak di Eropa. Kalau pun ada usaha ke arah sana, tampaknya masih terbatas di kalangan tertentu. Sampai sekarang pengguna Linux masih bisa dihitung dengan jari, dibanding pengguna Microsoft.
Dengan adanya persaingan, pasar semakin kondusif menciptakan produk yang lebih berkualitas dan murah. Lebih dari itu, persaingan perangkat lunak, sebagaimana di Eropa, akan mendinamiskan iklim politik. Kita tunggu suasana persaingan itu terjadi di negeri kita. Sekali lagi, agar pasar komputer tidak monolitik.

Sumber : Sinar Harapan (17 Maret 2005)