KEASYIKAN SOMADIKARTA MENGGELUTI BURUNG INDONESIA


Usianya tak lagi muda, 82 tahun, tetapi tubuh dan pembawaan dirinya tak terlihat seperti laki-laki berusia lanjut karena tetap segar dan bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari wartawan.
Dialah Soekarja Somadikarta, yang akrab disapa Prof. Soma. Sudah lebih dari setengah abad dia asyik menggeluti burung-burung di Indonesia, bukan sebagai hobi, tetapi sebagai peneliti di bidang ornitologi atau taksonomi burung.
Keasyikan meneliti burung-burung Indonesia itulah yang hingga kini membuat dia selalu sehat dan bugar meskipun di usia yang sudah lanjut.
“Sukailah pekerjaanmu. Kalau kamu suka dengan pekerjaanmu, tidak akan stres sehingga tetap sehat,” katanya ketika ditanya rahasia kesehatan dan kebugaran tubuhnya.
Dengan tips itu, Prof Soma mengatakan tubuhnya selalu sehat dan tidak memiliki pantangan makanan tertentu. Dia mengaku, tekanan darah dan kadar gula darah tubuhnya pun selalu normal meskipun dia tidak memiliki kegiatan olah raga khusus.
Dia mengatakan memang sangat senang menggeluti burung-burung karena Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati terbesar di dunia memiliki burung yang beraneka ragam.
Kepakaran dan kepeloporan Prof. Soma di bidang ornitologi Indonesia memang sudah diakui. Bahkan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberikan Penghargaan Sarwono Prawirohardjo XI pada 28 Agustus karena kepakaran dan kepeloporan Prof Soma di bidang itu.
Pejuang-Ilmuwan
Soekarja Somadikarta yang lahir di Bandung, 21 April 1930, ikut berjuang sebagai anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 1945. Ketika duduk di bangku kelas 3 SMP, dia menyandang pangkat kopral lalu naik menjadi sersan saat kelas 1 SMA.
Saat itu, dia menjadi tentara di bawah Kompi I, Batalyon 1, Resimen 8, Divisi 3 Bandung Selatan yang dipimpin Kolonel Abdul Haris Nasution. Dia juga sempat menjadi anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).
Pada 1947, dia ikut mendirikan Pasukan Tempur Garuda Putih di Tasikmalaya Selatan di bawah komando Kapten Tatang Aruman dan Letnan R Burdah.
Kala itu, senjata yang dia pegang adalah Johnson, senjata laras panjang semiotomatis, yang kemudian dia serahkan kepada rekan seperjuangannya, Eddie Marzuki Nalapraja. Belakangan, rekannya itu pensiun dengan pangkat terakhir mayor jenderal dan sempat menjabat sebagai wakil gubernur DKI Jakarta.
Ketika ibukota republik pindah dari Jakarta ke Yogyakarta, banyak anggota Tentara Republik Indonesia yang ikut hijrah. Namun, Somadikarta memilih tidak ikut hijrah dan tidak meminta surat keputusan sebagai Veteran RI kepada Presiden Soekarno.
“Sudah merupakan kewajiban setiap warga untuk mempertahankan kedaulatan negaranya,” alasannya tidak meminta surat keputusan veteran.
Di masa kemerdekaan Indonesia yang telah berdaulat, pada 1950, Somadikarta bekerja di Dinas Kesehatan, Komando Daerah Maritim Jakarta, Angkatan Laut. Pada 1952, dia pindah sebagai asisten Protozoaire en Virus ziekten di Lembaga Penyakit Menular, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Indonesia, Bogor.
Di Universitas Indonesia, karir akademisnya terus mencuat mulai dari Kepala Bagian Zoologi, Ketua Jurusan Biologi, Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA), Dekan FIPIA -yang kemudian berubah menjadi Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA), Kepala Laboratorium Taksonomi dan Kepala Pusat Penelitian Sains dan Teknologi.
Sedangkan gelar doktor ilmu pengetahuan alam dia raih di Mathematisch-naturwissenschaftliche Fakultat, Freie Universitat, Berlin Barat, Jerman Barat pada 29 Mei 1959.
Gelar guru besar FIPIA/FMIPA UI dia peroleh pada 1 April 1974 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 0215/C/DEPK/1974 yang ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Sjarif Thajeb.
“Senat Universitas Indonesia sebenarnya sudah menyetujui untuk mengangkat saya sebagai guru besar pada 1970. Namun saya menolak karena masih merasa belum pantas untuk menduduki jabatan terhormat itu,” katanya.
Teliti Burung
Keterlibatannya terhadap dunia ornitologi dimulai pada 1962 ketika dia diminta Prof. Sarwono Prawirohardjo, Kepala LIPI pertama, untuk menjadi pejabat Kepala Museum Zoologicum Bogoriense. Dia menerima jabatan itu, dengan syarat tetap diperbolehkan merangkap dengan jabatan di UI.
“Sebagai pejabat kepala museum saat itu, saya meminta kepada rekan-rekan yang lain untuk memilih spesialisasi masing-masing. Saya meminta mereka memilih lebih dahulu,” katanya.
Ternyata, dari rekan-rekannya yang ada di Museum Zoologicum Bogoriense tidak ada yang memilih bidang ornitologi atau taksonomi burung. Padahal, museum saat itu memiliki banyak spesimen burung, tetapi tidak ada yang memilih bidang itu.
Akhirnya, Soma memilih untuk mengambil spesialisasi di bidang ornitologi. Apalagi, kata dia, saat itu masih belum ada orang Indonesia yang mau meneliti tentang burung.
Spesialisasinya di bidang ornitologi di bawah bimbingan langsung ornitolog kaliber dunia, Erwin Stresemann. Untuk superspesialisasi, dia memilih Collocalia (burung walet).
Saat itu, dia mengatakan sempat ditanya Stresemann, mengapa memilih superspesialisasi Collocalia. Sebab, jenis burung itu termasuk yang tersulit -karena bentuk, warna dan ukuran yang hampir sama- sehingga jarang ada yang memilih.
“Saya katakan kepada Stresemann, justru karena sulit saya merasa tertantang,” tuturnya.
Nama Somadikarta semakin diakui dunia ornitologi ketika dia berhasil menemukan salah satu jenis burung walet yang salah diklasifikasikan ke dalam Collocalia whitehedi papuensis.
Menurut dia, burung walet itu berbeda dengan Collocalia whitehedi papuensis karena memiliki tiga jari di kakinya, sementara yang lain berjari empat. Temuannya itu kemudian dia kemukakan dalam tulisan ilmiah yang sempat menggemparkan dunia ornitologi.
Bahkan, salah satu ornitolog kaliber dunia dari Universitas Harvard, Ernst Mayr -yang menurut Somadikarta dikenal sebagai orang yang angkuh- sempat tidak percaya bahwa dia salah mengklasifikasikan burung itu.
“Akhirnya burung itu dikeluarkan dari subspesies Collocalia whitehedi papuensis dan menjadi salah satu spesies sendiri, yaitu Collocalia papuensis,” katanya.
Kehilangan Anak-Istri
Di kala usianya yang sudah senja, Somadikarta ternyata menyimpan kisah duka karena kehilangan anak kedua dan istrinya. Anak keduanya, Dedi Ahadiat Somadikarta, meninggal dunia 18 Januari 1985 pada usia 25 tahun setelah dirawat selama 12 jam di Rumah Sakit PMI Bogor.
Somadikarta sangat mengenang putranya, sehingga dia pun menamai salah satu burung yang berhasil dia pertelakan dengan memasukkan nama anaknya, yaitu Collocalia linchi dediae.
Kedukaannya semakin mendalam ketika istrinya, Lily Koeshartini yang dia nikahi di Semarang, 26 Februari 1955, meninggal dunia pada 18 April 2009 setelah seminggu dirawat di Bogor Medical Center dan seminggu di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
“Saat itu saya sangat sedih ditinggal istri, tetapi saya pasrah dan ikhlaskan kepergiannya. Yang penting saat itu saya tidak pasrah sebelum dia meninggal dan sudah berusaha untuk kesembuhannya,” tuturnya.
Kini, dia hanya tinggal memiliki seorang anak, yaitu Lily Berlinawati Somadikarta, yang mengikuti jejak Somadikarta menjadi peneliti di Inggris. Lily menikah dengan seorang Inggris bernama Andrew Ashdown pada 9 Juli 1988 dan memberikan dua orang cucu kepadanya.
Sosok Kebapakan
Bagi Kepala LIPI Prof. Lukman Hakim, sosok Prof. Soekarja Somadikarta memiliki kesan tersendiri. Prof. Soma adalah dekan Lukman ketika dia menempuh pendidikan di FMIPA UI.
“Prof. Soma itu merupakan seorang dosen dan dekan yang kebapakan, orang tua yang senantiasa menjaga anak-anaknya. Bagi saya, Prof. Soma itu bagaikan seorang guru sekaligus ayah,” katanya. Kesan mendalam Lukman terhadap Prof. Soma adalah ketika dia yang ketika mahasiswa menjabat sebagai Ketua Dewan Mahasiswa ditangkap tentara karena aksi pergerakan mahasiswa pada 1977. Saat itu, dia sempat dijenguk oleh Prof. Soma di tahanan.
“Sikap Prof. Soma yang kebapakan dan peduli dengan mahasiswanya itu saya lihat berbeda jauh dengan sikap dosen-dosen saat ini. Dulu, setiap mahasiswa bisa berlindung kepada dosennya,” kata Lukman.
Lukman mengatakan ketika Komisi Penilai memutuskan untuk memberikan Penghargaan Sarwono Prawirohardjo XI kepada Prof. Soma, dia sempat merasa khawatir karena takut dikira penghargaan itu disebabkan kedekatannya dengan Prof. Soma.
Namun, dengan pertimbangan dari Komisi Penilai, akhirnya dia pun menyetujui untuk memberikan penghargaan itu kepada Prof. Soma. Akhirnya, dia sendiri yang memberitahukan penghargaan itu kepada Prof. Soma melalui telpon pada 25 Juli 2012.
Menerima pemberitahuan melalui telepon itu, Somadikarta mengaku perasaannya campur aduk tak keruan antara was-was dan gembira. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah dia pantas menerima penghargaan setinggi itu, yang diidam-idamkan oleh seluruh peneliti Indonesia.
“Tetapi takdir telah menetapkan demikian. Akhirnya saya menjawab, tentu saya terima dengan bangga penghargaan itu serta mengucapkan syukur kepada Tuhan atas keputusan dan perlindungan-Nya,” tutur Soekarja Somadikarta.


» Sumber : ANTARA, 4 September 2012  KEASYIKAN SOMADIKARTA MENGGELUTI BURUNG INDONESIA