Sarjana ulul al baab adalah sosok manusia yang

Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
  1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
  2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
  3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
  4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
  5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

Konsep ulul al baab dijadikan pilihan untuk menggambarkan sarjana yang ingin  dihasilkan oleh Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Konsep itu diambil dari kitab suci al Qur’an. Tidak kurang dari 16 ayat dalam al Qur’an yang menyebut kata ulul al baab.  Satu di antaranya adalah pada surat Ali Imran ayat 191.  Pada ayat itu disebutkan bahwa ulul al baab adalah orang yang selalu berdzikir atau ingat Allah pada setiap waktu, orang-orang yang selalu memikirkan penciptaan langit dan bumi, dan orang-orang yangkin bahwa semua yang diciptakan oleh Allah tidak ada yang sia-sia.
Maka sarjana yang menyandang sebutan ulul al baab dalam setiap gerak hidupnya diharapkan tidak pernah lepas dari mengingat Allah. Sejak bangun di pagi hari, bekerja, belajar, istirahat,  dan melakukan  apa saja, hingga istirahat dan tidur kembali,  selalu mendasarkan pada kesadaran teologis, yaitu mengingat Tuhan.  Kesadarannya tidak pernah terputus dengan keberadaan  Allah yang menciptakannya, memelihara, melindungi, memberikan kekuatan, dan mengasihinya. Tuhan selalu berada pada alam kesadarannya. Itulah makna dzikrullah pada seorang yang menyandang identitas sebagai ulul al baab itu.
Selanjutnya, sarjana ulul al baab selalu berpikir tentang penciptaan langit dan bumi  serta menyadari sepenuhnya bahwa semua ciptaan Allah di muka bumi ini sebenarnya tidak ada yang sia-sia. Manusia sebagai makhluk tertinggi dibanding dengan makhluk lainnya, memiliki kekuatan nalar untuk memahami ciptaan Allah. Itulah selanjutnya, manusia disebut sebagai makhluk yang berilmu. Kelebihan berupa ilmu pengetahuan itulah akhirnya menjadi dasar manusia disebut  sebagai makhluk tertinggi dibanding dengan semua makhluk lainnya.
Ilmu pengetahuan itu sedemikian luas, terbentang,  dan bebas digali oleh manusiua sendiri. Manusia boleh mengetahui rahasia Allah  dan kemudian memanfaatkannya untuk keperluan kehidupannya. Hanya satu yang tidak mungkin  diketahui oleh karena tidak adanya kemampuan   yang cukup, yaitu mengetahui tentang Dzat Allah sendiri. Rahasia Allah berupa hukum-hukum alam, sosial, dan humaniora,  melalui upaya  yang saksama dan mendalam ternyata  berhasil diketahui oleh manusia.
Pengetahuan itu selanjutnya dimanfaatkan lewat pengembangan teknologi hingga akhirnya mempermudah kehidupan manusia. Kita rasakan pada saat ini, tempat yang berjauhan tidak menjadi halangan untuk berkomunikasi, oleh karena telah berhasil diciptakan alat komunikasi dan tranportasi modern. Berbagai penyakit telah ditaklukkan dan atau diatasi oleh karena ditemukan ilmu dan teknologi tentang kesehatan. Berbagai peralatan yang diperlukan berhasil ditemukan yang semua itu untuk mempermudah kehidupan manusia.
Manusia ulul al baab tidak boleh berhenti berpikir dan berbuat. Alam yang semula dianggap mengganggu dan bahkan menghalangi, maka kemudian  diubah dan akhirnya justru menjadi sesuatu yang memudahkan dalam  menjalani hidupnya. Manusia dan atau khususnya sarjana ulul al baab tidak boleh menyerah pada alam. Alam dan sosial harus dipahami, dikuasai,  dan selanjutnya ditaklukkan untuk kepentingan hidup secara bersama-sama.
Sebagai contoh sederhana, seorang sarjana ulul al baab yang berada di wilayah yang gersang lagi tandus, maka pikirannya harus selalu digerakkan untuk mencari tahu, bagaimana keadaan seperti itu  diubah menjadi subur dan makmur. Pengetahuannya terhadap kitab suci, bahwa sumber kehidupan itu adalah air, maka sarjana ulul al baab seharusnya  berpikir, untuk menghadirkan air di tempat itu.  Rekayasa dan teknologi pengairan pun diciptakan.
Air di suatu tempat yang semula selalu menjadi sumber musibah atau petaka,  yaitu tatkala di musim penghujan selalu menjadi sebab banjir dan di musim kemarau selalu kekurangan air, maka keadaan itu harus berhasil diubah oleh sarjana yang beridentitas ulul al baab. Semua yang dilakukan itu tidak semata-mata untuk mendapatkan keuntungan pribadi, melainkan adalah sebagai upaya memudahkan orang lain dan sebagai bagian dari ibadah serta dzikir kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Itulah rangkaian antara dzikir, pikir dan kerja profesional selalu mewarnai kehidupan mereka sehari-hari.
Sarjana ulul al baab adalah sosok manusia yang senantiasa  berusaha meraih kehidupan yang sempurna untuk memperoleh ridha Allah swt. Kampus ulul al baab harus dijadikan wahana berlatih untuk membangun dan mengobarkan jiwa  tauhid, semangat memperkaya ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas diri secara terus menerus, berpihak pada kebenaran dan keadilan, memupuk kegiatan ritual untuk membanguin spiritual dan selalu bekerja terbaik,  profesional atau beramal shaleh. Gambaran seperti itulah yang disebut manusia atau sarjana   ulul al baab yang ingin dikembangkan melalui  kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wallahu a’lam.