Seorang pemuda, setelah berkelana bertahun-tahun,

Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
  1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
  2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
  3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
  4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
  5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

Seorang pemuda, setelah berkelana bertahun-tahun, ia ingin pulang dan membangun kampungnya. Namun selama ini, ia merasa tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk mewujudkan niat baiknya itu. Pengetahuan yang dimiliki tidak lebih dari sekedar apa yang pernah dilihat dari perkelanaannnya itu. Sebenarnya pengetahuannya itu cukup banyak, tetapi tidak ada yang mendalam. Selama berkelana, ia melihat banyak peristiwa, keadaan, dan hal-hal  yang tidak mungkin dilihat di kampungnya sendiri.
Sudah barang tentu pengetahuan yang dimilikinya itu tidak cukup untuk membangun masyarakat kampungnya. Sebuah nasip yang harus diterima oleh  pemuda ini, ia  dilahirkan di desa yang gersang dan tandus. Tidak banyak jenis tumbuhan yang bisa ditanam dan hidup di tanah kelahirannya itu. Itulah sebabnya, keadaan masyarakat yang ada di tempat itu sangat miskin. Mereka sehari-hari hanya bergulat dengan berbagai tantangan untuk memenuhi kebutuhan agar tetap bertahan hidup.
Hidup seadanya itulah yang harus diterima oleh warga kampung, oleh karena tidak ada alternatif lain yang bisa dipilih dan lebih baik. Mereka bertani dengan cara seadanya. Irigasi tidak ada, sehingga pemenuhan kebutuhan air hanya menggantungkan  hujan. Air hujan biasanya digunakan untuk semua kebutuhan. Minum, mandi, memasak dan bahkan untuk mengairi tanaman dicukupkan air hujan dari langit.
Membayangkan betapa sulitnya tantangan yang harus dihadapi itu, pemuda dimaksud berusaha mencari bekal dari orang yang dianggap memiliki pengetahuan dan kearifan. Ditemukanlah orang dimaksud dan segera didatangi. Setelah mengungkapkan segala niat yang dimiliki, maka orang arif dan berilmu dimaksud malah  berpesan yang isinya justru semula dianggap tidak masuk akal. Dia menasehati, agar untuk membangun kampung itu jangan membawa bekal terlalu banyak, cukup tiga jenis saja.
Orang arif itu memberikan pertimbangan, bahwa siapapun yang melakukan sesuatu dengan bekal dan  daya dukung yang cukup, maka tidak akan dianggap oleh orang lain sebagai telah  berprestasi. Ia menggunakan dalil bahwa siapapun akan sukses dalam melakukan sesuatu manakala semua peralatan dan bekal yang dimiliki tercukupi. Pemuda ini ternyata menyetujui dengan pandangan dan strategi seperti itu. Hal itu  justru lebih menantang.
Selanjutnya, orang kaya ilmu dan arif itu menyebut bahwa tiga jenis bekal itu adalah kain, air,  dan kitab suci. Dengan kain itu, ia akan bisa menutupi auratnya, dengan air ia akan tetap bisa hidup oleh karena air adalah sumber kehidupan,  dan dengan kitab suci ia tidak akan tersesat hidupnya. Berbekalkan tiga jenis itulah, maka pemuda dimaksud pulang  dan berusaha untuk membangun kampungnya.      
Dalam kisah fiktif itu, pemuda tersebut memang harus menghadapi tantangan yang luar biasa. Akan tetapi dengan keyakinan, kepercayaan diri, kesungguhan, kesabaran, keikhlasan, istiqomah,  ditambah dengan pengalaman selama berkelana dan petunjuk serta inspirasi yang diperoleh dari kitab suci al Qur’an, ternyata tantangan demi tantangan bisa  berhasil dijawab.  Pemuda ini ternyata berhasil menggerakkan masyarakat, mengatasi kekeringan, mengubah dari tanah tandus menjadi subur.
Sekalipun melewati waktu yang tidak terlalu lama, maka usaha  pertanian, peternakan, dan berbagai jenis kerajinan di kampung itu berhasil dikembangkan. Bahkan hasilnya  sebagian dijual di kampung-kampung sebelahnya. Tiga jenis bekal yang dibawa oleh pemuda, yaitu kain, air dan kitab suci berhasil mengubah kampung. Atas dasar itu, anak-anak muda, ——setelah  beberapa tahun  kuliah, mestinya juga berani bertekat yang sama, mengubah kampungnya,  agar mereka tidak disebut sebagai  penganggur intelektual, tokh telah memiliki bekal lebih dari tiga jenis sebagaimana disebutkan di muka.  Wallahu a’lam.