Updates from September, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 19.07 on 12 September 2012 Permalink  

    Antara Islam Dan Kebudayaan Candi 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    PENDAHULUAN

    Salah satu upaya yang dilakukan oleh orientalis dalam menyingkirkan pengaruh dan peranan Islam dalam suatu masyarakat adalah melalui nativisasi. Nativisasi ini secara sederhana dapat didefinisikan sebagai usaha yang sistematis maupun tidak yang dijalankan untuk menghilangkan peran kesejarahan Islam dan umatnya dari suatu negeri dengan cara mengangkat budaya lokal setempat. Keberadaan “budaya lokal” setempat yang diangkat itu sendiri, dalam arus nativisasi, bukan merupakan  hal yang telah final, melainkan melalui proses rancang ulang yang tidak jarang merupakan hasil rekayasa belaka. Tujuan utama dari program ini adalah memarginalkan peran Islam, lantas menempatkannya sebagai “pengaruh asing” yang diposisikan berseberangan dengan “agama asli” pribumi. Bukan dalam rangka mengangkat budaya pribumi itu sendiri, melainkan lebih banyak dilakukan untuk kepentingan lain yang bersifat hegemonik, termasuk kristenisasi.
    Salah satu contoh yang jelas dari proses nativisasi misalnya adalah identifikasi Mesir dengan peradaban Piramida. Dalam diskursus ini direkayasa bahwa Mesir menjadi besar karena budaya Piramid dan bukannya karena kedatangan Islam. Peranan Islam di masa lalu coba digantikan dengan peranan semu yang dilakukan oleh para Fir’aun dari masa yang jauh lebih kuno. Dalam pada ini, Islam hanya diposisikan telah meninggalkan peradaban yang tidak signifikan bagi kemajuan. Mesir menjadi maju karena mewarisi kebesaran dan semangat dari Fir’aun yang berhasil membina sejumlah bangunan monumental.
    Di Indonesia, proses nativisasi ini juga dijalankan oleh para orientalis dan misionaris. Mulai dari pengaburan sejarah terkait peran ulama dan pahlawan Islam hingga pemunculan sejumlah aliran kebatinan yang tidak sepenuhnya “original”. Pada beberapa kasus bahkan bersifat mekanistis karena terbentuk melalui melalui proses rekayasa. Sejajar dengan bangunan Piramida di Mesir, di Indonesia kaum orientalis berusaha mengangkat kebudayaan candi sebagai kebudayaan asli Indonesia yang dianggap jauh lebih bermakna daripada warisan tradisi Islam.
    Diskursus tentang kebudayaan candi dan upaya marginalisasi Islam dengan memanfaatkan isu ini rasanya menarik untuk dikaji. Tulisan ini disajikan untuk menjembatani wujud pewacanaan yang dimaksud. Pada giliran selanjutnya, besar harapan penulis akan menjadi pemantik bagi proses pengembangan kajian selanjutnya.
    KEBUDAYAAN YANG DILUPAKAN
    Kebudayaan candi sebenarnya merupakan kebudayaan yang pernah mati dan hilang dari ingatan publik masyarakat di nusantara. Usaha mengangkat kembali, candi sebagai peninggalan leluhur yang adi luhung seringkali tidak sepi dari motif dan kepentingan tertentu. Diantaranya berusaha memarginalkan peran Islam di nusantara sebagai pijakan untuk melaksanakan misi kristenisasi melalui pendekatannya untuk menemukan titik temu antara kejawen dan Kristen. Tulisan Bambang Noorsena, tokoh Kristen Orthodoks Syria, merupakan salah satu wujud dari karya yang bersifat demikian. Dalam bukunya Noorsena membuat klaim sebagai berikut:
    …. Serat Wedhatama mengistilahkan sembah raga yang masih harus ditingkatkan pada tahapan yang lebih halus: sembah cipta, sembah kalbu, dan sembah rasa. Suatu penjawaan dari jalan-jalan pendakian tasawuf syari’ah, Tariqah, Haqiqah, dan Ma’rifah, yang terlebih dahulu sudah dirasuki mistik Hindhu-Budha.
    Penggambaran tahap-tahap pendakian mistik ini, mudah dilacak dari berbagai peninggalan bersejarah di tanah air kita. Hal ini membuktikan betapa kuat meresapnya jejak-jejak mistik Hindu, Buddha, dan Islam, yang berpadu dengan unsur agama asli. Monumen stupa Borobudur dan Masjid Demak merupakan contoh pengabadian bangunan punden berundak dari masa megalitikum. Bangunan stupa Borobudur disebut dari bawah: Kamadatu (alam keinginan), rupadatu (alam rupa), dan arupadatu (alam tanpa rupa) sejajar dengan masjid Demak bersusun tiga yang melambangkan Syari’ah, tariqah, dan haqiqah. Sedangkan tujuan tertinggi dari perjalanan mistik digambarkan dengan makuta di ujung atas masjid yang semotif dengan stupa teratas Borobudur yang dulu kosong karena menggambarkan keabadian alam Buddha (sunya).[1]
    Dalam kutipan di atas, nampaknya Bambang Noorsena menggambarkan bahwa sejumlah tradisi Islam telah mengalami penjawaan sedemikian rupa dengan masuknya unsur-unsur agama Jawa asli setelah sebelumnya dirasuki mistik Hindhu dan Buddha. Dengan demikian Islam dalam sejumlah karya sastra Jawa tersebut oleh Bambang Noorsena ditempatkan sebagai entitas yang sepenuhnya tunduk terhadap agama asli Jawa. Noorsena kemudian berusaha membuktikan bahwa jejak-jejak perpaduan agama itu dapat dilacak pada sejumlah peninggalan sejarah di tanah air termasuk Candi Borobudur dan Masjid Demak.
    Argumentasi Bambang Noorsena bahwa keempat jalan pendakian tasawuf Islam telah direduksi oleh pengaruh mistik Hindu dan Buddha dengan mengambil bukti pendukung berupa Candi Borobudur dan Masjid Demak, jelas merupakan rasionalisasi yang kurang tepat. Tentang Borobudur, misalnya, candi yang dianggap sebagai warisan bangsa Indonesia ini memang seringkali ditempatkan sebagai bukti bahwa Budhisme pernah sedemikian kuat pengaruhnya bagi sebagian masyarakat Jawa. Sampai pada titik ini tidak terlalu ada masalah. Namun kemudian justru kenyataan ini dimanfaatkan sebagai justifikasi bahwa Budhisme masih memainkan peran hingga pada masa kini dengan bukti Borobudur ini. Termasuk memposisikan ajaran Islam di Jawa yang dianggap telah tereduksi oleh semangat Budhisme karena masih mengadopsi ciri-ciri arsitektural yang sama. Jelas ini adalah proses untuk menempatkan posisi generasi mendatang dengan “ingatan” yang dibentuk dengan sebuah “kelupaan sejarah”.
    Borobudur sendiri sebenarnya telah pernah lenyap dari ingatan kolektif penduduk nusantara. Soediman, seorang Pengajar di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada serta pernah menjabat sebagai Pimpinan Harian Kantor Pelaksana Proyek Pemugaran Candi Borobudur, mengungkapkan bahwa Borobudur baru diketemukan kembali pada tahun 1814 setelah kira-kira delapan abad dilupakan orang dan terpendam di dalam tanah. Pada waktu diketemukan candi ini berada dalam keadaan menyedihkan.[2] Candi ini telah berujud menjadi sebuah gunung kecil atau bukit yang ditutupi oleh semak belukar. Di gunung tersebut banyak ditemukan potongan-potongan arca oleh penduduk setempat yang pemberani. Sedangkan umumnya penduduk saat itu justru takut untuk datang ke gunung yang kemudian diketahui sebagai Borobudur. Penyebabnya, masyarakat era itu menganggap bahwa gunung tersebut sebagai tempat angker dan berbahaya. Hingga tahun1814, Stamford Raffles, Gubernur Jendral Britania Raya di Jawa, mendengar berita penemuan sejumlah potongan arca di gunung tersebut.
    Pada tahun 1900 M di bawah pemerintah Hindia Belanda maka dilakukan perawatan terhadap “bukit” yang ditemukan. Semak belukar dan tanah yang mengurugnya mulai dibersihkan dan ditemukanlah struktur bangunan candi. Sebagian besar ditemukan dalam kondisi yang sudah rusak parah. Baru pada yahun 1907 dilakukan pemugaran yang dipimpin oleh Theodore Van Erp, seorang perwira Zeni Angkatan Darat Kerajaan Belanda. Perbaikan di bawah pimpinan Van Erp ini berlangsung antara 1907 sampai 1911. Pemugaran ini pun hanya sampai memasang beberapa buah gapura, sementara dinding lorong pertama dan kedua tetap dibiarkan miring, serta pagar langkannya masih banyak yang menganga.[3] Pada era ini Candi Borobudur pun belum bisa diperkenalkan kepada publik secara luas dengan alasan keamanan bangunan.
    Dengan mencermati sejarah “penemuan kembali” Candi Borobudur ini, maka muncul pertanyaan baru, Apakah layak mendasarkan sebuah teori bahwa ajaran Buddha sedemikian kuatnya berpengaruh dengan menggunakan contoh Candi Borobudur yang disejajarkan dengan bangunan Masjid Demak? Sementara diketahui bahwa Candi Borobudur telah “hilang” selama 8 (delapan) abad sebelumnya. Boleh dikatakan bahwa “kelupaan sejarah” terhadap Candi Borobudur ini bahkan telah berlangsung melewati masa Majapahit dan Kesultanan Demak. Belum lagi jika kita harus memperhitungkan lagi proses pemugaran pasca ditemukan kembali hingga layak diperkenalkan kepada publik yang memakan waktu lebih dari satu abad sendiri.
    Jadi, Borobudur sendiri sebenarnya telah “pernah mati” dalam alam pikiran orang Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa ingatan publik masyarakat Jawa terhadap simbol kebesaran masa lalu berupa ajaran Budha ini tidak terlalu mendalam atau bahkan tidak ada. Hanya merupakan sapuan cat yang mudah terkelupas dari sepotong kayu. Kebesaran masa lalu yang terlalu diagung-agungkan dengan melupakan kenyataan sejarah yang lebih besar. Sebuah bukti bahwa “keagungan” masa lalu bisa dibangkitkan kembali dengan menjajah ruang kesadaran kita. Oleh karena itu menghubungkan antara tingkatan yang ada dalam Candi Borobudur dengan tingkatan pada masjid Demak, sebagaimana pengutipan yang dilakukan oleh Bambang Noorsena, rasanya merupakan tindakan yang ahistoris dan mengada-ada.
    Buku “Sejarah Nasional Indonesia” yang menjadi rujukan standar dalam penulisan sejarah tentang Indonesia juga mengungkapkan fenomena yang sama. Dikatakan bahwa beberapa masjid kuno memiliki pola lengkung  mirip kalamakara dalam mihrabnya. Beberapa bangunannya mengingatkan pada seni bangunan candi, yaitu menyerupai meru pada jaman Hindhu. Juga beberapa detail lainnya. Namun buku tersebut sama sekali tidak membuat konklusi gegabah bahwa proses adopsi maupun adaptasi bangunan fisik akan selalu diikuti dengan proses yang sama terhadap nilai “bathin” yang dimilikinya. Menariknya, kesimpulan buku tersebut justru mengungkapkan bahwa Islamisasi yang dilakukan melalui seni bangunan dan seni ukir pada sejumlah bangunan Islam justru menunjukkan bahwa proses pengislaman tersebut dilakukan dengan damai. Kecuali itu dari segi ilmu jiwa dan taktik, menurut buku tersebut, penerusan tradisi bangunan dan seni ukir pra Islam merupakan alat Islamisasi yang sangat bijaksana yang mudah menarik orang-orang bukan Islam secara perlahan memeluk Islam sebagai pedoman hidup barunya.[4] Dengan istilah lain, inilah salah satu bukti titik temu yang sulit dibantah antara Islam dan Jawa.
    Untuk lebih mendalami persoalan ini, akan semakin menarik jika mencermati analogi yang dikemukakan Prof. Dr. Syed Muhammad Naguib Al Attas, pakar kebudayaan Melayu, sebagai berikut:
    Sebagaimana si Ali berpakaian chara Barat memang nampak pengaruh Barat pada zahir dirinya, dengan tiada semestinya bererti bahwa batin dirinya itupun terpengaruh oleh kebudayaan Barat, begitulah juga fakta-fakta sejarah yang zahir pada sesuatu masharakat dan kebudayaannya tiada semestinya membayangkan sifat batin masharakat dan kebudayaan itu.[5]
    Jadi, sejumlah bangunan Islam di Jawa yang menampilkan sebagian corak dari masa lalu tidak berarti mewarisi pola “batin” yang sama. Kesamaan pada sejumlah detail pola bangunan Hindhu dan Budha, tidak lantas menjadi bukti bahwa Islam telah mewarisi ajaran mistik kedua agama tersebut. Kesimpulan Noorsena tersebut seperti halnya bangunan gereja-gereja kuno, baik di Timur dan di Barat, seringkali memiliki detail bangunan dan menggunakan simbol-simbol yang sama yang sama dengan bangunan penganut paganisme yang ada disekitar pertumbuhan umat Kristen. Salib adalah simbol yang sama pernah dipakai oleh sejumlah ajaran pagan sebelum masa Kristen. Bukan hanya terbatas pada simbolnya, bahkan cerita-cerita seputar salib dari agama penyembah berhala tersebut hampir sama dengan detail dan ajaran dalam kekristenan. Jika didasarkan dengan hal tersebut kemudian disimpulkan bahwa “Kristen telah mewarisi tradisi mistik kaum pagan”, dimanakah posisi keberterimaan Bambang Noorsena ? Tetap konsistenkah ia dengan analogi yang diyakininya?
    Jika Borobudur merupakan candi Agama Budha, maka Candi Prambanan sebagai candi bercorak Hindhu juga mengalami nasib yang kurang lebih sama. Candi Hindhu ini ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1797, ketika penguasa Belanda membangun markas di Klaten. Sebelumnya tidak ada gambaran bahwa disekitar tempat pembangunan markas tersebut terdapat kompleks bangunan kuno tersebut. Hal ini terjadi karena sebagian besar bangunan telah tertutupi dengan tanaman-tanaman keras. Penduduk sekitar juga menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat pembuangan sampah. Sehingga kesulitan utama yang dihadapi oleh Belanda ketika hendak membangun kembali peninggalan Hindhu tersebut adalah menyingkirkan tanaman dan sampah yang terlanjur menutupi badan bangunan batu tersebut. Sejumlah bangunan batu yang lain yang lebih utuh memang ada yang digunakan oleh penduduk sekitar sebagai tempat pemujaan. Pemujaan yang dilakukan tentu saja bukan berasal dari tradisi Hindhu, melainkan lebih mirip ritual penyembahan terhadap batu dan pepohonan yang berasal dari kebudayaan punden berundak-undak. Sejumlah arca yang sempat ditemukan dilokasi tersebut selalu menjadi barang dagangan yang diminati oleh orang-orang asing. Sementara penduduk sekitar kompleks candi tersebut – terutama yang berprofesi sebagai pedagang – cenderung mengabaikan dengan menjadikannya sebagai “peluang” mendapatkan uang.[6]
    Candi-candi lainnya secara umum memiliki nasib yang hampir serupa. Ditemukan sebagai reruntuhan yang diabaikan, tertutup oleh sejumlah pepohonan dengan tanpa perawatan, terkubur dalam tanah, atau terbengkelai memuing sehingga sukar direkonstruksi ulang hingga hari ini. Sebagian besar candi itu umumnya ditemukan kembali setelah melalui proses penggalian. Untuk selanjutnya dipopulerkan oleh kalangan akademisi orientalis maupun misionaris. Bukan dengan tujuan untuk bersimpati secara penuh terhadap wujud kebudayaan ini, melainkan untuk kepentingan lain yang akan dijelaskan selanjutnya.
    ELIT YANG BERJARAK DARI RAKYAT
    Saat ini kita hidup dalam era dimana kebudayaan candi merupakan salah satu khazanah warisan masa lalu yang dalam sejumlah aspek dianggap sebagai bagian dari kebesaran masa lalu. Pertanyaan yang menggelitik untuk diajukan adalah “mengapa  kebudayaan candi ini kemudian pernah ditinggalkan oleh masyarakat?”. Pada tingkatan yang lebih ekstrim bahkan budaya tutur tentang warisan kuno ini ternyata juga tidak menjadi bagian dari budaya lesan yang berkembang di antara masyarakat Jawa pada masa lalu. Kenyataan ini, tentu mengherankan bagi kita. Bagaimana mungkin, jika benar kebudayaan Candi merupakan warisan budaya yang tidak terpisah dari masyarakat, justru pada saat yang sama dilupakan oleh masyarakat tanpa berbekas sama sekali sampai wujud bangunannya direkonstruksi ulang dan diperkenalkan kembali kepada khalayak.
    Realitas bahwa pernah terjadi proses “kelupaan” terhadap budaya candi ini menimbulkan sejumlah spekulasi dalam merunut peyebabnya. Dr. I. Groneman, seorang orientalis, membangun teorinya bahwa kerusakan candi ini terjadi murni akibat kejadian alamiah seperti gempa bumi, erupsi vulkanik, tanaman parasit yang merusak pondasi, dan sejumlah peristiwa lainnya. Groneman juga menyalahkan kebodohan rakyat sebagai penyebab mereka kurang menghargai produk agung warisan dari masa lampau.[7] Wacana yang dihasung Groneman ini hanya sampai pada tataran menjelaskan bagaimana hilangnya candi akibat proses alamiah yang berjalan, namun kurang menyentuh aspek kemanusiaan yang lebih konkret. Sebab jika penyebabnya adalah kebodohan manusia, justru hal ini bisa menjadi lahan subur dan sekaligus pemantik untuk pemujaan terhadap bangunan kuno. Dengan demikian tidak mampu menjelaskan mengapa kebudayaan candi ditinggalkan oleh masyarakat atau rakyat kerajaan Budha atau Hindhu.
    Sejumlah cerita babad di Jawa yang vulgar mendapat pengaruh pemikiran Belanda berusaha menggambarkan bahwa terjadinya “kelupaan” sejarah terhadap kebudayaan candi ini adalah akibat pengaruh kedatangan Islam. Islam juga dianggap turut memberikan kerusakan terhadap sejumlah bangunan monumental di tanah Jawa. Prof. Dr. Denys Lombard, seorang akademisi dan pakar simbologi Perancis, mengakui kenyataan bahwa terdapat sejumlah tuduhan orientalis terhadap Islam sebagai penyebab kehancuran sejumlah candi. Lombard  sendiri membantah dengan menyatakan bahwa hampir tidak pernah ada monumen yang dihancurkan atas prakarsa pihak Islam. Candi-candi di Jawa secara umum telah menjadi reruntuhan sementara Hindhuisme masih menjadi agama mayoritas. Kedatangan Islam di Indonesia memang bersamaan waktu dengan terputusnya secara radikal tradisi-tradisi arsitektural yang telah berkembang di Jawa selama lebih delapan abad. Beberapa sejarawan Eropa berusaha menggarisbawahi bahwa Islam merupakan agama yang bersifat “mematikan” bagi kebudayaan lokal ini. Namun mereka lupa bahwa di Semenanjung Indochina, tempat dimana Islam tidak berhasil berkembang, pembangunan candi-candi besar juga telah berhenti sebagaimana yang terjadi di Jawa.[8]
    Denys Lombard menggarisbawahi bahwa keruntuhan kerajaan-kerajaan Hindhu di Jawa dan penghentian pembangunan gedung-gedung batu berskala besar lebih banyak disebabkan karena kerajaan Budha dan Hindhu mengalami kemunduran karena mulai ditinggalkan oleh rakyatnya sendiri. Hal ini terjadi karena penduduk lebih memilih untuk tinggal di kota-kota pelabuhan atau wilayah sekitarnya.[9] Pola masyarakat agraris juga mulai bergeser menjadi masyarakat bisnis sehingga daerah pedalaman yang menjadi pusat kerajaan Hindhu atau Budha dinilai kurang kondusif lagi bagi gaya hidup mereka yang baru. Dengan demikian proses “kelupaan” terhadap pembangunan dan pemeliharaan candi di Jawa penyebab utamanya adalah kerajaan sebagai inisiator utama telah ditinggalkan oleh sebagian besar rakyatnya.
    Pertanyaan selanjutnya, mengapa kerajaan Budha dan Hindhu itu ditinggalkan oleh masyarakatnya? Drs. R. Moh. Ali, Kepala Arsip Nasional dan Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (UNPAD), yang dikutip oleh Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, senada dengan Denys Lombard, menyatakan bahwa kebudayaan candi justru merupakan salah satu penyebab terjadinya eksodus penduduk kerajaan Budha atau Hindhu dari dari pusat kekuasaan menuju daerah pesisir atau pelabuhan. Pembangunan sejumlah candi dan patung-patung besar biasanya merupakan proyek yang melibatkan masyarakat sekitar dalam prosesnya. Masyarakat tersebut terdiri dari kalangan petani yang mata pencahariannya lebih banyak berkutat pada bercocok tanam dan memelihara ternak. Sedangkan proyek pembuatan candi dan  patung biasanya melibatkan rakyat yang digolongkan dalam kasta Sudra dan Paria tersebut dalam kerja bakti. Akibatnya kerja bakti tersebut menjadikan rakyat kecil menderita dan mata pencariannya terbengkelai. Dampaknya, mereka berusaha menyingkir dan meninggalkan wilayah pembangunan candi karena tidak ingin waktu dan tenaganya habis untuk memenuhi kewajiban kerja bakti kepada raja. Ketika Islam mulai masuk ke tanah Jawa, mereka bukan hanya meninggalkan keyakinan lamanya namun juga masuk Islam. Status sosialnya sebagai rakyat dengan kasta terendah (Sudra dan Paria) dengan sendirinya hilang setelah menganut agama Islam.[10] Sebab dalam Islam tidak dikenal adanya pembagian strata sosial yang diskriminatif sebagaimana terjadi dalam konsep kasta.
    Jadi tanpa bermaksud meremehkan peran candi pada masa kini sebagai bagian dari khazanah warisan masa lalu, kebudayaan candi itu sendiri pada awalnya bukan merupakan kebudayaan yang murni milik “jiwa” masyarakat nusantara. Candi hanya berhenti sebagai milik kalangan elit kekuasaan yang terdiri dari kasta Brahmana dan Ksatriya saja. Sementara bagi kalangan rakyat jelata yang umumnya terdiri dari kasta Sudra dan Paria, candi merupakan simbol monumental sebuah proses penindasan oleh kalangan elit politis. Oleh karenanya, maka kebudayaan candi ini pada masa pembangunannya tidak menjadi bagian dari jiwa dan hati rakyat jelata. Apalagi diharapkan menjadi bagian dari kerohaniannya. Sehingga pada masa selanjutnya proses “kelupaan” terhadap tradisi ini menjadi hal yang sangat alamiah dan wajar. Realitas tentang penghargaan terhadap budaya candi pada era kini, sama halnya dengan bangunan monumental Tembok Besar di Cina yang menjadi kebanggaan negara tersebut tetapi sejarah masa lalunya –yang secara umum dilupakan orang – dibangun dengan pertaruhan jiwa rakyat yang terlibat dalam suatu proyek kerja paksa dengan korban yang tidak berbilang.
    Sungguh tepat ungkapan Syed Muhammad Naguib Al-Attas, seorang pakar peradaban Melayu, bahwa peninggalan kesenian berupa tugu-tugu maupun candi-candi serta pahatan-pahatan batu yang menunjukkan kehalusan cita rasa seni tidak selalu menjadi ciri suatu peradaban yang bermutu tinggi. Kesenian memang merupakan salah satu ciri yang mensifatkan peradaban, namun pandangan hidup yang berdasarkan kesenian itu adalah semata-mata merupakan kebudayaan estetik, kebudayaan klasik, yang dalam penelitian konsep perabadan sejarah bukan menandakan suatu masyarakat yang memiliki sifat keluhuran budi dan akal serta pengetahuan ilmiah. Bahkan Sejarah telah memberikan pelajaran bahwa semakin indah dan rumit gaya senirupa, maka semakin menandakan kemerosotan aspek budi dan akal. Selanjutnya Al-Attas menunjukkan contoh Acropolis di Yunani, Persepolis di Iran, dan Piramid-piramid di Mesir yang sama sekali tidak menunjukkan peradaban dalam wujud ketinggian moralitas dan kemajuan pemikiran dari sebuah peradaban. Sebaliknya, Al-Attas menegaskan bahwa dalam menilai peranan dan kesan terhadap Islam, karakteristik yang harus dicari oleh mereka bukan pada peninggalan yang bersifat material seperti tugu dan candi melainkan pada bahasa dan tulisan yang sebenarnya lebih bersifat daya budi dan akal yang merangkum kemajuan pemikiran.[11]
    Akhirnya, pengakuan seorang orientalis bernama T. Ceyler Young terkait tentang “kebudayaan asli” di negeri-negeri berpenduduk Islam patut dicermati bersama : “Di setiap negara yang kami masuki, kami gali tanahnya untuk membongkar peradaban-peradaban sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk mengembalikan umat Islam kepada akidah-akidah sebelum Islam tapi cukuplah bagi kami membuat mereka terombang-ambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama tersebut”.[12] Praktik mendekati budaya asli dengan kepentingan yang jauh berbeda dari sikap yang dipertunjukkan sebagaimana diakui Ceyler Young ini bukan merupakan strategi marginalisasi Islam yang aneh. Dapat dicatat bahwa Misionaris dan orientalis seperti Hendrik Kraemer (1888-1965) misalnya, ia berusaha mendekati dan mengkaji serta mengembangkan kebudayaan kejawen, namun bukan dilandasi simpati terhadap kebudayaan kejawen itu sendiri melainkan didorong oleh “keputus asaan” pasca terantuk kesulitan untuk menundukkan Islam di Jawa agar tersentuh oleh kegiatan misi penginjilan.[13] Hal yang sama juga berlaku pada sejumlah kajian orientalisme yang berusaha untuk mengembangkan diskursus “pribumi” untuk menyingkirkan peranan dan pengaruh Islam. “Pribumi” yang dimaksud tentu bukan dalam makna yang senyatanya, sebab kebudayaan Budha dan Hindhu pada dasarnya merupakan bagian dari proses yang oleh sejarawan disebut sebagai Indianisasi.

    PENUTUP
    Eksistensi kebudayaan candi – tanpa mengabaikan peran kekiniannya- merupakan salah satu kekayaan perbendaharaan budaya masa lalu nusantara. Akan tetapi mengangkat kebudayaan monumental ini sebagai warisan budaya adi luhung memang seharusnya dipaparkan kembali secara seimbang. Masyarakat seharusnya diberikan informasi yang sebenarnya bahwa mereka selama ini telah dikondisikan dalam bahasa-bahasa yang lebih bersifat jargon daripada menyentuh realitas. Sudah saatnya masyarakat insyaf bahwa kekayaan budaya yang berwujud demikian tidak selalu mewariskan cerminan kebudayaan yang menjunjung ketinggian moralitas dan kemajuan akal pemikiran yang menjadi ciri utama peradaban mulia.
    Jadi pengembangan kebudayaan ini hendaknya diimbangi dengan informasi yang benar, bukannya terjebak dalam bahasa-bahasa slogan yang mengedepankan sikap manipulatif dan persuasif.  Informasi yang seimbang akan membentuk masyarakat yang kritis dalam menilai dan tegas dalam memposisikan titik tolak pemikirannya. Termasuk dalam diskursus budaya candi yang sebenarnya merupakan wujud jauhnya keberpihakan elit politis dengan masyarakat kelas bawah yang menjadi tanggung jawabnya. Publikasi tentang kekayaan budaya hendaknya tidak dibarengi dengan pengorbanan yang terlampau besar dengan menurunnya intelijensi masyarakat akibat proses pembodohan yang berjalan sistematis tersebut. Jika proses mengingat kembali kebudayaan lama ini dianggap menjadi bagian dari pemahaman terhadap khazanah kekayaan budaya. Maka proses kelupaan terhadap “masa lalu” yang pernah berjalan secara alamiah mestinya juga merupakan bagian dari kebudayaan itu sendiri. Sehingga perlu juga dibuka secara jujur dan tidak ditutup-tutupi.


    [1] Bambang Noorsena. Menyongsong Sang Ratu Adil : Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen. Cetakan II. (Penerbit Andi, Yogyakarta, 2007). Hal. 14-15 [2] Soediman. Melihat Pelaksanaan Restorasi Candi Borobudur. Dalam Majalah Analisis Kebudayaan Tahun I No. 1. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1980). Hal. 103
    [3] Soediman. Melihat … Ibid. Hal. 103
    [4] Marwati Djoenoed Poesponegoro dan Nugraha Natasusanto. Sejarah Nasional Indonesia III. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan-Balai Pustaka, Jakarta, 1993). Hal. 192-194
    [5] Syed Muhammad Naguib Al-Attas. Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. (Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, 1972). Hal. 23
    [6] Lihat Thomas Stamford Raffles. The History of Java. Volume II. (Printed for Black, Parbury, and Allen, Booksellers to The Hon. East-India Company, and John Murray- London, 1817 ). Hal. 6-7
    [7] Dr. I. Groneman. Ruins of Buddhistic Temples in Praga Valley: Tyandis Barabudur, Mendut, and Pawon. Diterjemahkan dari Bahasa Belanda ke Bahasa Inggris oleh J. H. (Druk Van H. A. Benjamins, Semarang, 1912). Hal. 11-12
    [8] Denys Lombard. Nusa Jawa Silang Budaya 2 : Jaringan Asia. Diterjemah dari Le Carrefour Javanais: Essai d’histoire globale II. (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008). Hal. 189
    [9] Denys Lombard. Nusa Jawa … Ibid. Hal. 189
    [10] Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara. Api Sejarah : Buku yang Akan Mengubah Drastis Pandangan Anda Tentang Sejarah Indonesia. (Salamadani Pustaka Semesta, Bandung, 2009). Hal. 155
    [11] Syed Muhammad Naguib Al-Attas. Islam dalam … Opcit. Hal. 18-19
    [12] Muhammad Quthb. Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam. Judul asli : Kaifa Naktubu Attarikhal Islami?. (Darul Wathan lil Nasyri, 1412). (Gema Insani Press, Jakarta,1995).Hal. 38
    [13] Karel Steenbrink. Dutch Colonialism and Islam in Indonesia: Conflict and Contact 1596-1950. Edisi Indonesia: Kawan dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942).  Penterjemah oleh Drs. Suryan A. Jamrah, MA. (Penerbit Mizan, Bandung, 1995). Hal 164

    Penulis: Susiyanto
    (Peneliti Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) & Mahasiswa Pasca Sarjana Peradaban Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta)

    Dipublikasikan ulang seizin penulis dari http://www.susiyanto.wordpress.com

    Iklan
     
  • tituitcom 19.04 on 12 September 2012 Permalink  

    Telaah Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.


    Islam Dalam Ramalan Jayabaya

    (Telaah Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya)
    PENDAHULUAN
    Bagi sebagian kalangan muslim memunculkan kajian terhadap ‘keberterimaan’terhadap ramalan sudah tentu akan memantik sebuah polemik. Betapa tidak, konsep Islam dalam memandang ramalan pada dimensi supranatural telah tegas dan jelas. Umat Islam dikenai larangan atas sejumlah pengharapan spekulatif, seperti mengundi suatu pilihan dengan anak panah, berjudi, dan termasuk di dalamnya dengan jalan mempercayai ramalan. Apa yang penulis maksudkan dengan ramalan ini sudah tentu bukan merupakan sebuah upaya perkiraan masa depan dengan sejumlah metode ilmiah semacam metode forecasting penilaian kelayakan bisnis dalam perekonomian atau sejenisnya. Namun lebih kepada ramalan yang berorientasi pada klenik dan atau mengarah praktek kebatinan. Efek ramalan sendiri biasanya berlainan pada tiap-tiap individu yang berbeda. Akan tetapi umumnya, ramalan akan membuat manusia terjebak oleh angan-angan, bahkan secara negatif menjerumuskan pada kemusyrikan.
    Namun harus menjadi sebuah kesadaran bahwa realitas yang lain tentang berkembangnya ramalan, akhir-akhir ini, justru semakin marak menyeruak. Semakin canggih piranti teknologi, kemudahan menikmati hidup, dan terbuka lebarnya akses informasi bukannya mengikis kepercayaan manusia modern terhadap model klenik yang satu ini. Ramalan justru seperti memanfaatkan kondisi dengan berperan mengisi kekosongan jiwa “manusia modern” dari kemiskinan spiritualitas. Ramalan bukan lagi identik dengan asap kemenyan pedupaan, spekulasi kartu tarot, bola kristal, pendulum, atau benda-benda yang dianggap memiliki tuah magis lainnya. Akan tetapi berkembang dengan menyelusup melalui layanan jasa komunikasi yang bisa diakses melalui piranti elektronik dengan biaya relatif terjangkau oleh masyarakat luas.
    Di kelas menegah ke bawah, kebangkitan ramalan ditandai dengan menguatnya isu-isu lawas tentang pentahapan jaman. Kondisi perubahan sosial kemasyarakatan yang terus didera oleh berbagai kesulitan hidup, krisis kemanusiaan berkepanjangan, dan dekadensi moral telah menumbuhkan angan-angan dan penantian akan kemunculan sosok ‘ratu adil’. Tidak terkecuali, ramalan seringkali menjadi pelarian atas kehidupan yang dianggap semakin tidak pasti.
    Bagi masyarakat Jawa khususnya, ramalan Jayabaya (baca: Joyoboyo) merupakan ramalan yang dianggap memiliki akurasi tinggi dalam menerangkan berbagai pertanda perubahan jaman. Ramalan ini sering diagung-agungkan sebagai memiliki gambaran tentang masa depan secara jelas dan meyakinkan. Anehnya, masyarakat yang mempercayai “kebesaran” ramalan Jayabaya, umumnya tidak memiliki pengenalan mendalam tentang keyakinannya berdasarkan sumber ‘resmi’ ramalan Jayabaya. Sikap taken for granted yang mereka tunjukkan umumnya terbentuk hanya melalui proses oral dengan sumber informasi yang tidak jarang sukar dipertanggungjawabkan. Tidak jarang mereka hanya berpatokan kepada ‘kata orang’. Demikian juga sejumlah pihak yang memposisikan diri sebagi penolak ramalan Jayabaya, umumnya juga tidak membangun sikapnya berdasarkan pengetahuan ataupun proses kajian yang jelas. Bahkan kadangkala hanya didasarkan atas sikap mula-mula yang sudah antipati terhadap istilah ‘ramalan’, maka menjadi justifikasi bahwa ramalan Jayabaya pun memiliki kadar ‘negatif’ sebagaimana penilaian awalnya.
    Hadirnya tulisan terkait ramalan Jayabaya ini bukan merupakan usaha untuk melegalkan praktek ramalan. Namun lebih merupakan upaya informatif bagi para pembaca guna bersama memahami hakikat ramalan Jayabaya. Sehingga kejelasan sikap dan tindakan pembaca, terutama sebagai seorang muslim, akan terbangun berlandaskan sebuah pemahaman yang nyata. Sekaligus dalam hal ini penulis berharap, akan tumbuh sikap bahwa baik dalam posisi menerima maupun menolak terhadap hakikat sesuatu hendaknya didasarkan pada sebuah pengetahuan dan bukan hanya berdasarkan penilaian awal yang belum tentu benar apalagi sekedar ‘kata orang’.
    PENULIS RAMALAN JAYABAYA
    Perlu diketahui, Ramalan Jayabaya merupakan kumpulan ramalan yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa. Ramalan yang sering disebut dengan istilah Jangka Jayabaya (baca: jongko joyoboyo) tersebut dinilai oleh banyak kalangan sebagai hasil karya pujangga yang memiliki akurasi tinggi dalam menggambarkan jaman dan kondisi masa depan yang diprediksi. Dengan kata lain sejumlah ‘orang Jawa’ sangat mempercayai ketepatan dan kesesuaian Jangka Jayabaya dalam menggambarkan masa depan.
    Jangka Jayabaya memiliki banyak versi, minimal ada 9 (sembilan) macam versi. Umumnya kitab-kitab tentang ramalan Jayabaya tersebut merupakan hasil karya abad XVII atau XIX Masehi. Dari beragam versi Jangka Jayabaya tersebut, secara substansial kebanyakan memiliki kesamaan ide dan gagasan. Kemungkinan besar hal ini disebabkan beragam versi tersebut sebenarnya mengambil dari sebuah sumber induk yang sama yaitu kitab yang disebut Musarar atau Asrar. Oleh karena itulah maka penulis memutuskan untuk membatasi kajian ini berdasarkan Serat Pranitiwakya Jangka Jayabaya saja. Kitab diyakini merupakan karya Raden Ngabehi Ranggawarsita (baca: Ronggowarsito).[1] Serat Pranitiwakya ini dapat dikatakan mewakili ramalan Jayabaya dalam wujud yang bersifat lebih ringkas.
    TOKOH JAYABAYA MENURUT SERAT PRANITI WAKYA
    Jayabaya yang dimaksud dalam Jangka Jayabaya tidak lain adalah Prabu Jayabaya, raja Kediri, yang dianggap memiliki kemampuan luar biasa dalam meramal masa depan. Nama Prabu Jayabaya sendiri bagi masyarakat Jawa sering menjadi inspirasi dalam menciptakan gambaran tentang ratu adil. Keberadaannya kerap kali dikaitkan sebagi penitisan Dewa Wisnu yang terakhir di tanah Jawa.[2] Hal yang terakhir ini menjelaskan bahwa Prabu Jayabaya hidup pada atmosfer jaman Hindhuisme dimana seorang raja besar yang pernah hidup digambarkan memiliki hubungan dengan dunia mistik, sebagi wujud inkarnasi Dewa dalam rangka menjaga kelangsungan kehidupan di mayapada (bumi).
    Akan tetapi pesan utama yang hendak disampaikan ramalan Jayabaya tentang sosok prabu Jayabaya, hakekatnya justru tidak mengkaitkan sang raja dengan Hindhuisme. Dalam Serat Praniti Wakya, Prabu Jayabaya digambarkan sebagai seorang yang telah menganut agama Islam. Bahkan dalam versi Serat Jayabaya yang lain digambarkan bahwa keislaman yang paling mendekati praktek Nabi adalah keislaman Prabu Jayabaya pada masa itu. “Yen Islama kadi Nabi, Ri Sang Jayabaya…” (Jika ingin melihat keislaman yang yang mendekati ajaran Nabi (Muhammad saw), orang demikian adalah Sang Jayabaya).[3] Gambaran keislaman yang dianggap terbaik demikian, jika memang benar terjadi, pembandingnya tentu adalah praktek keagamaan pada jaman Hindhuisme yang mendominasi tersebut. Parbu Jayabaya dianggap sebagai tokoh Muslim dengan parktek keislaman terbaik mendekati parktek Nabi dibandingkan banyak manusia pada masa itu yang masih mempraktekkan ajaran Hindhu.
    Terkait dengan ‘keislaman’ Prabu Jayabaya, Serat Praniti Wakya menjelaskan bahwa raja Kediri tersebut telah berguru kepada Maulana Ngali Syamsujen yang berasal dari negeri Rum. Yang dimaksud dengan tokoh tersebut tentu adalah Maulana ‘Ali Syamsu Zein, seorang sufi yang kemungkinan besar berasal dari Damaskus.Pabu Jayabaya, digambarkan dalam Praniti Wakya sebagai sangat patuh menjalankan ajaran gurunya yang beragama Islam tersebut.
    Lantas, apakah ‘keislaman’ Prabu Jayabaya yang hidup dalam atmosfer jaman kehindhuan ini dapat dipertanggungjawabkan sebagai informasi yang shahih ? Hal ini merupakan persoalan yang sulit diverifikasi kebenarannya. Sebab tidak terlalu banyak bahan yang dapat digunakan untuk merekonstruksi kehidupan keagamaan pada masa hidup Prabu Jayabaya. Bahkan tidak sedikit yang menggambarkan bahwa sosok Prabu Jayabaya tidak lain hanya sekedar tokoh fiktif belaka. Penulisan beragam versi Jangka Jayabaya pun, umumnya berasal dari masa belakangan, dimana Islam telah berkembang sebagai ajaran masyarakat.Namun hal ini penting dimengerti, terutama bagi para da’i yang berdakwah kepada kaum kebatinan dan kejawen, bahwa klaim mereka tentang Jangka Jayabaya merupakan kitab milik kaum kebatinan dan kejawen adalah salah. Sebab kitab ini sesungguhnya kitab ini dihasilkan berdasarkan pengaruh ajaran Islam.
    Terkait keberadaan penganut agama Islam pada masa yang diyakini sebagai ‘Jaman’ Jayabaya, bukan merupakan persoalan yang mustahil. Prabu Jayabaya diyakini hidup pada abad XII, pada masa antara tahun 1135 dan 1157 M.[5] Sedangkan pada masa sebelumnya, yaitu era pemerintahan Erlangga, abad XI, di Leran, sekitar 8 (delapan) kilometer dari Gresik, telah ditemukan batu nisan dari makam seorang bernama Fathimah binti Maimun bin Hibatullah yang memberikan informasi bahwa wanita yang diyakini beragama Islam tersebut meninggal pada tanggal 7 Rajab 475 H atau tahun 1082 M.[6] Bahkan menurut Prof. Dr. Hamka jauh-jauh hari sebelumnya, dalam catatan China,disebutkan bahwa raja Arab telah mengirimkan duta untuk menyelidiki seorang ratu dari Holing (Kalingga) yang bernama Ratu Shi Ma yang diyakini telah melaksanakan hukuman had. Ratu tersebut ditahbiskan antara tahun 674-675 M. Prof. Dr. Hamka menyimpulkan bahwa raja Arab yang dimaksud adalah Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang hidup pada masa itu dan wafat pada 680 M.[7] Demikan juga hasil kesimpulan Seminar Masuknya Islam ke Indonesia menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pertama kali adalah abad I H atau abad VII-VIII M.[8]
    Karya sastra yang ditulis pada masa yang diperkirakan sebagai era Jayabaya, juga memiliki kecenderungan terpengaruh oleh keberadaan ajaran Islam. Disertasi Dr. Sucipta Wiryosuparto menyebutkan bahwa Kakawin Gatutkacasraya karya Mpu Panuluh, banyak menggunakan kata-kata dari Bahasa Arab.[9] Penggunaan kosa kata Arab yang serupa juga dapat ditemukan dalam Serat Baratayuddha, karya bersama Mpu Panuluh dan Mpu Sedah. Tulisan pujangga yang demikian tentu tidak mungkin terjadi kecuali telah terjadi interaksi dengan penganut agama Islam. Hal ini membuktikan bahwa telah ada komunitas umat Islam di Tanah Jawa pada masa yang diyakini sebagai era Jayabaya. Dengan demikian dakwah kepada penguasa, termasuk kepada Prabu Jayabaya pun bukan merupakan perihal yang mustahil. Demikian juga tentang keislaman sang raja Jayabaya merupakan persoalan yang sangat mungkin terjadi. Apalagi Jangka Jayabaya seringkali disebut-sebut diturunkan dari sejumlah karya yang lebih tua.
    SUBSTANSI JANGKA JAYABAYA
    Boleh dikatakan bahwa hampir sebagian besar isi Serat Praniti Wakya berbicara tentang “masa depan” Pulau Jawa dalam visi Jayabaya. Namun bila dicermati lebih mendalam, akan nampak bahwa Serat Praniti Wakya banyak mengambil isnpirasi penulisan dari sumber-sumber Islam berupa Al Quran dan Hadits. Berita-berita tentang akhir jaman dari kedua pusaka umat Islam tersebut kemudian diolah dalam redaksi pengarang Serat Praniti Wakya (dalam hal ini diyakini sebagai karya R. Ng. Ranggawarsita). Sehingga sifat universal dari ajaran Islam tentang berita akhir jaman kemudian diterangkan dan diterapkan dalam lingkup Jawa. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar ajaaran islam dalam Serat tersebut telah mengalami proses yang disebut ‘jawanisasi’. Namun demikian, substansi Islam itu sendiri masih nampak bersifat tetap dan tidak hilang.
    Simak misalnya, penuturan Jayabaya tentang kiamat. Sang Prabu menyatakan bahwa kiamat adalah “kukuting djagad lan wiji kang gumelar iki, iku tekane djajal laknat …”.[10] Sorotan lain Serat Praniti Wakya juga membahas tentang pandangan Prabu Haji Jayabaya tentang akan datangnya Yakjuja wa Makjuja[11] (Ya’juj dan Ma’juj), kiamat kubra[12] (kiamat besar), lochil ma’pule[13] (lauh al mahfudz), dan lain sebagainya.
    Konsep-konsep yang termuat dalam Serat Paraniti Wakya tersebut di atas jelas tidak dapat diingkari berasal dari ajaran Islam. Deskripsi beberapa terminologi Islam dalam Praniti Wakya sebagian memang tidak bersifat lugas dan jelas. Pembabakan Jaman menjadi 3 bagian seperti jaman kaliswara, kaliyoga, dan kalisengara jelas bukan merupakan visi ajaran Islam. Demikian juga beberapa ramalan tentang ‘akan’ munculnya sejumlah kerajaan di Jawa seperti Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, Kartasura, dan Surakarta. Namun hal tersebut bukan tidak dapat dijelaskan. Penjelasan pertama, sangat mungkin sang pengarang Praniti Wakya, yaitu R. Ng. Ranggawarsita bermaksud menggambarkan pemahaman sang tokoh Prabu Jayabaya secara apa adanya, yaitu seorang muslim yang masih hidup dalam atmosfer Hindhuisme. Namun dengan penjelasan kedua, hal tersebut bisa saja timbul dari pemikiran pengarang sendiri. Saat menulis sejumlah versi ramalan Jayabaya, jelas Ranggawarsita telah hidup pada masa dimana dia bisa mengikuti sejumlah perkembangan terkait jatuh bangunnya sejumlah kerajaan pada masa lampau, seperti Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, dan seterusnya.Penjelasan awal tersebut memiliki konsekuensi memungkinkan terjadinya pembenaran bahwa Ramalan Jayabaya memang seolah terbukti akurat. Namun mengingat bahwa tidak ada catatan pasti yang menyatakan bahwa Prabu Jayabaya merupakan sosok yang memang ‘pintar’ meramal masa depan, maka penjelasan kedua ini lebih dapat digunakan sebagai argumentasi. Sedang terkait banyaknya konsep Islam dalam ramalan Jayabaya yang kadang terlihat ‘kurang’ islami lagi, mungkin hal ini disebabkan pemahaman R. Ng. Ranggawarsita yang kurang tuntas dalam memahami Syariat Islam.
    Ranggawarsita pernah belajar di Pondok Pesantren Tegalsari, Ponorogo, dibawah asuhan Kyai Hasan Bashori atau sering disebut Kyai Kasan Besari dalam lidah Jawa. Sebelum berangkat ke pondok, sebenarnya Ranggawarsita telah pandai membaca Al Quran. Oleh karena pengajaran awal di pondok Pesantren Tegalsari, adalah pelajaran tentang kajian Al Quran dan Fiqih maka Ranggawarsita menjadi jengkel. Bahkan untuk melampiaskan kekesalannya, dia sering keluar dari lingkungan pondok untuk berjudi mengadu ayam. Kyai Kasan Besari akhirnya mengetahui kekesalan Ranggawarsita, maka kepada sang Ranggawarsita kemudian diajarkan ilmu tassawuf.[14] Agaknya hal ini sangat berpengaruh terhadap pemahaman syariat Ranggawarsita pada masa selanjutnya.
    Sedangkan ‘ramalan’ bersifat futuristik yang seolah memiiliki kesesuaian dengan jaman yang diramalkan, hal tersebut bukannya tidak dapat dijelaskan. Misalnya ungkapan bahwa “… Nusa Jawa bakal kinalungan wesi” (Pulau Jawa akan dikalungi besi). Sebagian penafsir memaknai ungkapan tersebut berkaitan bahwa di Jawa akan timbul industrialisasi. Ada pula yang memaknai bahwa kalung besi yang dimaksud adalah penggambaran bentuk rel kereta api.Jika penafsiran ini benar, maka perlu diketahui bahwa Ranggawarsita hidup pada masa penjajahan Belanda, dimana pengaruh Belanda dalam lingkungan Keraton telah merasuk sedemikian kuatnya. Sedangkan di bumi Eropa sendiri, dimulai dari Perancis dan menyebar ke seluruh Eropa termasuk Belanda, telah mengalami Revolusi industri sehingga industrialisasi maupun transportasi darat menggunakan kereta api sudah umum keberadaannya. Cerita-cerita demikian tentu dapat didengar di wilayah Keraton yang secara intens terlibat dalam pergaulan bangsa Belanda. Sudah tentu dalam pandangan Ranggawarsita, jika Jawa berada dalam genggaman Belanda, maka tidak urung ‘kalung besi’ akan mengitari Jawa. Hal itu bisa berupa industrialisasi maupun wujud rel kereta api.
    Menariknya, serat Praniti Wakya sebagai buah karya R. Ng. Ranggawarsita, mediskripsikan pandangan Prabu Jayabaya terhadap tradisi kepemimpinan pendeta. Telah banyak diketahui bahwa para pendeta dalam sistem kasta Hindhu memiliki strata kedudukan paling tinggi secara sosial. Lebih tinggi dari kasta para raja dan bangsawan yang masuk ke strata kedua, yaitu kasta Ksatria. Diceritakan bahwa setelah selesai belajar kepada Maulana ‘Ali Syamsu Zain, Prabu Jayabaya bersama putranya yang bernama Prabu Anom Jayamijaya berniat mengantar kepulangan sang guru ke negeri Rum hingga ke pelabuhan. Sepulang dari pelabuhan, Prabu Jayabaya dan putranya menyempatkan diri singgah dipertapaan seorang pendeta bernama Ajar Subrata, saudara seperguruan sang Prabu namun masih menganut ajaran Hindhu. Sang pendeta bermaksud mencobai Prabu Jayabaya yang dikenal sebagi titisan Bathara Wisnu dengan memberi suguhan berupa 7 (tujuh) jenis yaitu kunyit satu rimpang, jadah (makanan dari beras ketan ditumbuk) darah, kejar sawit, bawang putih, bunga melati, dan bunga seruni masing-masing satu takir (wadah yang dibuat dari daun pisang, biasanya untuk meletakkan sesaji).[15]
    Suguhan tersebut bagi Prabu Jayabaya, memiliki makna tersandi atau arti tersembunyi yang berada disebalik suguhan tersebut. Apalagi Prabu Jayabaya dan Ajar Subrata pernah menjadi saudara seperguruan sehingga dimungkinkan mereka memiliki pengetahuan yang kurang lebih sama.Suguhan tersebut membuat sang Prabu sangat marah dan akhirnya membunuh sang pendeta sekaligus putrinya yang menjadi istri dari Prabu Anom Jayamijaya, putranya. Pasca peristiwa tersebut Jayabaya menerangkan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan untuk menghukum kekurangajaran sang pendeta yang secara tersandi berniat mengakhiri kekuasaan raja-raja di Jawa. Suguhan tersebut memiliki makna bahwa jika Prabu Jayabaya memakannya maka kekuasaan akan tetap berada ditangan pendeta dan jaman baru, termasuk di dalamnya berkembangnya ajaran Islam, tidak akan pernah terjadi.
    Demikianlah pandangan Serat Praniti Wakya, bahwa Prabu Jayabaya adalah titisan Wisnu yang hanya tinggal dua kali akan turun ke Marcapada. Pasca Prabu Jayabaya, dikisahkan bahwa Wisnu akan menitis di Jenggala dan setelah itu tidak akan pernah menitis kembali serta tidak memiliki tanggung jawab lagi terhadap kemakmuran ataupun kerusakan bumi maupun alam ghaib.
    “… Ingsun iki pandjenenganing Wisjnu Murti[16], kebubuhan agawe rahardjaning bumi, dene panitahingsun mung kari pindo, katelu ingsun iki, ing sapungkuringsun saka Kediri nuli tumitah ana ing Djenggala, wus ora tumitah maneh, karana wus dudu bubuhan ingsun, gemah rusaking djagad, lawan kahananing wus ginaib, ingsun wus ora kena melu-melu, tunggal ana sadjroning kakarahe guruningsun, ...”[17]
    Pernyataan di atas menggambarkan bahwa ajaran kedewaan dalam Hindhuisme tidak akan berlaku lagi pasca penitisan wisnu di Jenggala. Hal ini diperkuat pula bahwa pasca penitisan di Jenggala, Wisnu tidak akan memiliki tanggung jawab lagi terhadap keutuhan dunia nyata maupun dunia maya alam ghaib, termasuk alam kedewaan sekalipun. Dapat kita lihat pula bahwa pasca itu, Majapahit yang dianggap sebagai kerajaan tersohor di nusantara sekalipun ternyata sudah tidak melaksanakan ajaran Hindhu secara murni, namun menjalankan sinkertisme antara ajaran Syiwa dan Budha. Selanjutnya, jaman akan berubah menuju jaman Islam yang diisyaratkan bahwa semua keadaan akan menjadisatu dengan tongkat atau pegangan guru Jayabaya yang bernama Maulana ‘Ali Syamsu Zein. Bahkan secara tersirat Serat Praniti Wakya sebenarnya mencoba mengungkapkan bahwa Bathara Wisnu, Dewa yang masuk dalam Trimurti[18] dan memiliki tanggung jawab memelihara alam semesta, ternyata telah pula menerima ajaran Islam sebagai agamanya.
    PENUTUP
    Demikian sekilas gambaran tentang Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya. Kitab tersebut pada dasarnya merupakan buku yang mencoba untuk memberikan apresiasi terhadap keberadaan Islam di Pulau Jawa. Hatta, di dalamnya mengandung banyak hal-hal yang musykil dan seolah tidak sesuai dengan ajaran Islam, namun dengan memandang kitab tersebut sebagai bagian dari proses dakwah di Pulau Jawa, maka perlu pula kaum muslimin mengkaji dan mengapresiasi serat tersebut. Sebab telah banyak kitab Jawa yang sebenarnya memiliki nafas Islam secara kental, namun diklaim sebagi kitab Hindhu maupun kebatinan. Hal ini sudah tentu disebabkan kepedulian umat Islam yang masih minim dan sekaligus kurangnya pengetahuan terhadap naskah-naskah lama karya pujangga. Juga mengindikasikan bahwa kajian keilmuan dikalangan umat Islam, saat ini, masih belum membudaya.
    Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya, karya seorang pujangga R. Ng. Ranggawarsita, seolah merupakan bentuk sinkretis perpaduan antara Islam dan kejawen. Akan tetapi nampak bahwa ajaran Islam lebih dominan sebagai substansi. Sedangkan ‘kejawen’ sendiri terposisikan sebagai kulit luar dari bentuk pemikiran Jawa yang telah terisi dengan ruh Islam.

    Selanjutnya, jika pembaca termasuk ke dalam kelompok kalangan yang mempercayai ramalan Jayabaya sebagai ramalan yang memiliki akurasi tinggi, maka bersegeralah kembali kepada Islam dan sumber-sumbernya berupa Al Quran dan Ash Shunnah. Sebab, hakikatnya “ramalan” Jayabaya merupakan bagian dari upaya memahami Islam melalui proses pencarian panjang yang belum selesai. Sedangkan bagi kalangan yang menolak sebelum mengkaji hal ini sebelumnya, maka hendaknya akan dapat mengubah sikap terhadap pemahaman hakikat segala sesuatu. Bahwa sahnya sebuah amalan adalah pasca terbitnya sebuah kepahaman mendalam.

    FOOTNOTE

    [1] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon. (PT. Yudha Gama Corp, Jakarta, 1982). Hal.
    [2] Noname. Serat Praniti Wakja Djangka Djojobojo. (Penerbit Keluarga Soebarno, Surakarta, tth). Hal. 5
    [3] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya …. Opcit. Hal. 20
    [4] Noname. Serat Praniti Wakja Opcit. Hal. 5. Artinya : Sedang yang menjadi pembuka cerita adalah beliau Prabu Haji Jayabaya, raja yang seperti Dewa, yang disebut ratu adil, populer di dunia sebagai titisan Dewa Wisnu.
    [5] Moh. Hari Soewarno. Ramalan JayabayaOpcit. Hal. 16
    [6] Moh. Hari Soewarno. Ramalan JayabayaOpcit. Hal15-16. Juga M. C. Ricklefs. A History of Modern Indonesia. (Macmillan Education Ltd, London and Hampshire, 1981. Edisi Indonesia :Sejarah Indonesia Modern. Terjemah oleh Drs. Dharmono Hardjowidjono. Cetakan II. (Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1992). Hal. 3-4
    [7] Prof. Dr. Hamka. Sejarah Umat Islam. Edisi Baru. Cetakan V. (Pustaka Nasional Ltd, Singapura, 2005). Hal. 671-673
    [8] Panitia Seminar Masuknya Islam ke Indonesia. Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia: Kumpulan Pidato dan Pendapat Para Pemimpin, Pemrasaran, dan Pembanding dalam Seminar tanggal 17 Sampai 20 Maret 1963 di Medan. (Panitia Seminar Masuknya Islam ke Indonesia, Medan, 1963). Hal. 265
    [9] Selengkapnya tentang kata-kata Bahasa Arab dalam Kakawain Gathutkacasraya lihat Prof. Dr. Sucipta Wiryosuparto. Kakawin Gatutkaca Craya. (Disertasi Universitas Indonesia, Jakarta, 1960).
    [10] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 28. Artinya: Kiamat adalah hancurnya dunia dan benih (kehidupan) yang terhampar ini, itu (ditandai) dengan datangnya Dajjal laknat …
    [11] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 29
    [12] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 30
    [13] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 31
    [14] Moh. Hari Soewarno. Serat Darmogandul dan Suluk Gatoloco Tentang Islam. (PT. Antar Surya Jaya, Surabaya, 1985). Hal. 16-17. Buku ini menurut penulis banyak memiliki kelemahan dari sisi data, analisa, dan metodologi terutama dalam membahas tentang Serat Darmagandul dan Suluk Gatoloco.
    [15] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 19-20
    [16] Istilah Wisnu Murti menunjukkan salah satu nama penitisan Dewa Wisnu dalam tiap-tiap masa dalam pandangan masyarakat Jawa pra-Islam. Dalam dunia pewayangan Jawa, terutama kisahRamayana, penitisan Wisnu menjelma menjadi Ramawijaya dan Laksmana. Pada ramawijaya menitis Wisnu Purba (baca : purbo yang “artinya memiliki wewenang”). Sedangkan pada diri Laksmana menitis Wisnu Sejati. Sedangkan pada era Mahabarata Wisnu Murti pernah menitis pada tokoh Kresna dan Arjuna. Sedangkan dalam Lakon wayang Wahyu Purba Sejati, digambarakan bahwa setelah meninggalnya Ramawijaya dan Laksmana, tokoh dari era Ramayana. Kemudian Wisnu Purba menitis pada tokoh Kresna dan Wisnu Sejati menitis pada Arjuna di era Mahabarata. Namun kisah lain menyebutkan bahwa Wisnu Sejati kemudian merasa tidak betah berada dalam tubuh Arjuna, sebab sebelumnya tokoh Laksmana terkenal sebagai karakter wayang yang menjalani hidup wadat (selibat=tidak menikah). Sedangkan Arjuna memiliki istri banyak. Dengan demikian Kresna, Raja Dwarawati atau Dwaraka, mendapat dua penitisan sekaligus yaitu Wisnu Murti dan Purba. Sedangkan Arjuna hanya merupakan penjelmaan Wisnu Murti.
    [17] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 21-22. Artinya: “…aku ini adalah Wisynu Murti, berkewajiban membuatkesejahteraan di bumi, dan penitisanku dibumi tinggal tersisa dua kali, penitisan ketiga adalah diriku ini, sedangkan selanjutnya di Jenggala, pasca itu aku sudah tidak menitis sebagi manusia lagi, sebab hal itu bukan tanggungjawabku lagi, makmur atau rusaknya dunia serta keadaan alam ghaib, aku sudah tidak boleh campur tangan, semuanya sudah menjadi tanggung jawab sesuai tongkat yang dimiliki guruku .”
    [18] Trimurti merupakan ajaran Hindhu yang menyebutkan bahwa terdapat tiga unsur ketuhanan yaitu Brahma, Wisnu, Syiwa, dan Wisnu. Brahma berperan sebagai pencipta alam raya, sedang Wisnu menjadi pemelihara, dan syiwa adalah anasir kekuatan perusak alam semesta.
    Penulis: Susiyanto (Mahasiswa Pasca Sarjana Peradaban Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta)
    Dipublikasikan ulang dari http://www.susiyanto.wordpress.com
     
  • tituitcom 19.02 on 12 September 2012 Permalink  

    Kasih Sayang Generasi Kerbau Dalam Valentine’s Day 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Kasih Sayang Generasi Kerbau Dalam Valentine’s Day

    Tanggal 14 Februari, bukan lagi hari yang asing bagi remaja di Indonesia. Sebuah ‘hari raya’ khas remaja dalam lingkup hura-hura dan histeria masa muda. Hari Valentine, demikian kaum belia menyebutnya, dirayakan sebagai hari kasih sayang dengan menyerahkan coklat sebagai ungkapan cinta kepada orang yang disayangi untuk menyimbolkan pernyataan ketulusan hati. Orang yang disayangi tersebut jelas bukan ayah, ibu, suami, adik, atau familinya. Namun orang yang dianggap sebagai pasangannya. Media massa turut serta menayangkan aneka rupa tontonan sekaligus menjadi kampanye gratis penyebarannya. Hampir semua media mengangkat tema tentang cinta dalam suasana merah jambu.

    Bagi remaja, Hari Valentine tak luput pula menghadirkan nuansa mendebarkan. Dapat dibayangkan, sebagian besar remaja mencari pasangan kencannya untuk menghabiskan malam valentine bersama. Lantas bagi mereka yang belum memiliki kekasih, hari Valentine dapat dipastikan akan menjadi hari yang panjang dan tidak jarang memunculkan keputus asaan. Hari penuh resah dan gelisah menunggu siapa yang akan memberinya coklat tanda bahwa dirinya ‘diminati’. Belum lagi jika harus berdiam diri di rumah karena tidak ‘kebagian’ pasangan, jelas mereka akan merasa malu menyandang predikatkuper, nggak gaul, ketinggalan jaman, dan sebagainya. Sementara udara di luar semakin dingin dan hari kasih sayang telah berubah menjadi hari penuh nafsu. Seks bebas, berpelukan di depan umum, dan peredaran narkotika adalah pemandangan umum ‘hari kasih sayang’, hari ‘surgawi’ bagi para pemuja syahwat.
    Awal mula Valentine’s Day merupakan perayaan dari peradaban Barat untuk mengenang terbunuhnya seorang pendeta Kristen bernama Valentine. Dikisahkan bahwa seorang raja yang demi menjaga stabilitas dan kepentingan nasional negaranya terpaksa memberlakukan wajib militer terhadap kaum muda. Namun para pemuda negeri itu rupanya enggan untuk melakukan bela negara. Sang raja kemudian menitahkan sabdanya bahwa para pemuda belum akan mendapatkan pengesahan pernikahan sebelum mereka mengikuti wajib militer. Maka tersebutlah sepasang muda-mudi yang sudah sangat ngebet kawin. Padahal sang pemuda belum menjalankan wajib militer. Jelas tidak ada pendeta yang berani mengkhianati kepentingan negara dengan menikahkan keduanya. Maka tampillah Pendeta Valentine, bak pahlawan kesiangan, dia menikahkan kedua pasangan tersebut. Valentine kemudian diputuskan bersalah dan dihukum gantung atas perilaku khianatnya. Matilah Valentine sebagai pengkhianat kepentingan nasional namun pahlawan bagi kepentingan individual.
    Versi lain cerita tentang Valentine menyebutkan bahwa pada masa Kaisar Claudius berkuasa, terdapat seorang pendeta Katholik bernama Valentinus. Sang pendeta dijebloskan ke penjara sambil menanti prosesi hukuman mati karena suatu kesalahan. Secara tak terduga sang pendeta ternyata menjalin hubungan asmara dengan puteri sipir penjara. Menjelang dieksekusi pada 14 Februari 269 M, sang pendeta sempat menulis sebuah surat cinta bertuliskan “From Your Valentine”. Surat itu akhirnya menjadi tanda mata terakhir dari Valentinus dan kisahnya berkembang menjadi kisah cinta yang melegenda. Namun umumnya orang akan menghubungkannya dengan kisah romantis semacam Romeo-Juliet. Dari sini, bukankah aneh jika kemudian kisah-kisah demikian dirayakan sebagai hari kasih sayang ?
    Sedangkan bentuk perayaan Valentine’s Day sendiri sebenarnya mengadopsi konsep hari raya kaum penyembah berhala yaitu Perayaan Lupercal yang bertujuan menghormati Faunus, dewa kesuburan bangsa Romawi. Perayaan ini dilakukan oleh kaum muda-mudi dengan memilih pasangannya, saling memberi hadiah, dan puncak acaranya adalah ritual seks bebas termasuk upaya melepaskan keperawanan sebagai lambang dan permohonan kesuburan yang melimpah.
    Lantas, mengapa masyarakat terutama remaja banyak yang memuja Valentine ? Tata nilai masyarakat bisa saja bergeser. Masyarakat hari ini boleh dikatakan bukan lagi sekumpulan rakyat patriotis. Mereka cenderung meninggalkan nilai ketimuran karena telah silau dengan gebyar dari Barat. Valentine’s day sebagai hari kasih sayang sebenarnya hanya berhenti sebagai jargon belaka. Perayaan ini di Barat tidak lebih sebagai moment hura-hura, event untuk melampiaskan nafsu syahwat, dan sekaligus mengakhiri keperawanan atau ‘keperjakaan’ dalam makna yang sesungguhnya. Anehnya budaya ini pun mulai diadopsi oleh dunia timur hingga dalam tingkatan substansi. Maraknya pelacuran remaja, pergaulan bebas, penggunaan narkotika, dan sebagainya tidak lepas dari budaya-budaya tersebut.
    Valentine’s day sendiri dimasyarakatkan bukan sebagai wahana menghubungkan manusia dalam ikatan kasih secara murni. Juga miskin dari nilai perayaan agama. Sebab Valentine’s day justru merupakan sebuah bukti kematian agama Kristen di Barat akibat berkuasanya kapitalisme. Agama telah tunduk pada kemauan pasar. Produknya dipilih dan dipilah berdasarkan selera publik. Secara substansial agama itu pun hanya diberlakukan sebagai ceremonial dan prakteknya tidak lebih sekadar hura-hura belaka.
    Bagi kapitalis, remaja adalah sasaran potensial pemasaran produk. Masyarakat muda yang belum mandiri secara pemikiran dan berada pada masa pencarian jati diri sehingga paling mudah dikendalikan. Untuk dapat menjual produk kepada tingkatan usia ini, maka calon konsumen tersebut musti dikondisikan terlebih dahulu. Maka diciptakanlah sebuah mind-set bahwa remaja musti gaul, cool, kreatif, smart, dan sebagainya. Sifat-sifat yang ingin dibentuk itu pun memiliki nilai khas ala kapitalis, bukan lagi karakter netral. Namun ditentukan oleh tangan-tangan setan (invisible hand), sebutan ilmu ekonomi kapitalis untuk menggambarkan mekanisme pasar. Sifat gaul tidak akan dimiliki jika remaja tidak mengikuti trend. Mereka yang tidak merayakan valentine’s day dianggap tidak gaul. Predikat kreatif pun telah disusupi makna baru. Seorang remaja disebut kreatif jika mampu mengikuti kemauan pasar. Mereka yang pandai bermain music, menciptakan sarana hura-hura, membuat produk yang bisa menjadi trend remaja itulah yang disebut kreatif. Ujungnya, keratif adalah sebutan bagi mereka yang mampu menciptakan budaya konsumenisme sekaligus menjadi penikmatnya.
    Lihat saja misalnya, untuk ukuran seorang remaja yang terlibat pacaran. Untuk berangkat kencan mereka butuh baju-baju bagus dari butik pilihan, terus harus disetrika dengan semprotan pengharum khusus. Belum lagi butuh parfum sebagai pewangi yang lain. Kalau mau nge-kiss pacar tentu mulut tidak boleh berbau maka diiklankan sejumlah produk untuk pengharum mulut mulai dari pasta gigi, sikat gigi, mouth spray, permen wangi, sampai obat kumur. Terus kalau mau dicium, terus wajah belentong-belentong karena jerawatan, maka tentu remaja akan merasa tengsin, maka muncul produk penghalus muka, anti acne, pemutih, scrab, vitamin kulit, dan sebagainya. Jelas rambut pun tidak boleh kusam, maka perlu shampo khusus, creambath, rebonding, vitamin rambut, dan sebagainya. Belum lagi kalau rambutnya penuh ketombe maka semakin ribet kebutuhannya. Bahkan secara sengaja iklan-iklan yang mengarah kepada pergaulan bebas juga dimunculkan sebagai pengenalan dan pemasaran produk sekaligus kampanye. Misalnya remaja musti tahu tentang kesehatan reproduksi yang ujung-ujungnya diarahkan kepada pemahaman seks yang aman atau pencegahan AIDS. Penjualan produk alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan paling berkepentingan dalam hal ini. Semua itu adalah realita kehidupan dalam kapitalisme. Semua hal memiliki potensi untuk menjadi komoditas. Tidak terkecuali perayaan Valentine’s Day.
    Remaja dianggap gaul jika mampu mengikuti mode dan trend tertentu. Trend mark dan brand image yang mereka kejar untuk mendapat ‘gelar’ gaul, cool, modern, smart, tidak ketinggalan jaman, dan jargon-jargon tersebut harus mereka bayar dengan harga tidak sedikit. Sebuah pencarian jati diri yang tergadai dalam kepura-puraan mengejar angan dan harapan semu. Membuat semakin sulit bagi remaja untuk menjadi dirinya sendiri. Sebab secara kejiwaan dan sistemik, kehidupan mereka sendiri telah terbelenggu oleh peraturan tidak tertulis yang diciptakan oleh tangan-tangan kapitalis dengan memanfaatkan mekanisme pasar.
    Sungguh, apakah sedemikian bodohnya kaum remaja masa kini. Sehingga masih sanggup tertawa, gembira, dan berhura-hura ketika dibodohi dengan predikat dan mekanisme yang tidak sepenuhnya netral atau berpihak kepada mereka. Tertawa lebar tanpa sadar menertawakan keterjajahannya. Tersenyum simpul dalam kematian nalar warasnya. Jawaban mereka atas nasihat ini pun akan terlalu simple karena lahir dari kemampuan berfikir yang sederhana “ ah seperti tidak pernah muda saja”. Remaja model demikian pun akhirnya menjadi generasi kerbau yang dicocok hidungnya, pasrah dan menurut saja kehendak ‘sang tuan’. Dan pastinya, akan semakin sulit bangsa ini dilanjutkan oleh generasi pilihan, jika remaja kita kadung terjerembab dalam budaya sarat nilai negatif dari Barat, termasuk Valentine’s Day.
    TAMBAHAN: Tidak ada yang perlu disalahkan. Hanya saja akar dari semua itu berupa sekularisme yang melahirkan kapitalisme, liberalisme, individualisme, materialisme, dan berbagai paham negatif Barat lainnya hendaknya segera dikikis.
    Penulis: Susiyanto
    (Peneliti Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) & Mahasiswa Pasca Sarjana Peradaban Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta)

    Dipublikasikan ulang seizin penulis dari http://www.susiyanto.wordpress.com

     
  • tituitcom 22.57 on 27 August 2012 Permalink  

    Nyai Ratu Kidul Pasca Sutowijoyo 

    Nyai Ratu Kidul Pasca Sutowijoyo
     

    Sepeninggal Sutowijoyo tahun 1601, Mataram diteruskan oleh
    anak Sutowijoyo yang bernama Raden Mas Jolang alias Pangeran
    Nyokrowati alias Pangeran Seda  Krapyak, yang bergelar Prabu
    Nyokrowati, yang memerintah  sampai dengan tahun 1613
    (meninggal tahun 1613). Selanjutnya pemerintahan Mataram
    diteruskan oleh anak Sutowijoyo yang lainnya, yaitu Raden
    Rangsang yang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo dari tahun
    1613 sampai 1646.
    Masa-masa pemerintahan Sultan Agung tersebut wilayah
    Mataram semakin luas. Ibukota kesultanan dipindah dari Kerta ke
    Plered. Pada masa itu Surabaya yang sulit ditaklukkkan berhasil
    dikuasai. Wilayah kekuasaan Mataram sampai ke Sukadana,
    Kalimantan dan Madura. Seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur
    berhasil dikuasai, sampai ke Cirebon, Jawa Barat.
    Sultan Agung dikenal sebagai raja yang taat beribadah ritual
    Islam, mengirimkan utusan ke Mekah untuk memperdalam ajaran
    Islam untuk menjadi penasehatnya. Sultan Agung pun memperoleh
    gelar Islam yaitu: Sultan Abdul Muhammad Maulana Matarami. Jika
    gelar itu diterjemahkan, kurang-lebih adalah: “Penguasa, abdi dari
    Muhammad, pemimpin Mataram.” Ia juga yang mengubah tahun
    Saka yang merupakan Tahun Matahari (Tarikh Syamsiah) menjadi
    tahun Jawa-Islam yang berdasarkan perhitungan Tahun Bulan
    (Tarikh Qamariah) untuk disesuaikan dengan Tahun Hijriah. Pada
    tahun 1633 Masehi adalah tahun 1555 Saka, dan dijadikan menjadi
    tahun 1555 Jawa-Islam (jawapalace.org, 2004).
    Berturut-turut, setelah Sultan Agung, Mataram diperintah oleh:
    –  Amangkurat I (1646-1677);
    –  Amangkurat II (1677-1703);
    –  Amangkurat III (1703-1704);
    –  Pakubuwono I (1708-1719);
    –  Mangkurat IV (1719-1727);
    –  Pakubuwono II (1727-1745);
    –  Pakubuwono III (1749-1788);
    Setelah itu, Mataram terpecah menjadi dua, Jogjakarta yang
    diperintah oleh Sultan Hamengku Buwono I dan Surakarta yang
    diperintah Pakubuwono III. Selanjutnya Mataram tidak hanya
    menjadi Jogjakarta dan Surakarta. Jogjakarta mempunyai pecahan
    Adikarto (Paku Alaman) yang diperintah oleh Paku Alam dan
    Surakarta mempunyai pecahan Mangkunegaran yang diperintah oleh
    Mangkunegoro.
    Pasca Sutowijoyo, tidak ada cerita tentang Nyai Ratu Kidul
    dalam membantu para raja keturunan Sutowijoyo, yang seheboh
    kisah kerjasama Nyai Ratu Kidul dengan Sutowijoyo. Tahun 1782,
    Pakubuwono III membangun Panggung Sanggabuwono yang
    menurut mitosnya adalah sebagai tempat pertemuan antara
    Pakubuwono dengan Nyai Ratu Kidul. Tapi juga ditengarai bahwa
    panggung itu digunakan oleh Pakubuwono III untuk mengamati
    wilayahnya dari dalam keraton (termasuk memata-matai benteng
    Vastenburg milik Belanda). Ketika Belanda menegur pembuatan
    Panggung Sanggabuwono maka  Pakubuwono III berdalih bahwa
    tempat itu untuk pertemuannya dengan Nyai Ratu Kidul
    (jawapalace.org, 2004). Sebuah alasan adat yang mesti ditoleransi
    Belanda. 
    Kisah Nyai Ratu Kidul juga muncul kembali setelah
    Mangkunegoro IV  yang memerintah Mangkunegaran (1853-1881)
    mengarang Serat Wedatama. Rupa-rupanya di situlah muncul
    kerinduan terhadap mitos Nyai Ratu Kidul, meskipun harus
    mengalami perubahan. 
    Pada masa pemerintahan Pakubuwono X, juga terdapat kisah
    bahwa akhirnya Pakubuwono X dan keturunannya sudah bukan lagi
    menjadi suami Nyai Ratu Kidul, tapi menjadi anak, karena adanya
    salah ucap dari Nyai Ratu Kidul. Ini merupakan suatu perubahan
    untuk mengarah pada rasionalitas, sebab tidak akan logis menurut
    Hukum Adat Jawa atau Islam, jika Nyai Ratu Kidul yang sosok
    perempuan itu melakukan poliandri (harus menjadi isteri dari
    Pakubuwono, Hamengku Buwono, Paku Alam dan Mangkunegoro).
    Kisah-kisah Nyai Ratu Kidul pada masa pasca Sutowijoyo lebih
    banyak berupa  gugon tuhon  (cerita dari mulut ke mulut) tentang
    kisah-kisah insidentil yang terjadi di sekitar lingkungan Laut Selatan.
    Tetapi, tidak ada salahnya jika dalam sub bab ini saya ceritakan
    sedikit bagian sejarah tentang keadaan Mataram setelah Sultan
    Agung meninggal dunia, agar bisa diketahui gambarannya; seberapa
    jauh peran Nyai Ratu Kidul dalam turut mempertahankan keutuhan
    Mataram dan kesejahteraan masyarakatnya.
    Pada masa pemerintahan Amangkurat I di Mataram mulai terjadi
    pemberontakan. Ahli-ahli sejarah menyatakan bahwa
    pemberontakan itu disebabkan ketidakbijaksanaan Sultan dalam
    menjalankan pemerintahan. Tetapi menurut saya ada faktor lainnya,
    yaitu: kebiasaan ambisi para pemimpin daerah atau bupati yang
    tadinya dikuasai secara paksa sehingga selalu mempunyai keinginan
    secara merdeka memerintah daerahnya sendiri.
    Pemberontakan kepada Mataram di jaman Amangkurat yang
    sangat terkenal adalah yang dilakukan oleh Trunojoyo, anak dari
    Bupati Cakraningrat di Madura. Trunojoyo berhasil menguasai Jawa
    Timur, memindahkan pusat pemerintahannya di Sedayu, lalu ke
    Kediri, hingga terus mendesak ke arah Barat dan akhirnya menguasai
    Karto ibukota Mataram.
    Mataram dikalahkan Trunojoyo sehingga Amangkurat I lari ke
    Batavia, meminta bantuan Belanda yang merupakan musuh Mataram
    itu. Amangkurat I menggadaikan harga diri Mataram kepada
    Belanda, sebab ia tidak mau takluk kepada Trunojoyo. Tapi
    Amangkurat I meninggal dan diganti anaknya, Amangkurat II.
    Lucunya, penobatan Amangkurat II dilakukan oleh Belanda di
    Batavia. 
    Tidak beda dengan ayahnya, Amangkurat II juga menggadaikan
    Mataram kepada Belanda dengan menandatangani Perjanjian Jepara
    tahun 1678, yang isinya:
    (1)  Amangkurat II diangkat menjadi raja Mataram dan menerima
    bantuan dari Belanda;
    (2)  Belanda berkuasa atas Pelabuhan Semarang dan memiliki hak-
    hak untuk berdagang;
    (3)  Mataram harus mengganti kerugian perang yang diderita
    Belanda.
     Amangkurat selanjutnya bisa kembali ke Jawa Tengah tapi
    dengan bantuan dan perlindungan Belanda. Lalu Belanda mulai
    menyerang Trunojoyo, hingga akhirnya terpaksa ia harus
    menyerah kepada Kapten Jonker di Gunung Willis Jawa Timur.
    Lalu Trunojoyo diserahkan kepada Amangkurat II, tetapi dengan
    kejam Amangkurat II membunuh Trunojoyo dengan keris. Sebuah
    watak biadab yang sama persis dengan watak Sutowijoyo.
    Karena Amangkurat II tidak tahan di bawah pengaruh Belanda
    maka ia meminta bantuan dengan Untung Suropati (Adipati
    Wironegoro) di Pasuruan (Bangil). Setelah Amangkurat II
    meninggal maka kekuasannya dilanjutkan Amangkurat III yang
    juga bekerjasama dengan Untung Suropati dalam menentang
    Belanda.
    Pada waktu itulah kekuatan Mataram mulai pecah karena taktik
    pecah-belah Belanda. Adik Amangkurat II yang bernama Pangeran
    Puger dijadikan alat Belanda untuk memecah kekuatan Mataram.
    Pangeran Puger inilah yang kemudian diakui Belanda menjadi raja
    Mataram dengan gelar Pakubuwono I. Dalam suatu peperangan
    dengan Belanda di Bangil, Untung Suropati meninggal sehingga
    kekuatan Amangkurat III lumpuh dan ia menyerah kepada
     Belanda. Lalu Belanda membuang Amangkurat III ke Srilanka. Dan,
    Mataram diperintah Pakubuwono I.
    Saya tidak akan terlalu panjang untuk meneruskan sejarah
    kekacauan Mataram tersebut. Cukuplah keadaan sejarah yang saya
    uraikan di atas menunjukkan fakta bahwa Mataram yang konon
    menjalin kekuatan mistik dengan penguasa Laut Selatan, Nyai Ratu
    Kidul, ternyata tidak berdaya menghadapi serangan Trunojoyo.
    Yang membantu mengembalikan  kekuasaan raja Mataram bukan
    Nyai Ratu Kidul, tapi Belanda.
    Bahkan ketika Amangkurat II yang tidak tahan lagi bekerjasama
    dengan Belanda, ia meminta bantuan Untung Suropati, mantan
    budak dari Bali yang  sangat gagah berani dan mati dalam keadaan
    terhormat itu. Ketika Untung Suropati meninggal dunia,
    Amangkurat III pun tidak berdaya, menyerah kepada Belanda dan
    dibuang ke Srilanka. Alangkah malang nasib raja Mataram yang
    konon adalah suami dari Nyai Ratu Kidul itu.
    Sampai pada batas sejarah tersebut, ternyata Nyai Ratu Kidul
    sama sekali cuek, tidak mempunyai peranan apa-apa dalam
    menyelamatkan Mataram. Itulah ironisnya kepercayaan yang telah
    terlanjur meyakini bahwa ada poros aliansi kekuatan antara
    Mataram sebagai komunitas manusia dengan Laut Selatan sebagai
    komunitas lelembut, yang terjalin sejak Mataram diperintah oleh
    Sutawijaya.
    Mengapa Mataram dan raja-rajanya (pasca Sultan Agung) bisa
    sampai bernasib tragis seperti itu? Apa yang kurang, padahal
    meskipun miskin terjajah oleh asing, masyarakat Jawa tetap loyal
    kepada Nyai Ratu Kidul untuk selalu memberinya sesajen dan
    memuja-mujanya setinggi langit, mengimajinasikannya sebagai
    Sang Ratu yang luhur dan melindungi? 
    Nyai Ratu Kidul benar-benar tega dan tidak kasihan melihat
    Amangkurat I yang lari tunggang-langgang mengais bantuan
    kepada Belanda. Nyai Ratu Kidul begitu tega membiarkan
    Amangkurat II menandatangani  penyerahan sebagian wilayah
    Mataram kepada Belanda. Nyai Ratu Kidul hanya  plonga-plongo
    melihat Amangkurat III dirantai tentara Belanda dan dibuang ke
    Srilanka. 
    Dengan kenyataan itu, pantaskah orang-orang Jawa selalu
    mengidolakan Nyai Ratu Kidul, memberinya sesajen dan memuja-
    mujanya? 

     
  • tituitcom 22.41 on 27 August 2012 Permalink  

    Taktik dan Politik Sutowijoyo Untuk Memperluas Wilayah 

    Setelah Sutowijoyo berhasil mempersatukan sebagian besar Jawa Tengah maka Sutowijoyo mulai melancarkan usaha perluasan   daerah ke Jawa Timur. Taktik  dan politik Sutowijoyo semakin menunjukkan karakternya sebagai  seorang “pembohong” politik, ketika menghadapi kekuatan kerajaan-kerajaan Jawa Timur yang bersatu untuk menghadang kekuatan Mataram. Suatu saat, Sutowijoyo mengumpulkan seluruh kekuatannya dan memimpin pasukan untuk melebarkan kekuasaannya ke Jawa Timur. Para raja Jawa Timur, seperti Surabaya, Madiun, Pasuruan, Tuban, Lamongan, Gresik, Sumenep dan lain-lain segera bersatu untuk menghadang gerak pasukan Mataram. Mereka membuat pesanggrahan (kamp militer) di Japan

    Setelah Sutowijoyo berhasil mempersatukan sebagian besar
    Jawa Tengah maka Sutowijoyo mulai melancarkan usaha perluasan 

    daerah ke Jawa Timur. Taktik  dan politik Sutowijoyo semakin
    menunjukkan karakternya sebagai  seorang “pembohong” politik,
    ketika menghadapi kekuatan kerajaan-kerajaan Jawa Timur yang
    bersatu untuk menghadang kekuatan Mataram.
    Suatu saat, Sutowijoyo mengumpulkan seluruh kekuatannya
    dan memimpin pasukan untuk melebarkan kekuasaannya ke Jawa
    Timur. Para raja Jawa Timur, seperti Surabaya, Madiun, Pasuruan,
    Tuban, Lamongan, Gresik, Sumenep dan lain-lain segera bersatu
    untuk menghadang gerak pasukan Mataram. Mereka membuat
    pesanggrahan (kamp militer) di Japan. Ketika mengetahui adanya
    bahaya pertumpahan darah itulah maka konon Sunan Giri, sebagai
    guru para penguasa di Jawa, mengirimkan utusan untuk
    mendamaikan Mataram dengan para penguasa Jawa Timur tersebut. 
    Atas inisiatif utusan Sunan Giri tersebut maka dilakukan
    perundingan. Utusan tersebut konon membawa pesan dari Sunan
    Giri yang tidak mengizinkan perang dan memberikan pilihan
    kepada Mataram dan para penguasa Jawa Timur untuk memilih
    “tempat” atau “isi”. Ternyata  Sutowijoyo memilih tempat dan
    Pangeran Surabaya memilih isi. Hal itu ditafsirkan dengan
    pengertian mistik bahwa telah  ditakdirkan Sutowijoyo akan
    menguasai wilayah di Jawa (tempat atau wadah diartikan sebagai
    wilayah). Sebaliknya para penguasa wilayah Jawa Timur hanya
    akan menjadi isi dari wilayahnya (isi diartikan dengan penduduk).
    Namun setelah itu masih terjadi perselisihan perebutan
    beberapa wilayah di Blora dan Warung antara Mataram dengan
    Surabaya. Sutowijoyo masih tetap berusaha melanjutkan misinya
    untuk mempersatukan Jawa di bawah kekuasaan Mataram. Maka
    atas inisiatif Panembahan Madiun, dikumpulkanlah seluruh
    pasukan dari Jawa Timur untuk menghadang serangan Mataram,
    sebab Mataram tetap dianggap api yang berbahaya, yang suatu saat
    akan menguasai Jawa Timur.
    Dalam rangka penyerangan ke Timur, Sutowijoyo
    mengumpulkan seluruh pasukannya dan diberangkatkan ke arah
    Timur, lalu membuat kamp di Desa Kalidadung, sebelah barat
    sungai Madiun. Maka pasukan Mataram dan pasukan Jawa Timur
    telah berhadap-hadapan dan hanya dibatasi oleh sungai Madiun.
    Sutowijoyo membuat estimasi bahwa pasukannya tidak akan
    mungkin mengalahkan Angkatan Perang Jawa Timur yang sangat
    besar. Maka ia segera melancarkan taktik. Disuruhnya seorang
    wanita cantik, konon bernama Adisara, sebagai duta untuk
    melakukan diplomasi. Wanita tersebut disuruh Sutowijoyo untuk
    mengakui bahwa Mataram menyerah kepada Jawa Timur sebab
    Sutowijoyo menyadari kebesaran para penguasa Jawa Timur.
    Sutowijoyo menyatakan membatalkan peperangan. Maka
    Panembahan Madiun, yang tidak lain adalah ipar Sultan
    Hadiwijoyo, merasa gembira. Begitu pula para prajurit Jawa Timur
    yang tidak jadi berperang. 
    Karena pernyataan menyerah dari Sutowijoyo tersebut maka
    pasukan aliansi Jawa Timur membubarkan diri dan ditarik ke
    daerah masing-masing. Setelah  Sutowijoyo memastikan lawannya
    telah bubar, maka ia memerintahkan pasukannya untuk menyerang
    Madiun. Kisah peperangan licik ini diabadikan dengan cerita rakyat
    yang bertitel Retno Dumilah yang sering menjadi cerita
    pertunjukan Ketoprak. Retno Dumilah adalah puteri Panembahan
    Madiun, yang akhirnya dikawini oleh Sutowijoyo, yang konon
    melahirkan penerus kekuasaan Mataram selanjutnya, yaitu: Sultan
    Agung Hanyokro-kusumo, setelah meninggalnya Prabu
    Nyokrowati, Raja Mataram kedua.
    Kisah kelicikan Sutowijoyo dalam menjalankan taktik lainnya
    juga sangat terkenal dalam cerita rakyat Ki Ageng Mangir. Ki
    Ageng Mangir adalah penguasa Kemangiran dekat dengan
    Mataram, yang tidak mau membayar upeti kepada Mataram. Ki
    Ageng Mangir mempunyai alasan bahwa Mangir adalah wilayah
    bebas upeti (kawasan otonom dan bebas pajak) sejak jaman
    Majapahit dan diakui penguasa Demak sampai Pajang, sehingga ia
    juga tidak mau membayar upeti kepada Mataram. Namun,
    Sutowijoyo mengartikan lain. Jika seorang kepala daerah tidak mau
    membayar upeti, maka dianggaplah sebagai bentuk
    pembangkangan. 
    Sikap Sutowijoyo ini tidak  terlepas dari perilakunya
    (pengalamannya sendiri) ketika ia membangkang kepada Pajang
    dahulu, dengan jalan tidak mau  sowan dan tidak mau membayar
    upeti. Maka Sutowijoyo menganggap Ki Ageng Mangir sebagai
    lawan politik yang harus disingkirkan.
    Cerita rakyat mengisahkan bahwa Ki Ageng Mangir adalah
    orang yang sangat sakti dan berpengaruh. Ia mempunyai pusaka
    yang berupa tombak yang diberi nama Tombak Baru Klinting. Ki
    Ageng Mangir akan kehilangan kesaktian jika kesaktian tombak
    pusakanya itu musnah. Dalam mistik kejawen, seluruh bentuk
    kesaktian itu pasti mempunyai wadi (rahasia).
    Untuk menyerang Kemangiran, Sutowijoyo merasa ragu-ragu,
    apakah ia akan bisa mengalahkan Ki Ageng Mangir. Maka
    Sutowijoyo menugaskan puterinya yang cantik, bernama
    Pambayun, untuk menyamar  menjadi penari keliling dengan misi
    untuk menarik perhatian Ki Ageng Mangir. Akhirnya misi itu
    berhasil sebab Ki Ageng Mangir tertarik kepada Pambayun dan
    mengawininya. Umpan Sutowijoyo adalah puterinya sendiri, telah
    dimakan Ki Ageng Mangir.
    Karena sudah menjadi isteri Ki Ageng Mangir maka Pambayun
    tidak lupa dengan misinya untuk mengetahui  rahasia kesaktian Ki
    Ageng Mangir. Akhirnya Ki Ageng Mangir membeberkan rahasia
    kesaktiannya, yaitu terletak pada tombak pusaka miliknya. Jika
    tombak itu dipegang oleh wanita maka kesaktiannya akan hilang.
    Maka pada tengah malam ketika Ki Ageng Mangir tertidur,
    Pambayun memegang tombak pusaka Kyai Baru Klinting tersebut
    sehingga musnahlah kesaktiannya.
    Konon, setelah Pambayun hamil, maka ia merasa rindu dengan
    orang tuanya dan membuka kedoknya, bahwa sesungguhnya ia
    adalah anak Sutowijoyo yang sedang ditugaskan untuk mengetahui
    rahasia kesaktian Ki Ageng Mangir. Mengetahui hal tersebut maka
    Ki Ageng Mangir tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya,
    tetapi ia memilih untuk tunduk  kepada Mataram daripada harus
    berpisah dengan isterinya yang sedang hamil tersebut. 
    Selanjutnya Pambayun berkirim kabar kepada ayahnya,
    Sutowijoyo, bahwa ia akan pulang bersama Ki Ageng Mangir yang
    telah menjadi suaminya. Mendengar kabar itu maka Sutowijoyo
    mengirmkan utusan untuk menyampaikan pesannya kepada Ki
    Ageng Mangir, bahwa Ki Ageng Mangir boleh menghadap kepada
    Sutowijoyo, tetapi tidak boleh membawa pasukan pengawal untuk
    masuk ke wilayah Mataram. Syarat itu disanggupi oleh Ki Ageng
    Mangir.
    Namun, ketika Ki Ageng Mangir sampai di wilayah Mataram,
    Pambayun direbut oleh pasukan Mataram dan Ki Ageng Mangir
    dikeroyok pasukan Mataram. Tapi  karena kesaktiannya, maka Ki
    Ageng Mangir masih bisa hidup sampai akhirnya ia berhadapan
    langsung dengan Sutowijoyo di istana Mataram. Ki Ageng Mangir
    menuruti perintah Sutowijoyo untuk menghaturkan sembah, tetapi
    kepala Ki Ageng Mangir dibenturkan ke Watu Gilang oleh
    Sutowijoyo hingga meninggal dunia. Bahkan karena ketakutannya
    kepada Ki Ageng Mangir yang sudah mati, kepala Ki Ageng Mangir
    dipenggal, lalu kepala dan badan dikubur dalam tempat yang
    berbeda, di luar dan di dalam benteng keraton.
    Itulah sekelumit cerita yang sangat dihafal oleh sebagian besar
    para orang tua Jawa. Kisah-kisah tersebut menunjukkan betapa
    liciknya Raja Jawa yang bernama Sutowijoyo. Maka boleh jadi,
    Nyai Ratu Kidul adalah bagian dari kelicikan politik dan taktik
    Sutowijoyo untuk menjatuhkan mental para prajurit lawan-
    lawannya. Hal itu sekaligus menunjukkan kepiawaian Sutowijoyo
    dalam memanfaatkan  social behav or (perilaku masyarakat) dalam
    menjalankan strategi politiknya. Sutowijoyo sadar bahwa
    masyarakat Jawa waktu itu masih dilekati keyakinan mistik
    sehingga bisa dipengaruhi melalui jalan mistik tersebut.

     
  • tituitcom 22.25 on 27 August 2012 Permalink  

    Pembangkangan Sutowijoyo Kepada Pemerintah Pajang 

     Pembangkangan Sutowijoyo Kepada Pemerintah Pajang   Setelah Ki Pemanahan meninggal dunia tahun 1584 maka Sultan Hadiwijoyo mengangkat Sutowijoyo menjadi penguasa Mataram, dengan kewajiban untuk  selalu tunduk kepada Pajang. Artinya, Mataram tetap dianggap daerah kekuasaan Pajang oleh Sultan Hadiwijoyo.

    Pembangkangan Sutowijoyo Kepada Pemerintah Pajang

    Setelah Ki Pemanahan meninggal dunia tahun 1584 maka
    Sultan Hadiwijoyo mengangkat Sutowijoyo menjadi penguasa
    Mataram, dengan kewajiban untuk  selalu tunduk kepada Pajang.
    Artinya, Mataram tetap dianggap daerah kekuasaan Pajang oleh
    Sultan Hadiwijoyo.
    Namun setelah Sutowijoyo menjadi pengganti Ki Pemanahan,
    dengan sengaja ia tidak mau sowan (menghadap) kepada Sultan
    Hadiwijoyo. Sutowijoyo memulai  pembangkangan tersebut secara
    taktis. Ia selalu mempengaruhi para mantri dan bupati yang akan
    sowan kepada Sultan Hadiwijoyo. Mereka diikat dengan perlakuan
    yang baik, sampai-sampai secara tidak sadar membuat “kontrak
    politik” untuk bekerjasama. Yang dikatakan tidak sadar tersebut
    adalah bahwa para mantri dan bupati tersebut tidak mengetahui
    bahwa Sutowijoyo mempunyai rencana untuk membangkang
    kepada Sultan Hadiwijoyo.
    Karena beberapa lama Sutowijoyo tidak sowan kepada Sultan
    Hadiwijoyo, maka Sultan memerintahkan utusan untuk mengawasi
    perkembangan Mataram. Ternyata Mataram mulai membangun
    tembok keliling di istana. Konon pembangunan pagar atau tembok
    keliling itu atas saran Sunan Kalijaga. Utusan Pajang tersebut dalam
    cerita rakyat bernama Ki Wilamarta dan Wuragil. Menurut adat
    kebiasaan dan tatacara kenegaraan waktu itu, Wilamarta dan
    Wuragil yang datang ke Mataram sebagai wakil Sultan Pajang yang
    harus dihormati, sehingga Sutowijoyo pun harus memberikan
    hormatnya. Namun  Sutowijoyo menemui utusan Sultan tersebut di
    jalan, ia sengaja tidak mau turun dari kudanya untuk memberikan
    hormat kepada utusan Sultan Pajang. Itulah terutama isyarat yang
    ditangkap oleh para utusan Pajang, bahwa Sutowijoyo benar-benar
    membangkang kepada kekuasaan Pajang.
    Kisah tersebut saya ceritakan agak panjang lebar dengan
    maksud menunjukkan kepada  pembaca bahwa Sutowijoyo
    menjalankan politiknya dengan cara melanggar etika politik waktu
    itu. Hal ini sangat berguna untuk dihubungkan dengan
    kepercayaan Nyai Ratu Kidul tersebut dalam kaitannya dengan
    kejujuran Sutowijoyo.
    Konon, karena Ki Juru Mertani dan Sutowijoyo merasa sulit
    menandingi kesaktian Sultan Pajang dan kehebatan pasukan
    Pajang, maka Sutowijoyo pergi ke Parangtritis untuk menemui
    Nyai Ratu Kidul, dan Ki Juru Mertani mendapatkan tugas untuk
    menemui penguasa Gunung Merapi. Selanjutnya Nyai Ratu Kidul
    sanggup untuk memberikan bala bantuan jin dan setan untuk
    menghadapi rencana peperangan. Disamping bersekutu dengan
    Nyai Ratu Kidul, Sutowijoyo juga didukung oleh Sunan Kalijaga
    yang memberi nasihat untuk menyusun benteng-benteng (pagar) di
    Mataram. 
    Kisah peperangan Mataram melawan Pajang disulut oleh sebuah
    peristiwa yang agak persis dengan penyebab terjadinya Perang
    Dunia I. Adik perempuan Sutowijoyo dikawinkan dengan seorang
    Tumenggung yang dikenal dengan Tumenggung Mayang. Dari
    perkawinan tersebut dipunyai anak yang diberi nama Raden
    Pabelan, yang di masa remajanya terkenal sangat ganteng dan mata
    keranjang. Suatu saat Tumenggung Mayang menyuruh Raden
    Pabelan untuk menggoda puteri Sultan Pajang (Sekar Kedaton).
    Puteri ini akhirnya jatuh cinta kepada Raden Pabelan. 
    Suatu saat Raden Pabelan tertangkap ketika sedang berada di
    Taman Kaputren (tempat isteri dan putri raja yang berada dalam
    komplek istana). Hingga akhirnya Raden Pabelan meninggal di
    tangan prajurit Pajang. Menurut kisahnya, tertangkapnya Raden
    Pabelan oleh prajurit Pajang karena atas rencana Tumenggung
    Mayang sendiri yang jengkel dengan perilaku anaknya itu. Tapi
    dalam analisis politik ini akan menjadi lain, sebab pasti ada
    pertanyaan: Apakah sesederhana  itu alasan Tumenggung Mayang,
    sebab peristiwa ini menjadi penentu kehancuran Pajang. Kisah ini
    dapat dibandingkan dengan cerita upaya politik Sutowijoyo dalam
    menguasai tanah perdikan Mangir dengan cara mengumpankan
    anaknya, Puteri Pambayun.
    Peristiwa itu dilaporkan prajurit kepada Sultan Pajang sehingga
    Sultan Hadiwijoyo ini marah-marah dan menghukum Tumenggung
    Mayang, ayah Raden Pabelan, dengan dibuang ke Semarang. Dalam
    perjalanan pembuangan Tumenggung Mayang tersebut diiringi
    sekitar seribu pasukan Pajang dengan senjata lengkap. 
    Atas peristiwa itu, isteri Tumenggung Mayang yang tidak lain
    adalah adik Sutowijoyo, mengirim surat kepada Sutowijoyo,
    memberi kabar bahwa Tumenggung Mayang akan dibuang ke
    Semarang.
    Menerima pemberitahuan tersebut maka Sutowijoyo
    mengumpulkan para prajuritnya serta para bupati dan mantri
    sahabatnya untuk mempersiapkan diri guna merebut Tumenggung
    Mayang dari pasukan Pajang yang sedang menawannya. Sutowijoyo
    merasa berkewajiban untuk menyelamatkan adik iparnya itu. Tapi
    lagi-lagi, ini adalah sebuah alasan politis. 
    Rencana perlawanan Sutowijoyo itu dikritik Ki Juru Mertani. Ki
    Juru Mertani tersebut telah turut berjasa dalam membunuh Arya
    Penangsang (berarti juga berjasa untuk memperoleh bumi
    Mataram). Ki Juru Mertani menasihati Sutowijoyo agar jangan
    melawan Sultan Pajang dengan tiga alasan. Pertama, Sultan Pajang
    adalah raja yang berdaulat. Kedua, Sultan Pajang adalah ayah
    angkat Sutowijoyo. Ketiga, Sultan Pajang juga telah memberikan
    banyak pelajaran dan pengalaman  sehingga sama halnya sebagai
    guru Sutowijoyo. Namun Sutowijoyo terlanjur berambisi untuk
    menjadi Raja Jawa. Meskipun nasehatnya tidak digubris
    Sutowijoyo, Ki Juru Mertani tetap mendukung Sutowijoyo, sebab
    Sutowijoyo diyakininya telah memperoleh rekomendasi ramalan
    dari Walisongo (Sunan Giri); akan menjadi Raja Jawa.
    Selanjutnya berita pengerahan pasukan Mataram didengar oleh
    Sultan Pajang. Hal itu mengindikasikan adanya upaya
    pemberontakan oleh Mataram sebab Tumenggung Mayang adalah
    tawanan Pajang, tetapi akan direbut oleh Mataram. Maka Sultan
    Hadiwijoyo sendiri berangkat memimpin pasukannya untuk
    menundukkan Mataram.
    Di sinilah taktik dijalankan. Pasukan Sutowijoyo menggunakan
    strategi teknis dan magis. Pasukan Mataram dibagi menjadi tiga
    barikade. Satu barikade kecil bertugas menyerang (mengecoh)
    pasukan Pajang, lalu berlari mundur, sehingga seluruh pasukan
    Pajang mengejar barikade pasukan Mataran pengecoh ini.
    Selanjutnya dua barikade pasukan Mataram lainnya bertugas
    melakukan serangan mendadak dari sisi kiri dan kanan pasukan
    Pajang yang sedang mengejar satu barikade pasukan pengecoh
    tersebut. Maka kocar-kacirlah pasukan Pajang. 
    Pada waktu itu Gunung Merapi sedang dalam keadaan aktif.
    Maka taktik magis atau mistik juga dijalankan. Bendhe Kyai Becak
    diperintahkan untuk dibunyikan jika ada letusan gunung Merapi.
    Pasukan Pajang juga harus menghadapi aliran lahar gunung Merapi.
    Saat itulah pasukan Pajang mulai berpendapat bahwa mereka juga
    melawan para lelembut, pasukan dari penguasa Gunung Merapi
    yang diperintah Nyai Ratu Kidul. Maksud Sutowijoyo tercapai,
    yaitu: merontokkan spirit para prajurit Pajang.
    Banjir lahar malam hari membuat pasukan Pajang banyak yang
    hanyut. Karena kehilangan banyak pasukan maka Sultan
    Hadiwijoyo menarik pasukannya untuk kembali ke Pajang. Namun
    dalam perjalanan Sultan Pajang ini jatuh dari gajah tunggangannya
    sehingga jatuh sakit.
    Ketika sampai di istana Pajang, Sultan Hadiwijoyo berwasiat
    kepada anaknya, Pangeran Benowo, agar ia tidak melawan kepada
    Sutowijoyo. Bahkan Sultan Pajang sendiri sudah percaya bahwa
    Sutowijoyo telah ditakdirkan menjadi menjadi Raja Jawa
    sebagaimana ramalan Sunan Giri. Sultan Hadiwijoyo, penguasa
    Pajang itupun rontok semangatnya  karena isu mistik tersebut. Ia
    telah kehilangan keyakinan dan keimanan Islamnya, bahwa dengan
    semangat dan usaha, manusia bisa mencapai takdirnya sebagaimana
    orang yang sakit menjadi ditakdirkan sembuh karena berusaha
    mengobati dirinya. 
    Sultan Pajang itu dikalahkan bukan oleh kejituan ramalan
    Sunan Giri, tapi oleh pengaruh atau akibat ramalan yang telah
    menjatuhkan semangatnya. Suatu ramalan adalah bukan karena
    manusia mengetahui apa yang akan terjadi, melainkan sebuah
    ketajaman analisis. Buktinya,  tidak semua ramalan menjadi
    kenyataan, bahkan ramalan atau Jangka Jaya Baya yang dimitoskan
    itu juga tidak selalu tepat. Jangka Jayabaya tidak menggunakan
    “ilmu weruh sakdurunge winarah” (ilmu mengetahui peristiwa
    yang belum terjadi) seperti yang diyakini para penganut mistik,
    tetapi menggunakan ilmu falak atau ramalan bintang. 
    Saya kutipkan dasar ramalan bintangnya Jayabaya dari Kitab
    Primbon Quraisyn Adammakna, yaitu: “Marga manut primbon
    ilmu palintangan, katon lintang kemukus, siji-sij ne saben 100
    tahun mung  apisan temu gelang.” (Sebab menurut primbon ilmu
    perbintangan, nampak komet, satu-satunya setiap 100 tahun hanya
    satu siklus.) Begitu pula para Walisongo juga mendalami ilmu falak
    yang digunakan meramal masa depan, seperti ramalan bintang di
    koran-koran dan tabloid itu. Hanya saja menurut Islam, analisis
    masa depan menyangkut nasib  manusia tidak boleh dijadikan
    sebagai ramalan yang diyakini  pasti akan terjadi. Itu suatu
    kesombongan. Boleh jadi, Sultan Hadiwijoyo sedih memikirkan
    akhir karirnya atas ramalan Sunan Giri bahwa telah waktunya
    muncul Raja baru di Jawa. 
    Selanjutnya Sultan Pajang meninggal dunia tahun 1587. Pada
    waktu itu kekuatan politik di Jawa yang paling kuat waktu itu
    adalah Mataram sebab tidak ada lagi orang yang lebih kuat selain
    Sutowijoyo. Demak sudah lama di bawah pengaruh Pajang. Tetapi
    dengan meninggalnya Sultan Hadiwijoyo pun Pajang sudah tidak
    lebih kuat daripada Demak. 
    Sepeninggal Sultan Hadiwijoyo maka Pajang menggelar sidang.
    Sidang tersebut juga dihadiri oleh Sutowijoyo yang habis melayat
    ayah angkatnya itu. Di situ Sunan Kudus masih membuktikan
    pengaruhnya. Sunan Kudus memutuskan Pangeran Benowo
    menjadi Adipati Jipang Panolan. Sedangkan jabatan Sultan Pajang
    diberikan kepada menantu Sultan Hadiwijoyo yaitu Adipati Demak
    dengan alasan bahwa anak tertua  dari Sultan Hadiwijoyo adalah
    isteri dari Adipati Demak.
    Keputusan Sunan Kudus tersebut  menjadikan posisi Mataram
    semakin kuat, sebab dengan diangkatnya Adipati Demak menjadi
    Sultan Pajang maka di Pajang terjadi kekacauan politik dan sosial
    karena sifat kolusi Adipati Demak yang membawa para pejabat
    Demak ke Pajang serta mengurangi hak-hak asli tanah rakyat
    Pajang yang harus dibagi dengan para pendatang dari Demak.
    Situasi semakin tidak terkendali.
    Pangeran Benowo yang sudah menjadi Adipati (Bupati) Jipang
    meminta bantuan kepada Sutowijoyo untuk mengatasi situasi di
    Pajang, tetapi ditolak dengan alasan bahwa urusan Pajang adalah
    urusan Pangeran Benawa dengan saudara-saudaranya. Tapi, karena
    Pangeran Benawa tidak rela Pajang dikuasai oleh Adipati Demak
    maka ia menyatakan menyerahkan Pajang kepada Sutowijoyo. 
    Dengan penyerahan itulah maka Sutowijoyo menerimanya
    dengan senang hati sehingga mengerahkan pasukannya untuk
    menyerang Pajang. Akhirnya Pajang berhasil dikuasai Mataram.
    Maka pusat kekuasaan di Jawa Tengah waktu itu berada di
    Mataram, di bawah kendali Sutowijoyo alis Panembahan Senopati.

     
  • tituitcom 22.11 on 27 August 2012 Permalink  

    Pertemuan Pertama Nyai Ratu Kidul Dengan Sutowijoyo 

    Raja Mataram (Islam) yang pertama yang dikenal sejarah adalah Sutowijoyo. Sebenarnya penguasa Mataram Pertama adalah Ki Pemanahan, ayah kandung Sutowijoyo.

    Raja Mataram (Islam) yang pertama yang dikenal sejarah adalah
    Sutowijoyo. Sebenarnya penguasa Mataram Pertama adalah Ki
    Pemanahan, ayah kandung Sutowijoyo. Menurut silsilahnya
    Sutowijoyo adalah anak dari Ki Pemanahan. Ki Pemanahan adalah
    anak dari Ki Ngenis, dan Ki Ngenis adalah anak dari Ki Ageng Sela.
    Ki Ageng Sela ini adalah guru dari Sultan Pajang (Hadiwijoyo alias
    Jaka Tingkir). Ki Ageng Sela anak dari Ki Getas Pandawa. Ki Getas
    Pandawa anak dari Lembu Peteng dan Retna Nawangsih, sedangkan
    Nawangsih adalah anak dari Nawang Wulan dan Jaka Tarub (Raden
    Bondan Kejawan atau Kidang Telangkas). Jaka Tarub adalah

    keturunan dari Raja Majapahit; Bre Wengker. Lembu Peteng
    tersebut juga anak dari Raja Majapahit (Bandingkan dengan kisah
    Nyai Ratu Kidul Versi B di depan).
    Tadinya kerajaan Mataram adalah hutan Mentaok yang
    dihadiahkan oleh Sultan Hadiwijoyo kepada Ki Pemanahan, Ki Juru
    Mertani dan Sutowijoyo, atas jasa mereka dalam membunuh Arya
    Penangsang, Bupati Jipang Panolan. Arya Penangsang memberontak
    kepada Pajang karena menuntut takhta Demak yang sesungguhnya
    merupakan warisan dari ayahnya, Pangeran Sekar Seda Lepen
    (kakak Sultan Trenggono).  Ayah  dari Arya Penangsang ini telah
    dibunuh oleh orang suruhan Sunan Prawoto, anak Sultan
    Trenggono.
    Setelah hutan Mentaok diserahkan kepada Ki Pemanahan,
    Sutowijoyo dan Ki Juru Mertani maka mereka mulai
    membangunnya dan diberi nama Mataram. Setelah Ki Pemanahan
    meninggal, Sutowijoyo dinobatkan menjadi Bupati Mataram oleh
    Sultan Hadiwijoyo dan bergelar Panembahan Senopati ing Ngalogo
    Sayyiddin Panotogomo. Kalau diterjemahkan, kurang-lebih:
    “Junjungan Panglima perang, Pemimpin dan Penata Agama.”
    Perlahan dengan pasti, Mataram pada waktu pemerintahannya
    di pegang Sutowijoyo mulai memisahkan diri dengan Pajang, 
    memberontak kepada Sultan Hadiwijoyo, yang menurut kisah
    adalah ayah angkatnya sendiri.  Meskipun ada juga gosip sejarah
    yang menyatakan bahwa sebenarnya Sutowijoyo adalah “anak
    gelap” Hadiwijoyo yang lahir dari gundiknya, tapi gosip ini belum
    pernah bisa dibuktikan sebab latar belakang diangkatnya Sutowijoyo
    sebagai anak angkat dari Hadiwijoyo mempunyai korelasi dengan
    hubungan Hadiwijoyo dengan Ki  Ageng Sela (buyut Sutowijoyo)
    yang tidak lain adalah guru dari Hadiwijoyo sewaktu ia belum
    menjadi Sultan Pajang.
    Dalam masa babat hutan Mentaok tersebut dan pada masa
    merencanakan pemberontakannya kepada Pajang inilah terdapat
    kisah bahwa Sutowijoyo dibantu oleh Nyai Ratu Kidul dengan bala
    bantuan pasukan lelembut dari Laut Selatan. 
    Saya berpendapat bahwa kisah Nyai Ratu Kidul memang sudah
    ada sejak jaman Panembahan Senopati ini, yang digunakan untuk
    memotivasi pasukan Mataram dan memperkecil nyali pasukan
    lawan. Dari berbagai kisah yang ada, pertemuan pertama Nyai Ratu
    Kidul dengan Sutowijoyo terdapat dua versi. Pertama, pada waktu
    Sutowijoyo melakukan babat hutan Mentaok (seperti kisah
    bertemunya Bima dengan Arimbi di hutan Amarta atau
    Wanamarta), atau versi kedua, pada waktu Sutowijoyo bertapa ngeli
    (membiarkan tubuhnya dibawa aliran air), ketika Sutowijoyo sudah
    mulai merencanakan untuk membangkang kepada pemerintahan
    Pajang. 
    Versi kedua tersebut dituturkan sebagai berikut: Sebelum
    Sutowijoyo melakukan pemberontakan kepada Pajang, ia pernah
    bertapa untuk meminta kepada Tuhan agar ia diberikan petunjuk
    untuk bisa mengayomi rakyatnya dan memerintah Mataram dengan
    adil dan makmur. Sutowijoyo bertapa dengan jalan  ngeli  atau
    membiarkan dirinya hanyut oleh aliran sungai. Ketika ia hanyut
    sampai di pertemuan antara sungai Gajah Wong dengan sungai
    Opak, dekat Desa Plered, maka di Laut Selatan terjadi badai yang
    meresahkan para “penghuninya”.  Nyai Ratu Kidul segera turun
    tangan, mencari penyebab badai  tersebut, sehingga menemukan
    Sutowijoyo yang sedang bertapa.
    Saat mengetahui Sutowijoyo, Nyai Ratu Kidul jatuh cinta oleh
    ketampanannya. Kemudian Nyai  Ratu Kidul bertanya, apa yang
    diinginkan Sutowijoyo sehingga menyiksa diri bertapa sehingga
    pengaruhnya menimbulkan kekacauan di Laut Selatan. Maka
    Sutowijoyo menyampaikan maksud bahwa ia ingin menjadi raja
    Mataram yang nantinya bisa membawa rakyatnya kepada
    kesejahteraan. Lalu Nyai Ratu Kidul bersedia membantu Sutowijoyo
    dengan syarat harus disepakati kontrak yang klausulnya
    menyatakan bahwa Sutowijoyo dan raja-raja keturunannya harus
    memperisteri Nyai Ratu Kidul. Maka Sutowijoyo menyepakati
    kontrak tersebut, dan ia mengakhiri tapanya.
    Sejak itu, berkembanglah opini publik di Mataram yang
    mendengung-dengungkan bahwa Sutowijoyo didukung oleh
    Penguasa Laut Selatan. Tidak hanya itu; Nyai Ratu Kidul konon juga
    memerintahkan kepada penguasa Gunung Merapi untuk
    mendukung dan membantu Sutowijoyo. 
    Informasi tersebut tidak hanya berkembang di dalam Mataram,
    tetapi juga sampai ke luar Mataram. Untuk mendukung opini dan
    kepercayaan masyarakat Jawa maka tentara Mataram dibekali
    dengan Bendhe Kyai Becak (sebuah alat gamelan seperti gong kecil).
    Bendhe Kyai Becak tersebut selalu dipukul oleh tentara Mataram
    dalam peperangan dengan isu untuk mendatangkan bala bantuan
    dari para lelembut. Inilah yang menjatuhkan semangat lawan-lawan
    Mataram, sehingga dalam berbagai pertempuran pasukan Mataram
    berhasil menang.

     
  • tituitcom 21.41 on 27 August 2012 Permalink  

    NYAI RATU KIDUL DAN PENGUASA MATARAM 

    Memang gelap gulita, tidak ada  catatan sejarah tentang kapan mulainya kisah Nyai Ratu Kidul tersebut muncul. Beberapa analisis menyatakan bahwa kisah Nyai Ratu Kidul sengaja dimunculkan pada jaman ketika Mataram telah kehilangan kekuasaannya terhadap Laut Utara Jawa yang dikuasai VOC.

    Memang gelap gulita, tidak ada  catatan sejarah tentang kapan
    mulainya kisah Nyai Ratu Kidul tersebut muncul. Beberapa analisis
    menyatakan bahwa kisah Nyai Ratu Kidul sengaja dimunculkan pada
    jaman ketika Mataram telah kehilangan kekuasaannya terhadap Laut
    Utara Jawa yang dikuasai VOC. 
    Pada tahun 1743 VOC mengadakan perjanjian dengan Paku
    Buwono II yang sedang dalam keadaan sakit, yang isinya:
    (1)  VOC berkuasa atas sepanjang pantai utara Jawa serta ke pedalaman
    sampai batas 6 kilometer;
    (2)  Semua Bupati pesisir utara Jawa sebelum memangku jabatannya
    harus bersumpah setia kepada VOC.

     Dugaan tersebut pernah dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer
    pada waktu ia menerima hadiah Magsaysay tahun 1995 di Manila
    (geocities.com, 2004). 
    Pada umumnya para analis memang tidak bisa secara pasti, kapan
    kali pertama munculnya kepercayaan Nyai Ratu Kidul. Maka tulisan ini

    akan lebih banyak mengambil dasar-dasar dari cerita yang telah
    berkembang tentang Nyai Ratu Kidul tersebut, dan sedikit-banyak turut
    serta untuk memberikan pendapat tentang kapan, dengan motif apa,
    serta menilai kebenaran dari kepercayaan Nyai Ratu Kidul.

     
  • tituitcom 17.56 on 25 August 2012 Permalink  

    aneka jenis tuhan dari berbagai aliran agama dan kebudayaan 

    Jumat, 2 Juli 2010 – ini adalah daftar nama dewa, dewi, dan aneka jenis tuhan dari berbagai aliran agama dan kebudayaan. Mungkin ini yang terlengkap di internet.

    Saat manusia belum mengenal metode ilmiah dan fakta ilmiah, manusia umumnya menisbahkan segala fenomena alam yang misterius pada kekuatan ghaib, pada dewa-dewi dan sebagainya. Saat ini orang non ilmiah juga masih sering memakai penjelasan ini dengan mengatakan kalau bencana alam merupakan cobaan tuhan, peringatan tuhan, atau bahkan hukuman tuhan. Berikut daftar semua tuhan atau dewa-dewi yang dipakai manusia untuk menjelaskan fenomena alam. Nama-nama ini semuanya setara, mereka tidak terbukti ada. Dan kita juga punya penjelasan ilmiah untuk setiap fenomena. Dan penjelasan tersebut dapat terus kita kaji ulang dan pantau.
    1. Aah = tuhan bulan Mesir
    2. Abassi = Tuhan Efik (Nigeria)
    3. Abgal = Tuhan kebijaksanaan mesopotamia
    4. Abuk = Tuhan Dinka (Sudan)
    5. Abandinus = tuhan Celtic
    6. Abangui = Tuhan Guarani
    7. Acan = Tuhan anggur Maya
    8. Acantuns = Tuhan maya
    9. Acat = Tuhan Tattoo Maya
    10. Achelois = Tuhan bulan yunani
    11. Achelous = Tuhan sungai yunani
    12. Acheron = Tuhan sungai yunani
    13. Achimi = Tuhan Kalyl (Aljazair)
    14. Acvhtonian = Tuhan bumi dan bawah tanah yunani
    15. Acolmiztli = Tuhan bawah tanah Aztek
    16. Acuecucyoticihuati = Tuhan samudera dan sungai aztek
    17. Ac Yanto = Tuhan kulit putih Maya
    18. Adad = Tuhan badai Babilonia
    19. Adekagagwa = Tuhan Indian Iroquois
    20. Adephagia = Tuhan perut yunani
    21. Aditya = Tuhan Hindu
    22. Adonis = tuhan nafsu yunani
    23. Adrammelech = Tuhan matahari Mesopotamia
    24. Adrasteia = Tuhan sumban gan suci yunani
    25. Adriambahomanana = Tuhan pisang madagaskar sekaligus manusia pertama
    26. Adro = Tuhan Lugbara
    27. Adroa = Tuhan Lugbara (Uganda)
    28. Aegir = Tuhan Norse
    29. Aeolos = Tuhan angin selatan yunani
    30. Aer = Tuhan atmosfer bawah yunani
    31. Aether = tuhan atmosfer atas Yunani
    32. Aethon = Tuhan kelaparan yunani
    33. Aetna = Tuhan gunung berapi yunani
    34. Agave = Tuhan yunani
    35. agdistes = tuhan yunani
    36. Aglaia = tuhan yunani
    37. Agoue = Tuhan pelindung kapal dan nelayan karibia
    38. Age = Tuhan Dahomey
    39. Agni = Tuhan Hindu
    40. Agwe = tuhan karibia
    41. Ahanjoku = Tuhan Ibo
    42. Ahawkin = Tuhan matahari Maya
    43. Ah Bolom Tzacab = Tuhan aristokrasi Maya
    44. Ah Ciliz = Tuhan gerhana Maya
    45. Ah Cuxtal = Tuhan kelahiran Maya
    46. Ah Hulneb = Tuhan perang Maya
    47. Ah Muzen Cab = Tuhan lebah Maya
    48. Aholi = Tuhan Indian Hopi
    49. Ah Peku = Tuhan petir Maya
    50. Ah Puch = Tuhan kematian Maya
    51. Ahsonutli = Tuhan Navaho
    52. Ahti = Tuhan laut, danau dan sungai Finnish
    53. Ahti = tuhan mesir
    54. Ah Tzul = Tuhan kalajengking Maya
    55. *Ahura Mazda = Satu-satunya Tuhan Zoroaster*
    56. *Ahurani = Tuhan air jernih persia
    *
    57. Aida Wedo = Tuhan kesuburan karibia*
    *
    58. Aine = tuhan laut Celtic
    59. Aion = tuhan waktu phoenicia
    60. Airmid = tuhan penyembuh Celtic
    61. Aizen Myo = TuhAn penekan nafsu jepang
    62. Aja = Tuhan matahari Babilonia
    63. Aja = Tuhan Yoruba
    64. Aje = Tuhan Yoruba
    65. Ajisu = Tuhan penuasa samudera akhirat mesopotamia
    66. Ajisuki Takahino Ne = Tuhan petir Jepang
    67. *Ajok = Satu-satunya Tuhan Latuko (Sudan)*
    68. *Akbul = Tuhan kegelapan Maya
    *
    69. *Ake = Tuhan mangaia
    *
    70. Aken = Tuhan mesir
    71. Aker = tuhan bumi dan penjaga gerbang kematian mesir
    72. Akka = tuhan bumi Finnish
    73. Akongo = Tuhan pencipta* *Ngombe (Kongo)
    74. Ala = Tuhan Ibo
    75. Alaghom Naom = Tuhan pikiran Maya
    76. Alalus = Tuhan langit sumeria
    77. Alcemana = tuhan yunani
    78. Alectrona = tuhan matahari yunani
    79. Aleyin = Tuhan penjaga air phoenicia
    80. *Allah = Satu-satunya Tuhan Islam*
    81. Allowatsamika = Tuhan Latvia
    82. Almudj = Tuhan pencipta aborigin
    83. Alourua = tuhan pencipta Baule (pantai gading)
    84. Alpheos = Tuhan sungai yunani
    85. Altjira = Tuhan mimpi Aborigin
    86. Alpan = Tuhan Etruscan (Italia kuno)
    87. Amaethon = tuhan pertanian Welsh
    88. Ama no minaka nushi = Tuhan langit tengah jepang
    89. Aman Sinaya = Tuhan pencipta Tagalog
    90. Amaterasu = Tuhan matahari jepang
    91. Amathaunta = Tuhan laut mesir
    92. Amatsu Mikaboshi = Tuhan kejahatan jepang
    93. Amaunet = tuhan angin utara mesir
    94. Ame no Uzume = Tuhan kesuburan jepang
    95. Amenhotep = tuhan arsitektur , bangunan dan konstruksi mesir
    96. Ament = tuhan bawah tanah mesir
    97. Amidha Buddha = Tuhan Buddha jepang
    98. Amihan = Tuhan pencipta tagalog
    99. Amma = tuhan pencipta Dogon (Mali)
    100. Ammit = tuhan pemakan jiwa mesir
    101. Ammon = tuhan berkepala kambing libya
    102. Amn = tuhan tak terlihat mesir
    103. *Amotken = Satu-satunya Tuhan Indian Salish*
    104. Amphitrite = Tuhan yunani*
    *
    105. Amsit = tuhan mesir*
    *
    106. Amun = tuhan angin dan udara mesir
    107. Amun Ra = tuhan gabungan amun dan ra mesir
    108. Amurru = Tuhan pegunungan Akkadia
    109. An = Tuhan Sumeria
    110. Anahita = Tuhan air persia
    111. Anahiz = Tuhan persia
    112. Anammelech = Tuhan bulan Mesopotamia
    113. Ananke = Tuhan takdir yunani
    114. Anansi = Tuhan Ashanti (Ghana)
    115. Anat = tuhan perang mesir
    116. Anath = Tuhan cinta CAnaan
    117. Andjeti = Tuhan kelahiran kembali mesir
    118. Andriamahilala = tuhan bulan madagaskar sekaligus wanita pertama
    119. Angoi = tuhan kalimantan selatan
    120. Angra Mainyu = Tuhan Zoroaster
    121. Angwusna Somtaka = Tuhan Hopi
    122. Anhur = Tuhan pejuang mesir
    123. Anit = tuhan bawah tanah mesir
    124. Ankhet = Tuhan nil mesir
    125. Anouke = tuhan pemanah dalam perang mesir
    126. Anshar = Tuhan langit mesopotamia
    127. Antenociticus = tuhan Celtic
    128. Antero Vipunen = Tuhan raksasa Finnish
    129. Anteros = Tuhan cinta yunani
    130. Anti = tuhan pengelana mesir
    131. Anu = Tuhan langit tertinggi Mesopotamia
    132. Anubis = Tuhan Mumi, sahabat roh mati Mesir
    133. Anunnaki = Tuhan kegelapan babilonia
    134. Apollo = Tuhan ROmawi dan Yunani
    135. Ao Chin = tuhan naga samudera selatan cina
    136. Ao jun = Tuhan naga samudera barat Cina
    137. Aokeu = Tuhan lautan Mangaia
    138. Ao kuang = Tuhan naga samudera timur
    139. Aonghus = Tuhan cinta Celtic
    140. Ao Shun = tuhan naga samudera utara Cina
    141. Apaec = Tuhan pencipta Inca
    142. Apate = Tuhan kebohonngan yunani
    143. Apedemak = Tuhan matahari Sudan
    144. Aphrodite = Tuhan Yunani
    145. Apocatequil = Tuhan petir Inca
    146. Apoyan Tachi = Tuhan Indian Zuni
    147. Apsu = Tuhan air manis mesopotamia
    148. Apu Illapu = Tuhan petir inca
    149. Arachne = Tuhan laba-laba yunani
    150. Arawn = Tuhan dunia lain Celtic
    151. Arebati = Tuhan Pygmy (Kongo Timur)
    152. Arensnuphis = Tuhan Nubia
    153. Ares = Tuhan Yunani
    154. Arianrhod = tuhan Celtic
    155. Arinna = Tuhan matahari hittite
    156. Arion = tuhan kuda yunani
    157. Aristaeus = tuhan peternakan yunani
    158. Arnemetia = tuhan sungai Celtic
    159. Artemis = Tuhan perburuan Yunani
    160. Artio = Tuhan beruang Celtic
    161. *Asa = SAtu-satunya Tuhan Akamba (Kenya tengah)*
    162. Asaseya = Tuhan Ashanti
    163. Asclepius = Tuhan perobatan yunani
    164. ASherah = Tuhan air Kanaan
    165. Ashima = Tuhan Samaria
    166. Ashur = Tuhan perang asiria
    167. Asopus = tuhan sungai yunani
    168. Astarte = Tuhan kesuburan Kanaan
    169. Asteria = tuhan yunani
    170. Astraea = Tuhan yunani
    171. Astraeus = Tuhan empat angin yunani
    172. Astronoe = Tuhan Kanaan
    173. Astunah = Tuhan tanah ugarit (Israel utara kuno)
    174. Asura = Tuhan hindu
    175. Aswini Kumara = Tuhan hindu
    176. Ataguchu = Tuhan Inca
    177. Atai = Tuhan Efik
    178. Atanua = Tuhan marquesan
    179. Ataokoloinona = Tuhan madagaskar
    180. Atar = Tuhan api persia
    181. Ate = Tuhan obsesi yunani
    182. Atea = Tuhan polinesia
    183. *Aten = Tuhan monoteisme mesir*
    184. Aten Ra = Gabungan aten dan Ra mesir
    185. Athamas = Tuhan anak yunani
    186. Athena = Tuhan Yunani
    187. Atlas = tuhan angkat berat yunani
    188. Atlatonan = tuhan bumi dan air aztek
    189. Atnatu = Tuhan pencipta Kaitish
    190. Atropos = Tuhan takdir yunani
    191. Attis = Tuhan tanaman yunani
    192. Atum = Tuhan pencipta mesir
    193. Atum Ra = Gabungan Atum dan Ra mesir
    194. Auseklis = Tuhan Latvia
    195. Awit clin Tsa = Tuhan indian zuni
    196. Awona wilona = Tuhan indian zuni
    197. Axomamma = Tuhan kentang Inca
    198. Aya = Tuhan fajar mesopotamia
    199. Ayaba = Tuhan Dahomey
    200. Ayar = Tuhan Inca
    201. Ayar Acar = Tuhan Inca
    202. Ayar Cachi = Tuhan Inca
    203. Ayar Colo = Tuhan Inca
    204. Ayar Mancho = Tuhan Inca
    205. Ayauhteotl = Tuhan kabut aztek
    206. Ayyapan = Tuhan Hindu
    207. Aywell = Tuhan Celtic
    208. Azacca = Tuhan kesuburan Haiti
    209. Azeban = Tuhan abenaki
    210. Azrail = Tuhan Hausa Tunisia
    211. Ba = tuhan kesuburan Mesir
    212. Baal = Tuhan perang Kanaan
    213. Babalu Aye = Tuhan yoruba
    214. Baba yanmi = Tuhan yoruba
    215. Babbar = tuhan shamash sumeria
    216. Babi = Tuhan bawah tanah Mesir
    217. Bacabs = Tuhan-tuhan empat mata angin maya
    218. Bacchus = Tuhan romawi
    219. Backlum Chaam = Tuhan maskulin Maya
    220. Badb = Tuhan perang irlandia
    221. Bagadjimbiri = Tuhan Karadjeri (australia)
    222. Baiame = Tuhan aborigin
    223. Ba ja = tuhan Cina
    224. Balac = Tuhan perang maya
    225. Baldur = Tuhan Norse
    226. Balioe = Tuhan Nias
    227. Bamapana = Tuhan Aborigin
    228. Banaitja = Tuhan Aborigin
    229. Banebdjetet = tuhan arbitrasi mesir
    230. Banga = tuhan Nbandi
    231. Bangputtis = Tuhan Baltik
    232. Ba pef = Tuhan kesengsaraan mesir
    233. Barasi Loeloe = Tuhan Nias
    234. Baron Samedi = tuhan karibia
    235. Baset = Tuhan perlindungan rumah mesir
    236. Bast = Tuhan kucing mesir
    237. Bastet = Tuhan mesir
    238. Bat = Tuhan kesuburan mesir
    239. Batara Guru = Tuhan Batak
    240. Bathala = Tuhan pencipta Tagalog
    241. Bean Nighe = Tuhan Celtic
    242. Begochiddy = Tuhan pencipta Navajo
    243. Belachina = Tuhan kematian Maya
    244. Belatucadros = tuhan perang dan kehancuran Celtic
    245. Belenus = Tuhan matahari Celtic
    246. Beletseri = Tuhan rahasia mesopotamia
    247. Belisama = tuhan sungai Celtic
    248. Bellin bellin = Tuhan angin Wurundjeri
    249. Belobog = Tuhan Slavic
    250. Bendis = Tuhan Dacian (Romania)
    251. Ben Elaba = Tuhan perang matahari maya
    252. Benzaitan = Tuhan uang, kharisma dan pengetahuan Jepang
    253. Bes = Tuhan pelindung setan, kelahiran dan hiburan mesir
    254. Beydo = Tuhan rahasia alam Maya
    255. Bia = tuhan kekuatan yunani
    256. Bia = Tuhan ashanti
    257. Bian Cheng Wang = tuhan Cina
    258. Bike Hozho = Tuhan indian navaho
    259. Bildjiwuaroju = Tuhan pencipta Wulumba (Australia)
    260. Binbeal = Tuhan pelangi Kulin dan Wurunjerri
    261. Binola = Tuhan burung abenaki
    262. Birrahgnooloo = Tuhan kesuburan dan banjir Kamilaroi (Australia)
    263. Bishamon = Tuhan kesenangan dan perang Jepang
    264. Boann = tuhan air Celtic
    265. Bobbi-bobbi = Tuhan Aborigin
    266. Bodb = tuhan pejuang Irlandia
    267. Bodb Dearg = tuhan Celtic
    268. Bolon Tiku = Tuhan bawah tanah maya
    269. Bolontzacab = Tuhan petir dan api maya
    270. Bomazi = tuhan Kongo
    271. Bondye = Tuhan karibia
    272. Boreads = Tuhan yunani
    273. Boreas = Tuhan angin utara yunani
    274. Borvo = tuhan air panas Celtic
    275. Bragi = Tuhan Norse
    276. Brahma = Tuhan hindu
    277. Bran = Tuhan Celtic
    278. Brekyinhu Nuade = Tuhan Akan (Ghana)
    279. Brigit = Tuhan peri Celtic
    280. *Buddha = satu-satunya Tuhan Buddha Mahayana*
    281. Buk = tuhan sungai, dan kehidupan Buer (Sudan)
    282. Buku = Tuhan langit afrika barat
    283. Buluc Chabtan = Tuhan perang Mya
    284. Buluk Kab = Tuhan banjir Maya
    285. Bumazi = Tuhan Bushongo (Kongo)
    286. Bumba = Than muntah Bushongo
    287. Bunbulama = Tuhan hujan aborigin
    288. Bunjil = Tuhan Aborigin
    289. Buto = tuhan mesir
    290. Cabrakan = tuhan pegunungan Maya
    291. Cacoch = Tuhan pencipta Maya
    292. Cadmus = tuhan yunani
    293. Caer = Tuhan peri Celtic
    294. Cagn = Tuhan bushmen kalahari
    295. Cai Shen = Tuhan pembangunan dan keberuntungan Cina
    296. Cakulha = Tuhan petir Maya
    297. Calliope = tuhan puisi yunani
    298. Callisto = Tuhan beruang besar yunani
    299. Calypso = tuhan kesunyian yunani
    300. Cama Zotz = Tuhan kelelawar Maya
    301. Camulus = tuhan perang Essex
    302. Candit = Tuhan sungai Nuer
    303. Can Nu = tuhan ulat sutera Cina
    304. Canopus = Tuhan Indian Lakota
    305. Cao Guojiu = Tuhan Cina, satu dari 8 yang abadi, buangan kerajaan
    langit
    306. Carldwen = tuhan jagung dan pelindung pujangga Celtic
    307. Castor = tuhan yunani
    308. Catequil = tuhan petir dan kilat Inca
    309. Cauac = Tuhan kuning Maya
    310. Cavillaca = Tuhan Inca
    311. Centeotl = Tuhan jagung aztec
    312. Centzon Totochin = Tuhan kelinci Aztek
    313. Centzonuitznaua = tuhan matahari aztek
    314. Ceres = Tuhan Romawi
    315. Ceridwen = Tuhan Celtic
    316. Cernunnus = tuhan rusa Celtic
    317. Ceto = Tuhan masalah di laut yunani
    318. *Cghene = satu-satunya Tuhan Isoko (Nigeria)*
    319. Chac = Tuhan hujan Maya
    320. Chacmool = Tuhan misterius maya
    321. Chac Uayeb Xoc = Tuhan ikan dan nelayan Maya
    322. Chac Xib Chac = Tuhan hiu Maya
    323. Chalchilihtlicue = Tuhan air mengalir aztec
    324. Chalchiuhtelecolotl = Tuhan burung hantu aztek
    325. Chalchiuhtotolin = Tuhan misteri Aztek
    326. Chalmecatecuhtli = Tuhan bawah tanah dan pengorbanan aztek
    327. Chang O = Tuhan bulan China
    328. Chango = tuhan petir, genderang dan tarian yoruba
    329. Chantico = Tuhan kesehatan, api dan gunung berapi Aztec
    330. Chaos = tuhan kekosongan dan kebimbangan yunani
    331. Charon = Tuhan bawah tanah Yunani
    332. Charybdis = Tuhan yunani
    333. Chasca = Tuhan fajar Inca
    334. Chasca Coyllur = Tuhan bunga dan pelindung keperawanan Inca
    335. Chedi bumba = Tuhan bushongo
    336. Chelone = tuhan kura-kura yunani
    337. Chemosh = Tuhan perang Moab
    338. Cheng Huang = Tuhan pelindung kota Cina
    339. Chenti ceti = Tuhan buaya dan elang mesir
    340. Chenti irti = Tuhan keteraturan dan hukum mesir
    341. Cherti = Tuhan Mesir
    342. Chiccan = Tuhan hujan Maya
    343. Chichikrai = Tuhan kristen amerindian
    344. Chicomeccatl = Tuhan jagung dan kesuburan Aztec
    345. Chicomexochtli = Tuhan pelukis Aztek
    346. Chiconahuiehecatl = Tuhan pemberi kemiskinan Aztek
    347. Chimalman = Tuhan Aztek
    348. Chimata no kami = Tuhan jalan simpang dan setapak jepang
    349. Chione = Tuhan salju yunani
    350. Chiron = Tuhan yunani
    351. *Chiuta = Satu-satunya tuhan Tumbuka (Zaire Timur)*
    352. Chi You = Tuhan Cina
    353. Chloris = tuhan bunga yunani
    354. Chronos = tuhan waktu yunani
    355. Chonganda = Tuhan bushongo
    356. Chontamenti = Tuhan kematian mesir
    357. Chuang kong = tuhan kamar tidur cina
    358. Chuang Mu = tuhan ranjang Cina
    359. Chuku = Tuhan ibo
    360. Chup Kamui = Tuhan matahari Ainu
    361. Cian = Tuhan Celtic
    362. Cihuacoatl = Tuhan penanda perang aztek
    363. Cinteotl = tuhan jagung Aztek
    364. Cipactli = tuhan buaya Aztek
    365. Cipactonal = Tuhan astrologi Aztek
    366. Circe = tuhan yunani
    367. Cislobog = Tuhan slavik
    368. Cit Bolon Tum = Tuhan obat-obatan Maya
    369. Clio = tuhan yunano
    370. Cliodhna = tuhan Celtic
    371. Clota = Tuhan sungai Celtic
    372. Clotho = Tuhan yunani
    373. Clymene = tuhan ketenaran yunani
    374. Coatlicue = Tuhan bumi dan api aztek
    375. Cochimetl = Tuhan perdagangan aztek
    376. Cocomama = Tuhan kesehatan, kegembiraan dan narkotika Inca
    377. coeus = tuhan kecerdasan dan pemikiran mendalam yunani
    378. Colicha Cozee= Tuhan Maya
    379. Comus = Tuhan komedi yunani
    380. Coniraya = Tuhan pencipta Inca
    381. Copacati = Tuhan danau Titicaca Inca
    382. Copijcha = Tuhan hujan Maya
    383. Coqueelda = Tuhan kaktus Maya
    384. Coquenexo = Tuhan perkalian Maya
    385. Coqui Bezelao = Tuhan kematian Zapotec
    386. Coqui Huani = Tuhan cahaya Zapotec
    387. Coqui Xee = Tuhan ketakhinggaan Zapotec
    388. Cotytto = Tuhan yunani
    389. Coyolxauhqui = Tuhan aztek
    390. Coyopa = Tuhan petir Maya
    391. Cozaana = Tuhan pencipta Zapotec
    392. Crabman = Tuhan Inca
    393. Crnobog = Tuhan Slavik
    394. Crenus = Tuhan Yunani
    395. Crius = tuhan yunani
    396. Crom Cruiach = tuhan persembahan irlandia
    397. Cronus = tuhan yunani
    398. Cuaxolotl = Tuhan jantung aztek
    399. Cybele = Tuhan pegunugan dan vhewan liar yunani
    400. Cupid = Tuhan Romawi
    401. Dagan = Tuhan laut Philistine
    402. Dagda = Tuhan Irlandia
    403. Dagon = Tuhan pertanian HEbrew
    404. Dajbog = Tuhan Slavic
    405. Damkina = Tuhan Bumi Mesopotamia
    406. Damu = Tuhan pertanian Sumeria
    407. Danu = Tuhan angin, kebijaksanaan dan kesuburan Celtic
    408. Daramulum = Tuhan Aborigin
    409. Da Yu = tuhan banjir Cina
    410. Dechtire = tuhan Celtic
    411. Daquebuth = Tuhan Skagit
    412. Darana = Tuhan pencipta australia
    413. Dattatreya = Tuhan Hindu
    414. Dedun = Tuhan kekayaan mesir
    415. Deimos = tuhan rasa takut yunani
    416. Dekla = Tuhan Latvia
    417. Demeter = Tuhan Yunani
    418. Deng = tuhan pencipta dinka
    419. Denka = Tuhan Dinka
    420. Deucalion = tuhan pencipta yunani
    421. Dewi sri = Tuhan jawa
    422. Dhakhan = Tuhan Kabikabi (Australia)
    423. Diana = Tuhan Romawi
    424. Dian Cecht = tuhan penyembuh Celtic
    425. Dievs = Tuhan Latvia
    426. Di jun = Tuhan timur dan ayah dari 10 matahari Cina
    427. Di Kang Wang = tuhan hantu bawah tanah cina
    428. Dike = tuhan keadilan yunani
    429. Dilga = Tuhan kesuburan Aborigin
    430. Dione = tuhan yunani
    431. Dionysus = Tuhan Yunani
    432. Dioscuri = tuhan yunani
    433. Diwata = Tuhan dayak maanyan
    434. Djanggawul = Tuhan pencipta Aborigin
    435. Domfe = Tuhan hujan, air, sungai dan taman kurumba
    436. Don = tuhan ibu Celtic
    437. Dongo = Tuhan petir songhai
    438. Donn = Tuhan bawah tanah Celtic
    439. Doris = tuhan laut yunani
    440. Dua = Tuhan toilet mesir
    441. Duamutef = Tuhan mesir
    442. Dubdo = Tuhan jagung Zapotec
    443. Dumuzi = Tuhan kesuburan sumeria
    444. Durga = Tuhan Hindu
    445. Du Shi Wang = Tuhan neraka Cina
    446. Dyaush Pita = Tuhan Hindu
    447. Dylan = tuhan laut Celtic
    448. Dziva = Tuhan pencipta Shona
    449. Ea = Tuhan Kebijaksanaan Babilonia
    450. Eagentei = Tuhan Indian Seneca
    451. Ebore = Tuhan yoruba
    452. Echo = tuhan pengalih perhatian yunani
    453. Edinkira = Tuhan pohon afrika
    454. Efnisien = tuhan Celtic
    455. Egungun Oya = Tuhan Yoruba
    456. Ehecatl = Tuhan angin Aztek
    457. Eirene = Tuhan yunani
    458. Eileithya = Tuhan kelahiran yunani
    459. Eingana = Tuhan ibunda umat manusia dan hewan Aborigin
    460. Eiocha = Tuhan Celtic
    461. Ek Chuah = Tuhan Perdagangan Maya
    462. Ekkekko = Tuhan Inca
    463. Ekurana = Tuhan Mitsogo – Gabon, and Fang
    464. Ek Zip = Tuhan perburuan rusa Maya
    465. El = Tuhan pencipta Kanaan
    466. Elatha = Tuhan Celtic
    467. Electra = Tuhan awan yunani
    468. Electra = Tuhan yunani
    469. Elegua = Tuhan jalan, asal usul dan kesempatan Yoruba
    470. Elpis = tuhan harapan yunani
    471. Enekpe = Tuhan takdir Afrika
    472. * *
    473. Enkai = Tuhan ternak masai
    474. Enki = Tuhan pencipta Sumeria
    475. Enkidu = Tuhan gilgamesh mesopotamia
    476. Enlil = Tuhan cuaca dan badai Akkadia
    477. Enmessara = Tuhan Mesopotamia
    478. Ennugi = Tuhan sumeria
    479. Enurta =Tuhan perang mesopotamia
    480. Enyo = tuhan perang, darah dan kekerasan yunani
    481. Eos = Tuhan fajar yunani
    482. Epaphus = Tuhan yunani
    483. Epimetheus = tuhan pencipta yunani
    484. Epione = Tuhan penyembuh yunani
    485. Epona = Tuhan kesuburan Celtic
    486. Epunamun = Tuhan perang inca
    487. Era = Tuhan wabah babilonia
    488. Erathipa = Tuhan kehamilan aborigin
    489. Erato = Tuhan lagu cinta yunani
    490. Erebus = Tuhan kegelapan yunani
    491. Ereshkigal = Tuhan kegelapan sumeria
    492. Erichthonius = tuhan bumi yunani
    493. Eris = tuhan lagu sumbang yunani
    494. Eriu = Tuhan Irlandia
    495. Er Lang = Tuhan Cina
    496. Erlik = tuhan finnish
    497. Eros = tuhan cinta yunani
    498. Erzulie = Tuhan cinta, romansa, kecantikan dan feminisme karibia
    499. Erzulie Freyda = Tuhan cinta Karibia
    500. Erzulie Ge Rouge = tuhan mata merah Karibia
    501. Erzulie Mapiangueh = Tuhan keadilan karibia
    502. Erzulie toho = tuhan cinta karibia
    503. Erzulie dantor = tuhan kebencian karibia
    504. Esaugetuh Emissee = Tuhan pencipta Creek
    505. Eseasar = Tuhan bumi yoruba
    506. Eshmun = Tuhan penyembuh Kanaan
    507. Eshu = Tuhan kesempatan dan kmunikasi Yoruba
    508. Estana teltri = Tuhan Navaho
    509. Esus = Tuhan perang Gallic
    510. Etain = Tuhan celtic
    511. Etznab = Tuhan pengorbanan Maya
    512. Eunomia = tuhan keteraturan yunani
    513. Euphrosyne = tuhan kegembiraan yunani
    514. Eurus = Tuhan angin timur yunani
    515. Eurynome = tuhan samudera yunani
    516. Euterpe = tuhan kegembiraan yunani
    517. Eurybia = tuhan laut yunani
    518. Fa = Tuhan takdir Yoruba
    519. Fand = Tuhan celtic
    520. Fan Kui = tuhan pembantai Cina
    521. Faro = Tuhan pencipta bambara
    522. Fea = Tuhan Celtic
    523. Fei Lian = tuhan angin Cina
    524. Findbhair = tuhan Celtic
    525. Finuweigh = Tuhan pencipta Bilan
    526. Firlbolg = tuhan Celtic
    527. Fo Hi = tuhan Cina
    528. fomorii = tuhan Celtic
    529. Freya = Tuhan Norse
    530. Freyr = Tuhan Norse
    531. Frigg = Tuhan Norse
    532. Fuamnach = Tuhan kecemburuan Celtic
    533. Furies = tuhan keadilan yunani
    534. Fu Xi = tuhan kreativitas, kesenian dan kerajinan Cina
    535. Fu Xing = tuhan kegembiraan dan nasib baik Cina
    536. Gaia = Tuhan yunani
    537. Galeru = Tuhan aborigin
    538. Gamab = Tuhan Khoikhoi (Capetown afsel)
    539. Ganesha =Tuhan Hindu
    540. Ganga = Tuhan Hindu
    541. Gaol = Tuhan Iroquois
    542. Gao Yao = tuhan keadilan dan hukuman cina
    543. Garuda = Tuhan Hindu
    544. Gaunab = Tuhan Xhosa
    545. Geb = Tuhan bumi mesir
    546. Gebeleizis = Tuhan dacian
    547. Gendenwatha = Tuhan iroquois
    548. Geshtinanna = Tuhan anggur sumeria
    549. Ghede = Tuhan kematian haiti
    550. Ghekre = Tuhan monyet baule
    551. Gibil = Tuhan api babilonia
    552. Gilgamesh = Tuhan mesopotamia
    553. Gleti = Tuhan Dahomey
    554. Glaucus = tuhan nelayan yunani
    555. Glispa = Tuhan Navaho
    556. Gloudu = Tuhan Dahomey
    557. Gluskop = Tuhan penjaga abenaki
    558. Gnowee = Tuhan pembawa matahari Aborigin
    559. Goanna = tuhan abirigin
    560. Gohone = Tuhan Iroquois
    561. Goibhniu = Tuhan Celtic
    562. Gong Dietan = Tuhan keberuntungan Cina
    563. Graces = tuhan kharisma yunani
    564. Gran met = Tuhan pencipta karibia
    565. Grannus = tuhan penyembuh Gaul
    566. Gu = Tuhan peralatan Dahomey
    567. Guan Di = Tuhan perang dan seni beladiri Dao
    568. Guan Yin = Tuhan kasih sayang Cina
    569. Gucamatz = Tuhan pencipta Maya
    570. Gula = Tuhan kesehatan sumeria
    571. Gulses = Tuhan takdir Hittite
    572. Gun = Tuhan bumi Cina
    573. Gunapipi = Tuhan aborigin
    574. Guo Ziyi = tuhan kegembiraan dan kekayaan Cina
    575. Gyhldeptis = Tuhan Haida (150 pulau di BC Kanada)
    576. Ha = Tuhan barat mesir
    577. Hades =tuhan bawah tanah yunani
    578. Huh = Tuhan langit dan ketakhinggaan mesir
    579. Hadad = Tuhan cuaca mesopotamia
    580. Hadau = Tuhan pencipta Orok dari Sakhalin
    581. Hades = Tuhan yunani
    582. Hagones = Tuhan Seneca
    583. Hahgweh daet gan = Tuhan iroquois
    584. Hahgweh diyu = Tuhan iroquois
    585. Hahhimas = Tuhan penghancur Hittite
    586. Haitse Aibeb = Tuhan alam dan hewan Xhosa
    587. Haiuri = Tuhan Xhosa
    588. Haltia = tuhan Finnish
    589. Hannahanna = Tuhan bumi Hittite
    590. Hanuman = Tuhan Hindu
    591. Han Xiangzhi = tuhan cina, satu dari 8 yang abadi, filsuf terbang
    592. Hap = Tuhan mesir
    593. Hapi = Tuhan Nil dan kesuburan mesir
    594. Hare = Tuhan Yoruba
    595. Harmakhis = tuhan matahari mesir
    596. Harmonia = Tuhan keseimbangan yunani
    597. Har Nedj Hef = Tuhan mesir
    598. Haroeris = Tuhan cahaya mesir
    599. Har Pha Khere = Tuhan mesir
    600. Harpies = tuhan yunani
    601. Harpocrates = tuhan yunani
    602. Hastcoltoi = Tuhan Navaho
    603. Hasthegeon = Tuhan Navaho
    604. Hathor = Tuhan cinta dan musik mesir
    605. Hatmehit = Tuhan ikan mesir
    606. Hauhet = Tuhan ketakhinggaan mesir
    607. Haukah = Tuhan Lakota
    608. Haumia-tikitiki = Tuhan Rurutu
    609. Hawenniyo = Tuhan seneca
    610. Hebe = Tuhan keremajaan Yunani
    611. He Bo = tuhan sungai kuning Cina
    612. Hecate = Tuhan kebijaksanaan Yunani
    613. Hachakyum = Tuhan kejujuran Maya
    614. Hedetet = Tuhan kalajengking mesir
    615. Heget = Tuhan kelahiran mesir
    616. Heimdall = Tuhan Norse
    617. Heitsi eibib = Tuhan Khoikhoi
    618. Heket = Tuhan mesir
    619. Helios = Tuhan matahari Yunani
    620. Hemen = Tuhan elang mesir
    621. Hemera = Tuhan siang yunani
    622. Hemsut = tuhan takdir mesir
    623. Henet = tuhan pelikan mesir
    624. Hephaestus = Tuhan besi Yunani
    625. Heptet = Tuhan kebangkitan mesir
    626. Hera = Tuhan Yunani
    627. Herishep = Tuhan pemakan semut mesir
    628. Hermaphroditus = tuhan kelamin ganda yunani
    629. Hermes = Tuhan utusan Yunani
    630. Heru Behudti = Tuhan matahari terik Mesir
    631. Hesa = Tuhan susu mesir
    632. Hesperus = Tuhan bintang fajar yunani
    633. Hestia = Tuhan jantung Yunani
    634. He Xiangu = tuhan Cina, satu dari 8 yang abadi, penguasa bunga
    635. Hez Ur = Tuhan baboon mesir
    636. Hi-asa = Tuhan admiralty
    637. Hike = Tuhan obat-obatan mesir
    638. Hina = Tuhan Tahiti
    639. Hine-nui-a-te-po = Tuhan tahiti
    640. Hiruko = Tuhan matahari jepang
    641. *Hisagita imisi = satu-satunya tuhan indian Creek*
    642. Hodur = Tuhan Norse
    643. Ho – Masubi = Tuhan api jepang
    644. Horae = tuhan musim yunani
    645. Horos = Tuhan slavic
    646. Horus = Tuhan kepala elang mesir
    647. Hotei / Milofo = Buddha Maitreya modifikasi Cina
    648. Hou Ji = tuhan pertanian dan padi Cina
    649. Huai Nanzu = Tuhan Cina
    650. Huanca = Tuhan batu inca
    651. Huang Di = Tuhan Cina
    652. Huang Gun = Tuhan aroma Cina
    653. Huehuecoyotl = Tuhan pesta aztek
    654. Huehueteotl = Tuhan api kehidupan aztek
    655. Huichaana = Tuhan pencipta manusia Maya
    656. Huitzilopolochtli = Tuhan perang dan kesenangan aztec
    657. Huixtocihuatl = Tuhan garam aztek
    658. Hu Jingde = tuhan pintu Cina
    659. Hunab Ku = Tuhan pencipta Maya
    660. Hunahpu = Tuhan pencipta maya
    661. Hun Batz = Tuhan Maya
    662. Hun Came = Tuhan bawah tanah Maya
    663. Hun Choen = Tuhan kesenian Maya
    664. Hun Dun = Tuhan Chaos dan penciptaan Cina
    665. Hun Hunahpu = Tuhan kesuburan Maya
    666. Hun Nal = Tuhan jagung Maya
    667. Hun Pic Tok = Tuhan perang Maya
    668. Huracan = Tuhan angin Maya
    669. Huveane = Tuhan pencipta basuto
    670. Hyacinthus = Tuhan bunga yunani
    671. Hyel = Tuhan pabir dan bura nigeria
    672. Hygeia = tuhan kebersihan yunani
    673. Hymenaeus = tuhan pernikahan yunani
    674. Hyperion = tuhan yunani
    675. Hypnos = Tuhan tidur yunani
    676. Hyposaouranios = Tuhan bangunan Phoenician
    677. Iacchus = Tuhan yunani
    678. Iahamu = Tuhan mesopotamia
    679. Iambe = Tuhan humor yunani
    680. Iapetus = tuhan yunani
    681. Iat = Tuhan susu mesir
    682. Icovellauna = Tuhan penyembuh Gaul
    683. *Ida Sang Hyang Widhi Wasa = satu-satunya tuhan hindu bali*
    684. Idun = Tuhan Norse
    685. Igaluk = Tuhan eskimo inuit
    686. Ihoiho = Tuhan pencipta Society
    687. Ihu = Tuhan ternak Mesir
    688. Ihy = Tuhan tarian dan nyanyian Mesir
    689. Ilamatecuhtli = Tuhan Aztek
    690. Ilma = tuhan udara Finnish
    691. Ilmarinen = Tuhan besi Finnish
    692. Ilmatar = Tuhan udara dan pencipta Finnish
    693. Ilithiya = Tuhan kelahiran yunani
    694. Ilyapa = tuhan keramik inca
    695. Imana = Tuhan pencipta Banyarwanda
    696. Imentet = Tuhan barat mesir
    697. Imhotep = Tuhan kebijaksanaan, pengobatan dan sihir mesir
    698. Imuit = Tuhan perlindungan bawah tanah mesir
    699. Ina = Tuhan polinesia
    700. Inachus = tuhan sungai yunani
    701. Inani = Tuhan beras jepang
    702. Inanna = Tuhan lisan sumeria
    703. Inara = Tuhan pelindung hewan liar Hittite
    704. Indra = Tuhan india
    705. Inktomi = Tuhan pencipta Lakota
    706. Inmutef = Tuhan pemegang langit mesir
    707. Inti = Tuhan inca
    708. Io = tuhan yunani
    709. Io = Tuhan Oceania
    710. Ion = tuhan yunani
    711. *Iosheka = Satu-satunya tuhan huron (Ontario tengah kanada)*
    **
    712. Ipilya = tuhan petir aborigin
    713. Iptet = Tuhan kelahiran mesir
    714. I-Qong = Tuhan Banks
    715. Iris = tuhan pelangi yunani
    716. Isaf = Tuhan Arab
    717. Ishkur = Tuhan badai Sumeria
    718. Ishtar = Tuhan cinta mesopotamia
    719. Isis = Tuhan sihir mesir
    720. Iskur = Tuhan Sumeria
    721. Itherther = Tuhan sapi Kalyl
    722. Itzamna = Tuhan pencipta reptil maya
    723. Itzli = tuhan pengorbanan Aztek
    724. Itzpapalotl = Tuhan pertanian aztek
    725. Itztlacoliuhqui = tuhan bintang pagi aztek
    726. ix = Tuhan Maya
    727. Ix chel = Tuhan bulan maya
    728. Ix Chup = Tuhan bulan muda Maya
    729. Ixpiyacoc = Tuhan pencipta Maya
    730. Ixtab = Tuhan bulan bunuh diri Maya
    731. Ixtlilton = Tuhan kesembuhan, pesta dan permainan aztek
    732. Ix Tub Tun = Tuhan batu mulia Maya
    733. Izanagi = Tuhan pencipta jepang
    734. Izanami = Tuhan pencipta jepang
    735. *Jah = satu-satunya tuhan Rastafari*
    736. Jakuta = Tuhan petir Yoruba*
    *
    737. Jana = Tuhan-tuhan kematian sardinia
    738. Janus = Tuhan romawi
    739. Jaro = Tuhan Slavik
    740. Jata = Tuhan dayak
    741. *Jehovah = Satu-satunya tuhan kristen three in one
    *
    742. Joh = Tuhan bulan mesir*
    *
    743. Jok = Tuhan hujan Alur (Uganda)
    744. JoMulJu = Tuhan pencipta Korea
    745. Jubata = Tuhan Dayak
    746. Juksakka = Tuhan dukun beranak dan melahirkan Finnish
    747. Julana = Tuhan juma (Aborigin)
    748. Julunggul = Tuhan aborigin
    749. Jumala = Tuhan langit finnish
    750. Jun Di = Tuhan cahaya Dao
    751. Junkgowa = Tuhan laut dan segala isinya aborigin
    752. Juno = Tuhan Romawi
    753. Juok = Tuhan Dinka
    754. Jupiter = Tuhan Romawi
    755. Jurupari = Tuhan Guarani
    756. Kaakwha = Tuhan seneca
    757. Kaang = Tuhan pencipta bushmen
    758. Ka ata killa = Tuhan bulan Inca
    759. Kabundungulu = Tuhan Mbunda angola
    760. Kaccha dan Devyani = Tuhan Hindu
    761. Kagu Tsuchi = Tuhan api jepang
    762. Kaisar Giok = Tuhan langit Cina
    763. Kaka guie = tuhan roda baule
    764. Kali = Tuhan Hindu
    765. Kalma = Tuhan kematian Finnish
    766. Kalumba = tuhan pencipta lumba (Zaire)
    767. Kam = Tuhan huruf A’ Maya
    768. Kami kaze = Tuhan angin jepang
    769. Kan = Tuhan merah maya
    770. Kane milohai = Tuhan polinesia
    771. Kannon = Tuhan belas kasih jepang
    772. Kanu = Tuhan pencipta Baga (Guinea)
    773. Karora = Tuhan pencipta Aranda (australia)
    774. Kashiwa no kami = Tuhan pohon oak jepang
    775. Katonda = Tuhan pencipta uganda
    776. Kauket = Tuhan kegelapan dan kekacauan Mesir
    777. Kawano kami = Tuhan sungai jepang
    778. Kebechet = Tuhan ular mesir
    779. Kebechsenef = Tuhan mesir
    780. Ked =Tuhan kematian Zapotec
    781. Kedo = Tuhan hari keenam Zapotec
    782. Kee Zos En = Tuhan matahari Abenaki
    783. Kemwer = Tuhan sapi hitam mesir
    784. Ken = Tuhan venus mesir
    785. *Kewkwaxa’we = Satu-satunya tuhan Kwakiutl (pantai barat laut
    Amerika utara)*
    786. Khem = Tuhan kesuburan mesir*
    *
    787. Khepri = Tuhan pembaharuan mesir
    788. Khnum = Tuhan pencipta tembikar mesir
    789. Khonsu = Tuhan bulan dan waktu mesir
    790. Khonvoum = Tuhan Pygmi
    791. Khrisna = Tuhan hindu
    792. Khuno = tuhan cuaca inca
    793. Khuzwane = Tuhan pencipta Lovedu dan VhaVenda Afrika selatan
    794. Kidili = tuhan bulan aborigin
    795. Kied Kie Jubmel = Tuhan rusa Finnish
    796. Kinich Ahau = Tuhan matahari Maya
    797. Kingu = Tuhan naga Asiria
    798. Kipu Tytto = Tuhan kematian Finnish
    799. Kishar = Tuhan bumi babilonia
    800. Kishijoten = Tuhan kecantikan jepang
    801. Kivutar = Tuhan sakit dan penderitaan Finnish
    802.
    *Kloskurbeh = Tuhan pencipta Penobscot *
    803. Kneph = Tuhan nil mesir
    804. *Kokopelli = satu-satunya tuhan indian winnebago*
    805. Koledo = Tuhan slavic
    806. Kojin = Tuhan dapur jepang
    807. Kon = Tuhan hujan inca
    808. Kosensei = Tuhan jepang
    809. Kothar = Tuhan kecerdasan Kanaan
    810. Koyangwuti = Tuhan indian hopi
    811. Koya no myoin = Tuhan gunung koya jepang
    812. Ku = Tuhan Hawaii
    813. Kuber = Tuhan Hindu
    814. Kui Xing = Tuhan dokumen dan kertas Cina
    815. Kuk = Tuhan kekacauan purba mesir
    816. Kukulcan = Tuhan ular berbulu maya
    817. Kuku no chi = Tuhan batang pohon jepang
    818. Kulitta = Tuhan musik Hittite
    819. Kulla = Tuhan renovasi Babilonia
    820. Kultana = tuhan kematian aborigin
    821. Kumarbi = Tuhan mesopotamia
    822. Kunitokotatchi = Tuhan gunung fuji jepang
    823. Kura o kami = tuhan hujan jepang
    824. Kurunta = Tuhan perburuan Hittite
    825. Kusor = Tuhan jendela Kanaan
    826. Kuu = Tuhan bulan Finnish
    827. Kwaku ananse = tuhan Akan
    828. Kwan im = Tuhan cina
    829. Kwannon = Tuhan pengampun jepang
    830. Kwoth = Tuhan misteri Nuer
    831. Lachesis = tuhan yunani
    832. Lada = Tuhan Slavic
    833. LAgua = Tuhan Haida
    834. Lahmu = Tuhan mesopotamia
    835. Lakshmi = Tuhan hindu
    836. Lamia = Tuhan yunani
    837. Lampetia = Tuhan cahaya yunani
    838. Lan Caihe = Tuhan Cina , satu dari 8 yang abadi, pemabuk dan bingung
    839. Lao jun = tuhan Dao
    840. La sirene = tuhan lautan Karibia
    841. Latoeroe = Tuhan Nias
    842. Latta = Tuhan Arab
    843. Learta = Tuhan Latvia
    844. Leda = Tuhan yunani
    845. Le eyo = Tuhan masai
    846. Legba = Tuhan bahasa dan takdir Fon (Benin)
    847. Leib Olami = Tuhan keberuntungan Finnish
    848. Lei Gong = Tuhan naga petir Cina
    849. Leishelemukong = Tuhan latvia
    850. Lei Zu = Tuhan sutera dan ulat sutera Cina
    851. Lela = Tuhan Cuaca Kaonde, Baila dan Tonga Afrika selatan
    852. Lelwani = Tuhan kehancuran Hittite
    853. Lemminkainen = Tuhan madu Finnish
    854. Lempo = Tuhan kejahatan Finnish
    855. Lethe = Tuhan kelupaan yunani
    856. Leto = Tuhan yunani
    857. Li Babai = Tuhan Dao
    858. Libanza = Tuhan pencipta upoto (Kongo)
    859. Li Jing = Tuhan penjaga surga
    860. Lim Tho Fap Si = Tuhan Tionghoa
    861. Li Nezha = Tuhan Cina
    862. Ling Bao Tian Song = Tuhan Dao
    863. Lir = tuhan Celtic
    864. Lisa = tuhan matahari Dahomey
    865. Li Tieguai = tuhan cina, Satu dari 8 yang abadi,
    866. Liu Bei = tuhan sepatu dan kepahlawanan Cina
    867. Liu Hai = tuhan kekayaan dan kemakmuran Dao
    868. LLeu = tuhan Celtic
    869. Loco = tuhan tanaman dan herba Karibia
    870. Loki = Tuhan Norse
    871. Lono = Tuhan Hawaii
    872. Louhi = Tuhan alam kelam Finnish
    873. Loviatar = Tuhan Finnish
    874. Lowalangi = Tuhan tertinggi Nias
    875. Lu Ban = Tuhan tukang kayu Cina
    876. *Lucifer = satu-satunya Tuhan satanis*
    877. Lu Dongbin = tuhan cina, satu dari 8 yang abadi
    878. Lugh = Tuhan Celtic
    879. Lugus = tuhan matahari Welsh
    880. Luka = Tuhan Dahomey
    881. Lukelong = Tuhan Oceania
    882. Lumaluma = Tuhan perut aborigin
    883. Lumawig = Tuhan Igorot
    884. Lu Xing = Tuhan Kekayaan dan status Cina
    885. Lyr = Tuhan Celtic
    886. Maanes = Tuhan mesir
    887. Maasaw = Tuhan pencipta Hopi
    888. Ma’at = Tuhan kebenaran, keseimbangan dan keteraturan mesir
    889. Mabon = Tuhan cinta Welsh
    890. Mac ceht = Tuhan Celtic
    891. Macha = tuhan Celtic
    892. Macuitonaleque = Lima tuhan kesenangan aztek
    893. Macuilcozcacuahtli = Tuhan elang aztek
    894. Macuilcuetzpalin = tuhan kadal aztek
    895. Macuilmalinalli = Tuhan kesenangan aztek
    896. Macuiltochtli = Tuhan alkohol aztek
    897. Macuilxohitl = Tuhan musik dan tarian aztek
    898. Madderaka = Tuhan kelahiran Finnish
    899. Madderatcha = Tuhan roh kecil Finnish
    900. Mafdet = Tuhan perlindungan mesir
    901. Maga = Tuhan cinta Celtic
    902. Magyar = Tuhan matahari Hongaria
    903. Mahadewi = Tuhan Hindu
    904. Mahatara = Tuhan Dayak
    905. Mahes = Tuhan musim panas mesir
    906. Maia = Tuhan Romawi
    907. Maiandros = Tuhan sungai yunani
    908. Mait Carrefour = Tuhan jalan simpang karibia
    909. Malinalxochi = Tuhan hewan berbisa Aztek
    910. Mama allpa = Tuhan kesuburan inca
    911. Mamacocha = Tuhan lautan Inca
    912. Maman brigitte = Tuhan cinta dan kematian Haiti
    913. Mama oullo = Tuhan perputaran Inca
    914. Mama pacha = Tuhan bumi inca
    915. Mamaquilla = Tuhan bulan Inca
    916. Mamaragan = Tuhan petir Aborigin
    917. Mamitu = Tuhan perjanjian Akkadia
    918. Mamlambo = Tuhan Zulu
    919. Manannan maclir = Tuhan laut Celtic
    920. Manat = Tuhan arab
    921. Manawydan = tuhan laut Celtic
    922. Manco capac = Tuhan pencipta inca
    923. Mangar-kunjer-kunja = Tuhan Aborigin
    924. Manuai = Tuhan Admiralty
    925. Maori = Tuhan pencipta Makeni (Zimbabwe)
    926. Marduk = Tuhan babilonia
    927. Marisha ten = Tuhan perang dan kemenangan jepang
    928. Mars = Tuhan Romawi
    929. Massim Biambe = Tuhan reinkarnasi Mundang (Kongo)
    930. Math = Tuhan Celtic
    931. Matlalcueitl = Tuhan nyanyian hujan Aztek
    932. Matsumis = Tuhan setan abenaki
    933. Matunus = Tuhan beruang Celtic
    934. Maui = Tuhan polinesia
    935. Mawaya no kami = Tuhan-tuhan pengatur jepang
    936. Mawu = Tuhan bulan Dahomey
    937. Mawu lisa = Tuhan bulan Dahomey
    938. Maya = Tuhan hujan karibia
    939. Mayahuel = tuhan alkohol Aztek
    940. Maymon = Tuhan Hades Sardinia
    941. Mbaba Mwana waresa = Tuhan bir Zulu
    942. Mbaz = Tuhan bumi Zapotec
    943. Mbere = Tuhan pencipta Bantu
    944. Mbokomu = Tuhan leluhur Ngombe (Kongo)
    945. Mbombo = Tuhan Bakuba
    946. Mboya = Tuhan bantu
    947. Mdi = Tuhan air Maya
    948. Mebeghe = Tuhan Mitsogo — Gabon, dan Fang
    949. Mebere = Tuhan bantu
    950. Medb = tuhan Celtic
    951. Mehen = Tuhan ular mesir
    952. Mehturt = Tuhan langit mesir
    953. Melletele = Tuhan Baltik
    954. Melpomene = tuhan yunani
    955. Melqart = Tuhan Tyre
    956. Melu = tuhan pencipta Bilan (Mindanao)
    957. Mendes = Tuhan alam Mesir
    958. Meng Po = Tuhan kelupaan dan amnesia Cina
    959. Menhit = Tuhan perang mesir
    960. Menoetius = Tuhan yunani
    961. Menrua = Tuhan Etruscan
    962. Men Shen = tuhan Cina
    963. Menthu = Tuhan perang mesir
    964. Mercury = Tuhan romawi
    965. Meret = Tuhan nyanyian dan tarian mesir
    966. Meretseger = Tuhan kobra mesir
    967. Merlin = tuhan sihir Celtic
    968. Meskhent = Tuhan kelahiran mesir
    969. Metus = Tuhan kebijaksanaan yunani
    970. Metztli = Tuhan bulan aztec
    971. Mextli = Tuhan perang dan pengorbanan aztek
    972. Mictecacihuatl = Tuhan kematian Aztek
    973. Mictlantecuhtli = Tuhan kematian Aztek
    974. Midir = Tuhan Celtic
    975. Mielliki = tuhan hutan finnish
    976. Mihr = Tuhan matahari Armenia
    977. min = Tuhan kubis dan seks mesir
    978. Minawara = tuhan pencipta kangguru Nambutji (Australia)
    979. Minerva = Tuhan Romawi
    980. Minga Bengale = Tuhan pemburu shongon
    981. Minona = Tuhan hutan Fon
    982. Miralalou = Tuhan matahari Wallamba
    983. Miroka = Tuhan jepang
    984. Miroku = Tuhan jepang
    985. Misubi no kami = Tuhan cinta jepang
    986. Mithra = Tuhan Matahari Persia
    987. Mixcoatl = tuhan perburuan dan perang Aztek
    988. Mm = tuhan Celtic
    989. Mnala = Tuhan Mandinka
    990. Mnemosyne = Tuhan ingatan yunani
    991. Mnewer = Tuhan sapi mesir
    992. Modesty = Tuhan yunani
    993. Modimo = Tuhan Tswana
    994. Moloch = Tuhan Kanaan
    995. Momotaro = Tuhan jepang
    996. momus = tuhan penyalahan yunani
    997. Mongan = tuhan celtic
    998. Monju = Tuhan buddha jepang
    999. Mont = Tuhan perang mesir
    1000. Morimi = tuhan ladang yoruba
    1001. Morpheus = Tuhan mimpi yunani
    1002. Morrigan = Tuhan celtic
    1003. Moshanyana = Tuhan basuto
    1004. Mot = Tuhan kematian Kanaan
    1005. Mse = Tuhan kejahatan Zapotec
    1006. Muan = Tuhan utusan Maya
    1007. Mudungkala = tuhan Aborigin
    1008. Mu Gong = Tuhan keabadian Dao
    1009. Mulac = Tuhan putih Maya
    1010. Mula Dyadi = Tuhan Batak Toba
    1011. Multultu = Tuhan pencipta kangguru Nambutji
    1012. Muluku = Tuhan pencipta Zambesi
    1013. Mulungu = Tuhan pencipta Bena tanganyika
    1014. Muminu = Tuhan kabut mesopotamia
    1015. Mummu = Tuhan mesopotamia
    1016. Mushdama = Tuhan arsitektur sumeria
    1017. Musso Koroni = Tuhan bambara (Mali)
    1018. Mut = Tuhan ibu mesir
    1019. Muyingwa = Tuhan hopi
    1020. Myiagros = tuhan lalat yunani
    1021. Mylitta = Tuhan bulan sumeria
    1022. Mwari = Tuhan pencipta Shona dan Ndebele (Zimbabwe)
    1023. Na Arean = Tuhan Mariana
    1024. Nabu = Tuhan seni tulis babilonia
    1025. Na’ilah = Tuhan arab
    1026. Naino kami = tuhan gempa jepang
    1027. Naiteru Kop = Tuhan pencipta masai
    1028. Naka yama tsui mi = Tuhan lereng gunung jepang
    1029. Nammu = tuhan sumeria
    1030. Namtar = Tuhan ketenangan sumeria
    1031. Nana = tuhan anak-anak sumeria
    1032. Nanabozho = tuhan Indian chippewa
    1033. Nana buluku = Tuhan fon
    1034. Nankil’slas = Tuhan Haida
    1035. Nana = Tuhan keberanian Aztek
    1036. Nanna = Tuhan Sumeria
    1037. Nanook = tuhan Inuit
    1038. Nanshe = Tuhan sumeria
    1039. Nantosueta = tuhan Celtic
    1040. Nareua = Tuhan pencipta Gilbert
    1041. Nars = Tuhan arab
    1042. Nasilele = Tuhan Lozi
    1043. Naunet = tuhan dasar samudera mesir
    1044. Ndan =Tuhan samudera Maya
    1045. Ndoyet = Tuhan kematian Zapotec
    1046. Ndozin = Tuhan keadilan Zapotec
    1047. Ndriananahary = Tuhan pencipta nigeria (bukan negara nigeria, tapi
    suku nigeria di Madagaskar)
    1048. Nechtan = tuhan Celtic
    1049. Nef = Tuhan ular mesir
    1050. Nefertem = Tuhan teratai mesir
    1051. Nehebkau = Tuhan kalajengking mesir
    1052. Neith = Tuhan alat tenun mesir
    1053. Nekhabed = Tuhan pelindung kerajaan mesir
    1054. Nemain = Tuhan Celtic
    1055. Nemersis = tuhan balas dendam yunani
    1056. Nemglan = tuhan burung Celtic
    1057. Neper = Tuhan roti dan bir mesir
    1058. Nephele = Tuhan yunani
    1059. Nepit = Tuhan jagung mesir
    1060. Nepthys = Tuhan penguburan Mesir
    1061. Neptune = Tuhan Romawi
    1062. Nereus = Tuhan basah yunani
    1063. Nergal = Tuhan bawah tanah sumeria
    1064. Nerrivik = Tuhan Inuit
    1065. Neteraantmwmw = Tuhan air mesir
    1066. Nethus = tuhan etruscan
    1067. N’gai = tuhan pencipta masai
    1068. Ngalyod = Tuhan pengolahan tanah Aborigin
    1069. Ngewo wa = Tuhan pencipta Mende
    1070. Ngurunderi = Tuhan ikan dan nelayan aborigin
    1071. Niamh = tuhan Celtic
    1072. Nichiren = Tuhan penulis jepang
    1073. Nijuhachi bushu = Tuhan jepang
    1074. nike = tuhan kemenangan yunani
    1075. Nimba = Tuhan kesuburan baga
    1076. Ninagirsu = tuhan Akkadia
    1077. Ninazu = Tuhan sihir Akkadia
    1078. Ninepone = tuhan kesuburan Mitsogo — Gabon, dan Fang
    1079. Ningishsida = Tuhan penjaga gerbang Mesopotamia
    1080. Ningizzida = Tuhan Akkadia
    1081. Ninhursaga = Tuhan Sumeria
    1082. Ninigi = Tuhan beras dan keluarga kaisar jepang
    1083. Ninkasi = Tuhan bir sumeria
    1084. Ninlil = tuhan Akkadia
    1085. Ninsun = Tuhan kebijaksanaan Mesopotamia
    1086. Ninsurta = Tuhan sapi mesopotamia
    1087. Ninsusinak = Tuhan janji Elamite
    1088. Ninta = tuhan segala tuhan mesopotamia
    1089. Ninurta = Tuhan Akkadia
    1090. Niord = tuhan norse
    1091. Niu lang = Tuhan Cinta cina
    1092. Nix = tuhan malam yunani
    1093. Njambi = tuhan pencipta herero
    1094. Njirana = Tuhan Juma (AUstralia)
    1095. Nkwa = tuhan bantu
    1096. Nohock Ek = Tuhan venus Maya
    1097. Nommo = tuhan dogon
    1098. None = Tuhan besi dan seni Mitsogo — Gabon, dan Fang
    1099. Notus = tuhan angin selatan yunani
    1100. *Nous = satu-satunya Tuhan hermetisisme*
    1101. Nuadha = Tuhan Celtic
    1102. Nu Gua = Tuhan pencipta manusia, pernikahan dan lumpur Cina
    1103. Numakulla = Tuhan aborigin
    1104. Nun = Tuhan air suci mesir
    1105. Nusku = Tuhan api babilonia
    1106. Nut = tuhan langit dan surga mesir
    1107. Nuwa = tuhan cina
    1108. Nyaliep = Tuhan sungai Nuer
    1109. Nyalitch = tuhan langit dan hujan dinka
    1110. Nyambe = Tuhan pencipta Kavango
    1111. Nyambe = Tuhan pencipta koko (Nigeria)
    1112. Nyame = Tuhan ashanti
    1113. Nyaminyami = Tuhan sungai batonka (Zambesi)
    1114. Nyankopon = Tuhan langit Ashanti
    1115. Nyiko = Tuhan laba-laba kamerun
    1116. Nyi roro kidul = Tuhan jawa
    1117. Nyokonan = Tuhan kamerun
    1118. Nyonye ngana = Tuhan pencipta bushongo
    1119. Nyyrikki = Tuhan perburuan dan ternak Finnish
    1120. Nzame = Tuhan bantu
    1121. Oannes = tuhan laut yunani
    1122. Oanomochi = Tuhan fuji jepang
    1123. Oba = Tuhan yoruba
    1124. Obagat = Tuhan pencipta pelew
    1125. Obassi Nsi = Tuhan pencipta Ekoi
    1126. Obassi osau = Tuhan pencipta Hausa dan Ekoi
    1127. Obatala = Tuhan pencipta yoruba
    1128. Occupirn = Tuhan baltik
    1129. Ochosi = tuhan perburuan dan keadilan yoruba
    1130. Odin = tuhan norse
    1131. Odoman = tuhan pencipta Ashanti
    1132. Odudua = Tuhan pencipta Yoruba
    1133. Oeagrus = Tuhan yunani
    1134. Oenomaus = Tuhan yunani
    1135. Ogdoad = Tuhan pencipta mesir
    1136. Ogma = tuhan rune celtic
    1137. Ogo = tuhan dogon
    1138. Ogoun = Tuhan logam yoruba
    1139. Ogoun Badagris = tuhan phallik Karibia
    1140. Ogoun Fer = Tuhan beragam hal Karibia
    1141. Ogoun Shango = tuhan api dan petir karibia
    1142. Oho yama = Tuhan gunung jepang
    1143. Oisin = tuhan amnesia dan waktu luang Celtic
    1144. Okina = Tuhan jepang
    1145. Okuni nushi = Tuhan sihir dan obat-obatan jepang
    1146. Ollodumate = tuhan yoruba
    1147. Olofat = Tuhan pencipta Caroline
    1148. Olokun = Tuhan laut yoruba
    1149. Olorun = tuhan langit yoruba
    1150. Omecihuatl = Tuhan penciptaan aZtek
    1151. Ometechutl = tuhan kembar aztec
    1152. Ometotchtli = Tuhan kelinci aztek
    1153. Onatha = Tuhan iroquois
    1154. Opochtli = Tuhan perlengkapan berburu dan memancing Aztek
    1155. Oreithya = Tuhan Yunani
    1156. orso = Tuhan hutan finnish
    1157. Orpheus = Tuhan musik sedih yunani
    1158. Orunmilla = Tuhan kesucian dan kebijaksanaan yoruba
    1159. Osanyin = tuhan tanaman obat Yoruba
    1160. Oschun = Tuhan yoruba
    1161. Oseanus = Tuhan yunani
    1162. Oshe = tuhan petir yoruba
    1163. Oshun = Tuhan cinta. kreativitas dan sensualitas yoruba
    1164. Osiris = Tuhan mesir
    1165. Ossa = Tuhan humor yunani
    1166. Otus = Tuhan yunani
    1167. Ouende = Tuhan Mandingo
    1168. Ougou Feray = Tuhan lumpur dan air karibia
    1169. Ousoos = Tuhan api phoenician
    1170. Owata tsumi = tuhan laut jepang
    1171. Oxlahuntiku =Tuhan bawah tanah Maya
    1172. Oxomoco = Tuhan astrologi Aztek
    1173. Oya = Tuhan yoruba
    1174. Pachacamac = Tuhan pencipta bumi Inca
    1175. Pah = Tuhan indian pawnee
    1176. Paivatar = Tuhan musim panas Finnish
    1177. Palenque triad = Tuhan Maya
    1178. Pallas = tuhan yunani
    1179. Pallas = Tuhan yunani, salah satu titan
    1180. Pallas = Tuhan yunani, kakek evander
    1181. Pan = Tuhan yunani
    1182. Pana = Tuhan-tuhan kelahiran sardinia
    1183. Panacea = tuhan penyembuh yunani
    1184. Panathi = Tuhan hindu
    1185. Pan gu = tuhan pencipta cina
    1186. Panjarnya = tuhan hindu
    1187. Papa = Tuhan polinesia
    1188. Paricia = Tuhan banjir inca
    1189. Pasiphae = Tuhan yunani
    1190. Pasithea = tuhan yunani
    1191. Patecatl = tuhan obat-obatan aztec
    1192. Pauahtun = Tuhan huruf N maya
    1193. Paynal = tuhan utusan aztek
    1194. Pekko = Tuhan ladang Finnish
    1195. Pele = Tuhan Polinesia
    1196. Pemba = Tuhan bambara
    1197. Penia = Tuhan kemiskinan yunani
    1198. Perkele = Tuhan setan lituania
    1199. Perkons = Tuhan Latvia
    1200. Perkunatete = Tuhan Baltik
    1201. Perun = tuhan Slavik
    1202. Perkunos = tuhan Baltik
    1203. Persephone = Tuhan bawah tanah yunani
    1204. Persis = Tuhan yunani
    1205. Petbe = Tuhan kerjasama mesir
    1206. Petesuchos = Tuhan buaya yunani
    1207. Phaetusa = Tuhan yunani
    1208. Phantasos = tuhan mimpi yunani
    1209. Pheme = Tuhan gosip yunani
    1210. Philammon = tuhan pemusik yunani
    1211. Philomenus = tuhan yunani
    1212. Phobetor = Tuhan mimpi buruk yunani
    1213. Phobos = Tuhan teror yunani
    1214. Phoebe = Tuhan inspirasi yunani
    1215. Phorcys = Tuhan yunani
    1216. Phosperos = Tuhan bintang fajar yunani
    1217. Phylira = Tuhan kertas yunani
    1218. Pichana Gobeche = Tuhan penyembuhan Maya
    1219. Pichanto = Tuhan gadis Maya
    1220. Piguerao = Tuhan inca
    1221. Pikullos = Tuhan Baltik
    1222. Pilirin = tuhan api Murinbata (Australia)
    1223. Pinga = Tuhan Inuit
    1224. Ping Deng Wang = tuhan neraka Cina
    1225. Piquete Zina = Tuhan kelelawar Zapotec
    1226. Pluto = Tuhan romawi
    1227. Plutus = tuhan kekayaan yunani
    1228. Po = Tuhan Oceania
    1229. Pollux = tuhan yunani
    1230. Polyhymnia = Tuhan yunani
    1231. Pontus = Tuhan laut yunani
    1232. Porus = Tuhan penjelajahan yunani
    1233. Poseidon = Tuhan Yunani
    1234. Potrimpos = Tuhan Baltik
    1235. Priapus = Tuhan kesuburan yunani
    1236. Prometheus = Tuhan yunani
    1237. Proserpine = Tuhan Romawi
    1238. Proteus = tuhan laut yunani
    1239. Psyche = Tuhan kecantikan yunani
    1240. Punchau = Tuhan matahari inca
    1241. Pundiel = tuhan Aborigin
    1242. Pritihivimata = tuhan hindu
    1243. Ptah = Tuhan pencipta mesir
    1244. *Ptahil = Satu-satunya tuhan mandaenisme*
    1245. Pyrrha = Tuhan yunani
    1246. Qadesh = Tuhan cinta dan seks mesir
    1247. Qamata = Tuhan Xhosa
    1248. Qat = Tuhan Banks
    1249. Qetesh = Tuhan mesir
    1250. Qi gu = Tuhan pelindung Cina
    1251. Qin Guang Wang = Tuhan neraka Cina
    1252. Qin Shubao = tuhan pintu Cina
    1253. Qi Yu = tuhan hujan Cina
    1254. Quaxolotl = Tuhan kembar Aztek
    1255. Quetzalcoatl = Tuhan ular berbisa aztec
    1256. Quiabelagayo = Tuhan kesenangan dan penderitaan Maya
    1257. Quinuama = Tuhan pertanian Inca
    1258. Qu jiang wang = tuhan penjaga neraka cina
    1259. Ra = Tuhan matahari mesir
    1260. Rabit = Tuhan mesir
    1261. Rada = Tuhan seni Fon
    1262. Radagast = Tuhan slavic
    1263. Rahman = Tuhan arab
    1264. Raiden = Tuhan petir jepang
    1265. Raka = Tuhan marquesan
    1266. Raluvumbha = Tuhan Baventa (Afsel)
    1267. Ramac = Tuhan inca
    1268. Rangi = Tuhan polinesia
    1269. Rashnu = Tuhan keadilan persia
    1270. Rauni = tuhan kesuburan finnish
    1271. Rekko = Tuhan pertanian dan ladang finnish
    1272. Renpet = Tuhan keremajaan dan musim semi Mesir
    1273. Renenet = tuhan keberuntungan dan kesejahteraan Mesir
    1274. Reret = Tuhan kuda nil mesir
    1275. Reshef = Tuhan wabah Phoenicia
    1276. Reshep = Tuhan perang dan operasi militer mesir
    1277. Rhadamanthus = Tuhan bawah tanah yunani
    1278. Rhea = Tuhan yunani
    1279. Rhea = Tuhan polinesia
    1280. Rhiannon = tuhan Celtic
    1281. Rokomautu = Tuhan pencipta Fiji
    1282. Rongo matane = tuhan Polinesia
    1283. Rosmerta = Tuhan keberhasilan bisnis celtic
    1284. Roustem = Tuhan sutera Cina
    1285. Ruadan = tuhan mata-mata dan spionase Celtic
    1286. Rua-haku = Tuhan laut Raitea
    1287. Rudra = Tuhan hindu
    1288. Rugaba = Tuhan Ankore (Uganda)
    1289. Ruhanga = Tuhan keabadian Banyoro (Uganda)
    1290. Rurusha = Tuhan hindu
    1291. Ruu = tuhan Society
    1292. Ruwa = Tuhan Djaga (Kilimanjaro)
    1293. Sabazius = Tuhan yunani
    1294. Sachmet = Tuhan padang pasir mesir
    1295. Sadb = tuhan Celtic
    1296. Sag = Tuhan takdir mesir
    1297. Sahu = Tuhan orion versi mesir
    1298. Sakarabru = Tuhan obat-obatan, keadilan dan amal Agni (Guinea)
    1299. Sakpata = Tuhan dahomey
    1300. Sambo kojin = Tuhan dapur jepang
    1301. Sampsa = Tuhan biji dan persemaian Finnish
    1302. Sanbai samo = Tuhan beras jepang
    1303. Sangen samo = Tuhan fuji jepang
    1304. Sarakka = Tuhan kelahiran Finnish
    1305. Saraswati = Tuhan hindu
    1306. Sarpedon = Tuhan yunani
    1307. Sarutahiko ohkami = tuhan jalan simpang jepang
    1308. Satet = Tuhan banjir mesir
    1309. Sati = Tuhan Hindu
    1310. Saturn = Tuhan romawi
    1311. Saulo = Tuhan latvia
    1312. Scamander = Tuhan yunani
    1313. Seb = Tuhan mesir
    1314. Sebek = Tuhan kekuatan mesir
    1315. Sedna = Tuhan inuit
    1316. Seker = Tuhan ritual kematian mesir
    1317. Sekhmet = Tuhan perang dan pertarungan mesir
    1318. Selene = tuhan bulan yunani
    1319. Sengen sama = Tuhan fuji jepang
    1320. Sepa = Tuhan kesuburan mesir
    1321. Septu = Tuhan perlindungan dan pertahanan mesir
    1322. Serapis = Tuhan kebudayaan yunani
    1323. Serquet = Tuhan perban mesir
    1324. Seshat = Tuhan perpustakaan mesir
    1325. Sesmu = Tuhan minyak dan anggur mesir
    1326. Set = tuhan badai mesir
    1327. Shadipinyi = Tuhan suara dan pemabuk Kavango
    1328. Shai = Tuhan nasib baik mesir
    1329. Shakpana = tuhan yoruba
    1330. Shakuru = tuhan pawnee
    1331. Shamash = Tuhan matahati dan keadilan mesopotamia
    1332. Shango = tuhan yoruba
    1333. She = Tuhan petir dan perang yoruba
    1334. Shed = Tuhan pelindung remaja mesir
    1335. Sheela na gig = tuhan kesuburan british isles
    1336. Shen nong = Tuhan tanaman, pertanian dan obat herbal Cina
    1337. Shenty = Tuhan sapi mesir
    1338. Shikwembu = Tuhan pencipta thonga mozambik
    1339. Shina to be = Tuhan angin jepang
    1340. Shina tsu hiko = tuhan angin jepang
    1341. Shojo = Tuhan lautan jepang
    1342. Shoki = Tuhan setan jepang
    1343. Shoko o = Tuhan neraka jepang
    1344. Shoten = Tuhan ganesha versi jepang
    1345. Shou Xing = Tuhan umur panjang dan usia tua Cina
    1346. Shu = Tuhan udara mesir
    1347. Shutu = Tuhan angin dan sungai sumeria
    1348. Si = Tuhan bulan Monche
    1349. Sien Tsang = Tuhan Cina
    1350. Sif = Tuhan norse
    1351. Silenus = Tuhan bir yunani
    1352. Simage = Tuhan Slavic
    1353. Simatalu = tuhan pencipta siberut
    1354. Sin = tuhan haida
    1355. Sin = Tuhan bulan mesopotamia
    1356. Sint holo = tuhan chippewa
    1357. Sirona = tuhan penyembuh dan air panas Gaul
    1358. Siwa = Tuhan hindu
    1359. Skanda = Tuhan Hindu
    1360. Sobek = tuhan buaya mesir
    1361. Sogbo = tuhan dahomey
    1362. Soko = Tuhan Nupe (Nigeria)
    1363. Soma = tuhan hindu
    1364. Song Di Wang = Tuhan neraka Cina
    1365. Song jiang = Tuhan pencuri dan peniup peluit cina
    1366. Sopona = Tuhan cacar yoruba
    1367. Sothis = Tuhan sirius mesir
    1368. Spercheus = Tuhan sungai yunani
    1369. Stribog = tuhan slavic
    1370. Styx = Tuhan sungai bawah tanah yunani
    1371. Sucellos = tuhan keberuntungan Celtic
    1372. Sudika mbambi = Tuhan mbunda
    1373. Sui Ren = Tuhan ahli masak Cina
    1374. Sukuna biko = Tuhan serangga jepang
    1375. Sun Bin = tuhan Cina
    1376. Sun Go kong = Tuhan Kera Cina
    1377. Suonetar = Tuhan pembuluh darah Finnish
    1378. Supay = Tuhan kematian
    1379. Surya = Tuhan hindu
    1380. Susan nowo = Tuhan badai, ular dan pertanian jepang
    1381. Susanoo = Tuhan samudera jepang
    1382. Suwa’ = Tuhan arab
    1383. Suzano = Tuhan jepang
    1384. Svarog = tuhan slavic
    1385. Svetoid = tuhan slavic
    1386. Swaigstigr = tuhan baltik
    1387. Taaroa = Tuhan tahiti
    1388. Ta’axet = Tuhan Haida
    1389. Tabalduk = tuhan pencipta Abenaki
    1390. Tailtu = tuhan bumi Celtic
    1391. Taiowa = tuhan hopi
    1392. Tai Suixing = tuhan waktu cina
    1393. Tai yi = tuhan langit Cina
    1394. Tai Shan Wang = tuhan neraka Cina
    1395. Takami musubi = Tuhan matahari jepang
    1396. Taka o kami = tuhan hujan jepang
    1397. Takaro = Tuhan pencipta New Hebrides
    1398. Take mikazuchi = Tuhan petir jepang
    1399. Takushkanshkan = Tuhan matahari lakota
    1400. Taliesin = tuhan penyihir Celtic
    1401. Tamayon hine = Tuhan jepang
    1402. Tammuz = Tuhan pertanian Akkadia
    1403. Tanao = Tuhan Oceania
    1404. Tane-mahuta = Tuhan rurutu
    1405. Tangaroa = tuhan Oceania
    1406. Tangiia = Tuhan marquesan
    1407. Tango = Tuhan marquesan
    1408. Tapio = tuhan hewan liar dan hutan finnish
    1409. Taranis = tuhan badai Celtic
    1410. Taria-nui = tuhan nelayan Rarotonga
    1411. Tartarus = Tuhan neraka yunani
    1412. Taru = Tuhan Hittite
    1413. Tatenen = Tuhan tanaman mesir
    1414. Taweret = Tuhan ibu dan kelahiran mesir
    1415. Tecuciztecatl = Tuhan bulan Aztek
    1416. Tefen = Tuhan kejelasan mesir
    1417. Tefnut = Tuhan keadilan, keteraturan waktu, langit, neraka, dunia
    akhirat mesir.
    1418. Teisheba = Tuhan perang urartia
    1419. Telepinu = Tuhan pertanian syria
    1420. Tellervo = Tuhan susu hutan Finnish
    1421. Tem = Tuhan mesir
    1422. Temazcalteci = tuhan kebersihan Aztek
    1423. Teotihuacan = tuhan laba-laba Aztek
    1424. Teoyaomiqui = Tuhan ksatria mati aztek
    1425. Tepeu = Tuhan pencipta Maya
    1426. Tepeyollotl = Tuhan goa dan gempa Aztek
    1427. Tepoztecatl = tuhan alam roh dan kelinci Aztek
    1428. Terpsichore = Tuhan tarian yunani
    1429. Teshub = Tuhan badai Syria
    1430. Tethys = Tuhan yunani
    1431. Teutatis = tuhan perang Gallic
    1432. Tezcatlipoca = tuhan malam, kematian dan nafsu Aztek
    1433. Tezcatzontecatl = tuhan bir Aztek
    1434. Thalassa = Tuhan lautan yunani
    1435. Thalia = Tuhan yunani
    1436. Thamrys = Tuhan konser yunani
    1437. Thanatos = Tuhan kematian yunani
    1438. Thanit = Tuhan bumi dan kesuburan sardinia
    1439. Thaumas = Tuhan laut yunani
    1440. Thea = Tuhan yunani
    1441. Thebe = Tuhan yunani
    1442. Thelxinoe = Tuhan kesenangan yunani
    1443. Themis = Tuhan keadilan yunani
    1444. Thermes = Tuhan petir Finnish
    1445. Thetis = Tuhan yunani
    1446. Thixo = Tuhan xhosa
    1447. Thoeris = Tuhan perlindungan mesir
    1448. Thonapa = Tuhan matahari Inca
    1449. Thor = tuhan morse
    1450. Thoth = Tuhan bulan, penulis, penggambar, geometri, kebijaksanaan,
    pengobatan, musik, astronomi, dan sihir mesir
    1451. Tia = Tuhan haida
    1452. Tiamat = tuhan naga mesopotamia
    1453. Tian Mu = Tuhan petir Cina
    1454. Tiki = Tuhan pencipta marquesan
    1455. Tilo = Tuhan Tonga (Malawi)
    1456. Tima-te-kore = Tuhan marquesan
    1457. Timo-taata = Tuhan Society
    1458. Tinia = tuhan etruscan
    1459. Tinirau = Tuhan marquesan
    1460. tirawa = Tuhan Pawnee
    1461. Tithonus = Tuhan fajar yunani
    1462. Tjinimin = Tuhan kelelawar Murinbata
    1463. Tlahuizcalpantecuhtli = Tuhan fajar Aztek
    1464. Tlaloc = tuhan badai, hujan dan kesuburan aztec
    1465. Tlaoque Nahuaque = Tuhan Aztek monoteistik
    1466. Tlazolteotl = tuhan pengakuan, pembersihan dan penyelamatan jiwa
    Aztek
    1467. To Fu = Tuhan vegetarian Cina
    1468. Tohil = Tuhan api Maya
    1469. Toho = tuhan hopi
    1470. Tonacatecuhtli = Tuhan makanan Aztek
    1471. Tonaeatecuhtli = Tuhan pencipta dan pemberi makanan aztek
    1472. Tonatiuh = Tuhan matahari, elang dan ksatria langit aztek
    1473. Tonelli = tuhan navaho
    1474. Tonga-iti = Tuhan marquesan
    1475. Tore = tuhan pohon, hewan dan perburuan pygmy
    1476. Torngasook = Tuhan inuit
    1477. Triglar = tuhan slavic
    1478. Tripitaka = tuhan buddha modifikasi Cina
    1479. Triton = Tuhan yunani
    1480. Tsohanoai = Tuhan Navaho
    1481. Tsui’ Goab = Tuhan khoikhoi
    1482. Tsuku yomi = tuhan bulan jepang
    1483. Tuatha de Danann = tuhan sihir Irlandia
    1484. Tu-chai-pai = Tuhan pencipta Digueno
    1485. Tu Di = Tuhan tetangga Cina
    1486. Tuhan = tuhan gak jelas, beda cuma huruf depan
    1487. Tuhan-tuhan Olmec = Tuhan-tuhan tanpa nama Olmec
    1488. Tujuh jenderal langit = Tuhan-tuhan peperangan jepang
    1489. Tu-matauenga = Tuhan Rurutu
    1490. Tu-metua = Tuhan marquesan
    1491. Tu-mute-anaoa = Tuhan marquesan
    1492. Tuonela = Tuhan bawah tanah Finnish
    1493. Tuonetar = Tuhan kematian Finnish
    1494. Tuoni = tuhan bawah tanah finnish
    1495. Turan = Tuhan Etruskan
    1496. Tutu = Tuhan mesir
    1497. Tuulikki = Tuhan pohon Finnish
    1498. Tyche = Tuhan kebetulan yunani
    1499. Tyr = tuhan Norse
    1500. Tzitzmitl = tuhan Aztek
    1501. Uayeb = Tuhan huruf N Maya
    1502. Udan = Tuhan pencipta Mongol
    1503. Ueuecoyotl = tuhan Coyote Aztek
    1504. Uhlanga = Tuhan rawa Zulu dan Xhosa
    1505. Ukemochi = Tuhan makanan jepang
    1506. Ukko = Tuhan langit dan petir finnish
    1507. Uksakka = Tuhan kelahiran Finnish
    1508. Ukqili = Tuhan Zulu
    1509. Ulanji = Tuhan aborigin
    1510. Ular waktu mimpi (Dreamtime Snake) = Tuhan aborigin
    1511. Ulgan = Tuhan langit Finnish
    1512. Umvelinqangi = tuhan pencipta zulu
    1513. Uneg = Tuhan tanaman mesir
    1514. Uni = tuhan etruscan
    1515. Unkulunkulu = tuhan Zulu
    1516. Un nefer = Tuhan peradilan mesir
    1517. Unut = Tuhan kelinci mesir
    1518. Upelluri = Tuhan angkat berat Hittite
    1519. Urania = tuhan luar angkasa yunani
    1520. Uranus = tuhan yunani dan romawi
    1521. Urcaguary = Tuhan harta karun Inca
    1522. Urpihua Chac = Tuhan ikan dan nelayan Inca
    1523. Usha = Tuhan Hindu
    1524. Utu = Tuhan keadilan sumeria
    1525. Uza = Tuhan arab
    1526. Uzume = Tuhan tarian jepang
    1527. *Vahiguru = Satu-satunya Tuhan Sikh*
    1528. Vainamoinen = Tuhan pahlawan Finnish
    1529. Vali = Tuhan Norse
    1530. Vammatar = Tuhan penderitaan Finnish
    1531. Vari-ma-te-takere = Tuhan pencipta Marquesan
    1532. Varuna = Tuhan Hindu
    1533. Vasu = Tuhan hindu
    1534. Vatea = Tuhan marquesan
    1535. Vayu = Tuhan hindu
    1536. Ved Ava = Tuhan air Finnish
    1537. Veles = Tuhan slavic
    1538. Vellamo = Tuhan air Finnish
    1539. Venus = Tuhan romawi
    1540. Vesta = Tuhan romawi
    1541. Viracocha = Tuhan Inca
    1542. Vichama = Tuhan Inca
    1543. Vivadeva = Tuhan hindu
    1544. Voltumne = Tuhan etruscan
    1545. Votan = Tuhan perang Maya
    1546. Vucub Caquix = Tuhan kekayaan Maya
    1547. Vucub Hunahpu = Tuhan Maya
    1548. Vulcan = tuhan romawi
    1549. Waang = Tuhan gagak Wurundjeri
    1550. *Waaqa = satu-satunya tuhan oromo (Ethiopia)*
    1551. Wadd = Tuhan Arab*
    *
    1552. Wadjet = Tuhan kobra mesir
    1553. Wadj Wer = Tuhan kesuburan Mesir
    1554. Wakahiru me = Tuhan fajar jepang
    1555. Walo = tuhan aborigin
    1556. wandjina = Tuhan pencipta aborigin
    1557. Waramurungundju = Tuhan kesuburan Gunwinggu (Australia)
    1558. Wati kutjara = Tuhan abirigin
    1559. Wawalaq = Tuhan kesuburan aborigin
    1560. Wecinus = tuhan Chippewa
    1561. Wei Cheng = Tuhan pintu Cina
    1562. Wen Chang = Tuhan sastra, buku dan penulisan Dao
    1563. Wepawet = Tuhan anjing mesir
    1564. Were = tuhan pencipta Luo (Kenya)
    1565. Whope = Tuhan lakota
    1566. Wi = Tuhan lakota
    1567. Wisnu = tuhan hindu
    1568. Wosyet = Tuhan pelindung mesir
    1569. Woyengi = Tuhan pencipta Ijaw (Nigeria)
    1570. Wu Di = tuhan Cina
    1571. Wu Guan Wang = tuhan neraka Cina
    1572. Wulbari = tuhan afrika barat
    1573. Wullungunder = Tuhan aborigin
    1574. Wuluwait = Tuhan hujan aborigin
    1575. Wuni = Tuhan pencipta dagamba (Ghana)
    1576. Wuraka = Tuhan kesuburan Gunwinggu
    1577. Wuriupranili = tuhan aborigin
    1578. Xaman Ek = Tuhan arah utara Maya
    1579. Xbalanque = Tuhan jaguar maya
    1580. Xbaquiyalo = Tuhan monyet kembar maya
    1581. *Xenu = Satu-satunya tuhan Scientologi*
    1582. Xeviosa = Tuhan Dahomey
    1583. Xiao Wu = tuhan penjara Cina
    1584. Xi He = tuhan cahaya dan ibu dari 10 matahari Cina
    1585. Xilonen = Tuhan jagung muda aztek
    1586. Xipetotec = Tuhan musim semai aztek
    1587. Xi Shi = tuhan krim, kosmetika dan parfum Cina
    1588. Xiuhcoatl = tuhan kekeringan Aztek
    1589. Xiutecuhtli = tuhan aztek
    1590. Xi wang mu = tuhan keabadian Dao
    1591. Xmucane = Tuhan jagung Maya
    1592. Xmulzencab = tuhan lebah Aztek
    1593. Xochipili = tuhan pesta dan jagung muda aztek
    1594. Xochiquetzal = tuhan bunga Aztek
    1595. Xolotl = tuhan petir Aztek
    1596. Xpiyacoc = Tuhan jagung Maya
    1597. Xquic = Tuhan darah Maya
    1598. Xuanxuan Shangren = Tuhan pencipta Dao
    1599. Wuan Wenhua = Tuhan rambut dan sampo Cina
    1600. Xulsigiae = tuhan kesuburan Celtic
    1601. Yacatecuhtli = tuhan pedagang Aztek
    1602. Yagus = Tuhan Arab
    1603. Yahweh = Tuhan Yahudi
    1604. Yakushi = Tuhan Jepang
    1605. Yaluk = Tuhan petir Maya
    1606. Yalungur = Tuhan aborigin
    1607. Yam = Tuhan laut Kanaan
    1608. Yama = Tuhan Hindu
    1609. Yambe Akka = Tuhan Finnish
    1610. Yansan = Tuhan pencipta yoruba
    1611. Yasigi = Tuhan tarian, bir dan topeng dogon
    1612. Ya’Uq = Tuhan Arab
    1613. Yeban = Tuhan bawah tanah dogon
    1614. Yen Lo Wang = Tuhan kematian cina
    1615. Yesus = Tuhan kristen
    1616. Yhi = Tuhan Karraur (Australia)
    1617. Yi = Tuhan pemanah Cina
    1618. Yi Di = Tuhan anggur dan alkohol Cina
    1619. Yingarna = Tuhan pencipta aborigin
    1620. Yo-ko-mat-is = Tuhan pencipta Digueno
    1621. Yrlunggur = Tuhan Murngin (Australia)
    1622. Yuan Shi Tian Zong = Tuhan pencipta Dao
    1623. Yu Dun = Tuhan cuaca Cina
    1624. Yum Kaax = Tuhan pertanian Maya
    1625. Yu Qiang = Tuhan samudera dan angin samudera Cina
    1626. Yurugu = Tuhan kekacauan dogon
    1627. Yu Zu = Tuhan cuaca Cina
    1628. Zaka Mede = Tuhan pertanian Karibia
    1629. Zakar = tuhan mimpi mesopotamia
    1630. Zamolxis = tuhan dacian
    1631. Zanahari = Tuhan Madagaskar
    1632. Zao Gongen = Tuhan buddha jepang
    1633. Zao Jun = Tuhan perapian cina
    1634. Zaramama = Tuhan gandum inca
    1635. Zenmyo = Tuhan jepang
    1636. Zephyrus = Tuhan angin barat yunani
    1637. Zeus = Tuhan yunani
    1638. Zhang Fei = tuhan penjagal Cina
    1639. Zhang Guolau = Tuhan cina, satu dari 8 yang abadi
    1640. Zhang Xian = tuhan kelahiran dan pelindung anak-anak Cina
    1641. Zhi Nu = Tuhan pemintal dan penenun Cina
    1642. Zhi Songzi = tuhan hujan Cina
    1643. Zhong liquan = tuhan cina, satu dari 8 yang abadi
    1644. Zhou wang = Tuhan cina
    1645. Zhuang Lun Wang = Tuhan neraka Cina
    1646. Zhu Rong = tuhan api Cina
    1647. Zhu Yi = Tuhan sastra cina
    1648. Zi Gu = Tuhan toilet Cina
    1649. Zinsi = Tuhan dahomey
    1650. Zinsu = Tuhan dahomey
    1651. Zipacna = Tuhan gunung Maya
    1652. Zocho = Tuhan selatan jepang
    Catatan = Menurut keyakinan Hindu politeistik di India, ada 340 juta Tuhan, dimana ada sekitar 40 tuhan utama. Menurut keyakinan syinto ada 8 juta tuhan. Hal yang sama juga berlaku.
     
  • tituitcom 22.17 on 24 August 2012 Permalink  

    Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Munding Wangi 

    Dahulu kala hidup seorang puteri kerajaan Munding Wangi
    bernama Kadita. Saking cantiknya maka ia dijuluki Dewi Srengenge
    (Dewi Matahari). Namun Raja Munding Wangi belum puas dan
    bersedih sebab ia mengharapkan anak laki-laki. Lalu sang Raja
    mengawini seorang puteri yang bernama Dewi Mutiara.
    Dewi Mutiara merasakan Dewi Srengenge sebagai ganjalan cita-
    citanya, sebab Dewi Mutiara menginginkan anaknya kelak yang
    menjadi raja di Munding Wangi. Maka Dewi Mutiara meminta

    kepada Raja untuk menyuruh Dewi Srengenge pergi dari istana.
    Tapi permintaan itu ditolak oleh Raja.
    Suatu hari Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk
    menyewa jasa seorang dukun untuk mengutuk Dewi Srengenge agar
    tubuhnya menjadi gatal-gatal dan kudisan. Maka Dewi Srengenge
    berubah menjadi puteri yang buruk rupa dan berbau tidak sedap.
    Mengetahui kondisi puterinya seperti itu maka Raja Munding
    Wangi mengundang seluruh tabib istana untuk mengobati puterinya
    tersebut, namun segala daya tidak berhasil menyembuhkan Dewi
    Srengenge. Dengan keadaan putus asa seperti itu datang pengaruh
    dan hasutan dari Dewi Mutiara agar sang Raja mengusir puterinya
    itu dari istana. Maka Raja Munding Wangi akhirnya mengirimkan
    Dewi Srengenge ke luar kerajaan.
    Dewi Srengenge dengan tabah menjalani penderitaannya dan
    tidak mempunyai dendam kepada ibu tirinya, Dewi Mutiara. Ia
    berdoa agar Tuhan mendampingi dan melindunginya dalam
    penderitaan tersebut. Ia berjalan terus, hingga akhirnya sampai ke
    Laut Selatan. Ajaibnya, ketika kulitnya tersentuh air Laut Selatan
    tiba-tiba sembuh, maka ia mandi dan dengan itu pula sakit kulitnya
    sembuh. Akhirnya Dewi Srengenge menjadi penguasa Laut Selatan
    (Nyai Ratu Kidul).

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal