Updates from Agustus, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 22.57 on 27 August 2012 Permalink  

    Nyai Ratu Kidul Pasca Sutowijoyo 

    Nyai Ratu Kidul Pasca Sutowijoyo
     

    Sepeninggal Sutowijoyo tahun 1601, Mataram diteruskan oleh
    anak Sutowijoyo yang bernama Raden Mas Jolang alias Pangeran
    Nyokrowati alias Pangeran Seda  Krapyak, yang bergelar Prabu
    Nyokrowati, yang memerintah  sampai dengan tahun 1613
    (meninggal tahun 1613). Selanjutnya pemerintahan Mataram
    diteruskan oleh anak Sutowijoyo yang lainnya, yaitu Raden
    Rangsang yang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo dari tahun
    1613 sampai 1646.
    Masa-masa pemerintahan Sultan Agung tersebut wilayah
    Mataram semakin luas. Ibukota kesultanan dipindah dari Kerta ke
    Plered. Pada masa itu Surabaya yang sulit ditaklukkkan berhasil
    dikuasai. Wilayah kekuasaan Mataram sampai ke Sukadana,
    Kalimantan dan Madura. Seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur
    berhasil dikuasai, sampai ke Cirebon, Jawa Barat.
    Sultan Agung dikenal sebagai raja yang taat beribadah ritual
    Islam, mengirimkan utusan ke Mekah untuk memperdalam ajaran
    Islam untuk menjadi penasehatnya. Sultan Agung pun memperoleh
    gelar Islam yaitu: Sultan Abdul Muhammad Maulana Matarami. Jika
    gelar itu diterjemahkan, kurang-lebih adalah: “Penguasa, abdi dari
    Muhammad, pemimpin Mataram.” Ia juga yang mengubah tahun
    Saka yang merupakan Tahun Matahari (Tarikh Syamsiah) menjadi
    tahun Jawa-Islam yang berdasarkan perhitungan Tahun Bulan
    (Tarikh Qamariah) untuk disesuaikan dengan Tahun Hijriah. Pada
    tahun 1633 Masehi adalah tahun 1555 Saka, dan dijadikan menjadi
    tahun 1555 Jawa-Islam (jawapalace.org, 2004).
    Berturut-turut, setelah Sultan Agung, Mataram diperintah oleh:
    –  Amangkurat I (1646-1677);
    –  Amangkurat II (1677-1703);
    –  Amangkurat III (1703-1704);
    –  Pakubuwono I (1708-1719);
    –  Mangkurat IV (1719-1727);
    –  Pakubuwono II (1727-1745);
    –  Pakubuwono III (1749-1788);
    Setelah itu, Mataram terpecah menjadi dua, Jogjakarta yang
    diperintah oleh Sultan Hamengku Buwono I dan Surakarta yang
    diperintah Pakubuwono III. Selanjutnya Mataram tidak hanya
    menjadi Jogjakarta dan Surakarta. Jogjakarta mempunyai pecahan
    Adikarto (Paku Alaman) yang diperintah oleh Paku Alam dan
    Surakarta mempunyai pecahan Mangkunegaran yang diperintah oleh
    Mangkunegoro.
    Pasca Sutowijoyo, tidak ada cerita tentang Nyai Ratu Kidul
    dalam membantu para raja keturunan Sutowijoyo, yang seheboh
    kisah kerjasama Nyai Ratu Kidul dengan Sutowijoyo. Tahun 1782,
    Pakubuwono III membangun Panggung Sanggabuwono yang
    menurut mitosnya adalah sebagai tempat pertemuan antara
    Pakubuwono dengan Nyai Ratu Kidul. Tapi juga ditengarai bahwa
    panggung itu digunakan oleh Pakubuwono III untuk mengamati
    wilayahnya dari dalam keraton (termasuk memata-matai benteng
    Vastenburg milik Belanda). Ketika Belanda menegur pembuatan
    Panggung Sanggabuwono maka  Pakubuwono III berdalih bahwa
    tempat itu untuk pertemuannya dengan Nyai Ratu Kidul
    (jawapalace.org, 2004). Sebuah alasan adat yang mesti ditoleransi
    Belanda. 
    Kisah Nyai Ratu Kidul juga muncul kembali setelah
    Mangkunegoro IV  yang memerintah Mangkunegaran (1853-1881)
    mengarang Serat Wedatama. Rupa-rupanya di situlah muncul
    kerinduan terhadap mitos Nyai Ratu Kidul, meskipun harus
    mengalami perubahan. 
    Pada masa pemerintahan Pakubuwono X, juga terdapat kisah
    bahwa akhirnya Pakubuwono X dan keturunannya sudah bukan lagi
    menjadi suami Nyai Ratu Kidul, tapi menjadi anak, karena adanya
    salah ucap dari Nyai Ratu Kidul. Ini merupakan suatu perubahan
    untuk mengarah pada rasionalitas, sebab tidak akan logis menurut
    Hukum Adat Jawa atau Islam, jika Nyai Ratu Kidul yang sosok
    perempuan itu melakukan poliandri (harus menjadi isteri dari
    Pakubuwono, Hamengku Buwono, Paku Alam dan Mangkunegoro).
    Kisah-kisah Nyai Ratu Kidul pada masa pasca Sutowijoyo lebih
    banyak berupa  gugon tuhon  (cerita dari mulut ke mulut) tentang
    kisah-kisah insidentil yang terjadi di sekitar lingkungan Laut Selatan.
    Tetapi, tidak ada salahnya jika dalam sub bab ini saya ceritakan
    sedikit bagian sejarah tentang keadaan Mataram setelah Sultan
    Agung meninggal dunia, agar bisa diketahui gambarannya; seberapa
    jauh peran Nyai Ratu Kidul dalam turut mempertahankan keutuhan
    Mataram dan kesejahteraan masyarakatnya.
    Pada masa pemerintahan Amangkurat I di Mataram mulai terjadi
    pemberontakan. Ahli-ahli sejarah menyatakan bahwa
    pemberontakan itu disebabkan ketidakbijaksanaan Sultan dalam
    menjalankan pemerintahan. Tetapi menurut saya ada faktor lainnya,
    yaitu: kebiasaan ambisi para pemimpin daerah atau bupati yang
    tadinya dikuasai secara paksa sehingga selalu mempunyai keinginan
    secara merdeka memerintah daerahnya sendiri.
    Pemberontakan kepada Mataram di jaman Amangkurat yang
    sangat terkenal adalah yang dilakukan oleh Trunojoyo, anak dari
    Bupati Cakraningrat di Madura. Trunojoyo berhasil menguasai Jawa
    Timur, memindahkan pusat pemerintahannya di Sedayu, lalu ke
    Kediri, hingga terus mendesak ke arah Barat dan akhirnya menguasai
    Karto ibukota Mataram.
    Mataram dikalahkan Trunojoyo sehingga Amangkurat I lari ke
    Batavia, meminta bantuan Belanda yang merupakan musuh Mataram
    itu. Amangkurat I menggadaikan harga diri Mataram kepada
    Belanda, sebab ia tidak mau takluk kepada Trunojoyo. Tapi
    Amangkurat I meninggal dan diganti anaknya, Amangkurat II.
    Lucunya, penobatan Amangkurat II dilakukan oleh Belanda di
    Batavia. 
    Tidak beda dengan ayahnya, Amangkurat II juga menggadaikan
    Mataram kepada Belanda dengan menandatangani Perjanjian Jepara
    tahun 1678, yang isinya:
    (1)  Amangkurat II diangkat menjadi raja Mataram dan menerima
    bantuan dari Belanda;
    (2)  Belanda berkuasa atas Pelabuhan Semarang dan memiliki hak-
    hak untuk berdagang;
    (3)  Mataram harus mengganti kerugian perang yang diderita
    Belanda.
     Amangkurat selanjutnya bisa kembali ke Jawa Tengah tapi
    dengan bantuan dan perlindungan Belanda. Lalu Belanda mulai
    menyerang Trunojoyo, hingga akhirnya terpaksa ia harus
    menyerah kepada Kapten Jonker di Gunung Willis Jawa Timur.
    Lalu Trunojoyo diserahkan kepada Amangkurat II, tetapi dengan
    kejam Amangkurat II membunuh Trunojoyo dengan keris. Sebuah
    watak biadab yang sama persis dengan watak Sutowijoyo.
    Karena Amangkurat II tidak tahan di bawah pengaruh Belanda
    maka ia meminta bantuan dengan Untung Suropati (Adipati
    Wironegoro) di Pasuruan (Bangil). Setelah Amangkurat II
    meninggal maka kekuasannya dilanjutkan Amangkurat III yang
    juga bekerjasama dengan Untung Suropati dalam menentang
    Belanda.
    Pada waktu itulah kekuatan Mataram mulai pecah karena taktik
    pecah-belah Belanda. Adik Amangkurat II yang bernama Pangeran
    Puger dijadikan alat Belanda untuk memecah kekuatan Mataram.
    Pangeran Puger inilah yang kemudian diakui Belanda menjadi raja
    Mataram dengan gelar Pakubuwono I. Dalam suatu peperangan
    dengan Belanda di Bangil, Untung Suropati meninggal sehingga
    kekuatan Amangkurat III lumpuh dan ia menyerah kepada
     Belanda. Lalu Belanda membuang Amangkurat III ke Srilanka. Dan,
    Mataram diperintah Pakubuwono I.
    Saya tidak akan terlalu panjang untuk meneruskan sejarah
    kekacauan Mataram tersebut. Cukuplah keadaan sejarah yang saya
    uraikan di atas menunjukkan fakta bahwa Mataram yang konon
    menjalin kekuatan mistik dengan penguasa Laut Selatan, Nyai Ratu
    Kidul, ternyata tidak berdaya menghadapi serangan Trunojoyo.
    Yang membantu mengembalikan  kekuasaan raja Mataram bukan
    Nyai Ratu Kidul, tapi Belanda.
    Bahkan ketika Amangkurat II yang tidak tahan lagi bekerjasama
    dengan Belanda, ia meminta bantuan Untung Suropati, mantan
    budak dari Bali yang  sangat gagah berani dan mati dalam keadaan
    terhormat itu. Ketika Untung Suropati meninggal dunia,
    Amangkurat III pun tidak berdaya, menyerah kepada Belanda dan
    dibuang ke Srilanka. Alangkah malang nasib raja Mataram yang
    konon adalah suami dari Nyai Ratu Kidul itu.
    Sampai pada batas sejarah tersebut, ternyata Nyai Ratu Kidul
    sama sekali cuek, tidak mempunyai peranan apa-apa dalam
    menyelamatkan Mataram. Itulah ironisnya kepercayaan yang telah
    terlanjur meyakini bahwa ada poros aliansi kekuatan antara
    Mataram sebagai komunitas manusia dengan Laut Selatan sebagai
    komunitas lelembut, yang terjalin sejak Mataram diperintah oleh
    Sutawijaya.
    Mengapa Mataram dan raja-rajanya (pasca Sultan Agung) bisa
    sampai bernasib tragis seperti itu? Apa yang kurang, padahal
    meskipun miskin terjajah oleh asing, masyarakat Jawa tetap loyal
    kepada Nyai Ratu Kidul untuk selalu memberinya sesajen dan
    memuja-mujanya setinggi langit, mengimajinasikannya sebagai
    Sang Ratu yang luhur dan melindungi? 
    Nyai Ratu Kidul benar-benar tega dan tidak kasihan melihat
    Amangkurat I yang lari tunggang-langgang mengais bantuan
    kepada Belanda. Nyai Ratu Kidul begitu tega membiarkan
    Amangkurat II menandatangani  penyerahan sebagian wilayah
    Mataram kepada Belanda. Nyai Ratu Kidul hanya  plonga-plongo
    melihat Amangkurat III dirantai tentara Belanda dan dibuang ke
    Srilanka. 
    Dengan kenyataan itu, pantaskah orang-orang Jawa selalu
    mengidolakan Nyai Ratu Kidul, memberinya sesajen dan memuja-
    mujanya? 

    Iklan
     
  • tituitcom 22.41 on 27 August 2012 Permalink  

    Taktik dan Politik Sutowijoyo Untuk Memperluas Wilayah 

    Setelah Sutowijoyo berhasil mempersatukan sebagian besar Jawa Tengah maka Sutowijoyo mulai melancarkan usaha perluasan   daerah ke Jawa Timur. Taktik  dan politik Sutowijoyo semakin menunjukkan karakternya sebagai  seorang “pembohong” politik, ketika menghadapi kekuatan kerajaan-kerajaan Jawa Timur yang bersatu untuk menghadang kekuatan Mataram. Suatu saat, Sutowijoyo mengumpulkan seluruh kekuatannya dan memimpin pasukan untuk melebarkan kekuasaannya ke Jawa Timur. Para raja Jawa Timur, seperti Surabaya, Madiun, Pasuruan, Tuban, Lamongan, Gresik, Sumenep dan lain-lain segera bersatu untuk menghadang gerak pasukan Mataram. Mereka membuat pesanggrahan (kamp militer) di Japan

    Setelah Sutowijoyo berhasil mempersatukan sebagian besar
    Jawa Tengah maka Sutowijoyo mulai melancarkan usaha perluasan 

    daerah ke Jawa Timur. Taktik  dan politik Sutowijoyo semakin
    menunjukkan karakternya sebagai  seorang “pembohong” politik,
    ketika menghadapi kekuatan kerajaan-kerajaan Jawa Timur yang
    bersatu untuk menghadang kekuatan Mataram.
    Suatu saat, Sutowijoyo mengumpulkan seluruh kekuatannya
    dan memimpin pasukan untuk melebarkan kekuasaannya ke Jawa
    Timur. Para raja Jawa Timur, seperti Surabaya, Madiun, Pasuruan,
    Tuban, Lamongan, Gresik, Sumenep dan lain-lain segera bersatu
    untuk menghadang gerak pasukan Mataram. Mereka membuat
    pesanggrahan (kamp militer) di Japan. Ketika mengetahui adanya
    bahaya pertumpahan darah itulah maka konon Sunan Giri, sebagai
    guru para penguasa di Jawa, mengirimkan utusan untuk
    mendamaikan Mataram dengan para penguasa Jawa Timur tersebut. 
    Atas inisiatif utusan Sunan Giri tersebut maka dilakukan
    perundingan. Utusan tersebut konon membawa pesan dari Sunan
    Giri yang tidak mengizinkan perang dan memberikan pilihan
    kepada Mataram dan para penguasa Jawa Timur untuk memilih
    “tempat” atau “isi”. Ternyata  Sutowijoyo memilih tempat dan
    Pangeran Surabaya memilih isi. Hal itu ditafsirkan dengan
    pengertian mistik bahwa telah  ditakdirkan Sutowijoyo akan
    menguasai wilayah di Jawa (tempat atau wadah diartikan sebagai
    wilayah). Sebaliknya para penguasa wilayah Jawa Timur hanya
    akan menjadi isi dari wilayahnya (isi diartikan dengan penduduk).
    Namun setelah itu masih terjadi perselisihan perebutan
    beberapa wilayah di Blora dan Warung antara Mataram dengan
    Surabaya. Sutowijoyo masih tetap berusaha melanjutkan misinya
    untuk mempersatukan Jawa di bawah kekuasaan Mataram. Maka
    atas inisiatif Panembahan Madiun, dikumpulkanlah seluruh
    pasukan dari Jawa Timur untuk menghadang serangan Mataram,
    sebab Mataram tetap dianggap api yang berbahaya, yang suatu saat
    akan menguasai Jawa Timur.
    Dalam rangka penyerangan ke Timur, Sutowijoyo
    mengumpulkan seluruh pasukannya dan diberangkatkan ke arah
    Timur, lalu membuat kamp di Desa Kalidadung, sebelah barat
    sungai Madiun. Maka pasukan Mataram dan pasukan Jawa Timur
    telah berhadap-hadapan dan hanya dibatasi oleh sungai Madiun.
    Sutowijoyo membuat estimasi bahwa pasukannya tidak akan
    mungkin mengalahkan Angkatan Perang Jawa Timur yang sangat
    besar. Maka ia segera melancarkan taktik. Disuruhnya seorang
    wanita cantik, konon bernama Adisara, sebagai duta untuk
    melakukan diplomasi. Wanita tersebut disuruh Sutowijoyo untuk
    mengakui bahwa Mataram menyerah kepada Jawa Timur sebab
    Sutowijoyo menyadari kebesaran para penguasa Jawa Timur.
    Sutowijoyo menyatakan membatalkan peperangan. Maka
    Panembahan Madiun, yang tidak lain adalah ipar Sultan
    Hadiwijoyo, merasa gembira. Begitu pula para prajurit Jawa Timur
    yang tidak jadi berperang. 
    Karena pernyataan menyerah dari Sutowijoyo tersebut maka
    pasukan aliansi Jawa Timur membubarkan diri dan ditarik ke
    daerah masing-masing. Setelah  Sutowijoyo memastikan lawannya
    telah bubar, maka ia memerintahkan pasukannya untuk menyerang
    Madiun. Kisah peperangan licik ini diabadikan dengan cerita rakyat
    yang bertitel Retno Dumilah yang sering menjadi cerita
    pertunjukan Ketoprak. Retno Dumilah adalah puteri Panembahan
    Madiun, yang akhirnya dikawini oleh Sutowijoyo, yang konon
    melahirkan penerus kekuasaan Mataram selanjutnya, yaitu: Sultan
    Agung Hanyokro-kusumo, setelah meninggalnya Prabu
    Nyokrowati, Raja Mataram kedua.
    Kisah kelicikan Sutowijoyo dalam menjalankan taktik lainnya
    juga sangat terkenal dalam cerita rakyat Ki Ageng Mangir. Ki
    Ageng Mangir adalah penguasa Kemangiran dekat dengan
    Mataram, yang tidak mau membayar upeti kepada Mataram. Ki
    Ageng Mangir mempunyai alasan bahwa Mangir adalah wilayah
    bebas upeti (kawasan otonom dan bebas pajak) sejak jaman
    Majapahit dan diakui penguasa Demak sampai Pajang, sehingga ia
    juga tidak mau membayar upeti kepada Mataram. Namun,
    Sutowijoyo mengartikan lain. Jika seorang kepala daerah tidak mau
    membayar upeti, maka dianggaplah sebagai bentuk
    pembangkangan. 
    Sikap Sutowijoyo ini tidak  terlepas dari perilakunya
    (pengalamannya sendiri) ketika ia membangkang kepada Pajang
    dahulu, dengan jalan tidak mau  sowan dan tidak mau membayar
    upeti. Maka Sutowijoyo menganggap Ki Ageng Mangir sebagai
    lawan politik yang harus disingkirkan.
    Cerita rakyat mengisahkan bahwa Ki Ageng Mangir adalah
    orang yang sangat sakti dan berpengaruh. Ia mempunyai pusaka
    yang berupa tombak yang diberi nama Tombak Baru Klinting. Ki
    Ageng Mangir akan kehilangan kesaktian jika kesaktian tombak
    pusakanya itu musnah. Dalam mistik kejawen, seluruh bentuk
    kesaktian itu pasti mempunyai wadi (rahasia).
    Untuk menyerang Kemangiran, Sutowijoyo merasa ragu-ragu,
    apakah ia akan bisa mengalahkan Ki Ageng Mangir. Maka
    Sutowijoyo menugaskan puterinya yang cantik, bernama
    Pambayun, untuk menyamar  menjadi penari keliling dengan misi
    untuk menarik perhatian Ki Ageng Mangir. Akhirnya misi itu
    berhasil sebab Ki Ageng Mangir tertarik kepada Pambayun dan
    mengawininya. Umpan Sutowijoyo adalah puterinya sendiri, telah
    dimakan Ki Ageng Mangir.
    Karena sudah menjadi isteri Ki Ageng Mangir maka Pambayun
    tidak lupa dengan misinya untuk mengetahui  rahasia kesaktian Ki
    Ageng Mangir. Akhirnya Ki Ageng Mangir membeberkan rahasia
    kesaktiannya, yaitu terletak pada tombak pusaka miliknya. Jika
    tombak itu dipegang oleh wanita maka kesaktiannya akan hilang.
    Maka pada tengah malam ketika Ki Ageng Mangir tertidur,
    Pambayun memegang tombak pusaka Kyai Baru Klinting tersebut
    sehingga musnahlah kesaktiannya.
    Konon, setelah Pambayun hamil, maka ia merasa rindu dengan
    orang tuanya dan membuka kedoknya, bahwa sesungguhnya ia
    adalah anak Sutowijoyo yang sedang ditugaskan untuk mengetahui
    rahasia kesaktian Ki Ageng Mangir. Mengetahui hal tersebut maka
    Ki Ageng Mangir tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya,
    tetapi ia memilih untuk tunduk  kepada Mataram daripada harus
    berpisah dengan isterinya yang sedang hamil tersebut. 
    Selanjutnya Pambayun berkirim kabar kepada ayahnya,
    Sutowijoyo, bahwa ia akan pulang bersama Ki Ageng Mangir yang
    telah menjadi suaminya. Mendengar kabar itu maka Sutowijoyo
    mengirmkan utusan untuk menyampaikan pesannya kepada Ki
    Ageng Mangir, bahwa Ki Ageng Mangir boleh menghadap kepada
    Sutowijoyo, tetapi tidak boleh membawa pasukan pengawal untuk
    masuk ke wilayah Mataram. Syarat itu disanggupi oleh Ki Ageng
    Mangir.
    Namun, ketika Ki Ageng Mangir sampai di wilayah Mataram,
    Pambayun direbut oleh pasukan Mataram dan Ki Ageng Mangir
    dikeroyok pasukan Mataram. Tapi  karena kesaktiannya, maka Ki
    Ageng Mangir masih bisa hidup sampai akhirnya ia berhadapan
    langsung dengan Sutowijoyo di istana Mataram. Ki Ageng Mangir
    menuruti perintah Sutowijoyo untuk menghaturkan sembah, tetapi
    kepala Ki Ageng Mangir dibenturkan ke Watu Gilang oleh
    Sutowijoyo hingga meninggal dunia. Bahkan karena ketakutannya
    kepada Ki Ageng Mangir yang sudah mati, kepala Ki Ageng Mangir
    dipenggal, lalu kepala dan badan dikubur dalam tempat yang
    berbeda, di luar dan di dalam benteng keraton.
    Itulah sekelumit cerita yang sangat dihafal oleh sebagian besar
    para orang tua Jawa. Kisah-kisah tersebut menunjukkan betapa
    liciknya Raja Jawa yang bernama Sutowijoyo. Maka boleh jadi,
    Nyai Ratu Kidul adalah bagian dari kelicikan politik dan taktik
    Sutowijoyo untuk menjatuhkan mental para prajurit lawan-
    lawannya. Hal itu sekaligus menunjukkan kepiawaian Sutowijoyo
    dalam memanfaatkan  social behav or (perilaku masyarakat) dalam
    menjalankan strategi politiknya. Sutowijoyo sadar bahwa
    masyarakat Jawa waktu itu masih dilekati keyakinan mistik
    sehingga bisa dipengaruhi melalui jalan mistik tersebut.

     
  • tituitcom 22.25 on 27 August 2012 Permalink  

    Pembangkangan Sutowijoyo Kepada Pemerintah Pajang 

     Pembangkangan Sutowijoyo Kepada Pemerintah Pajang   Setelah Ki Pemanahan meninggal dunia tahun 1584 maka Sultan Hadiwijoyo mengangkat Sutowijoyo menjadi penguasa Mataram, dengan kewajiban untuk  selalu tunduk kepada Pajang. Artinya, Mataram tetap dianggap daerah kekuasaan Pajang oleh Sultan Hadiwijoyo.

    Pembangkangan Sutowijoyo Kepada Pemerintah Pajang

    Setelah Ki Pemanahan meninggal dunia tahun 1584 maka
    Sultan Hadiwijoyo mengangkat Sutowijoyo menjadi penguasa
    Mataram, dengan kewajiban untuk  selalu tunduk kepada Pajang.
    Artinya, Mataram tetap dianggap daerah kekuasaan Pajang oleh
    Sultan Hadiwijoyo.
    Namun setelah Sutowijoyo menjadi pengganti Ki Pemanahan,
    dengan sengaja ia tidak mau sowan (menghadap) kepada Sultan
    Hadiwijoyo. Sutowijoyo memulai  pembangkangan tersebut secara
    taktis. Ia selalu mempengaruhi para mantri dan bupati yang akan
    sowan kepada Sultan Hadiwijoyo. Mereka diikat dengan perlakuan
    yang baik, sampai-sampai secara tidak sadar membuat “kontrak
    politik” untuk bekerjasama. Yang dikatakan tidak sadar tersebut
    adalah bahwa para mantri dan bupati tersebut tidak mengetahui
    bahwa Sutowijoyo mempunyai rencana untuk membangkang
    kepada Sultan Hadiwijoyo.
    Karena beberapa lama Sutowijoyo tidak sowan kepada Sultan
    Hadiwijoyo, maka Sultan memerintahkan utusan untuk mengawasi
    perkembangan Mataram. Ternyata Mataram mulai membangun
    tembok keliling di istana. Konon pembangunan pagar atau tembok
    keliling itu atas saran Sunan Kalijaga. Utusan Pajang tersebut dalam
    cerita rakyat bernama Ki Wilamarta dan Wuragil. Menurut adat
    kebiasaan dan tatacara kenegaraan waktu itu, Wilamarta dan
    Wuragil yang datang ke Mataram sebagai wakil Sultan Pajang yang
    harus dihormati, sehingga Sutowijoyo pun harus memberikan
    hormatnya. Namun  Sutowijoyo menemui utusan Sultan tersebut di
    jalan, ia sengaja tidak mau turun dari kudanya untuk memberikan
    hormat kepada utusan Sultan Pajang. Itulah terutama isyarat yang
    ditangkap oleh para utusan Pajang, bahwa Sutowijoyo benar-benar
    membangkang kepada kekuasaan Pajang.
    Kisah tersebut saya ceritakan agak panjang lebar dengan
    maksud menunjukkan kepada  pembaca bahwa Sutowijoyo
    menjalankan politiknya dengan cara melanggar etika politik waktu
    itu. Hal ini sangat berguna untuk dihubungkan dengan
    kepercayaan Nyai Ratu Kidul tersebut dalam kaitannya dengan
    kejujuran Sutowijoyo.
    Konon, karena Ki Juru Mertani dan Sutowijoyo merasa sulit
    menandingi kesaktian Sultan Pajang dan kehebatan pasukan
    Pajang, maka Sutowijoyo pergi ke Parangtritis untuk menemui
    Nyai Ratu Kidul, dan Ki Juru Mertani mendapatkan tugas untuk
    menemui penguasa Gunung Merapi. Selanjutnya Nyai Ratu Kidul
    sanggup untuk memberikan bala bantuan jin dan setan untuk
    menghadapi rencana peperangan. Disamping bersekutu dengan
    Nyai Ratu Kidul, Sutowijoyo juga didukung oleh Sunan Kalijaga
    yang memberi nasihat untuk menyusun benteng-benteng (pagar) di
    Mataram. 
    Kisah peperangan Mataram melawan Pajang disulut oleh sebuah
    peristiwa yang agak persis dengan penyebab terjadinya Perang
    Dunia I. Adik perempuan Sutowijoyo dikawinkan dengan seorang
    Tumenggung yang dikenal dengan Tumenggung Mayang. Dari
    perkawinan tersebut dipunyai anak yang diberi nama Raden
    Pabelan, yang di masa remajanya terkenal sangat ganteng dan mata
    keranjang. Suatu saat Tumenggung Mayang menyuruh Raden
    Pabelan untuk menggoda puteri Sultan Pajang (Sekar Kedaton).
    Puteri ini akhirnya jatuh cinta kepada Raden Pabelan. 
    Suatu saat Raden Pabelan tertangkap ketika sedang berada di
    Taman Kaputren (tempat isteri dan putri raja yang berada dalam
    komplek istana). Hingga akhirnya Raden Pabelan meninggal di
    tangan prajurit Pajang. Menurut kisahnya, tertangkapnya Raden
    Pabelan oleh prajurit Pajang karena atas rencana Tumenggung
    Mayang sendiri yang jengkel dengan perilaku anaknya itu. Tapi
    dalam analisis politik ini akan menjadi lain, sebab pasti ada
    pertanyaan: Apakah sesederhana  itu alasan Tumenggung Mayang,
    sebab peristiwa ini menjadi penentu kehancuran Pajang. Kisah ini
    dapat dibandingkan dengan cerita upaya politik Sutowijoyo dalam
    menguasai tanah perdikan Mangir dengan cara mengumpankan
    anaknya, Puteri Pambayun.
    Peristiwa itu dilaporkan prajurit kepada Sultan Pajang sehingga
    Sultan Hadiwijoyo ini marah-marah dan menghukum Tumenggung
    Mayang, ayah Raden Pabelan, dengan dibuang ke Semarang. Dalam
    perjalanan pembuangan Tumenggung Mayang tersebut diiringi
    sekitar seribu pasukan Pajang dengan senjata lengkap. 
    Atas peristiwa itu, isteri Tumenggung Mayang yang tidak lain
    adalah adik Sutowijoyo, mengirim surat kepada Sutowijoyo,
    memberi kabar bahwa Tumenggung Mayang akan dibuang ke
    Semarang.
    Menerima pemberitahuan tersebut maka Sutowijoyo
    mengumpulkan para prajuritnya serta para bupati dan mantri
    sahabatnya untuk mempersiapkan diri guna merebut Tumenggung
    Mayang dari pasukan Pajang yang sedang menawannya. Sutowijoyo
    merasa berkewajiban untuk menyelamatkan adik iparnya itu. Tapi
    lagi-lagi, ini adalah sebuah alasan politis. 
    Rencana perlawanan Sutowijoyo itu dikritik Ki Juru Mertani. Ki
    Juru Mertani tersebut telah turut berjasa dalam membunuh Arya
    Penangsang (berarti juga berjasa untuk memperoleh bumi
    Mataram). Ki Juru Mertani menasihati Sutowijoyo agar jangan
    melawan Sultan Pajang dengan tiga alasan. Pertama, Sultan Pajang
    adalah raja yang berdaulat. Kedua, Sultan Pajang adalah ayah
    angkat Sutowijoyo. Ketiga, Sultan Pajang juga telah memberikan
    banyak pelajaran dan pengalaman  sehingga sama halnya sebagai
    guru Sutowijoyo. Namun Sutowijoyo terlanjur berambisi untuk
    menjadi Raja Jawa. Meskipun nasehatnya tidak digubris
    Sutowijoyo, Ki Juru Mertani tetap mendukung Sutowijoyo, sebab
    Sutowijoyo diyakininya telah memperoleh rekomendasi ramalan
    dari Walisongo (Sunan Giri); akan menjadi Raja Jawa.
    Selanjutnya berita pengerahan pasukan Mataram didengar oleh
    Sultan Pajang. Hal itu mengindikasikan adanya upaya
    pemberontakan oleh Mataram sebab Tumenggung Mayang adalah
    tawanan Pajang, tetapi akan direbut oleh Mataram. Maka Sultan
    Hadiwijoyo sendiri berangkat memimpin pasukannya untuk
    menundukkan Mataram.
    Di sinilah taktik dijalankan. Pasukan Sutowijoyo menggunakan
    strategi teknis dan magis. Pasukan Mataram dibagi menjadi tiga
    barikade. Satu barikade kecil bertugas menyerang (mengecoh)
    pasukan Pajang, lalu berlari mundur, sehingga seluruh pasukan
    Pajang mengejar barikade pasukan Mataran pengecoh ini.
    Selanjutnya dua barikade pasukan Mataram lainnya bertugas
    melakukan serangan mendadak dari sisi kiri dan kanan pasukan
    Pajang yang sedang mengejar satu barikade pasukan pengecoh
    tersebut. Maka kocar-kacirlah pasukan Pajang. 
    Pada waktu itu Gunung Merapi sedang dalam keadaan aktif.
    Maka taktik magis atau mistik juga dijalankan. Bendhe Kyai Becak
    diperintahkan untuk dibunyikan jika ada letusan gunung Merapi.
    Pasukan Pajang juga harus menghadapi aliran lahar gunung Merapi.
    Saat itulah pasukan Pajang mulai berpendapat bahwa mereka juga
    melawan para lelembut, pasukan dari penguasa Gunung Merapi
    yang diperintah Nyai Ratu Kidul. Maksud Sutowijoyo tercapai,
    yaitu: merontokkan spirit para prajurit Pajang.
    Banjir lahar malam hari membuat pasukan Pajang banyak yang
    hanyut. Karena kehilangan banyak pasukan maka Sultan
    Hadiwijoyo menarik pasukannya untuk kembali ke Pajang. Namun
    dalam perjalanan Sultan Pajang ini jatuh dari gajah tunggangannya
    sehingga jatuh sakit.
    Ketika sampai di istana Pajang, Sultan Hadiwijoyo berwasiat
    kepada anaknya, Pangeran Benowo, agar ia tidak melawan kepada
    Sutowijoyo. Bahkan Sultan Pajang sendiri sudah percaya bahwa
    Sutowijoyo telah ditakdirkan menjadi menjadi Raja Jawa
    sebagaimana ramalan Sunan Giri. Sultan Hadiwijoyo, penguasa
    Pajang itupun rontok semangatnya  karena isu mistik tersebut. Ia
    telah kehilangan keyakinan dan keimanan Islamnya, bahwa dengan
    semangat dan usaha, manusia bisa mencapai takdirnya sebagaimana
    orang yang sakit menjadi ditakdirkan sembuh karena berusaha
    mengobati dirinya. 
    Sultan Pajang itu dikalahkan bukan oleh kejituan ramalan
    Sunan Giri, tapi oleh pengaruh atau akibat ramalan yang telah
    menjatuhkan semangatnya. Suatu ramalan adalah bukan karena
    manusia mengetahui apa yang akan terjadi, melainkan sebuah
    ketajaman analisis. Buktinya,  tidak semua ramalan menjadi
    kenyataan, bahkan ramalan atau Jangka Jaya Baya yang dimitoskan
    itu juga tidak selalu tepat. Jangka Jayabaya tidak menggunakan
    “ilmu weruh sakdurunge winarah” (ilmu mengetahui peristiwa
    yang belum terjadi) seperti yang diyakini para penganut mistik,
    tetapi menggunakan ilmu falak atau ramalan bintang. 
    Saya kutipkan dasar ramalan bintangnya Jayabaya dari Kitab
    Primbon Quraisyn Adammakna, yaitu: “Marga manut primbon
    ilmu palintangan, katon lintang kemukus, siji-sij ne saben 100
    tahun mung  apisan temu gelang.” (Sebab menurut primbon ilmu
    perbintangan, nampak komet, satu-satunya setiap 100 tahun hanya
    satu siklus.) Begitu pula para Walisongo juga mendalami ilmu falak
    yang digunakan meramal masa depan, seperti ramalan bintang di
    koran-koran dan tabloid itu. Hanya saja menurut Islam, analisis
    masa depan menyangkut nasib  manusia tidak boleh dijadikan
    sebagai ramalan yang diyakini  pasti akan terjadi. Itu suatu
    kesombongan. Boleh jadi, Sultan Hadiwijoyo sedih memikirkan
    akhir karirnya atas ramalan Sunan Giri bahwa telah waktunya
    muncul Raja baru di Jawa. 
    Selanjutnya Sultan Pajang meninggal dunia tahun 1587. Pada
    waktu itu kekuatan politik di Jawa yang paling kuat waktu itu
    adalah Mataram sebab tidak ada lagi orang yang lebih kuat selain
    Sutowijoyo. Demak sudah lama di bawah pengaruh Pajang. Tetapi
    dengan meninggalnya Sultan Hadiwijoyo pun Pajang sudah tidak
    lebih kuat daripada Demak. 
    Sepeninggal Sultan Hadiwijoyo maka Pajang menggelar sidang.
    Sidang tersebut juga dihadiri oleh Sutowijoyo yang habis melayat
    ayah angkatnya itu. Di situ Sunan Kudus masih membuktikan
    pengaruhnya. Sunan Kudus memutuskan Pangeran Benowo
    menjadi Adipati Jipang Panolan. Sedangkan jabatan Sultan Pajang
    diberikan kepada menantu Sultan Hadiwijoyo yaitu Adipati Demak
    dengan alasan bahwa anak tertua  dari Sultan Hadiwijoyo adalah
    isteri dari Adipati Demak.
    Keputusan Sunan Kudus tersebut  menjadikan posisi Mataram
    semakin kuat, sebab dengan diangkatnya Adipati Demak menjadi
    Sultan Pajang maka di Pajang terjadi kekacauan politik dan sosial
    karena sifat kolusi Adipati Demak yang membawa para pejabat
    Demak ke Pajang serta mengurangi hak-hak asli tanah rakyat
    Pajang yang harus dibagi dengan para pendatang dari Demak.
    Situasi semakin tidak terkendali.
    Pangeran Benowo yang sudah menjadi Adipati (Bupati) Jipang
    meminta bantuan kepada Sutowijoyo untuk mengatasi situasi di
    Pajang, tetapi ditolak dengan alasan bahwa urusan Pajang adalah
    urusan Pangeran Benawa dengan saudara-saudaranya. Tapi, karena
    Pangeran Benawa tidak rela Pajang dikuasai oleh Adipati Demak
    maka ia menyatakan menyerahkan Pajang kepada Sutowijoyo. 
    Dengan penyerahan itulah maka Sutowijoyo menerimanya
    dengan senang hati sehingga mengerahkan pasukannya untuk
    menyerang Pajang. Akhirnya Pajang berhasil dikuasai Mataram.
    Maka pusat kekuasaan di Jawa Tengah waktu itu berada di
    Mataram, di bawah kendali Sutowijoyo alis Panembahan Senopati.

     
  • tituitcom 22.11 on 27 August 2012 Permalink  

    Pertemuan Pertama Nyai Ratu Kidul Dengan Sutowijoyo 

    Raja Mataram (Islam) yang pertama yang dikenal sejarah adalah Sutowijoyo. Sebenarnya penguasa Mataram Pertama adalah Ki Pemanahan, ayah kandung Sutowijoyo.

    Raja Mataram (Islam) yang pertama yang dikenal sejarah adalah
    Sutowijoyo. Sebenarnya penguasa Mataram Pertama adalah Ki
    Pemanahan, ayah kandung Sutowijoyo. Menurut silsilahnya
    Sutowijoyo adalah anak dari Ki Pemanahan. Ki Pemanahan adalah
    anak dari Ki Ngenis, dan Ki Ngenis adalah anak dari Ki Ageng Sela.
    Ki Ageng Sela ini adalah guru dari Sultan Pajang (Hadiwijoyo alias
    Jaka Tingkir). Ki Ageng Sela anak dari Ki Getas Pandawa. Ki Getas
    Pandawa anak dari Lembu Peteng dan Retna Nawangsih, sedangkan
    Nawangsih adalah anak dari Nawang Wulan dan Jaka Tarub (Raden
    Bondan Kejawan atau Kidang Telangkas). Jaka Tarub adalah

    keturunan dari Raja Majapahit; Bre Wengker. Lembu Peteng
    tersebut juga anak dari Raja Majapahit (Bandingkan dengan kisah
    Nyai Ratu Kidul Versi B di depan).
    Tadinya kerajaan Mataram adalah hutan Mentaok yang
    dihadiahkan oleh Sultan Hadiwijoyo kepada Ki Pemanahan, Ki Juru
    Mertani dan Sutowijoyo, atas jasa mereka dalam membunuh Arya
    Penangsang, Bupati Jipang Panolan. Arya Penangsang memberontak
    kepada Pajang karena menuntut takhta Demak yang sesungguhnya
    merupakan warisan dari ayahnya, Pangeran Sekar Seda Lepen
    (kakak Sultan Trenggono).  Ayah  dari Arya Penangsang ini telah
    dibunuh oleh orang suruhan Sunan Prawoto, anak Sultan
    Trenggono.
    Setelah hutan Mentaok diserahkan kepada Ki Pemanahan,
    Sutowijoyo dan Ki Juru Mertani maka mereka mulai
    membangunnya dan diberi nama Mataram. Setelah Ki Pemanahan
    meninggal, Sutowijoyo dinobatkan menjadi Bupati Mataram oleh
    Sultan Hadiwijoyo dan bergelar Panembahan Senopati ing Ngalogo
    Sayyiddin Panotogomo. Kalau diterjemahkan, kurang-lebih:
    “Junjungan Panglima perang, Pemimpin dan Penata Agama.”
    Perlahan dengan pasti, Mataram pada waktu pemerintahannya
    di pegang Sutowijoyo mulai memisahkan diri dengan Pajang, 
    memberontak kepada Sultan Hadiwijoyo, yang menurut kisah
    adalah ayah angkatnya sendiri.  Meskipun ada juga gosip sejarah
    yang menyatakan bahwa sebenarnya Sutowijoyo adalah “anak
    gelap” Hadiwijoyo yang lahir dari gundiknya, tapi gosip ini belum
    pernah bisa dibuktikan sebab latar belakang diangkatnya Sutowijoyo
    sebagai anak angkat dari Hadiwijoyo mempunyai korelasi dengan
    hubungan Hadiwijoyo dengan Ki  Ageng Sela (buyut Sutowijoyo)
    yang tidak lain adalah guru dari Hadiwijoyo sewaktu ia belum
    menjadi Sultan Pajang.
    Dalam masa babat hutan Mentaok tersebut dan pada masa
    merencanakan pemberontakannya kepada Pajang inilah terdapat
    kisah bahwa Sutowijoyo dibantu oleh Nyai Ratu Kidul dengan bala
    bantuan pasukan lelembut dari Laut Selatan. 
    Saya berpendapat bahwa kisah Nyai Ratu Kidul memang sudah
    ada sejak jaman Panembahan Senopati ini, yang digunakan untuk
    memotivasi pasukan Mataram dan memperkecil nyali pasukan
    lawan. Dari berbagai kisah yang ada, pertemuan pertama Nyai Ratu
    Kidul dengan Sutowijoyo terdapat dua versi. Pertama, pada waktu
    Sutowijoyo melakukan babat hutan Mentaok (seperti kisah
    bertemunya Bima dengan Arimbi di hutan Amarta atau
    Wanamarta), atau versi kedua, pada waktu Sutowijoyo bertapa ngeli
    (membiarkan tubuhnya dibawa aliran air), ketika Sutowijoyo sudah
    mulai merencanakan untuk membangkang kepada pemerintahan
    Pajang. 
    Versi kedua tersebut dituturkan sebagai berikut: Sebelum
    Sutowijoyo melakukan pemberontakan kepada Pajang, ia pernah
    bertapa untuk meminta kepada Tuhan agar ia diberikan petunjuk
    untuk bisa mengayomi rakyatnya dan memerintah Mataram dengan
    adil dan makmur. Sutowijoyo bertapa dengan jalan  ngeli  atau
    membiarkan dirinya hanyut oleh aliran sungai. Ketika ia hanyut
    sampai di pertemuan antara sungai Gajah Wong dengan sungai
    Opak, dekat Desa Plered, maka di Laut Selatan terjadi badai yang
    meresahkan para “penghuninya”.  Nyai Ratu Kidul segera turun
    tangan, mencari penyebab badai  tersebut, sehingga menemukan
    Sutowijoyo yang sedang bertapa.
    Saat mengetahui Sutowijoyo, Nyai Ratu Kidul jatuh cinta oleh
    ketampanannya. Kemudian Nyai  Ratu Kidul bertanya, apa yang
    diinginkan Sutowijoyo sehingga menyiksa diri bertapa sehingga
    pengaruhnya menimbulkan kekacauan di Laut Selatan. Maka
    Sutowijoyo menyampaikan maksud bahwa ia ingin menjadi raja
    Mataram yang nantinya bisa membawa rakyatnya kepada
    kesejahteraan. Lalu Nyai Ratu Kidul bersedia membantu Sutowijoyo
    dengan syarat harus disepakati kontrak yang klausulnya
    menyatakan bahwa Sutowijoyo dan raja-raja keturunannya harus
    memperisteri Nyai Ratu Kidul. Maka Sutowijoyo menyepakati
    kontrak tersebut, dan ia mengakhiri tapanya.
    Sejak itu, berkembanglah opini publik di Mataram yang
    mendengung-dengungkan bahwa Sutowijoyo didukung oleh
    Penguasa Laut Selatan. Tidak hanya itu; Nyai Ratu Kidul konon juga
    memerintahkan kepada penguasa Gunung Merapi untuk
    mendukung dan membantu Sutowijoyo. 
    Informasi tersebut tidak hanya berkembang di dalam Mataram,
    tetapi juga sampai ke luar Mataram. Untuk mendukung opini dan
    kepercayaan masyarakat Jawa maka tentara Mataram dibekali
    dengan Bendhe Kyai Becak (sebuah alat gamelan seperti gong kecil).
    Bendhe Kyai Becak tersebut selalu dipukul oleh tentara Mataram
    dalam peperangan dengan isu untuk mendatangkan bala bantuan
    dari para lelembut. Inilah yang menjatuhkan semangat lawan-lawan
    Mataram, sehingga dalam berbagai pertempuran pasukan Mataram
    berhasil menang.

     
  • tituitcom 21.41 on 27 August 2012 Permalink  

    NYAI RATU KIDUL DAN PENGUASA MATARAM 

    Memang gelap gulita, tidak ada  catatan sejarah tentang kapan mulainya kisah Nyai Ratu Kidul tersebut muncul. Beberapa analisis menyatakan bahwa kisah Nyai Ratu Kidul sengaja dimunculkan pada jaman ketika Mataram telah kehilangan kekuasaannya terhadap Laut Utara Jawa yang dikuasai VOC.

    Memang gelap gulita, tidak ada  catatan sejarah tentang kapan
    mulainya kisah Nyai Ratu Kidul tersebut muncul. Beberapa analisis
    menyatakan bahwa kisah Nyai Ratu Kidul sengaja dimunculkan pada
    jaman ketika Mataram telah kehilangan kekuasaannya terhadap Laut
    Utara Jawa yang dikuasai VOC. 
    Pada tahun 1743 VOC mengadakan perjanjian dengan Paku
    Buwono II yang sedang dalam keadaan sakit, yang isinya:
    (1)  VOC berkuasa atas sepanjang pantai utara Jawa serta ke pedalaman
    sampai batas 6 kilometer;
    (2)  Semua Bupati pesisir utara Jawa sebelum memangku jabatannya
    harus bersumpah setia kepada VOC.

     Dugaan tersebut pernah dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer
    pada waktu ia menerima hadiah Magsaysay tahun 1995 di Manila
    (geocities.com, 2004). 
    Pada umumnya para analis memang tidak bisa secara pasti, kapan
    kali pertama munculnya kepercayaan Nyai Ratu Kidul. Maka tulisan ini

    akan lebih banyak mengambil dasar-dasar dari cerita yang telah
    berkembang tentang Nyai Ratu Kidul tersebut, dan sedikit-banyak turut
    serta untuk memberikan pendapat tentang kapan, dengan motif apa,
    serta menilai kebenaran dari kepercayaan Nyai Ratu Kidul.

     
  • tituitcom 22.17 on 24 August 2012 Permalink  

    Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Munding Wangi 

    Dahulu kala hidup seorang puteri kerajaan Munding Wangi
    bernama Kadita. Saking cantiknya maka ia dijuluki Dewi Srengenge
    (Dewi Matahari). Namun Raja Munding Wangi belum puas dan
    bersedih sebab ia mengharapkan anak laki-laki. Lalu sang Raja
    mengawini seorang puteri yang bernama Dewi Mutiara.
    Dewi Mutiara merasakan Dewi Srengenge sebagai ganjalan cita-
    citanya, sebab Dewi Mutiara menginginkan anaknya kelak yang
    menjadi raja di Munding Wangi. Maka Dewi Mutiara meminta

    kepada Raja untuk menyuruh Dewi Srengenge pergi dari istana.
    Tapi permintaan itu ditolak oleh Raja.
    Suatu hari Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk
    menyewa jasa seorang dukun untuk mengutuk Dewi Srengenge agar
    tubuhnya menjadi gatal-gatal dan kudisan. Maka Dewi Srengenge
    berubah menjadi puteri yang buruk rupa dan berbau tidak sedap.
    Mengetahui kondisi puterinya seperti itu maka Raja Munding
    Wangi mengundang seluruh tabib istana untuk mengobati puterinya
    tersebut, namun segala daya tidak berhasil menyembuhkan Dewi
    Srengenge. Dengan keadaan putus asa seperti itu datang pengaruh
    dan hasutan dari Dewi Mutiara agar sang Raja mengusir puterinya
    itu dari istana. Maka Raja Munding Wangi akhirnya mengirimkan
    Dewi Srengenge ke luar kerajaan.
    Dewi Srengenge dengan tabah menjalani penderitaannya dan
    tidak mempunyai dendam kepada ibu tirinya, Dewi Mutiara. Ia
    berdoa agar Tuhan mendampingi dan melindunginya dalam
    penderitaan tersebut. Ia berjalan terus, hingga akhirnya sampai ke
    Laut Selatan. Ajaibnya, ketika kulitnya tersentuh air Laut Selatan
    tiba-tiba sembuh, maka ia mandi dan dengan itu pula sakit kulitnya
    sembuh. Akhirnya Dewi Srengenge menjadi penguasa Laut Selatan
    (Nyai Ratu Kidul).

     
  • tituitcom 22.12 on 24 August 2012 Permalink  

    Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Pajajaran 

     Alkisah, di kerajaan Pajajaran dahulu ada puteri raja yang mempunyai penyakit kulit bersisik dan seluruh tubuhnya buruk tak terawat.

    Alkisah, di kerajaan Pajajaran dahulu ada puteri raja yang
    mempunyai penyakit kulit bersisik dan seluruh tubuhnya buruk tak
    terawat. Suatu saat puteri tersebut diusir oleh saudara-saudaranya
    dari kerajaan sebab mereka malu mempunyai saudara yang buruk
    rupa. Lalu sang Puteri pergi  ke Laut Selatan dan karena
    kesedihannya ia menceburkan diri  ke laut. Selanjutnya di Laut
    Selatan inilah sang Puteri memperoleh kesembuhan, sampai
    akhirnya menjadi penguasa Laut Selatan.
    Suatu hari kerajaan Pajajaran mengadakan upacara di Pelabuhan
    Ratu. Maka munculah Ratu Kidul yang mengabarkan bahwa dirinya
    adalah puteri kerajaan Pajajaran yang dahulu diusir saudara-
    saudaranya dan kini menjadi penguasa Laut Selatan.
    Kisah versi C tersebut mungkin sama dengan kisah Versi Kerajaan Munding Wangi di
    bawah ini.

     
  • tituitcom 21.53 on 24 August 2012 Permalink  

    Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Majapahit 

    Di jaman Majapahit, di hutan Mentaok ada kerajaan bernama
    Mataram yang diperintah oleh seorang ratu bernama Lara Kidul
    Dewi Nawangwulan. Sang ratu tersebut adalah keturunan raja

    Tanah Melayu yang diambil menantu oleh Raja Majapahir, Bre
    Wengker (1456-1466), dikawinkan dengan Raden Bondan Kejawan
    atau Kidang Telangkas (atau dalam cerita rakyat dikenal dengan Jaka
    Tarub). Dalam dongeng dikisahkan bahwa Lara Kidul Dewi
    Nawangwulan bukanlah puteri kerajaan Tanah Melayu, melainkan
    bidadari yang baju terbangnya dicuri oleh Jaka Tarub ketika mandi
    di sendang bersama-sama dengan bidadari lainnya. 
    Perkawinan antara Raden Bonda Kejawan (Jaka Tarub) dengan
    Lara Kidul Nawangwulan melahirkan anak perempuan bernama
    Dewi Nawangsih yang menjadi ratu penerus penguasa Mataram.
    Selanjutnya pemerintahan Dewi Nawangsih dilanjutkan anak
    perempuannya bernama Ni Mas Ratu Angin. 
    Pada waktu Sutowijoyo, Ki Juru Mertani dan Pemanahan
    diberikan hadiah hutan Mentaok oleh Sultan Hadiwijoyo, maka
    dimulailah pembabatan hutan tersebut dan di situ bertemulah
    Sutowijoyo dengan Ni Mas Ratu Angin. Atas persetujuan Sultan
    Hadiwijoyo maka Sutowijoyo dikawinkan dengan Ni Mas Ratu
    Angin. Ini dimaksudkan sebagai legitimasi kekuasaan Sutowijoyo
    untuk menjadi raja Mataram sebab Sutowijoyo bukan keturunan
    raja, sedangkan dalam darah Ni Mas Ratu Angin mengalir darah raja
    Majapahit. Ni Mas Ratu Angin inilah yang dimitoskan sebagai Nyi
    Ratu Kidul. 
    Versi ini mungkin berbenturan dengan cerita silsilah
    Sutowijoyo. Mungkin Ni Mas Ratu Angin bukan anak dari Dewi
    Nawangsih, tapi keturunan yang lebih jauh ke bawah, sebab jika
    ditelusuri ternyata anak dari Dewi Nawangsih adalah termasuk Ki
    Getas Pandawa yang merupakan buyut dari Sutowijoyo. Jika Ni Mas
    Ratu Angin adalah anak Dewi  Nawangsih, maka sama halnya
    Sutowijoyo mengawini saudari buyutnya, yang semestinya sudah
    nenek-nenek keriput.

     
  • tituitcom 21.25 on 24 August 2012 Permalink  

    Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Kediri 

     Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Kediri   Di kerajaan Kediri, seorang putera raja Jenggala bernama Raden Panji. Suatu saat Raden Panji berkelana sampai ke hutan Sigaluh. Waktu itu Raden Panji membabat hutan Sigaluh.

    Riwayat asal-usul Nyai Ratu Kidul sendiri sebenarnya sangat banyak
    versinya. Saya akan menceritakan  beberapa versi, sekedar sebagai
    contoh. Karena saya kesulitan mencari istilah yang pas maka akan saya
    gunakan Versi Beberapa Kerajaan di Jawa. Urutan tersebut hanya istilah yang
    saya gunakan, tidak menunjukkan tingkatan atau urutan kualitas atau
    kebenaran ceritanya.
    1.  Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Kediri
    Di kerajaan Kediri, seorang putera raja Jenggala bernama Raden
    Panji. Suatu saat Raden Panji berkelana sampai ke hutan Sigaluh.
    Waktu itu Raden Panji membabat hutan Sigaluh. Padahal di hutan
    itu juga terdapat pohon beringin putih (waringin putih) yang
    menjadi pusat kerajaan lelembut (makhluk halus) yang rajanya
    bernama Prabu Banjaran Seta. Ketika melakukan pembabatan hutan
    itu ternyata pohon waringin putih  tersebut ikut terpotong. Dengan
    tumbangnya pohon waringin putih  tersebut Prabu  Banjaran Seta
    menjadi senang sebab ia dapat menyempurnakan hidupnya,
    sehingga akhirnya roh  Prabu Banjaran Seta  manjing  (masuk) ke
    dalam tubuh Raden Panji, sehingga Raden Panji bertambah
    kesaktiannya. Maka kekuasaan hutan Sigaluh dan kerajaan Prabu
    Banjaran Seta diambil-alih oleh Raden Panji.
    Prabu Banjaran Seta mempunyai adik perempuan bernama
    Retnaning Dyah Angin-angin, yang selanjutnya dijadikan isteri oleh
    Raden Panji. Dari perkawinan tersebut lahir anak perempuan
    bernama Ratu Hayu.  Pada hari kelahirannya tersebut datanglah
    kakek Ratu Hayu yang bernama Eyang Sindhula yang kemudian
    memberi nama Ratu Hayu tersebut dengan nama Ratu Pagedongan
    dengan harapan agar menjadi wanita tercantik di jagat raya. Setelah
    Ratu Pagedongan besar ia meminta kepada Eyang Sindhula agar
    kecantikannya abadi. Maka permintaan itu dikabulkan dan Ratu
    Hayu atau Ratu Pagedongan akan menjadi cantik terus sampai hari
    akhir jaman, dengan syarat ia harus menjadi lelembut.
    Setelah Ratu Pagedongan menjadi lelembut, maka Raden Panji
    memberikan kekuasaan kepada anaknya itu untuk memerintah di
    Laut Selatan, sampai saatnya nanti bertemu dengan Wong Agung
    yang memerintah Jawa. Hal ini juga disinggung dalam Serat
    Darmogandhul.
    Cerita tersebut mirip-mirip dengan kisah Pandawa dalam
    perjuangannya membuka Wonomarto (hutan Amarta) yang harus
    berlawanan dengan penguasa raksasa di Pringgondani yang
    dikalahkan oleh Bima,  sehingga akhirnya Bima mengawini puteri
    kerajaan Pringgondani bernama Dewi Arimbi. Kekuasaan
    Pringgondani selanjutnya diserahkan kepada Gatotkaca, anak hasil
    perkawinan Bima dengan Dewi Arimbi.
    Kisah asal-usul Nyai Ratu Kidul versi ini seolah-olah hendak
    memberikan gambaran bahwa penguasa jaman dahulu biasa kawin
    dengan lelembut, seperti halnya  akhirnya dikisahkan Nyai Ratu
    Kidul menjadi isteri Sutowijoyo, Raja Mataram, dan raja-raja
    keturunannya.

     
  • tituitcom 20.51 on 24 August 2012 Permalink  

    Beberapa contoh Kepercayaan Nyai Ratu Kidul di Tanah Jawa 

     contoh-contoh tentang kepercayaan terhadap Nyai Ratu Kidul di tanah Jawa ini.

    Saya akan memberikan contoh-contoh tentang kepercayaan
    terhadap Nyai Ratu Kidul di tanah Jawa ini. Contoh ini hanyalah
    sejumlah kecil dari fakta di masyarakat Jawa, diantaranya:

    a.  Dalam Serat Wedatama karya Mangkunegoro IV (1853-1181)
    terdapat syair sebagai berikut:
    Wikan wengkuning samudra
    Kederan wus den ideri
    Kinemat kamoting driya
    Rinegem kagegem dadi
    Dumadya angratoni
    Nenggih kang Ratu Kidul
    Ndedel nggayuh gegana
    Umara marak marepek
    Sor prabawa lan Wong Agung Ngeksiganda

    Kurang-lebih terjemahannya sebagai berikut:
      Mengetahui batas samudera
      Semuanya telah dijelajahi
      Dipesonanya masuk ke kalbu
      Tergenggam digenggam jadi
     Jadilah yang menguasai
     Yaitu Ratu Kidul
      Terbang mencapai angkasa
      Lalu datang menghormat
     Kalah perbawa dari Orang Besar Mataram (Sutowijoyo).
     
    b.  Di Keraton Jogjakarta diciptakan tari Bedaya Lambangsari dan
    Bedaya Semang yang dilakukan untuk menghormati Nyai Ratu
    Kidul. Tiap tahun Sultan Jogja mengadakan ulang tahun (menurut
    tahun Saka) di Pantai Selatan. Di sebelah Barat Keraton Jogja juga
    didirikan bangunan di komplek Taman Sari (Istana Bawah Air) yang
    dinamakan Sumur Gumuling, yang diyakini sebagai tempat
    pertemuan antara Sultan Jogja dengan Nyai Ratu Kidul.
    (anglefire.com, 2004). 
    Bandingkan dengan Gedung Putih di Washington D.C.! Gosip
    asmara  penguasanya bukan dengan Dewi Hantu, tapi dengan
    sekretaris kepresidenan.
    Keraton Jogjakarta mempunyai hubungan erat dengan Laut Selatan
    dilihat dari praktek keagamaan, seperti upacara labuhan. Masyarakat
    Jawa mempercayai adanya lampor, yaitu perjalanan makhluk halus
    yang saling berkunjung. Lampor itu ditandai dengan suara ribut
    gemerincing (Y. Argo Twikromo, tembi.org, 2004).

    c.  Di Surakarta, dibangun Panggung Sanggobuwono yang dipercaya
    sebagai tempat pertemuan Nyai Ratu Kidul dengan raja-raja
    Surakarta. Panggung itu dibuat pada tahun 1782 Masehi
    (jawapalace.org, 2004). 
    Jadi, jaman sekarang ini Nyai Ratu Kidul harus sibuk membagi
    waktu untuk menjadi isteri raja Jogja (Hamengku Buwono), raja
    Surakarta (Paku Buwono), raja Adikarto atau Pakualaman (Paku Alam) dan penguasa Mangkunegaran (Mangkunegoro) yang sama-
    sama raja-raja keturunan Sutowijoyo?

    d.  Komunitas nelayan di Pantai Pangandaran Jawa Barat setiap bulan
    Suro (Muharam) mengadakan hajat larung sesaji untuk
    dipersembahkan kepada Nyai Ratu Kidul. Untuk membiayai hajat
    sesaji tersebut dilakukan penarikan iuran kepada para anggota KUD
    sebesar 0,25 % dari nilai hasil tangkapan ikan setiap kali melaut.
    Nilai seluruh iuran tahun terakhir waktu itu (1998) mencapai  Rp.
    30 juta (indomedia.com, 2004). 
    Jer basuki mawa bea  untuk mistik. Nelayan Pangandaran
    mengharapkan basuki (keselamatan) dari Nyai Ratu Kidul.

    e.  Di Hotel Samudra Beach, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, ada kamar
    nomor 308 yang khusus, terdapat lukisan Nyai Ratu Kidul dan
    perangkat sesajen, kosmetika, dan tempat tidur. Kamar 308 itu
    dipercayai sebagai tempat singgah Nyai Ratu Kidul. Manajemen
    Samudra Beach Hotel mempunyai alasan bahwa itu hanya
    pertimbangan bisnis (Ahmad Zulfan, egroups.com, 1999).
    Ini berarti bisnis hotel tersebut memanfaatkan animo calon
    konsumen yang percaya dengan Nyai Ratu Kidul atau para penganut
    kepercayaan mistik. 

    f.  Dalam berita Media Indonesia, 23 Oktober 1999 ditulis bahwa
    lukisan Nyai Ratu Kidul (Nyi Roro Kidul) menghiasi ruang Wakil
    Presiden di Istana Kepresidenan. Waktu itu yang baru menjadi
    wakil presiden adalah Megawati Soekarnoputri sedang melihat-lihat
    calon kantornya itu (Yoyok P. H., hamline.edu, 1999). 
    Kenyataan itu tidak otomatis bisa ditafsirkan bahwa wakil presiden
    sebelumnya adalah pemuja Nyai Ratu Kidul. Tapi apa salahnya jika
    dikatakan: Pemasang gambar atau penyuruhnya, suka dengan
    lukisan Nyai Ratu Kidul. Selanjutnya terserah pembaca untuk
    menafsirkannya sendiri.

    g.  Kepercayaan luas masyarakat Jawa tentang larangan memakai
    pakaian warna hijau jika jalan-jalan di Pantai Selatan.
    h.  Banyak kasus para wisatawan di pantai Selatan terseret ombak dan
    tenggelam, yang selalu dipercaya masyarakat; karena dibawa oleh
    Nyai Ratu Kidul.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal