Updates from Juli, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 16.44 on 29 July 2012 Permalink  

    Cerita Panji dan Wajah Indonesia 

    Oleh Purnawan Andra

    MITOS selama ini menjadi bagian inheren dalam kehidupan masyarakat. Konsepsi simbolis atas nilai-nilai tertentu (lelakiperempuan, kelembutan-kekuasaan, basah hujan-kering) yang terlambangkan dalam elemen-elemen kehidupan, pekat menghidupi keseharian masyarakat kita.
    Kepercayaan yang merasuk dalam kehidupan sehari-hari itu menimbulkan interpretasi kreatif dalam benak. Namun sebagai konsepsi nilai tertinggi, mitosmitos itu memuat interpretasi visual yang mewujud dalam bentuk purba sebagai topeng: ia tidak berjenis kelamin, multisimbol dan perspektif, serta sangat antropologis.
    Topeng menjadi benda mitologis yang mendekatkan diri dengan konsep idealitas, dalam personifikasi yang paling dekat dan bisa disentuh. Pada saat yang sama, konsep mitos itu mendapat justifikasi dalam wujud topeng. Topeng mewakili dan mencipta kesakralan nilai yang ekspresif, personifikasi nilai yang mewujud serta (pada saat yang sama) proses pengenalan subjektivitas yang mengambang. Itu tampak jelas ketika masyarakat menggunakan topeng sebagai elemen ekspresi dalam berbagai ritus atau seni pertunjukan komunal, baik sebagai karya seni maupun sebagai bagian dari repertoar.
    Sugeng Toekio (1996: 58) menyebutkan, topeng muncul sebagai bagian dari seni pertunjukan melalui sebuah manuskrip bahwa sekitar abad ke-11 saat pemerintahan Kerajaan Jenggala disebutkan ada pertunjukan menggunakan tutup muka yang disebut tapel (topeng).
    Hikayat itu kelak dikenal sebagai cikal bakal pertunjukan Panji; penyaji pertunjukan menggunakan topeng.
    Roman cerita Panji, kisah asli Jawa Timur, bukan adaptasi dari India seperti Ramayana dan Mahabharata, adalah contoh budaya Nusantara yang menyebar bahkan hingga ke Asia. Cerita Panji, sosok pangeran sederhana dan manusiawi, adalah epik yang mengetengahkan intrik kemanusiaan dari politik, tata negara, religiusitas, sampai ideologi (cross-)gender, yang telah mengemuka pada zamannya.
    Kakawin Smaradahana gubahan Mpu Dharamaja sejauh ini merupakan sumber yang bisa ditelusur, yang menyebutkan tentang kisah Panji. Kitab itu menceritakan kisah cinta Smara (Batara Kamajaya) dan Dewi Ratih di hadapan Dewa Siwa. Smaradahana menyebutkan nama Prabu Kameswara (1115-1130 M), Raja Kediri, merupakan titisan ketiga Batara Kamajaya.
    Permaisuri Baginda bernama Sri Kiranaratu, putri dari Kerajaan Jenggala. Raja itulah yang dalam cerita Panji dikenal dengan nama Inu Kertapati dan sang permaisuri bernama Kirana, yaitu Dewi Candra Kirana (Purbacaraka, 1966: xi).
    Seturut logika pementasan teater (tradisional dan modern), mitos kedewataan yang mengikuti membuat
    topeng tercipta untuk membantu pelaku dalam menampilkan emosi, gerak tubuh, ekspresi gesture sesuai dengan perwatakan yang dibawakan. Kisah cinta itu menjadi local genius yang diciptakan Kameswara.
    Sebagai tambahan asumsi, terlebih berdasar kenyataan sejarah garis keluarga, Kediri dan Jenggala terpaksa dibagi karena alasan cinta Airlangga kepada para putranya. Kini, dalam sosok Kameswara, keagungan kedua kerajaan itu bersatu. Karena itulah muncul sosok Semirang sebagai seorang cross-gender: antara kekuatan lelaki (eks Jenggala), namun tetap difungsikan sebagai bagian dari dirinya, sebagai “istri”, perpaduan kekuatan dan kelembutan sekaligus dalam kekuasaan yang merajai tanah Jawa. Cerita Panji masuk dalam analog logika simbolisasi kekuasaan.
    Logika Linier Mitologi mewujud dalam visiologi tokoh: Panji sebagai tokoh ideal, perwujudan surya yang menerangi alam, roh utama yang juga bukan berjenis kelamin.
    Dalam ekspresi seni topeng, perwujudannya pun tak berwajah satria lelaki, tetapi berwajah halus menyerupai perempuan, tidak membuka mata, tetapi mampu melihat isi hati, seperti hidup dalam alam maya — sesuatu di ambang batas, yang mengetahui sisi yang satu di antara sisi lain. Topeng dari mitos, dalam wujudnya dan juga saat menarikannya adalah fase meditatif: antara sadar dan tiada, antara bangun dan tidur, menuju kebahagiaan diri.
    Dalam analogi yang sama, Semar dan Janaka (tokoh-tokoh utama dalam perwayangan) mengada sebagai sangkan paran, jejer utama sosok manusia Jawa yang berinkarnasi membawa kabar kebaikan dan keburukan sekaligus. Juga menata serta mampu merusak dunia demi harmonisasi kelak. Ia punya dua sisi kemanusiaan itu: menjaga dan menghancurkan.
    Dalam logika linear historisitasnya, tokoh-tokoh Panji bisa jadi merupakan leluhur para tokoh Mahabharata, wiracarita yang dipercaya menceritakan sejarah manusia Jawa. Panji yang disebut dalam Smaradahana pada masa pemerintahan Kameswara II (sekitar abad ke-11) merupakan personifikasi awal kekuasaan raja, lebih awal dari cerita Mahabharata Bharatayudha versi Mpu Sedah-Panuluh.
    Panji, seturut logika Stuart Hall, merupakan praktik representasi budaya, menjadi gagasan awal politik pencitraan atawa estetisasi kekuasaan raja, yang mewujud dalam simbol-simbol budaya: topeng (dan juga) dalam cerita-cerita turunannya seperti reog, topeng malang, wayang beber.
    Maka, saat dinamika sosial dan budaya kini mewujud berupa ketegangan dan friksi, sektarian, disorientasi serta disidentitas, yang meminggirkan nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan, dan keramahan, logika cerita Panji patut menjadi awal pertanyaan introspektif bagi bangsa ini: inikah wajah Indonesia yang bertopeng, tampak halus di luar namun beringas di dalam?
    (RED/CN27)

     
  • tituitcom 22.07 on 24 July 2012 Permalink  

    Ayodya Bedah 

    Prabu Banaputra dan permaisuri Dewi Kukilawati di Ayodya sedang merawat putrinya Dewi Raguwati alias Suksalya, karena sakit lumpuh. Berkat bantuan raja pertapa bernama Begawan Rawatmaja dan raja burung raksasa bernama Sempati, Dewi Raguwati dapat disembuhkan. Setelah sembuh Raguwati diserahkan kepada Rawatmaja dan dibawa ke pertapaannya.
    Sementara itu Prabu Rahwana dari Alengka marah, karena merasa keingiannya mempersunting Raguwati mendapat halangan, segera mengejar Rawatmaja.

    Ketika Rahwana dan Rawatwaja berperang tanding, Dewi Ragu pergi melarikan diri ke Hutan Dandaka dan bertemu dengan Dasarata serta Begawan Yogisrawa. Dasarata memuja bunga menjadi Dewi Ragu tiruan dan diberikan Rahwana. Dewi Raguwati selamat. Namun, ketika Rahwana tahu bahwa dirinya tertipu, ia marah dan pergi ke Kahyangan Suralaya. Sesudah Rahwana mengamuk, Batara Endra memberinya tiga orang bidadari cantik sebagai gantinya yakni: Dewi Tari, Dewi Kiswani, dan Dewi Triwati. Dengan memiliki tiga bidadari ini kerinduan terhadap
    Raguwati dapat terlupakan.

    Beberapa waktu kemudian Dewi Kiswani diberikan pada Kumbakarna, Dewi Triwati diberikan kepada Gunawan Wibisana, sedangkan Dasamuka hanya memperistri Dewi Tari.

     
  • tituitcom 15.46 on 24 July 2012 Permalink  

    Arjunasasra Gugur 

    Prabu Garbamurti dari Jonggarba akan membalas dendam kepada Arjuna Sasrabahu atas kematian
    ayahnya. Rama Bargawa bersedia membantunya. Prabu Garbamurti mendatangi tempat Dewi Citrawati yang sedang berpesta dengan delapan ratus putri raja, dengan cepat Garbamurti menculik salah satu putri raja, tetapi patih Kartanadi dapat menggagalkan dan Garbamurti dibunuh.

    Sekarang Rama Bargawa datang menantang Arjunasasra untuk merentangkan busur sakti Bargawastra. Arjunasasra dapat merentangkan busur itu tetapi tiba-tiba membalik dan sekaligus
    membunuh Arjunasasra. Namun terdengar suara bahwa Bargawa akan terbunuh oleh pemuda tampan yang bernama Regawa atau Ramawijaya.

     
  • tituitcom 15.36 on 24 July 2012 Permalink  

    Arjunasasra Rabi 

    Dikisahkan usaha Prabu Dasamuka untuk membunuh dan memenggal kepala 1000 orang pendeta di dunia. Untuk melaksanakannya, ia menugasi raksasa sakti bernama Yaksamuka. Waktu hendak membunuh Begawan Jumanten dari Pertapaan Giriretno, usaha Yaksamuka dihalangi oleh
    Bambang Kertanadi, putra sang Begawan. Yaksamuka kalah dan lari, tetapi dikejar Bambang Kartanadi.

    Dalam pelariannya raksasa Alengka itu bertemu dengan Arjunawijaya, lalu minta perlindungan.
    Setelah Bambang Kartanadi dapat menyusul, Arjunawijaya menghalangi niat Bambang Kartanadi
    membunuh Yaksamuka. Mereka berperang, sehingga Bambang Kartanadi takluk. Yaksamuka dan Bambang Kartanadi lalu bersama-sama mengabdi pada Arjunasasra.

    Keduanya juga mengikuti Arjunawijaya pergi ke Tunjungpura, untuk melamar Dewi Citralangeni. Setelah dapat menenuhi segala persyaratan, Arjunawijaya menikah dengan Dewi Citralangeni, lalu membawanya pulang ke Kerajaan Maespati.

    Bambang Kartanadi tetap mengikuti Arjunawijaya, tetapi Yaksamuka pulang kembali ke Alengka karena Bambang Kartanadi masih tetap mengancamnya. Ternyata sesampainya di Alengka, Yaksamuka dibunuh oleh Prabu Dasamuka karena dianggap gagal menunaikan tugas.

     
  • tituitcom 15.23 on 24 July 2012 Permalink  

    Arjunasastra Lahir 

    Prabu Kartawirya alias Partawirya mengundang Bambang Suwandageni, saudara sepupunya, untuk hadir pada upaca siraman, karena permaisurinya, Dewi Danuwati telah mengandung tujuh bulan.
    Sesaat setelah upacara itu selesai, datanglah utusan dari Kerajaan Lokapala, bernama Gohmuka, yang
    menyampaikan pesan agar Dewi Danuwati boleh dibawa ke Lokapala untuk dijadikan permaisuri Prabu Wisrawana alias Danaraja. Mendengar permintaan itu Suwandageni marah dan menghajar Gohmuka, yang lalu lari pulang ke negaranya.

    Setelah melaporkan kegagalan tugasnya, Prabu Danaraja lalu menyiapkan bala tentaranya
    untuk menyerbu Maespati. Ia juga minta bantuan seorang brahmana sakti yang berujud raksasa, bernama Begawan Wisnungkara.

    Sementara itu di kahyangan, Batara Wisnu diperintahkan oleh Batara Guru untuk turun ke dunia guna
    memelihara ketentraman. Batara Wisnu dengan senjata Cakra lalu merasuk ke janin bayi yang dikandung oleh Dewi Danuwati. Beberapa saat kemudian, Dewi Danuwati melahirkan seorang putra, yang oleh Prabu Kartawirya diberi nama Arjunawijaya, alias Arjuna Sasrabahu. Anehnya, bayi itu lahir dengan menggenggam senjata Cakra. Sementara itu balatentara Kerajaan Lokapala yang dipimpin oleh Prabu Danaraja telah sampai di tapal batas Maespati. Prabu Kartawirya bersama Suwandageni berangkat untuk menghadang musuh. Senjata Cakra
    yang digenggam putranya yang baru lahir dibawa ke medan perang.

    Dalam perang tanding antara Begawan Wisnungkara dengan Suwandageni berlangsung seru. Prabu
    Kartawirya lalu meminjamkan senjata Cakra pada Suwandageni. Dengan senjata itu Begawan Wisnungkara tak bisa berbuat apa-apa. Badannya hancur lebur terkena senjata Cakra. Prabu Danaraja yang berhadapan dengan Prabu Kartawirya yang bersenjatakan Cakra, seketika luluh semangatnya. Prabu Danaraja sadar bahwa ia berhadapan dengan senjata sakti dari kahyangan. Karena itu ia segera lari pulang ke Lokapala.

     
  • tituitcom 15.12 on 24 July 2012 Permalink  

    Anoman Lahir 

    Dewi Anjani yang bersedih hati karena wajahnya yang cantik berubah ujud menjadi wajah kera.
    Atas nasihat ayahnya, Begawan Gotama, ia bertapa nyantoka, serupa katak berendam di Telaga Madirda (ada versi yang menjebut Telaga Nirmala), hanya kepala saja yang muncul di permukaan air. Selama berbulan-bulan, Dewi Anjani hanya makan benda-benda yang hanyut dipermukaan air dan lewat di depan mulutnya.

    Pada suatu hari Batara Guru sedang melanglang buana, memeriksa keadaan dunia. Ketika ia terbang
    melintasi Telaga Mandirda, dilihatnya tubuh seorang wanita berendam di telaga yang bening itu. Seketika gairahnya bergejolak, sehingga jatuhlah kama benih (mani) nya, menimpa sehelai daun asam muda. Daun asam muda itu melayang jatuh ke permukaan telaga, tepat di depan mulut Dewi Anjani. Segera saja Anjani memakan daun asam muda itu (di masyarakat Jawa daun asam muda disebut sinom). Begitu daun asam muda itu ditelan, Dewi Anjani merasa dirinya mengandung. Segara ia mencari-cari siapa yang menjadi penyebabnya. Ketika ia melihat Batara Guru melayang-layang di atasnya, segera ia menuntut tanggung jawab atas janin yang dikandungnya. Batara Guru tidak mengelak tangung jawab itu.

    Ketika saatnya melahirkan, Batara Guru mengirim beberapa orang bidadari untuk menolong kelahiran bayi yang berujud kera putih mulus itu. Selanjutnya Dewi Anjani diruwat sehingga menjadi cantik kembali dan hidup di kahyangan. Bayi yang lahir itu diberi nama Anoman.

    Di kahyangan, ketika Batara Guru sedang memangku bayi Anoman, Batara Narada menertawakannya. Segera Batara Guru menghampirinya, dan menempelkan sehelai daun nila di punggung Narada, dan seketika itu juga di punggung Batara Narada menggelendot seekor bayi kera berwarna biru nila. Bayi kera itu diberi nama Anila. Para dewa yang hadir tertawa semua.
    Karena merasa ditertawakan, Batara Guru lalu memerintahkan para dewa untuk menciptakan seekor kera bagi anak mereka masing-masing.

     
  • tituitcom 15.01 on 24 July 2012 Permalink  

    Anoman Duta 

    Prabu Dasamuka menyerahkan Dewi Sinta yang diculiknya, di bawah pengawasan Dewi Trijata di Taman Argasoka, kemenakannya.

    Sementara Regawa alias Rama terus mencari istrinya yang hilang. Ia sudah mendapat petunjuk dari Jatayu bahwa Sinta diculik raja Alengka bernama Prabu Dasamuka. Perjalan Rama ke Alengka disertai Laksamana, adiknya, dan Prabu Sugriwa serta seluruh bala tentara Kerajaan Guwakiskenda.
    Setelah membangun perkemahan di daerah Mangliawan, Ramawijaya mengutus Anoman untuk menjadi duta, menemui Dewi Sinta di Keraton Alengka.

    Hal ini membuat iri Anggada, sehingga terjadi perkelahian dengan Anoman. Rama kemudian menyadarkan Anggada, bahwa nanti akan ada tugas penting lainnya bagi Anggada.
    Perjalanan Anoman ke Alengka ternyata penuh hambatan. Mulanya ia berjumpa dengan Dewi Sayempraba, salah seorang istri Prabu Dasamuka. Anoman dirayu, dan diberi hidangan buah-buahan beracun. Akibatnya Anoman menjadi buta. Untunglah ia ditolong oleh Sempati, burung raksasa yang pernah dianiaya oleh Dasamuka. Berkat pertolongan Sempati, kebutaan Anoman dapat disembuhkan. Ia juga ditolong oleh Begawan Maenaka, saudara tunggal bayu-nya, sehingga dapat sampai ke negeri Alengka.

    Sesampainya di Alengka, Senggana pergi ke Taman Argasoka bertemu dengan Dewi Sinta dengan
    membawa cincin pemberian Rama. Dalam pertemuan itu Dewi Sinta menyerahkan tusuk kondenya, dengan pesan agar disampaikan kepada Ramawijaya, dengan pesan bahwa Sinta masih tetap setia pada suaminya.

    Setelah menyelesaikan misinya sebagai duta, Anoman sengaja membuat dirinya ditangkap. Peristiwa
    penyusupan itu membuat Dasamuka marah, maka ia memerintahkan membakar hidup-hidup Senggana. Setelah bulunya terbakar, Anoman melepaskan diri dari ikatan, dan berlompatan kesana-kemari membakar Keraton Alengka. Setelah menimbulkan banyak kerusakan, ia pulang menghadap Ramawijaya

     
  • tituitcom 14.51 on 24 July 2012 Permalink  

    Anggada Duta 

    Menjelang pecah perang antara bala tentara kera yang memihak Ramawijaya dengan tentara raksasa dari Kerajaan Alengka, Ramawijaya mengutus Anggada untuk memberi ultimatum kepada Prabu Dasamuka.

    Waktu Anggada bertemu Prabu Dasamuka, raja Alengka itu menghasutnya dengan mengatakan bahwa Anggada sebenarnya adalah keponakannya, dan kematian Resi Subali — ayah Anggada, adalah akibat perbuatan Rama. Termakan oleh hasutan itu Anggada kembali dan langsung menyerang Rama. Untunglah Gunawan Wibisana dan Anoman berhasil menyadarkan Anggada.

    Anggada lalu kembali ke Alengka dan memberi laporan palsu bahwa Rama dan Laksmana sudah tewas. Ketika Prabu Dasamuka sedang bersuka ria mendengar berita baik itu, Anggada menyerangnya, dan berhasil merampas serta melarikan mahkota raja Alengka itu, dan kemudian melarikan diri. Usaha prajurit Alengka untuk menangkapnya sia-sia saja.

    Mahkota Alengka itu dipersembahkan pada Ramawijaya, tetapi Rama kemudian menyerahkannya pada Prabu Sugriwa.

     
  • tituitcom 21.15 on 23 July 2012 Permalink  

    Alap-alapan Sukesi 

    Lakon ini oleh sebagian dalang disebut Sastrajendra. Prabu Sumali mengumumkan sayembara, bahwa siapa yang dapat menjabarkan ilmu Sastra Jendra Pangruwating Diyu, akan dapat menjadi suami putrinya, yaitu Dewi Sukesi.

    Ilmu yang disayembarakan ini adalah ilmu rahasia, yang hanya diketahui para dewa. Karenanya, tidak ada seorang pun yang mencoba mengikuti sayembara itu. Di Kerajaan Lopakapala, Prabu Danaraja meminta ayahnya, yaitu Begawan Wisrawa, untuk melamarkan Dewi Sukesi baginya. Karena itu, Begawan Wisrawa lalu berangkat ke Alengka untuk mengikuti sayembara.
    Karena ilmu yang akan dijabarkan adalah ilmu rahasia, maka Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi harus berada di ruang tertutup.

    Pada saat Begawan Wisrawa memulai ajarannya, kahyangan geger, karena pengaruh ilmu itu. Untuk
    mencegah penyebarluasan ilmu itu Batara Guru dan Dewi Uma turun ke dunia. Batara Guru menyusup ke raga Wisrawa, sedangkan Dewi Uma ke raga Dewi Sukesi. Akibatnya hubungan antara guru dan murid merubah menjadi hubungan antara pria dan wanita yang dimabuk asmara.

    Karena peristiwa ini akhirnya Begawan Wisrawa dikawinkan dengan Dewi Sukesi. Berita perkawinan ini membuat Prabu Danaraja murka. Ia lalu mengerahkan bala tentara Lokapala untuk menyerbu Alengka guna menghukum ayahnya, yang dianggapnya telah mengkhianatinya.

    Sewaktu Begawan Wisrawa dan Prabu Danaraja berperang tanding, Batara Narada datang melerai.
    Dikatakan oleh Narada, bahwa Dewi Sukesi memang merupakan jodoh bagi Wisrawa

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal