Updates from September, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 22.26 on 10 September 2012 Permalink  

    Alkisah seorang raja yang kaya raya dan sangat baik, 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Alkisah seorang raja yang kaya raya dan sangat baik, ia mempunyai banyak sekali emas dan kuningan, karena terlalu banyak sehingga antara emas dan kuningan tercampur menjadi satu. Suatu hari raja yang baik hati ini memberikan hadiah emas kepada seluruh rakyatnya, dia membuka gudangnya lalu mempersilakan rakyatnya mengambil kepingan emas terserah mereka.
    Karena antara emas dan kuningan tercampur menjadi satu sehingga sulit sekali di bedakan, mana yang emas dan mana yang kuningan, lalu mana yang emasnya 24 karat dan mana yang emasnya hanya 1 karat, namun ada peraturan dari sang raja, yaitu apabila mereka sudah memilih dan mengambil satu dari emas itu, mereka tidak boleh mengembalikannya lagi.
    Tetapi raja menjanjikan bagi mereka yang mendapat emas hanya 1 karat atau mereka yang mendapatkan kuningan, mereka dapat bekerja dikebun raja dan merawat pemberian raja itu dengan baik, maka raja akan menambah dan memberikan kadar karat itu sedikit demi sedikit.
    Mendengar itu bersukacitalah rakyatnya, sambil mengelu-elukan rajanya. Mereka datang dari penjuru tempat, dan satu persatu dari mereka dengan berhati-hati mengamat-amati benda-benda itu, waktu yang diberikan kepada mereka semua ialah satu setengah hari, dengan perhitungan setengah hari untuk memilih, setengah hari untuk merenungkan, dan setengah hari lagi untuk memutuskan.
    Para prajurit selalu siaga menjaga keamanan pemilihan emas tersebut, karena tidak jarang terjadi perebutan emas yang sama diantara mereka. Selama proses pemilihan berlangsung, seorang prajurit mencoba bertanya kepada salah seorang rakyatnya, “apa yang kau amat-amati, sehingga satu setengah hari kau habiskan waktumu disini?”, jawab orang itu “tentu saja aku harus berhati-hati, aku harus mendapatkan emas 24 karat itu”,
    lalu tanya prajurit itu lagi “seandainya emas 24 karat itu tidak pernah ada, atau hanya ada satu diantara setumpuk emas ini, apakah engkau masih saja mencarinya?, sedangkan waktumu sangat terbatas”, jawab orang itu lagi “tentu saja tidak, aku akan mengambil emas terakhir yang ada ditanganku begitu waktuku habis”.
    Lalu prajurit itu berkeliling dan ia menjumpai seorang yang tampan,melihat perangainya ia adalah seorang kaya, bertanyalah prajurit itu kepadanya “hai orang kaya apa yang kau cari disini, bukankah engkau sudah lebih dari cukup?” ,jawab orang kaya itu “bagiku hidup adalah uang, kalau aku bisa mengambil emas ini, tentu saja itu berarti menambah keuntunganku”.
    Kemudian prajurit itu kembali mengawasi satu persatu dari mereka, maka tampak olehnya seseorang, yang sejak satu hari ia selalu menggenggam kepingan emasnya, lalu dihampirinya orang itu “mengapa engkau diam disini?, tidakkah engkau memilih emas-emas itu? atau tekadmu sudah bulat untuk mengambil emas itu?”, mendengar perkataan prajurit itu, orang ini hanya diam saja, maka prajurit itu bertanya lagi “atau engkau yakin bahwa itulah emas 24 karat, sehingga engkau tidak lagi berusaha mencari yang lain?”, orang itu masih terdiam, prajurit itu semakin penasaran, lalu ia lebih mendekat lagi
    “tidakkah engkau mendengar pertanyaanku?”, sambil menatap prajurit, orang itu menjawab “tuan saya ini orang miskin, saya tidak pernah tahu mana yang emas dan mana yang kuningan, tetapi hati saya memilih emas ini, sayapun tidak tahu, berapa kadar emas ini, atau jika ternyata emas ini hanya kuninganpun saya juga tidak tahu”. “lalu mengapa engkau tidak mencoba bertanya kepada mereka, atau kepadaku kalau engkau tidak tahu” tanya prajutit itu lagi.
    “Tuan emas dan kuningan ini milik raja, jadi menurut saya hanya raja yang tahu, mana yang emas dan mana yang kuningan, mana yang 1 karat dan mana yang 24 karat. Tapi satu hal yang saya percaya janji raja untuk mengubah kuningan menjadi emas itu yang lebih penting” jawabnya lugu. Prajurit ini semakin penasaran “mengapa bisa begitu?”, “bagi saya berapapun kadar karat emas ini cukup buat saya, karena kalau saya bekerja, saya membutuhkan waktu bertahun-tahun menabung untuk membeli emas tuan”
    prajurit tampak tercengang mendengar jawaban dari orang ini, lalu ia melanjutkan perkataannya “lagi pula tuan, peraturannya saya tidak boleh menukar emas yang sudah Saya ambil”, “tidakkah engkau mengambil emas-emas yang lain dan menukarkannya sekarang, selagi masih ada waktu?” tanya prajurit lagi, “saya sudah menggunakan waktu itu, kini waktu setengah hari terakhir saya,
    inilah saatnya saya mengambil keputusan, jika saya gantikan emas ini engan yang lain, belum tentu saya mendapat yang lebih baik dari punya saya ini, saya memutuskan untuk mengabdi pada raja dan merawat milik saya ini,untuk menjadikannya emas yang murni”, tak lama lagi lonceng istana berbunyi,tanda berakhir sudah kegiatan mereka.
    Lalu raja keluar dan berdiri ditempat yang tinggi sambil berkata “wahai rakyatku yang kukasihi, semua emas yang kau genggam itu adalah hadiah yang telah kuberikan, sesuai dengan perjanjian, tidak seorangpun diperbolehkan menukar ataupun menyia-nyiakan hadiah itu, jika didapati hal diatas maka orang itu akan mendapat hukuman karena ia tidak menghargai raja” kata-kata aja itu disambut hangat oleh rakyatnya.
    Lalu sekali lagi dihadapan rakyatnya raja ingin memberitahu tentang satu hal “dan ketahuilah, bahwa sebenarnya tidak ada emas 24 karat itu, hal ini dimaksudkan bahwa kalian semua harus mengabdi kepada kerajaan, dan hanya akulah yang dapat menambah jumlah karat itu, karena akulah yang memilikinya. Selama satu setengah hari, setengah hari yang kedua yaitu saat kuberikan waktu kepada kalian semua untuk merenungkan pilihan, kalian kutunggu untuk datang kepadaku menanyakan perihal emas itu, tetapi sayang sekali hanya satu orang yang datang kepadaku untuk menanyakannya”. Demikianlah raja yang baik hati dan bijaksana itu mengajar rakyatnya,dan selama bertahun-tahun ia dengan sabar menambah karat satu persatu dari emas rakyatnya.
    Dikutip dari : Kumpulan Sharing dan Cerpen Judul Asli: When We Have to Choice Berharap melalui alkisah diatas kita dapat merefleksi diri dalam mencari pasangan hidup :
    • Bagi yang sedang mencari pasangan alias cari pacar(setengah hari untuk memilih) Memilih memang boleh tapi manusia tidak ada yang sempurna, jangan lupa emas-emas itu milik sang raja, jadi hanya dia yang tahu menahu masalah itu, artinya setiap manusia milik Tuhan jadi berdoalah untuk berkomunikasi denganNya tentang pasangan Anda.
    • Bagi yang telah memperoleh pasangan tapi belum menikah (setengah hari untuk merenungkan) Mungkin pertama kali Anda mengenal, si dia nampak emas 24 karat,ternyata setelah bertahun-tahun kenal, si dia hanya berkadar 10 karat. Diluar, memang kita dihadapkan dengan banyak pilihan, sama dengan rakyat yangm memilih emas tadi, akan tetapi pada saat kita sudah mendapatkannya, belum tentu waktu kita melepaskannya kita mendapat yang lebih baik. Jadi jika dalam tahap ini Anda merasa telah mendapatkan dia, hal yang terbaik dilakukan ialah menilai secara objektiv siapa dia (karena itu keterbukaan dan komunikasi sangat penting dalam menjalin hubungan), dan menyelaraskan hati Anda bersamanya, begitu Anda tahu tentang hal terjelek dalam dirinya sebelum Anda menikah itu lebih baik, dengan demikian Anda tidak merasa shock setelah menikah, tinggal bagaimana Anda menerimanya, Anda mampu menerimanya atau tidak, Anda mengusahakan perubahannya atau tidak,”cinta selalu berjuang”, dan jangan anggap tidak pernah ada masalah dalam jalan cinta Anda, justru jika dalam tahap ini Anda tidak pernah mengalami masalah dengan pasangan Anda (tidak pernah bertengkar mungkin). Anda malah harus berhati- hati, karena ini adalah hubungan yang tidak sehat, berarti banyak kepura-puraan yang ditampilkan dalam hubungan Anda yang terpenting adalah niat baik diantara pasangan, sehingga dengan komitmen dan cinta, segala sesuatu selalu ada jalan keluarnya. Meskipun dalam tahap ini Anda masih punya waktu setengah hari lagi untuk memutuskan, artinya anda masih dapat berganti pilihan, akan tetapi pertimbangkan dengan baik hal ini.
    • Bagi yang telah menikah (setengah hari untuk memutuskan) Dalam tahap ini, siapapun dia berarti anda telah mengambil keputusan untuk memilihnya, jangan berfikir untuk mengambil keuntungan dari pasangan Anda, jika ini terjadi berarti Anda egois, sama halnya dengan orang kaya diatas, dan dengan demikian Anda tidak pernah puas dengan diri pasangan Anda,maka tidak heran banyak terjadi perselingkuhan. Anda tidak boleh merasa menyesal dengan pilihan Anda sendiri,jangan kuatir raja selalu memperhatikan rakyatnya, dan menambah kadar karat pada emasnya.
    Jadi percayalah kalau Tuhan pasti akan memperhatikan Anda, dan Dia yang paling berkuasa mengubah setiap orang. Perceraian bukanlah solusi, sampai kapan kita harus menikah lalu bercerai, menikah lagi dan bercerai lagi ???, ingatlah si dia adalah hadiah, siapapun dia terimalah dia karena sekali lagi itulah pilihan Anda, ingat ini adalah setengah hari terakhir yaitu waktu untuk memutuskan, setelah itu Anda tidak boleh menukar atau meyia-nyiakan emas Anda, jadi peliharalah pasangan Anda sebagaimana hadiah terindah yang telah Tuhan berikan. Dan apapun yang terjadi dengan pasangan Anda komunikasikanlah dengan Tuhan, karena Dia yang memiliki hati setiap manusia ……..
    Iklan
     
  • tituitcom 21.53 on 24 August 2012 Permalink  

    Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Majapahit 

    Di jaman Majapahit, di hutan Mentaok ada kerajaan bernama
    Mataram yang diperintah oleh seorang ratu bernama Lara Kidul
    Dewi Nawangwulan. Sang ratu tersebut adalah keturunan raja

    Tanah Melayu yang diambil menantu oleh Raja Majapahir, Bre
    Wengker (1456-1466), dikawinkan dengan Raden Bondan Kejawan
    atau Kidang Telangkas (atau dalam cerita rakyat dikenal dengan Jaka
    Tarub). Dalam dongeng dikisahkan bahwa Lara Kidul Dewi
    Nawangwulan bukanlah puteri kerajaan Tanah Melayu, melainkan
    bidadari yang baju terbangnya dicuri oleh Jaka Tarub ketika mandi
    di sendang bersama-sama dengan bidadari lainnya. 
    Perkawinan antara Raden Bonda Kejawan (Jaka Tarub) dengan
    Lara Kidul Nawangwulan melahirkan anak perempuan bernama
    Dewi Nawangsih yang menjadi ratu penerus penguasa Mataram.
    Selanjutnya pemerintahan Dewi Nawangsih dilanjutkan anak
    perempuannya bernama Ni Mas Ratu Angin. 
    Pada waktu Sutowijoyo, Ki Juru Mertani dan Pemanahan
    diberikan hadiah hutan Mentaok oleh Sultan Hadiwijoyo, maka
    dimulailah pembabatan hutan tersebut dan di situ bertemulah
    Sutowijoyo dengan Ni Mas Ratu Angin. Atas persetujuan Sultan
    Hadiwijoyo maka Sutowijoyo dikawinkan dengan Ni Mas Ratu
    Angin. Ini dimaksudkan sebagai legitimasi kekuasaan Sutowijoyo
    untuk menjadi raja Mataram sebab Sutowijoyo bukan keturunan
    raja, sedangkan dalam darah Ni Mas Ratu Angin mengalir darah raja
    Majapahit. Ni Mas Ratu Angin inilah yang dimitoskan sebagai Nyi
    Ratu Kidul. 
    Versi ini mungkin berbenturan dengan cerita silsilah
    Sutowijoyo. Mungkin Ni Mas Ratu Angin bukan anak dari Dewi
    Nawangsih, tapi keturunan yang lebih jauh ke bawah, sebab jika
    ditelusuri ternyata anak dari Dewi Nawangsih adalah termasuk Ki
    Getas Pandawa yang merupakan buyut dari Sutowijoyo. Jika Ni Mas
    Ratu Angin adalah anak Dewi  Nawangsih, maka sama halnya
    Sutowijoyo mengawini saudari buyutnya, yang semestinya sudah
    nenek-nenek keriput.

     
  • tituitcom 17.28 on 27 July 2012 Permalink  

    Kaisar Tai Zong dari Dinasti Tang, seorang Raja yang Bijak 

    JANGAN DI HAPUS

    Kaisar Tai Zong dari Dinasti Tang,
    seorang Raja yang Bijak
    Kekuasaan Zhen Guan menunjuk pada gaya pemerintahan Kaisar Tai Zong dari Tang Dinasti (627 – 649 sesudah masehi). Kekuasaan Zhen Guan dipuji oleh banyak generasi di Tiongkok sebagai puncak kejayaan kebudayaan, ekonomi dan sastra Tiongkok. Cara pemerintahan Kaisar bijak Tai Zong berpengaruh banyak pada masa kekuasaan Zhen Guan, sebagai ilustrasi dari catatan bersejarah, seperti yang di bawah ini.
    Kaisar Tai Zong pernah bertanya kepada pengawal pengadilan kekaisaran, “Saya bingung setelah membaca Biografi Kaisar Yang dari Dinasti Sui. Kaisar Yang memuji dua orang raja yang bijaksana, Yao dan Shun, dan beliau mencela dua raja yang dianggap lalim, Jie dari dinasti Xia dan Zhou dari dinasti Shang. Jelas terlihat mereka dapat memutarbalikkan kesalahan menjadi kebenaran, namun bagaimana mereka dapat mengakhiri kelalimannya?” . Penasihatnya Wei Zheng menjawab, “Bahkan jika seorang kaisar adalah seorang yang dapat berbuat apa saja, ia haruslah rendah hati dan mau menerima masukan dari luar sehingga orang bijak dapat mengutarakan ide-idenya dan orang pemberani dapat mengorbankan hidupnya untuk melaksanakan keinginan sang kaisar.
    Kaisar Yang Dinasti Sui sangat tinggi hati dan tidak mau menerima masukan dari luar sebab ia merasa dirinya sangat pandai dan berbakat. Gaya berbicara layaknya seorang kaisar yang bijak namun sikapnya sangat bertolak belakang. Ia bahkan tidak menyadari hal tersebut sebab ia menolak segala saran dan masukan, yang akhirnya membawanya pada kehancuran. Kaisar Tai Zong berkata, “Kaisar Sui berkuasa pada dua abad sebelum kita. (Sui adalah dinasti sebelum Dinasti Tang.) Kita dapat belajar dari pengalamannya.”
    Suatu hari, Kaisar Tai Zong berkata kepada seorang pengawal pengadilan kekaisaran, “Seseorang harus melihat dirinya di depan cermin. Seseorang harus melihat kekurangannya ketika ia mendengar masukan dari orang lain. Jika seorang kaisar menolak segala saran dari pengawalnya dan merasa dirinya paling benar, maka para prajuritnya akan menggali lubang dengan terus memuji sang kaisar. Jika demikian maka kekuasaan dan negaranya akan runtuh, dan pengawalnya juga akan jatuh! Yu Shiji, salah satu pengawal kekaisaran Dinasti Sui, berusaha mempertahankan kekayaan dan kekuasaan sang kaisar dengan memuji-muji Kaisar Yang. Akhirnya, keduanya terbunuh. Kalian harus ingat pelajaran berharga ini. Ketika saya berbuat kesalahan, kalian harus mengatakan apa kesalahan yang saya perbuat.”
    Kaisar Tai Zong berkata, “Setiap kali saya pergi ke pengadilan kekaisaran untuk menghadiri rapat kekaisaran, saya berpikir cukup lama sebelum saya mulai berbicara. Saya sangat sadar konsekuensi dari perkataan saya dihadapan orang-orang, maka saya berusaha untuk tidak banyak berbicara.
    Seluruh anggota rapat bertanggung jawab untuk mencatat apa yang dikatakan Kaisar, “Tugasku adalah mencatat perkataan Kaisar. Bahkan ketika Anda mengatakan sesuatu yang tidak benar, saya akan mencatatnya. Jika Kaisar mengatakan sesuatu yang tidak benar, itu tidak hanya membawa dampak yang buruk kepada rakyat Anda, namun juga akan ditertawakan oleh generasi selanjutnya.”
    Kaisar Tai Zong sangat senang dengan sikap bawahannya, dan Beliau menghadiahinya dua meter kain sutra. Kaisar Tai Zong juga berkata kepada pengawalnya, “Banyak orang yang percaya bahwa Kaisar tidak memiliki rasa takut sebab dia berada di atas rakyatnya, namun saya tidak berpikir demikian. Saya takut pada hukuman Tuhan. Saya khawatir semua pihak kekaisaran akan menyerang perkataan dan sikapku yang salah sehingga saya harus berhati-hati setiap saat. Saya juga khawatir bahwa saya mungkin akan melanggar amanat dari surga dan pengharapan dari rakyatku.”
    Kaisar Tai Zong juga berkata, “Saya menghargai seluruh ajaran Yao, Shun, Raja Wen dari Dinasti Zhou, dan Konfusius. Mereka adalah fundamen atas burung-burung dan air atas ikan-ikan. Saya tidak dapat hidup tanpa kebijakan yang mereka tinggalkan di waktu lalu.”
     
     
  • tituitcom 23.15 on 25 July 2012 Permalink  

    Dongeng Putri Salju dan Burung Kuntul 

    JANGAN DI HAPUS

    Dongeng Putri Salju dan Burung Kuntul
    Nun jauh di bagian utara, ada sebuah kerajaan salju, musim dingin di sana sangat panjang, dan hampir sepanjang tahun diselubungi salju. Sedangkan musim panas sangat pendek, dalam sekejap telah berlalu.
    Raja Salju adalah seorang raja yang arif bijaksana, ia mempunyai seorang putri yang cantik yaitu Putri Salju, ia sama seperti ayahandanya baik, karena acap kali memberitahu: “Hanya orang yang berhati baik, baru bisa mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.”
    Setiap hari, saat Putri Salju bersantai, pasti akan berdiri di depan sebuah jendela besar istana kerajaan memandang ke luar. Di pandang dari sana, bisa melihat salju, laut yang telah membeku menjadi gumpalan es, setiap pada saat demikian, ia akan teringat musim panas yang indah, rerumputan yang hijau segar dan sederetan perumpung yang dilalui kuntul yang indah di bawah langit biru, terbayang akan pernikahannya yang akan segera tiba.
    Pada sebuah malam terang bulan yang dingin, putri datang lagi di depan jendela istana, cahaya bulan yang terang benderang bagaikan di siang hari menyinari dengan jelas segala yang berada di luar jendela, udara semakin dingin, di atas kaca jendela mulai diselubungi selapis bunga salju yang halus, lembut dan gemerlapan, sangat indah. Dan terbersit pikiran putri salju melihat pemandangan yang indah itu, “Jika saja bisa memakai mahkota seperti bunga salju ini, oh alangkah indahnya.”
    Pada hari kedua, penjahit di dalam istana mulai membuat pakaian pengantin sang Putri Salju, namun tidak ada yang tahu bagaimana membuat mahkota seputih bunga salju.
    Suatu hari, seorang tua datang ke istana, katanya ia bisa membuat mahkota yang demikian, namun harus memakai seikat mahkota phoenix yang kusut masai yang tumbuh pada musim semi di atas kepala burung kuntul, dan persis seperti bunga salju. Dengan sangat gembira mata Putri Salju memancarkan sinar ceria: “Ya! Saya memang ingin memakai perhiasan bulu seperti itu, lalu bagaimana baru bisa mendapatkannya?” Orang tua merendahkan nada suaranya, dan membisikkan ke telinga sang putri: “Hanya perlu membunuh seekor burung kuntul.”
    “Membunuh burung kuntul”, mata sang putri menjadi redup, “Tidak, Tidak.”
    Putri terbayang akan burung-burung besar yang indah itu yang terbang melintas di atas langit pada musim panas, bagaimana boleh saya berbuat demikian? Namun, bagaimana dengan mahkota yang indah itu? Lama sekali sang putri tidak dapat mengambil keputusan, dengan demikian tidak lama kemudian, putri salju lalu berdiri di depan jendela besar yang digemarinya dan merenungkan dalam-dalam. Tidak lama kemudian tertidur.
    Dalam mimpinya, putri melihat si orang tua membawa sebuah mahkota yang indah sekali memakai kotak emas, bulu yang halus dan putih bersih, butir-butir berlian yang berkilauan. Sang putri yang memakai perhiasan mahkota, sangat mempesona dalam pernikahannya, semua orang melongo oleh paras putri yang cantik.
    Di musim panas setelah pernikahan itu, putri salju dan ayahandanya berkunjung lagi di padang rumput hijau yang sedang bersemi di luar istana, dan masuk ke semak perumpung.
    Di bawah langit biru, mengapa tak terlihat seekor burung kuntul pun? Sang putri merasa sangat aneh. Tiba-tiba, sang putri melihat ribuan ekor burung kuntul berbaring di depan, ada yang telah mati, ada yang mulutnya terbuka sedang mengembuskan napas terakhir. Saking terkejutnya, putri menutup matanya, dan berteriak panik: “Ya Tuhan, kenapa bisa begini?”
    Seekor burung kuntul yang akan segera mati berkata pada sang putri: “Kamulah orang pertama yang memakai bulu mahkota kami dan membuatnya sebagai perhiasan mahkota, dan mahkota burung kuntul yang sama yang diinginkan orang-orang sudah hampir musnah dibunuh, di atas dunia ini tidak akan ada lagi burung kuntul.” Sang putri yang sangat menyesal terjaga dalam teriakannya, dan baru menyadari ternyata hanya sebuah mimpi.
    Putri yang terjaga dari tidurnya mengenang kembali suasana dalam mimpinya, jantungnya terus berdetak: “Untung, masih belum membunuh seekor burung kuntul pun. Sang putri merasa bersalah dengan pikirannya yang menginginkan kecantikan sesaat dirinya yang membangkitkan pikirannya hendak membunuh seekor burung kuntul. Sang putri meminta ayahandanya memaklumatkan kepada pejabat dan rakyat seluruh negeri, dilarang melukai makhluk hidup lain hanya untuk beberapa hal yang tidak berarti.
    Musim panas telah tiba, dan pernikahan putri salju benar-benar akan dilaksanakan, ketika sang putri yang menggenggam bunga dan mengenakan busana pengantin melangkah keluar dari istana, langit tampak biru cerah, pejabat-pejabat seluruh negeri yang datang menghadiri pernikahan sang putri tidak melihat perhiasan (mahkota) apa-apa di atas kepalanya, namun hatinya yang baik membuat sang Putri Salju tampak semakin menggugah hati.
    Tiba-tiba, di bawah sinar mentari orang-orang melihat di atas langit yang tiada awan sedikit pun melayang seserpih bunga salju yang gemerlapan, ribuan serpihan bunga salju yang bening gemerlap berputar di atas langit, menari-nari, dan semakin lama semakin cepat, serta memancarkan cahaya warna-warni di bawah sinar mentari. Dan tiba-tiba, gumpalan cahaya warna-warni itu berhenti berputar dan tampak sebuah mahkota yang sangat indah, lembut gemerlap bercahaya sangat indah bagaikan berlian yang berkilauan di bawah sinar mentari perlahan-lahan melayang turun ke atas kepala sang putri.
    Ternyata, dewi kuntul yang berada di atas langit mengetahui hati sang putri salju yang baik, lalu menggunakan sari mujarab bunga salju menganyam mahkota itu dan dihadiahkan kepada sang putri sebagai penghargaan atas kebaikan hati sang putri salju. Dan sejak itu, kehidupan orang-orang negeri salju semakin makmur sejahtera dan harmonis, semua orang saling memperlakukan dengan baik, melindungi dan menyayangi segalanya, dan negeri salju pun menjadi semakin indah.
    (Artikel ini direvisi oleh Fei-Fei)
     
  • tituitcom 20.52 on 24 July 2012 Permalink  

    Cerita Gadis Bangau dari Jepang 

    Cerita Gadis Bangau dari Jepang
    Dahulu kala di suatu tempat di Jepang, hidup seorang pemuda bernama Yosaku. Pekerjaannya adalah mencari kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil penjualan dibelikannya makanan. Terus seperti itu setiap harinya. Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas salju. Setelah di dekatinya ternyata seekor burung bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta. Yosaku segera melepaskan perangkat itu. Bangau itu sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Yosaku beberapa kali sebelum terbang ke angkasa. Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya dirumah, Yosaku segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara ketukan pintu di luar rumah.

    Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan salju. “Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan hangatkan badanmu dekat tungku,” ujar Yosaku. “Nona mau pergi kemana sebenarnya ?”, Tanya Yosaku. “Aku bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena salju turun dengan lebat, aku jadi tersesat.” “Bolehkah aku menginap disini malam ini ?”. “Boleh saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan.” ,kata Yosaku. “Tidak apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap”. Kemudian gadis itu merapikan kamarnya dan memasak makanan yang enak.

    Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Yosaku berpikir bahwa gadis itu akan segera pergi, ia merasa kesepian. Salju masih turun dengan lebatnya. “Tinggallah disini sampai salju reda.” Setelah lima hari berlalu salju mereda. Gadis itu berkata kepada Yosaku, “Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal terus di rumah ini.” Yosaku merasa bahagia menerima permintaan itu. “Mulai hari ini panggillah aku Otsuru”, ujar si gadis. Setelah menjadi Istri Yosaku, Otsuru mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Otsuru meminta suaminya, Yosaku, membelikannya benang karena ia ingin menenun.

    Otsuru mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat Otsuru menenun. Setelah tiga hari berturut-turut menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar. Kain tenunannya sudah selesai. “Ini tenunan ayanishiki. Kalau dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal. Yosaku sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang untuk dibawa pulang. “Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih istriku. Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih banyak lagi. “Baiklah akan aku buatkan”, ujar Otsuru. Kain itu selesai pada hari keempat setelah Otsuru menenun. Tetapi tampak Otsuru tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus. Otsuru meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi.

    Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak ada maka Yosaku akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Yosaku pada istrinya. “Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya”, kata Otsuru.

    Karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun, Yosaku berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun. Tetapi ia sangat terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun, ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir gundul kehabisan bulu. Bangau itu akhirnya sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Yosaku, bangau itu pun berubah wujud kembali menjadi Otsuru. “Akhirnya kau melihatnya juga”, ujar Otsuru.

    “Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu pernah Kau tolong”, untuk membalas budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini,” ujar Otsuru. “Berarti sudah saatnya aku berpisah denganmu”, lanjut Otsuru. “Maafkan aku, kumohon jangan pergi,” kata Yosaku. Otsuru akhirnya berubah kembali menjadi seekor bangau. Kemudian ia segera mengepakkan sayapnya terbang keluar dari rumah ke angkasa. Tinggallah Yosaku sendiri yang menyesali perbuatannya.

     
  • tituitcom 20.40 on 24 July 2012 Permalink  

    Busana Sang Raja 

    Busana Sang Raja
    Pada zaman dahulu kala ada seorang raja, dia sangat suka mengenakan busana yang baru yang indah. Dia, demi untuk berbusana indah, menghabiskan semua uangnya pada pakaian, sedikitpun ia tidak memikirkan pasukannya, ia tidak suka nonton sandiwara. Kecuali untuk memamerkan sejenak busana barunya, ia juga tidak suka berjalan-jalan ke taman dengan kereta kudanya. Setiap hari setiap jam ia selau mengganti busana baru. Begitu membicarakan raja orang-orang selalu berkata : “raja di ruang ganti pakaian.”

    Di kota besar tempat tinggalnya, ia hidup dengan santai dan ceria. Setiap hari banyak tamu asing ke istana. Suatu hari, datanglah dua penipu. Mereka mengaku sebagai tukang tenun. Mereka mengatakan, bahwa mereka bisa memintal kain terindah yang tidak terbayangkan oleh siapapun. Corak dan motif kain ini bukan saja sangat indah, bahkan busana yang terbuat dari kain itu memiliki efek yang unik, yaitu setiap orang yang tidak pantas duduk sebagai pejabat pemerintah atau orang tolol, tidak dapat melihat pakaian ini.

    “Itulah adalah pakaian yang paling ku suka!” begitu yang terlintas dalam benak raja. “dengan mengenakan busana itu, aku bisa mengetahui siapa-siapa saja yang tolol dalam kerajaanku, aku bisa mengetahui siapa-siapa saja yang bodoh dan pintar. Ya, aku akan menyuruh mereka untuk segera memintal kain demikian!” ia banyak menghabiskan uang tunai untuk kedua penipu ini, menyuruh mereka segera bekerja.

    Kedua penipu ini memasang dua unit mesin tenun, lalu beraksi bagaikan sedang bekerja, tapi, di atas mesin tenun mereka tidak tampak sesuatu apapun. Mereka berulang kali meminta raja mengambil beberapa sutera mentah dan emas untuk mereka. mereka memasukkan semua ini ke kantung mereka sendiri, lalu berpura-pura sibuk bekerja hingga larut malam. Di atas kedua mesin tenun yang kosong melompong itu.

    “Aku penasaran bagaimana hasil tenunan kain mereka,” demikian raja berpikir. Lalu ia berpikir untuk mengutus menteri, “Aku akan mengutus menteri senior yang jujur ke untuk melihat-lihat sejenak pekerjaan tukang tenun itu,” demikian raja berpikir. “Hanya dia yang mengetahui bagaimana rupa kain itu, sebab dia sangat cerdas.”

    Demikianlah menteri senior yang jujur itu lalu berangkat ke lokasi kerja kedua penipu itu. kedua penipu itu terus sibuk bekerja di di atas mesin tenun yang kosong.

    “Apa-apaan ini?” menteri senior itu merenung, memelototkan matanya.

    “Saya tidak melihat apapun disini!” tapi dia tidak berani mengutarakannya.

    Kedua penipu itu memintanya mendekat, sambil bertanya padanya, indah bukan, warna dan motif kainnya. Mereka menunjuk kedua mesin tenun yang kosong.

    Sang menteri senior itu membuka matanya lebar-lebar, tapi dia tidak melihat apapun, sebab memang tidak ada sesuatu apapun disana. Tapi dia tidak akan membiarkan orang lain tahu kalau dia buta dengan kain ini.” Lalu ia kembali ke istana dan melaporkan hal itu kepada raja.

    Kedua penipu tersebut kembali meminta uang, sutera dan emas lebih banyak lagi. Alasan mereka untuk keperluan menenun kain. Mereka memasukkan semua itu ke dalam kantung mereka, tidak ada seuatas benangpun dipasang di atas mesin tenun. Tapi mereka terus saja sibuk di rak mesin yang kosong.

    Tidak lama kemudian, raja mengutus pejabat yang jujur lainnya untuk melihat pekerjaan tukang tenun itu, apakah kainnya sudah bisa segera diselesaikan. Nasibnya tidak jauh lebih baik dari menteri senior sebelumnya, ia mengamati dengan cermat, namun di atas ke dua mesin tenun itu kosong, ia tidak melihat sesuatu apapun.

    Semua orang membicarakan tentang kain yang indah itu

    Ketika kain itu masih dalam proses penenunan, raja lantas bermaksud melihatnya sendiri. Ia memilih serombongan pengiring dari kalangan khusus, diantaranya termasuk menteri yang jujur yang pernah melihat pekerjaan kedua penipu tersebut. Demikianlah, raja beserta pengiringnya berangkat ke tempat tinggal kedua penipu yang licik itu. Kedua penipu tersebut sedang menenun dengan lagak serius, tapi tidak tampak setitik bayanganpun di atas mesin tenun mereka.

    “Coba anda lihat, indah bukan?” kata kedua menteri yang jujur itu. “Silahkan paduka, corak dan motif yang begitu indah!” mereka menunjuk pada mesin tenun yang kosong itu, sebab mereka mengira orang lain pasti dapat melihat kainnya.

    “Apa-apaan ini?” pikir raja dalam hati. “saya tidak melihat apapun! Ini benar-benar kurang ajar! Apa benar saya orang yang tolol ? dan apa saya tidak pantas menjadi raja? ini adalah hal paling menakutkan yang belum pernah saya temui. “Wah, sungguh indah kain ini!” ujar raja. “Saya menyatakan sangat puas!” Lantas raja mengangguk-anggukan kepalanya menyatakan puas. Ia pura-pura serius mengamati dengan cermat kain itu, sebab ia tidak mau mengatakan bahwa ia tidak melihat apapun. Seluruh rombongan yang mengiringnya mengamati dengan seksama, tapi, mereka juga tidak melihat sesuatu apapun. Namun, mereka juga mengikuti kata-kata raja : “Wah, sungguh indah sekali!” mereka menyarankan raja agar memakai kain yang indah dan unik ini untuk dibuat menjadi busana, dan mengenakan busana ini mengikuti upacara perjalanan yang akan segera di selenggarakan.

    Dan raja menganugerahkan sebuah gelar dan satyalencana yang dapat digantung di lubang kancing pada setiap orang, bahkan menganugerahi mereka sebagai “Master tenun kerajaan”.

    Pagi keesokannya upacara perjalanan akan segera berlangsung. Malam di hari pertama, kedua penipu tersebut sepanjang malam tidak tidur, mereka menyalakan 16 batang lilin. Anda bisa melihat mereka sedang kerja lembur, hendak menyelesaikan busana baru sang raja, mereka pura-pura mengambil kain dari mesin tenun. Mereka menggunting sesaat dengan dua gunting besar, lalu menjahit sebentar dengan jarum tanpa benang. Terakhir, mereka berkata serentak : “silahkan lihat! busana baru sudah selesai!”

    Raja membawa serombongan prajurit-prajurit yang paling elite ke tempat kedua penipu tersebut. Kedua penipu mengangkat tangan mereka, seperti memegang sesuatu. “lihatlah, celana ini, ini mantel! ini jas!”. Baju ini halusnya seperti jaring laba-laba, orang yang mengenakannya akan merasa seolah-olah tidak memakai apapun? inilah keunikan busana ini.”

    “Benar,” ujar para prajurit. Tapi, mereka tidak melihat apapun, sebab memang tidak tampak sesuatu apapun.

    “Sekarang, mohon paduka melepaskan pakaian,” ujar kedua penipu itu, “kami akan mengganti pakaian untuk paduka di depan cermin ini. Raja melepaskan semua pakaiannya. kedua penipu ini lalu pura-pura memberikan satu demi satu pakaian baru yang baru mereka jahit kepada raja. Mereka melakukan sesuatu sesaat di lingkar pinggang raja, seperti menambatkan sesuatu, ini adalah Slaebet, yaitu sepotong kain panjang yang ditarik kebelakang pakaian, ia (kain) itu adalah suatu dandanan bangsawan Eropa zaman feodal. Raja berputar-putar di depan cermin.

    “Ya, Tuhan, pakaian ini begitu pas! pola jahitan yang begitu indah!” ujar semua orang memuji. “Semua orang sudah menyiapkan kubah (atap berbentuk payung) di luar, tinggal menungu sang raja, setelah itu bisa di buka dan berparade!” ujar petugas perayaan. “Ya, saya sudah siap,” tandas Raja, apa pakaian ini pas di badan saya?” lalu raja berputar-putar sebentar di depan cermin, sebab ia ingin semua orang memandang dirinya yang sungguh-sungguh menikmati pakaiannya yang indah. Para menteri yang harus menyangga slaebet raja, meraba kesana-kemari kain slaebetnya, bagaikan benar-benar memungut slaebet raja. Mereka tidak berani sampai diketahui orang lain kalau mereka benar-benar memang tidak melihat sesuatu apapun.

    Begitulah, raja berparade di bawah kubah yang megah itu. Orang-orang yang berdiri di jalan raya dan jendela berkata: “Astaga, busana baru raja benar-benar indah! betapa indahnya slaebet bawah di pakaian atasnya! pakaiannya begitu pas!” siapapun tidak mau sampai diketahui kalau diri sendiri tidak melihat apapun.

    “Tapi, ia kan tidak memakai pakaian apapun!” seorang bocah akhirnya berkata.

    Lalu, semua orang menyebarkan secara diam-diam ucapan bocah polos ini.

    “Ia tidak memakai pakaian apapun kan ada seorang bocah mengatakan bahwa dia tidak berpakaian apapun!”

    “Memang ia tidak memakai pakaian apapun!” akhirnya semua rakyat jelata pada berkata begitu. Raja sedikit gemetar, ia merasa malu tapi karena congkaknya ia tetap tidak mau mengakui.

    Hikmah yang dapat diambil dari cerita ini adalah kita sering merasa malu untuk mengakui kekurangan dan kesalahan kita. Dengan congkak dan angkuh tetap kukuh bertahan, maka yang terlihat adalah kebodohan kita dan banyak orang yang akan memanfaatkan kelemahan itu. Mau jujur kepada diri sendiri adalah sifat paling pemberani.

    (Sumber Minghui-net)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal