Updates from Agustus, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 21.53 on 24 August 2012 Permalink  

    Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Majapahit 

    Di jaman Majapahit, di hutan Mentaok ada kerajaan bernama
    Mataram yang diperintah oleh seorang ratu bernama Lara Kidul
    Dewi Nawangwulan. Sang ratu tersebut adalah keturunan raja

    Tanah Melayu yang diambil menantu oleh Raja Majapahir, Bre
    Wengker (1456-1466), dikawinkan dengan Raden Bondan Kejawan
    atau Kidang Telangkas (atau dalam cerita rakyat dikenal dengan Jaka
    Tarub). Dalam dongeng dikisahkan bahwa Lara Kidul Dewi
    Nawangwulan bukanlah puteri kerajaan Tanah Melayu, melainkan
    bidadari yang baju terbangnya dicuri oleh Jaka Tarub ketika mandi
    di sendang bersama-sama dengan bidadari lainnya. 
    Perkawinan antara Raden Bonda Kejawan (Jaka Tarub) dengan
    Lara Kidul Nawangwulan melahirkan anak perempuan bernama
    Dewi Nawangsih yang menjadi ratu penerus penguasa Mataram.
    Selanjutnya pemerintahan Dewi Nawangsih dilanjutkan anak
    perempuannya bernama Ni Mas Ratu Angin. 
    Pada waktu Sutowijoyo, Ki Juru Mertani dan Pemanahan
    diberikan hadiah hutan Mentaok oleh Sultan Hadiwijoyo, maka
    dimulailah pembabatan hutan tersebut dan di situ bertemulah
    Sutowijoyo dengan Ni Mas Ratu Angin. Atas persetujuan Sultan
    Hadiwijoyo maka Sutowijoyo dikawinkan dengan Ni Mas Ratu
    Angin. Ini dimaksudkan sebagai legitimasi kekuasaan Sutowijoyo
    untuk menjadi raja Mataram sebab Sutowijoyo bukan keturunan
    raja, sedangkan dalam darah Ni Mas Ratu Angin mengalir darah raja
    Majapahit. Ni Mas Ratu Angin inilah yang dimitoskan sebagai Nyi
    Ratu Kidul. 
    Versi ini mungkin berbenturan dengan cerita silsilah
    Sutowijoyo. Mungkin Ni Mas Ratu Angin bukan anak dari Dewi
    Nawangsih, tapi keturunan yang lebih jauh ke bawah, sebab jika
    ditelusuri ternyata anak dari Dewi Nawangsih adalah termasuk Ki
    Getas Pandawa yang merupakan buyut dari Sutowijoyo. Jika Ni Mas
    Ratu Angin adalah anak Dewi  Nawangsih, maka sama halnya
    Sutowijoyo mengawini saudari buyutnya, yang semestinya sudah
    nenek-nenek keriput.

     
  • tituitcom 21.25 on 24 August 2012 Permalink  

    Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Kediri 

     Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Kediri   Di kerajaan Kediri, seorang putera raja Jenggala bernama Raden Panji. Suatu saat Raden Panji berkelana sampai ke hutan Sigaluh. Waktu itu Raden Panji membabat hutan Sigaluh.

    Riwayat asal-usul Nyai Ratu Kidul sendiri sebenarnya sangat banyak
    versinya. Saya akan menceritakan  beberapa versi, sekedar sebagai
    contoh. Karena saya kesulitan mencari istilah yang pas maka akan saya
    gunakan Versi Beberapa Kerajaan di Jawa. Urutan tersebut hanya istilah yang
    saya gunakan, tidak menunjukkan tingkatan atau urutan kualitas atau
    kebenaran ceritanya.
    1.  Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Kediri
    Di kerajaan Kediri, seorang putera raja Jenggala bernama Raden
    Panji. Suatu saat Raden Panji berkelana sampai ke hutan Sigaluh.
    Waktu itu Raden Panji membabat hutan Sigaluh. Padahal di hutan
    itu juga terdapat pohon beringin putih (waringin putih) yang
    menjadi pusat kerajaan lelembut (makhluk halus) yang rajanya
    bernama Prabu Banjaran Seta. Ketika melakukan pembabatan hutan
    itu ternyata pohon waringin putih  tersebut ikut terpotong. Dengan
    tumbangnya pohon waringin putih  tersebut Prabu  Banjaran Seta
    menjadi senang sebab ia dapat menyempurnakan hidupnya,
    sehingga akhirnya roh  Prabu Banjaran Seta  manjing  (masuk) ke
    dalam tubuh Raden Panji, sehingga Raden Panji bertambah
    kesaktiannya. Maka kekuasaan hutan Sigaluh dan kerajaan Prabu
    Banjaran Seta diambil-alih oleh Raden Panji.
    Prabu Banjaran Seta mempunyai adik perempuan bernama
    Retnaning Dyah Angin-angin, yang selanjutnya dijadikan isteri oleh
    Raden Panji. Dari perkawinan tersebut lahir anak perempuan
    bernama Ratu Hayu.  Pada hari kelahirannya tersebut datanglah
    kakek Ratu Hayu yang bernama Eyang Sindhula yang kemudian
    memberi nama Ratu Hayu tersebut dengan nama Ratu Pagedongan
    dengan harapan agar menjadi wanita tercantik di jagat raya. Setelah
    Ratu Pagedongan besar ia meminta kepada Eyang Sindhula agar
    kecantikannya abadi. Maka permintaan itu dikabulkan dan Ratu
    Hayu atau Ratu Pagedongan akan menjadi cantik terus sampai hari
    akhir jaman, dengan syarat ia harus menjadi lelembut.
    Setelah Ratu Pagedongan menjadi lelembut, maka Raden Panji
    memberikan kekuasaan kepada anaknya itu untuk memerintah di
    Laut Selatan, sampai saatnya nanti bertemu dengan Wong Agung
    yang memerintah Jawa. Hal ini juga disinggung dalam Serat
    Darmogandhul.
    Cerita tersebut mirip-mirip dengan kisah Pandawa dalam
    perjuangannya membuka Wonomarto (hutan Amarta) yang harus
    berlawanan dengan penguasa raksasa di Pringgondani yang
    dikalahkan oleh Bima,  sehingga akhirnya Bima mengawini puteri
    kerajaan Pringgondani bernama Dewi Arimbi. Kekuasaan
    Pringgondani selanjutnya diserahkan kepada Gatotkaca, anak hasil
    perkawinan Bima dengan Dewi Arimbi.
    Kisah asal-usul Nyai Ratu Kidul versi ini seolah-olah hendak
    memberikan gambaran bahwa penguasa jaman dahulu biasa kawin
    dengan lelembut, seperti halnya  akhirnya dikisahkan Nyai Ratu
    Kidul menjadi isteri Sutowijoyo, Raja Mataram, dan raja-raja
    keturunannya.

     
  • tituitcom 21.07 on 1 August 2012 Permalink  

    Pisang goreng Pontianak 

    Pisang goreng Pontianak


    Bahan :
     
    1 sisir (10 buah) pisang uli/gepok
    1½ lt minyak goreng.

    Bahan Pencelup :
     

    125 tepung terigu protein sedang
    ¼ sdt garam 250 ml air
    1 sdm tepung beras
    1½ sdm gula tepung

    Bahan Kremesan :

     1 lt air 240 gr tepung beras
    45 gr tepung sagu tani
    1 sdm garam 20 gr gula merah, disisir halus
    2 kuning telur pewarna kuning tua secukupnya (boleh tidak dipakai)

    Cara Membuat :
     

    Potong pisang seperti kipas melebar. Sisihkan.
    Aduk bahan pencelup sampai rata.
    Aduk bahan kremesan sampai rata.
    Panaskan minyak goreng.
    Tuang satu sendok sayur adonan kremesan.
    Biarkan mengambang. Kecilkan api.
    Kumpul-kumpulkan adonan sehingga menyatu.
    Celup pisang ke bahan pencelup.
    Masukkan ke bagian tengah kremesan yang sudah dikumpulkan.
    Lipat kremesan hingga menutupi pisang. Goreng sampai matang.

    Tips :
    Menggoreng pisang kremes lebih baik menggunakan 2 penggorengan yang masing-masing diisi minyak panas.
    Penggorengan pertama digunakan untuk menuang bahan kremes hingga melipat adonan.
    Penggorengan kedua digunakan untuk mematangkannya.
    Pada saat menuang bahan kremesan minyak harus benar-benar panas agar bahan kremesan naik dan mengambang.
    Setelah bahan kremesan mengambang, kecilkan api agar bahan kremesan tidak cepat kering.

    Resep ini diambil dari Tabloid Saji
     
  • tituitcom 23.46 on 28 July 2012 Permalink  

    Keluarga Dua Centong 

    Keluarga Dua Centong
    Cerita ini merupakan kisah nyata yang terjadi di Tiongkok. Pada zaman dahulu kala, terdapat sebuah desa kecil yang sederhana dan indah, namanya desa Tianhui. Disana ada seorang warga yang kaya raya, bermarga Yang. Beberapa generasi keluarga Yang adalah orang baik yang suka menolong orang lain. Kalau menjumpai bhiksu atau pendeta agama Tao yang minta sedekah, hartawan Yang pasti akan menyajikan banyak lauk-pauk untuk mereka.
    Terkadang, tetangga rumah juga datang meminjam bahan pangan padanya. Namun karena tetangganya banyak yang miskin, maka ketika mereka hendak mengembalikan bahan pangan yang dipinjaminya itu, tuan Yang tidak mau menerima Para tetangga merasa bahwa tuan Yang sudah berbaik hati meminjamkan bahan pangan, itu sudah sangat membantu, mana boleh tidak mengembalikan? Tidak, harus dikembalikan kepadanya.
    Lalu hartawan Yang memotong 2 bagian kendi besarnya, sebagian besar dan sebagian lagi kecil. Ketika tetangga datang untuk meminjam bahan pangan, tuan Yang menimbang dengan centong besar, centong demi centong bahan pangan dipinjamkannya kepada tetangga. Pada saat tetangga mengembalikan bahan pangan yang dipinjamnya itu, tuan Yang menimbangnya dengan centong kecil, hanya mengambil sedikit saja.
    Waktu berlalu dan lama kelamaan, semua orang menyebutnyaLiang Piaojia” (keluarga 2 centong). Diusianya yang ke-80 musim gugur tahun itu, tanaman gandum juga telah matang, “Liang Piaojiabermaksud hendak ke ladang untuk melihat sejenak gandumnya. Lalu, dengan terhuyung-huyung ia menopang tongkat pergi ke ladang gandumnya seorang diri. Tiba-tiba, langit tertutup oleh awan hitam, petir bergemuruh di ladang. Melihat keadaan seperti ini, dalam benakLiang Piaojiaberpikir ,Saya sudah tua, tidak bisa jalan lagi, lebih baik mati disini saja!”
    Saat itulah, Liang Piaojia mendengar satu suara keras bergema di ladangnya, “Dewa guntur, dewi petir dan naga laut, kalian dengar baik-baik, “Liang Piaojiasaat ini berada di ladang rumahnya, setitik airpun tidak boleh kalian teteskan di atas gandumnya!”
    Setelah lama berlalu, hujan yang disertai petir akhirnya berhenti, “Liang Piaojiabangun dari atas ladangnya dan begitu melihat, tidak ada setetes airpun membasahi ladang gandum tempat ia berbaring, sedangkan ladang gandum orang lain semuanya terbenam air.
    SetelahLiang Piaojiapulang ke rumah, ia menceritakan kepada putra-putrinya tentang peristiwa yang dialaminya itu, lantas dengan disertai putra-putrinya mereka berlutut menyembah, memanjatkan puji syukur dan terimakasih atas anugerah Yang Maha Kuasa.
    Nah, anak-anak, mengapa kilatan petir tidak sampai melukai hartawan Yang? Sebab seumur hidupnya ia memperlakukan orang dengan baik, selalu memikirkan kepentingan orang lain.
    Pada zaman dulu di Tiongkok, orang-orang tahu mengenai prinsip bahwa baik dan jahat ada balasannya, percaya bahwa setiap hal yang dilakukan manusia, baik yang kecil maupun besar, Yang Maha Kuasa selalu melihatnya. Karena itu, semua orang berusaha berbuat hal yang baik, tidak melakukan perbuatan jahat.
    Anak-anak, tahukah kalian? Bahwa di masyarakat sekarang juga banyak orang baik sepertiLiang Piaojia”, diantara mereka adalah kakek nenek, paman, bibi dan kakak yang berkultivasi Zhen, Shan, Ren (Sejati, Baik, Sabar), meskipun sekarang mereka mengalami penderitaan, namun, kelak pasti akan mendapat balasan yang baik.
    Nah, anak-anak, maukah kalian menjadi anak yang baik, sabar dan membantu orang lain tanpa pamrih?
    (Sumber: bukuHimpunan Dongeng Fubao-bao”)
     
  • tituitcom 23.37 on 28 July 2012 Permalink  

    Kamu Harus Memulainya dengan Bersikap Jujur 

    Kamu Harus Memulainya dengan Bersikap Jujur
    Sima Guang, adalah orang yang pernah menjadi Perdana Mentri Dinasti Song Utara dan seorang sejarawan terkenal, tinggal di Desa Sushui, Kabupaten Xia, Provinsi Shanxi.
    Sima Guang tinggal di Kota Luoyang ketika menyusun sebuah buku berjudul, Zi Zhi Tong Jian (1). Suatu hari Sima Guang menyuruh pelayan tuanya, Luzhi, untuk membawa kuda tua, yang telah dia tunggangi selama beberapa tahun, untuk dijual di pasar. Sima Guang mendesak Luzhi, “Kamu harus mengatakan kepada pembeli potensial bahwa kuda ini mempunyai warna bulu yang sangat menarik, kudanya sangat tinggi, kuat, berkarakter lembut, dan fisiknya sangat kuat. Tapi kamu juga harus mengatakan kepada pembeli bahwa kuda ini punya masalah paru-paru selama musim panas. Pastikan pembeli mengenalinya dan memperhatikan masalah ini.
    Pelayan tua tertawa dan berkata, ”Apakah kamu pernah melihat penjual melon mengungkapkan fakta bahwa melonnya pahit? Mengapa kita harus memberitahukan masalah itu kepada pembeli potensial kalau mereka bahkan tidak dapat melihat masalah apapun. Disamping itu, penampilannya sangat bagus, tidak akan ada seorangpun yang dapat menyalahkan kita ketika mereka mengetahui penyakitnya.
    Sima Guang terus-menerus menggelengkan kepalanya dan berkata, ”Berapa harga yang saya dapat dari menjual kuda itu adalah perihal yang sepele, akan tetapi, reputasi yang rusak adalah hal yang penting. Hal yang paling penting adalah menjadi orang yang baik, bersikap jujur dan menepati janji. Ketamakan seseorang terhadap keuntungan kecil akan mudah merusak reputasi orang itu, ini adalah prinsip menjadi orang.”
    Sima Guang selalu jujur. Dia menganggap kebajikan dan kemurahan hati sebagai tindakan terhormat. Dia selalu menyebut dirinya sendiri sebagaiseorang tua yang sederhana.” Kebajikannya sebagian besar terkait dengan pendidikan budi pekerti yang dia terima dari ayahnya Sima Che semasa kanak-kanak. Sima Che mempunyai tiga orang putra dan Sima Guang adalah yang termuda. Dia tidak manja walaupun dia adalah yang termuda. Malahan dia menerima pendidikan yang sangat keras dan belajar nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan dan kesabaran.
    Contohnya, ketika Sima Guang berumur 5 tahun, dia memutuskan ingin makan sebuah kacang kenari. Kakaknya mencoba membantu dia; akan tetapi dia terlalu muda untuk membuka kulit kacang kenari. Pelayan wanita datang dan merebus kacang kenari dengan air yang mendidih sebentar, dan kemudian kacang itu terbuka dengan mudahnya. Ketika kakak wanitanya pulang dan bertanya kepadanya siapa yang telah membuka kulit kacang kenari itu, Sima Guang berkata kepadanya bahwa dia telah melakukannya sediri. Ayahnya mendengar semunya dan menegurnya dengan keras, ”Anakku! bagaimana kamu bisa berbohong tentang hal ini? Kejujuran adalah perilaku utama untuk menjadi seorang pria sejati. Ini sangat penting, agar orang lain dapat mempercayai kamu.” Sejak itu, Sima Guang tak pernah berbohong lagi.
    Sima Guang berkata, ”Dalam keseluruhan hidup, saya tidak pernah melakukan sesuatu lebih baik dari orang lain dan tidak ada sesuatu apapun yang saya lakukan yang saya takut diketahui oleh orang lain.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Sima Guang adalah orang yang lurus. Ketika Liu Anshi meminta nasihat dari Sima Guang tentang bagaimana membentuk diri seseorang dan bagaimana mengaturnya di dunia, dia berkata, ”Kamu harus selalu memulainya dengan bersikap jujur dan selalu berkata yang benar dalam keadaan apapun.”
    Catatan:
    (1) Ini adalah judul dari serangkaian sejarah jilid 294 yang mencangkup suatu periode 1.362 tahun di masa Lima Dinasti.
     
  • tituitcom 17.28 on 27 July 2012 Permalink  

    Kaisar Tai Zong dari Dinasti Tang, seorang Raja yang Bijak 

    JANGAN DI HAPUS

    Kaisar Tai Zong dari Dinasti Tang,
    seorang Raja yang Bijak
    Kekuasaan Zhen Guan menunjuk pada gaya pemerintahan Kaisar Tai Zong dari Tang Dinasti (627 – 649 sesudah masehi). Kekuasaan Zhen Guan dipuji oleh banyak generasi di Tiongkok sebagai puncak kejayaan kebudayaan, ekonomi dan sastra Tiongkok. Cara pemerintahan Kaisar bijak Tai Zong berpengaruh banyak pada masa kekuasaan Zhen Guan, sebagai ilustrasi dari catatan bersejarah, seperti yang di bawah ini.
    Kaisar Tai Zong pernah bertanya kepada pengawal pengadilan kekaisaran, “Saya bingung setelah membaca Biografi Kaisar Yang dari Dinasti Sui. Kaisar Yang memuji dua orang raja yang bijaksana, Yao dan Shun, dan beliau mencela dua raja yang dianggap lalim, Jie dari dinasti Xia dan Zhou dari dinasti Shang. Jelas terlihat mereka dapat memutarbalikkan kesalahan menjadi kebenaran, namun bagaimana mereka dapat mengakhiri kelalimannya?” . Penasihatnya Wei Zheng menjawab, “Bahkan jika seorang kaisar adalah seorang yang dapat berbuat apa saja, ia haruslah rendah hati dan mau menerima masukan dari luar sehingga orang bijak dapat mengutarakan ide-idenya dan orang pemberani dapat mengorbankan hidupnya untuk melaksanakan keinginan sang kaisar.
    Kaisar Yang Dinasti Sui sangat tinggi hati dan tidak mau menerima masukan dari luar sebab ia merasa dirinya sangat pandai dan berbakat. Gaya berbicara layaknya seorang kaisar yang bijak namun sikapnya sangat bertolak belakang. Ia bahkan tidak menyadari hal tersebut sebab ia menolak segala saran dan masukan, yang akhirnya membawanya pada kehancuran. Kaisar Tai Zong berkata, “Kaisar Sui berkuasa pada dua abad sebelum kita. (Sui adalah dinasti sebelum Dinasti Tang.) Kita dapat belajar dari pengalamannya.”
    Suatu hari, Kaisar Tai Zong berkata kepada seorang pengawal pengadilan kekaisaran, “Seseorang harus melihat dirinya di depan cermin. Seseorang harus melihat kekurangannya ketika ia mendengar masukan dari orang lain. Jika seorang kaisar menolak segala saran dari pengawalnya dan merasa dirinya paling benar, maka para prajuritnya akan menggali lubang dengan terus memuji sang kaisar. Jika demikian maka kekuasaan dan negaranya akan runtuh, dan pengawalnya juga akan jatuh! Yu Shiji, salah satu pengawal kekaisaran Dinasti Sui, berusaha mempertahankan kekayaan dan kekuasaan sang kaisar dengan memuji-muji Kaisar Yang. Akhirnya, keduanya terbunuh. Kalian harus ingat pelajaran berharga ini. Ketika saya berbuat kesalahan, kalian harus mengatakan apa kesalahan yang saya perbuat.”
    Kaisar Tai Zong berkata, “Setiap kali saya pergi ke pengadilan kekaisaran untuk menghadiri rapat kekaisaran, saya berpikir cukup lama sebelum saya mulai berbicara. Saya sangat sadar konsekuensi dari perkataan saya dihadapan orang-orang, maka saya berusaha untuk tidak banyak berbicara.
    Seluruh anggota rapat bertanggung jawab untuk mencatat apa yang dikatakan Kaisar, “Tugasku adalah mencatat perkataan Kaisar. Bahkan ketika Anda mengatakan sesuatu yang tidak benar, saya akan mencatatnya. Jika Kaisar mengatakan sesuatu yang tidak benar, itu tidak hanya membawa dampak yang buruk kepada rakyat Anda, namun juga akan ditertawakan oleh generasi selanjutnya.”
    Kaisar Tai Zong sangat senang dengan sikap bawahannya, dan Beliau menghadiahinya dua meter kain sutra. Kaisar Tai Zong juga berkata kepada pengawalnya, “Banyak orang yang percaya bahwa Kaisar tidak memiliki rasa takut sebab dia berada di atas rakyatnya, namun saya tidak berpikir demikian. Saya takut pada hukuman Tuhan. Saya khawatir semua pihak kekaisaran akan menyerang perkataan dan sikapku yang salah sehingga saya harus berhati-hati setiap saat. Saya juga khawatir bahwa saya mungkin akan melanggar amanat dari surga dan pengharapan dari rakyatku.”
    Kaisar Tai Zong juga berkata, “Saya menghargai seluruh ajaran Yao, Shun, Raja Wen dari Dinasti Zhou, dan Konfusius. Mereka adalah fundamen atas burung-burung dan air atas ikan-ikan. Saya tidak dapat hidup tanpa kebijakan yang mereka tinggalkan di waktu lalu.”
     
     
  • tituitcom 22.41 on 25 July 2012 Permalink  

    Dongeng Dewa Dapur 

    JANGAN DI HAPUS

    Dewa Dapur
    Dahulu kala tersebutlah seseorang yang bernama Zhao Wangye bermarga Zhang, sebenarnya dia seorang yang bertingkah laku buruk dan selalu melakukan kejahatan, tapi, mengapa Maharaja Giok (dewa tertinggi dalam agama Tao) mengizinkannya menjadi Zhao Wangye atau Dewa Dapur? Sebab meskipun dia telah banyak berbuat jahat, namun, begitu terlintas dalam benak sebersit ketulusan, telah melakukan satu hal yang baik, karena itu Maharaja Giok memaafkannya.
    Sebelum menjadi Zhao Wangye, dia adalah seorang yang pemalas, tidak bekerja dan gemar berjudi. Karena kegemarannya berjudi, ia dapat mempertaruhkan segala apa yang dimilikinya. Dia tidak memikirkan masa depannya. Hingga pada suatu ketika, dia bertaruh (judi) dengan seseorang, bukan saja menghabiskan seluruh harta keluarga, lebih buruknya lagi istrinya pun dipertaruhkan. Oleh karena itu istrinya kemudian menikah lagi dengan seorang pencari kayu bakar.
    Karena kalah berjudi itu habislah sudah seluruh harta benda keluarga yang dia miliki tanpa sisa bahkan dia masih memiliki sejumlah utang pada beberapa orang. Sampai suatu kali dia tidak dapat membeli makanan. Dia lalu menemui mantan istrinya yang dijual itu. Beruntunglah ia karena mantan istrinya sangat pengasih, meskipun telah dijual, dia tetap memberikan beberapa buah bacang, bahkan secara diam-diam menyelipkan 10 tael (mata uang Tiongkok kuno) ke dalam bacang, dan memberitahu kepadanya: “Ambillah bacang ini, jangan kasih orang lain ya!” Begitu dia pergi, kebetulan seseorang datang menagih utang padanya, “Cepat bayar utangmu!”
    Saya tidak punya uang,” jawabnya.

    Apa, tidak punya uang? Lalu yang ditanganmu itu apa?”
    Makanan!”
    Makanan juga boleh!” Akhirnya bacang itu dirampasnya.
    Setelah bacang itu dirampas, dia kembali menemui istrinya. Istrinya bertanya padanya, ”bacangnya mana?” Dirampas orang!” Katanya. Tepat ketika pembicaraan sampai di situ, si suami yang seorang penebang kayu bakar itu pun pulang, Zhao Wangye kebingungan mencari tempat untuk sembunyi, lalu dia bergegas masuk ke dalam tungku. Si penebang kayu bakar ini kelelahan peluhnya membasahi tubuhnya sambil memikul setumpuk kayu bakar, dia hendak mandi sekembalinya memotong kayu bakar. Dan dia benar-benar baik terhadap istrinya dengan mengatakan, “Biarlah air panasnya saya yang siapkan.” Istrinya bergegas berkata, “O, jangan! Jangan! Biarlah saya nyalakan!“ Tapi, suami barunya ini bersikeras, lalu mengambil kayu bakar dan dinyalakan di dalam tungku.
    Zhao Wangye bersembunyi di dalam dan memutuskan tidak keluar. Di benaknya dia berpikir, “jika saya keluar, sang istri pasti akan dipukul sama suaminya! Dia lebih baik mengorbankan diri, akhirnya dia tewas terbakar hidup-hidup.
    Setelah tewas terbakar, setiap pagi, siang maupun malam mantan istrinya itu membakar dupa dan sembahyang di depan tungku. Melihat itu, suaminya bertanya, “Lho! Aneh! Kenapa setiap pagi, siang atau malam kamu selalu menyembahyangi tungku?” Tentu saja dia tidak boleh mengatakan kalau mantan suaminya itu mati terbakar di tungku tersebut, dan dengan sangat terpaksa dia berkata, “Kita manusia bisa hidup di dunia, harus bersyukur pada tungku dan kompor, sebab benda-benda ini memasak nasi untuk kita.” Kemudian belakangan orang-orang merasa kata-katanya memang benar, “Kita harus bersyukur pada tungku dan kompor. Seandainya tidak ada tungku dan kompor, kita tidak bisa hidup!” Lalu, tiap-tiap keluarga menyembahyangi tungku dan kompor di rumah mereka.
    Setelah Maharaja Giok mengetahui hal ini, ia mengampuni semua kesalahan Zhao Wangye dan Maharaja Giok menobatkannya sebagai Zhao Wangye (Dewa Dapur), dan memberi perintah kepadanya bahwa setiap 24 Desember tahun Imlek naik ke istana langit untuk memberi laporan yang disebutKebaikan di langit, kedamaian di bumi. Demikianlah asal usul legenda tentang Zhao Wangye.
    Lihat hiburan dewa dapur berikut :


     
  • tituitcom 22.20 on 25 July 2012 Permalink  

    Cerita Rakyat: Menebus Karma Secara Tuntas 

    JANGAN DI HAPUS

    Cerita Rakyat:
    Menebus Karma Secara Tuntas

    Sebuah kisah yang terjadi di masyarakat pada zaman Song Utara sewaktu Bao Zheng menjabat sebagai Xiang (Sebuah jabatan tinggi pada zaman Tiongkok kuno).

    Di sebuah desa tinggal seorang anak berusia sekitar 10 tahun, menderita cacat pada kaki, yatim piatu dan hidupnya sangat menderita dan mengandalkan bantuan dari para tetangga dan warga desa atau mengemis demi menyambung hidup. Di depan desa ini mengalir sebuah sungai, warga desa dan pendatang harus berbasah-basah melewatinya, terutama bagi orang tua yang berusia lanjut sangat tidak nyaman. Setiap kali air sungai meluap orang tidak bisa menyebrang. Namun tahun berganti tahun, siapa pun tidak ada yang ingin mengubahnya.

    Setiap hari orang melihat anak cacat tersebut memungut batu dan meletakkannya di tepi sungai. Setiap kali ditanya untuk apa batu-batu itu, ia menjawab mau membangun sebuah jembatan batu, agar tetangga dan warga desa bisa leluasa berjalan melewatinya. Orang-orang tidak menanggapinya, mereka beranggapan anak tersebut sedang bicara ngawur, malah kebanyakan orang tertawa meledeknya. Namun lambat laun, bulan berganti tahun, bebatuan tersebut telah menumpuk menjadi gunung. Para tetangga dan warga desa mulai berubah pendiriannya dan merasa terharu dengan semangat anak tersebut sehingga ikut membantu memilah dan memungut batu serta membangun jembatan batu.

    Para warga lantas mengundang tukang batu dan memulai dengan pembangunan jembatan batu. Anak cacat tersebut dengan sepenuh jiwa dan raga berpartisipasi di dalamnya. Belum sampai jembatan itu selesai dibangun, anak tersebut sewaktu membelah batu terluka sehingga kedua matanya menjadi buta. Orang-orang menyayangkan dan menggerutu serta menyalahkan Tuhan tidak adil. Anak yang begitu patut dikasihani, yang telah sepenuh hati berkorban demi orang banyak malah memperoleh akibat karma seperti itu. Akan tetapi anak tersebut sama sekali tidak mengeluh, setiap hari muncul di proyek pembangunan jembatan itu meskipun tertatih-tatih, dengan meraba-raba ia mengerjakan apa yang bisa dikerjakan.

    Akhirnya jembatan bisa selesai dibangun setelah melalui gotong royong dari semua warga. Semua orang di pesta syukuran itu tidak ada yang tidak menatap anak yang sebelumnya sudah cacat kaki dan hidup sebatang kara, dan sekarang ditambah dengan buta kedua matanya tersebut dengan rasa iba dan rasa sayang. Si anak meski tidak bisa melihat apa pun, tetapi tampak pada wajahnya senyum dan tawa yang paling berbahagia di masa kehidupannya.

    Di luar dugaan orang hujan deras yang tidak sesuai dengan musim, seolah-olah hendak mencuci debu yang menempel di jembatan batu tersebut, turun dengan gemuruh seakan menunjukkan pamornya. Dan, sebuah petir raksasa dengan ledakan yang bisa memecahkan gendang telinga sesaat berlalu. Para warga menemukan anak tersebut telah tersambar petir dengan telak, roboh terkapar di tanah dan mati. Semuanya tersentak kaget, kemudian diikuti dengan luapan perasaan yang sedih, mengeluh kenapa si anak begitu buruk nasibnya, dan menuding Tuhan tidak adil….

    Saat itu kebetulan Bao, yang dijuluki oleh rakyat kecil sebagai Tuan Besar yang Bersih dan Adil dalam perjalanan dinasnya melewati tempat itu. Rakyat berbondong-bondong menghadang tandu pejabat tersebut untuk memohon keadilan bagi si anak malang. Dengan kritis mereka bertanya, “Mengapa orang baik tidak memperoleh imbalan baik? Untuk selanjutnya bagaimana bisa menjadi orang yang baik?” Tuan besar Bao yang kenyang makan asam garam dunia, hatinya sempat tergerak oleh emosi penduduk desa tersebut, lantas mengayun mopit dan menuangkan tulisan 6 aksara: “Mana-boleh Berbuat Jahat Tidak Berbuat Bajik”, kemudian mengibas lengan bajunya (yang panjang) sambil berjalan menjauh.

    Kembali ke kota raja, si tuan besar Bao menghadap sang baginda untuk melaporkan hasil perjalanan dinas dan semua peristiwa yang telah dilihat dan didengarnya, tapi tentang cerita tuangan tulisannya malah tidak diungkap. Karena walau di dalam hatinya sangat tidak memahami tentang masalah si anak yang berbuat kebajikan malah menuai imbalan buruk, tapi setelah dipertimbangkan berulang-ulang tetap merasa tidak pantas telah menuangkan tulisan 6 aksara seperti itu. Tak dinyana sang raja setelah selesai dinas kerajaaan mengharuskannya datang ke bagian belakang istana untuk membicarakan persoalan pribadi.

    Ternyata beberapa hari sebelumnya, baginda telah dikaruniai seorang anak lagi yang sangat menggemaskan semua orang, akan tetapi si bayi sepanjang hari menangis terus, untuk itu ia khusus mengundang si Bao menengoknya. Terlihat oleh si Bao bahwa kulit bayi tersebut mulus bagai salju dan pada tangan mungilnya terdapat satu baris tulisan. Setelah dilihat lebih dekat, itu justru adalah enam aksara “Mana-boleh Berbuat Jahat Tidak Berbuat Bajik” yang telah ditulisnya. Sekejap mukanya memerah hingga ke pangkal lehernya, segera saja ia mengulurkan tangannya untuk menghapus tulisan tersebut. Anehnya, tulisan itu dalam sekejap telah lenyap tak berbekas.

    Sang baginda yang menyaksikan tetenger (toh) pada tangan sang putra mahkota itu telah dihapus oleh si Bao, kecewa. Jangan-jangan akar rejeki telah dihapus lenyap, tanpa tedeng aling-aling dan tanpa ampun ia mencela tindakan Bao Zheng. Si Bao Cheng secepatnya bersujud dengan berkata, “Hamba yang berdosa patut mati.” Maka diceritakanlah sejelasnya hal ihwal tuangan tulisannya itu. Sang baginda sangat merasa persoalan itu janggal sehingga memerintahkan si Bao menggunakan “bantal” Yin Yang untuk menyelidiki dengan tuntas sampai ke neraka.

    Sang tuan Bao Zheng melalui perantara “bantal” Yin Yang berkelana sejenak ke neraka maka tuntaslah sudah wujud sejati kejadiannya. Ternyata si anak malang tersebut pada masa kehidupan sebelumnya telah sering berbuat jahat dan karma buruknya sangat besar. Untuk melunasi dosa kejahatan pada satu masa kehidupan tersebut memerlukan tiga masa kehidupan baru bisa melunasi imbalan jahatnya dengan tuntas. Sebenarnya Dewa telah mengatur, pada masa kehidupan pertama dengan badan cacat dan sebatang kara; masa kedua dengan sepasang mata buta dan hidup sengsara, dan pada masa kehidupan ketiga ia tersambar petir terkapar mati di ladang liar.

    Anak tersebut pada reinkarnasi masa kehidupan pertama terlahir cacat badan dan sangat miskin, tetapi ia selalu ingin berbuat baik kepada orang lain untuk menebus dosa pada masa lampau. Karena itu Dewa lantas mengatur agar pada masa kehidupan pertama, ia bisa melunasi karma kedua masa. Untuk itu dibuatlah terluka kedua matanya sampai buta. Namun anak tersebut tidak mencela Langit dan menyalahkan orang lain, tetap saja tanpa sepatah kata pun berbuat kebaikan demi orang lain. Maka Dewa mengatur karma yang semestinya dibayar pada masa kehidupan ketiga sekaligus dituntaskan pada satu masa kehidupan, oleh karena itu mati tersambar petir.

    Raja neraka bertanya kepada Bao Zheng, tiga masa karma buruk telah dilunasi pada satu masa, coba Anda bilang ini baik apa tidak? Satu masa kehidupan melunasi hutang karma tiga masa kehidupan, oleh karena ia tekun melaksanakan kebajikan, dalam hatinya hanya memikirkan orang lain, nyaris tidak memikirkan diri sendiri, dalam beberapa bidang tertentu telah mencapai taraf tingkatan. “Tidak berkultivasi Tao namun berada di dalam Tao”, telah mengakumulasi berkah sangat banyak, oleh sebab itu sesudah meninggal dengan segera reinkarnasi sebagai putra mahkota, menikmati kemujuran sebagai putra Langit.

    (Sumber: Minghui School)

     
  • tituitcom 20.55 on 24 July 2012 Permalink  

    Cerita Rakyat Tiongkok Tentang Kesabaran 


    Wang Wenzheng
    Dahulu kala di China, ada seorang hakim bernama Wang Wenzheng. Dia terkenal akan kesabaran, toleransi dan pemaaf. Tak pernah ada yang melihatnya marah-marah dengan orang lain atau menggerutu.

    Suatu hari keluarganya ingin mengetes taraf kesabarannya. Mereka menghidangkan semangkuk nasi putih yang bersih dan semangkuk sop daging dengan kotoran diatasnya. Saat Wang Wenzheng melihat kotoran tersebut, dia tidak menyentuh sup itu. Dia dengan tenang hanya makan semangkuk nasi tanpa lauk sampai habis.

    Saat tetangga Wang membangun rumahnya, ia menumpukkan bahan bangunan dan gunungan semen di depan pagar Wang, sehingga Wang tidak bisa masuk ke rumah melalui pagar depan. Wang harus masuk melalui pintu samping yang kecil dan pendek sehingga setiap kali masuk dia harus merunduk. Namun Wang tidak komplain kepada tetangganya atau menggerutu kepada siapapun juga. Terus hingga tetangga Wang selesai membangun rumahnya dan pintu depan sudah bisa digunakan kembali.

    Toleransi dan sifat memaafkan yang ditunjukkan Wang adalah teladan bagi manusia sekarang yang umumnya tidak terima apabila dirugikan oleh orang lain.

    Dikutip dari : http://www.zhengjian.org/zj/articles/2005/4/24/32082.html

     
  • tituitcom 01.43 on 22 July 2012 Permalink  

    Bersikap Hemat dan Menolong Sesama yang Memerlukan 


    Bersikap Hemat dan Menolong Sesama yang Memerlukan
    (Erabaru.or.id) Liu Yun dilahirkan di Caozhou Nanhua, yang sekarang adalah kabupaten Dongming Tenggara di Provinsi Shantong. Ia sangat ahli dalam pengelolaan keuangan. Selama pemerintahan Kaisar Suzong dan Daizong pada Dinasti Tang, ia memikul tanggung jawab penting seperti transportasi, pajak, garam dan baja, pengumpulan dana, dan hal lain yang berhubungan dengan usaha. Selama masa pemerintahan Daizong, ia menempati posisi sebagai Perdana Menteri. Sebagai seorang pejabat penting pemerintah, yang memiliki kekuasaan terhadap seluruh hal keuangan, ia memang adalah seorang yang tidak dapat disuap dan jujur. Dia menghargai sikap hemat dan gemar menolong orang-orang yang memerlukan.

    Suatu kali, pada pertengahan musim dingin, Liu Yun sedang dalam perjalanannya menuju pertemuan pagi para pejabat. Dia melihat beberapa toko menjual kue biji wijen di samping jalan dan memutuskan untuk membeli beberapa kue hangat untuk dimakan. Dia pergi kedalam satu toko kue tapi dengan cepat kembali ke luar lagi. Ketika pelayannya bertanya mengapa, ternyata toko kue tersebut mahal harganya. Pada akhirnya Liu Yun menemukan toko kue yang murah dan membeli kuenya di sana.

    Pejabat lain dalam perjalanannya menuju pertemuan semua melewati toko kue yang murah tersebut. Ketika mereka melihat Perdana Menteri Liu Yun menggigit sesuatu pada kue biji wijen, mereka mengejeknya. Liu Yun hanya tersenyum dan berkata pada mereka bahwa kuenya enak.

    Pelayannya sangat malu, tapi Liu Yun berkata, “Adalah suatu kebajikan untuk hidup hemat. Hanya dengan kehilangan kebajikanlah, baru seseorang dapat kehilangan statusnya, dan seorang yang berbudi akan selalu berhemat.”

    Pengamatan lainnya mengenai pakaian Liu Yun menunjukkan bahwa, dibawah jubah kerajaan untuk pejabat, dia hanya mengenakan sehelai kemeja katun sederhana, sementara pejabat lain semua memakai kain tenunan yang mahal dan halus menutupi tubuh mereka.

    Rumah Liu Yun di Chang’an terletak di sebuah gang kecil pada bagian tenggara. Rumah tersebut terlihat seperti rumah biasa lainnya, tanpa langit-langit atau pilar yang berukir indah, menara atau kebun. Perabotannya tua, dan makanannya juga sangat sederhana. Ia tidak mempunyai banyak pelayan atau pembantu, dan istri serta anak-anaknya ikut mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

    Lui Yun sering berkata kepada orang lain, “Manusia memerlukan perlindungan, oleh karena itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang keindahan rumah. Makanan adalah untuk mengenyangkan perut, oleh karena itu tidak perlu mencemaskan soal jenis makanan. Menunggang kuda adalah untuk transportasi yang dapat diandalkan, jadi tidak ada yang perlu dicemaskan mengenai apakah kuda itu mempunyai bulu tengkuk yang indah.”

    Liu Yun sangat hemat, tetapi dia sangat gemar menolong orang lain. Sebagian besar penghasilannya digunakan untuk menolong orang-orang yang memerlukan. Banyak pelajar miskin mendapat bantuan keuangan darinya, sama seperti keluarga dan sahabatnya kurang beruntung.

    Suatu hari Liu Yun berkunjung ke rumah seorang keluarga. Dia melihat pintu rumah tersebut tidak mempunyai sebuah tirai untuk menahan angin, oleh sebab itu ia secara diam-diam menyuruh pelayannya untuk mencatat ukuran pintu tersebut. Tidak lama kemudian, keluarganya tersebut menerima sebuah tirai yang baru. Bagi Liu Yun ini adalah episode yang khas.

    Chinese version available at http://www.minghui.org/mh/articles/2006/2/27/120989.html
    http://www.clearwisdom.net/emh/articles/2006/3/18/70919.html

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal