Updates from Juli, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 16.44 on 29 July 2012 Permalink  

    Cerita Panji dan Wajah Indonesia 

    Oleh Purnawan Andra

    MITOS selama ini menjadi bagian inheren dalam kehidupan masyarakat. Konsepsi simbolis atas nilai-nilai tertentu (lelakiperempuan, kelembutan-kekuasaan, basah hujan-kering) yang terlambangkan dalam elemen-elemen kehidupan, pekat menghidupi keseharian masyarakat kita.
    Kepercayaan yang merasuk dalam kehidupan sehari-hari itu menimbulkan interpretasi kreatif dalam benak. Namun sebagai konsepsi nilai tertinggi, mitosmitos itu memuat interpretasi visual yang mewujud dalam bentuk purba sebagai topeng: ia tidak berjenis kelamin, multisimbol dan perspektif, serta sangat antropologis.
    Topeng menjadi benda mitologis yang mendekatkan diri dengan konsep idealitas, dalam personifikasi yang paling dekat dan bisa disentuh. Pada saat yang sama, konsep mitos itu mendapat justifikasi dalam wujud topeng. Topeng mewakili dan mencipta kesakralan nilai yang ekspresif, personifikasi nilai yang mewujud serta (pada saat yang sama) proses pengenalan subjektivitas yang mengambang. Itu tampak jelas ketika masyarakat menggunakan topeng sebagai elemen ekspresi dalam berbagai ritus atau seni pertunjukan komunal, baik sebagai karya seni maupun sebagai bagian dari repertoar.
    Sugeng Toekio (1996: 58) menyebutkan, topeng muncul sebagai bagian dari seni pertunjukan melalui sebuah manuskrip bahwa sekitar abad ke-11 saat pemerintahan Kerajaan Jenggala disebutkan ada pertunjukan menggunakan tutup muka yang disebut tapel (topeng).
    Hikayat itu kelak dikenal sebagai cikal bakal pertunjukan Panji; penyaji pertunjukan menggunakan topeng.
    Roman cerita Panji, kisah asli Jawa Timur, bukan adaptasi dari India seperti Ramayana dan Mahabharata, adalah contoh budaya Nusantara yang menyebar bahkan hingga ke Asia. Cerita Panji, sosok pangeran sederhana dan manusiawi, adalah epik yang mengetengahkan intrik kemanusiaan dari politik, tata negara, religiusitas, sampai ideologi (cross-)gender, yang telah mengemuka pada zamannya.
    Kakawin Smaradahana gubahan Mpu Dharamaja sejauh ini merupakan sumber yang bisa ditelusur, yang menyebutkan tentang kisah Panji. Kitab itu menceritakan kisah cinta Smara (Batara Kamajaya) dan Dewi Ratih di hadapan Dewa Siwa. Smaradahana menyebutkan nama Prabu Kameswara (1115-1130 M), Raja Kediri, merupakan titisan ketiga Batara Kamajaya.
    Permaisuri Baginda bernama Sri Kiranaratu, putri dari Kerajaan Jenggala. Raja itulah yang dalam cerita Panji dikenal dengan nama Inu Kertapati dan sang permaisuri bernama Kirana, yaitu Dewi Candra Kirana (Purbacaraka, 1966: xi).
    Seturut logika pementasan teater (tradisional dan modern), mitos kedewataan yang mengikuti membuat
    topeng tercipta untuk membantu pelaku dalam menampilkan emosi, gerak tubuh, ekspresi gesture sesuai dengan perwatakan yang dibawakan. Kisah cinta itu menjadi local genius yang diciptakan Kameswara.
    Sebagai tambahan asumsi, terlebih berdasar kenyataan sejarah garis keluarga, Kediri dan Jenggala terpaksa dibagi karena alasan cinta Airlangga kepada para putranya. Kini, dalam sosok Kameswara, keagungan kedua kerajaan itu bersatu. Karena itulah muncul sosok Semirang sebagai seorang cross-gender: antara kekuatan lelaki (eks Jenggala), namun tetap difungsikan sebagai bagian dari dirinya, sebagai “istri”, perpaduan kekuatan dan kelembutan sekaligus dalam kekuasaan yang merajai tanah Jawa. Cerita Panji masuk dalam analog logika simbolisasi kekuasaan.
    Logika Linier Mitologi mewujud dalam visiologi tokoh: Panji sebagai tokoh ideal, perwujudan surya yang menerangi alam, roh utama yang juga bukan berjenis kelamin.
    Dalam ekspresi seni topeng, perwujudannya pun tak berwajah satria lelaki, tetapi berwajah halus menyerupai perempuan, tidak membuka mata, tetapi mampu melihat isi hati, seperti hidup dalam alam maya — sesuatu di ambang batas, yang mengetahui sisi yang satu di antara sisi lain. Topeng dari mitos, dalam wujudnya dan juga saat menarikannya adalah fase meditatif: antara sadar dan tiada, antara bangun dan tidur, menuju kebahagiaan diri.
    Dalam analogi yang sama, Semar dan Janaka (tokoh-tokoh utama dalam perwayangan) mengada sebagai sangkan paran, jejer utama sosok manusia Jawa yang berinkarnasi membawa kabar kebaikan dan keburukan sekaligus. Juga menata serta mampu merusak dunia demi harmonisasi kelak. Ia punya dua sisi kemanusiaan itu: menjaga dan menghancurkan.
    Dalam logika linear historisitasnya, tokoh-tokoh Panji bisa jadi merupakan leluhur para tokoh Mahabharata, wiracarita yang dipercaya menceritakan sejarah manusia Jawa. Panji yang disebut dalam Smaradahana pada masa pemerintahan Kameswara II (sekitar abad ke-11) merupakan personifikasi awal kekuasaan raja, lebih awal dari cerita Mahabharata Bharatayudha versi Mpu Sedah-Panuluh.
    Panji, seturut logika Stuart Hall, merupakan praktik representasi budaya, menjadi gagasan awal politik pencitraan atawa estetisasi kekuasaan raja, yang mewujud dalam simbol-simbol budaya: topeng (dan juga) dalam cerita-cerita turunannya seperti reog, topeng malang, wayang beber.
    Maka, saat dinamika sosial dan budaya kini mewujud berupa ketegangan dan friksi, sektarian, disorientasi serta disidentitas, yang meminggirkan nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan, dan keramahan, logika cerita Panji patut menjadi awal pertanyaan introspektif bagi bangsa ini: inikah wajah Indonesia yang bertopeng, tampak halus di luar namun beringas di dalam?
    (RED/CN27)

    Iklan
     
  • tituitcom 23.19 on 25 July 2012 Permalink  

    Hailibu, si Pemburu yang Baik Hati 

    JANGAN DI HAPUS

    Hailibu, si Pemburu yang Baik Hati
    Ada sebuah kisah rakyat Mongolia yang menarik untuk kita simak…
    Pada jaman dahulu, di dataran padang rumput Mongolia, hiduplah seorang pemburu yang baik hati yang bernama Hailibu. Tiap selesai berburu, dia akan selalu membagikan daging-daging tersebut untuk penduduk desa yang lain dan dia hanya menyisakan sedikit bagian untuk dirinya sendiri. Perhatiannya un-tuk orang lain membuat dia begitu dihargai di desa itu.
    Suatu hari, saat sedang berburu di dalam hutan, Hailibu mendengar suara tangisan dari langit. Sambil menatap ke atas, dia melihat seekor makhluk kecil yang ditangkap oleh seekor burung Hering yang amat besar. Dengan cepat, dia mengarahkan busur panahnya ke arah predator tersebut. Karena terkena bidikan panah tersebut, si burung raksasa melepaskan mangsanya.
    Hailibu menatap ke arah makhluk aneh tersebut yang memiliki tubuh menyerupai seekor ular. Dan berkata,“Makhluk yang menyedihkan (kasihan), cepat pulanglah.” Makhluk itu menjawab, “Wahai pemburu yang baik, saya sangat berterima kasih karena anda telah menyelamatkan nyawaku. Sebenarnya, saya adalah putri raja Naga, dan saya yakin ayahku akan memberikan anda hadiah sebagai ucapan terima kasih. Beliau mempunyai banyak harta benda yang dapat anda miliki. Tetapi jika tiada satu pun harta benda yang berkenan bagimu, anda dapat meminta batu ajaib yang beliau simpan di dalam mulutnya. Siapapun yang memiliki batu ajaib itu, dia akan memahami semua bahasa hewan.”
     Hailibu si pemburu tidak tertarik dengan segala harta benda, tetapi kemampuan untuk dapat memahami berbagai macam bahasa hewan membuatnya sangat tertarik. Kemudian, dia bertanya kepada si Putri Naga, “Apakah itu benar-benar batu ajaib?” Si putri menjawab, “Benar. Tetapi apapun yang anda dengar dari hewan-hewan tersebut, anda harus menyimpannya untuk diri anda sendiri. Jika anda memberitahukan kepada orang lain, maka anda akan berubah menjadi batu.”
    Lalu, si Putri Naga itu membawa Hailibu ke pinggir laut. Saat mereka mendekati laut, tiba-tiba air terbelah dengan cepat, sehingga Hailibu dapat berjalan seperti saat berada di jalan yang amat lebar. Tak lama kemudian, tampaklah sebuah istana yang berkilau, di mana tempat tinggal si raja Naga.
    Raja Naga amat bahagia saat mendengar Hailibu telah menyelamatkan putrinya, dan dia kemudian menawarkan segala harta benda yang Hailibu inginkan dari istananya. Setelah terdiam beberapa saat, Hailibu menjawab, “Jika Baginda ingin memberi saya sesuatu sebagai hadiah, bolehkah saya meminta batu ajaib yang ada di mulut Baginda raja?”
    Raja Naga menurunkan kepalanya, berpikir sejenak. Kemudian, dia mengeluarkan batu tersebut dari mulutnya dan memberikannya kepada Hailibu.
    Saat akan berpisah, si Putri Naga mengulangi kembali pesannya untuk Hailibu, “Pemburu yang baik, hendaklah anda ingat untuk tidak memberitahukan kepada siapapun tentang apapun yang dikatakan oleh para hewan, jika tidak, anda akan langsung berubah menjadi batu.”
    Setelah memiliki batu ajaib di mulutnya, Hailibu semakin menikmati perburuannya di hutan. Dia mengerti semua bahasa hewan, dan dia juga dapat mengetahui hewan apa saja yang dapat ia buru, beserta lokasi di mana hewan tersebut berada. Dengan kemampuan ini, dia menghasilkan lebih banyak lagi daging hewan buruannya dan ia dapat membagikannya kepada para penduduk desa.
    Beberapa tahun kemudian….
    Pada suatu hari, saat sedang berada di gunung, Hailibu mendengar sekumpulan burung sedang bercakap-cakap tentang sesuatu hal yang amat penting. Dia mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama. Sang pemimpin berkata, “Kita harus cepat-cepat pindah ke daerah lain. Malam ini, gunung akan meletus dan banjir akan menggenangi seluruh daerah ini. Banyak manusia yang akan mati”
    Hailibu amat kaget mendengar hal ini. Dengan tergesesa-gesa, dia lari pulang ke rumahnya, dan menyebarkan berita ini kepada penduduk desa. “Kita harus pergi dari daerah ini secepatnya, Kita tidak dapat tetap tinggal di sini lagi.!” Tentunya, penduduk desa bingung dan kaget,”Tidak ada yang salah selama kita tinggal di sini,lalu kenapa kita harus pindah?”. Hailibu tetap berkeras untuk menyampaikan berita ini, tapi tidak ada seorangpun yang percaya. Dengan menangis, Hailibu menjelaskan, “Tolong dengarkan saya, saya dapat bersumpah bahwa apa yang saya katakan itu benar. Percayalah saya, kita harus pergi sekarang sebelum semuanya terlambat”
    Seorang tetua mencoba untuk menenangkan Hailibu, “Engkau adalah pemuda yang baik dan selama ini engkau tidak pernah berdusta. Kami sudah menetap di sini dalam kurun waktu yang lama, tapi sekarang engkau meminta kami untuk pindah. Untuk pindah dari tempat ini bukanlah perkara mudah, karena itu engkau harus memberitahukan kepada kami apa alasanmu,anak muda?”
    Hailibu merasa putus asa dan tidak menemukan cara lain untuk menyelamatkan penduduk desa. Lalu, dia mencoba menenangkan diri sejenak. Dengan kesungguhan hati, dia berkata kepada penduduk desa. “Malam ini, gunung akan meletus dan sebuah banjir besar akan melanda tempat ini. Kalian dapat lihat sendiri, burungburung telah terbang meninggalkan daerah ini.” Kemudian Hailibu menjelaskan perihal bagaimana dia mendapatkan batu ajaib, yang membuatnya mengerti semua bahasa hewan, tapi seharusnya dia harus menyimpannya itu sebagai rahasia, jika tidak, dia akan berubah menjadi batu.
    Saat Hailibu bercerita, bagian bawah tubuhnya, mulai dari telapak kaki perlahan-lahan berubah menjadi batu. Setelah dia menyelesaikan seluruh cerita, dia berubah menjadi batu seutuhnya.
    Para penduduk desa amat kaget dan merasa amat kehilangan. Mereka menangis, mencurahkan kesedihan mereka yang sedalam-dalamnya, mereka menyesal mengapa tidak mempercayai Hailibu dari awal. Akhir-nya, dengan membawa barang-barang penting mereka dan persediaan makanan, semua penduduk desa (termasuk para tetua dan anak-anak), mereka berjalan dan meninggalkan daerah itu. Mereka terus berjalan hingga malam hari, tiba-tiba awan tebal menyelimuti langit dan angin telah bersiap untuk menderu. Tak lama, turunlah hujan yang amat sangat deras. Dari arah desa, mereka mendengar suara gemuruh dari letusan gunung……
    Sudah beberapa generasi telah berlalu, namun para nenek moyang dari desa tersebut tetap dapat mengingat Hailibu, si pemburu yang baik hati. Mereka juga tetap berusaha untuk mencari batu Hailibu. (The Epoch Times/YY)

     
  • tituitcom 23.15 on 25 July 2012 Permalink  

    Dongeng Putri Salju dan Burung Kuntul 

    JANGAN DI HAPUS

    Dongeng Putri Salju dan Burung Kuntul
    Nun jauh di bagian utara, ada sebuah kerajaan salju, musim dingin di sana sangat panjang, dan hampir sepanjang tahun diselubungi salju. Sedangkan musim panas sangat pendek, dalam sekejap telah berlalu.
    Raja Salju adalah seorang raja yang arif bijaksana, ia mempunyai seorang putri yang cantik yaitu Putri Salju, ia sama seperti ayahandanya baik, karena acap kali memberitahu: “Hanya orang yang berhati baik, baru bisa mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.”
    Setiap hari, saat Putri Salju bersantai, pasti akan berdiri di depan sebuah jendela besar istana kerajaan memandang ke luar. Di pandang dari sana, bisa melihat salju, laut yang telah membeku menjadi gumpalan es, setiap pada saat demikian, ia akan teringat musim panas yang indah, rerumputan yang hijau segar dan sederetan perumpung yang dilalui kuntul yang indah di bawah langit biru, terbayang akan pernikahannya yang akan segera tiba.
    Pada sebuah malam terang bulan yang dingin, putri datang lagi di depan jendela istana, cahaya bulan yang terang benderang bagaikan di siang hari menyinari dengan jelas segala yang berada di luar jendela, udara semakin dingin, di atas kaca jendela mulai diselubungi selapis bunga salju yang halus, lembut dan gemerlapan, sangat indah. Dan terbersit pikiran putri salju melihat pemandangan yang indah itu, “Jika saja bisa memakai mahkota seperti bunga salju ini, oh alangkah indahnya.”
    Pada hari kedua, penjahit di dalam istana mulai membuat pakaian pengantin sang Putri Salju, namun tidak ada yang tahu bagaimana membuat mahkota seputih bunga salju.
    Suatu hari, seorang tua datang ke istana, katanya ia bisa membuat mahkota yang demikian, namun harus memakai seikat mahkota phoenix yang kusut masai yang tumbuh pada musim semi di atas kepala burung kuntul, dan persis seperti bunga salju. Dengan sangat gembira mata Putri Salju memancarkan sinar ceria: “Ya! Saya memang ingin memakai perhiasan bulu seperti itu, lalu bagaimana baru bisa mendapatkannya?” Orang tua merendahkan nada suaranya, dan membisikkan ke telinga sang putri: “Hanya perlu membunuh seekor burung kuntul.”
    “Membunuh burung kuntul”, mata sang putri menjadi redup, “Tidak, Tidak.”
    Putri terbayang akan burung-burung besar yang indah itu yang terbang melintas di atas langit pada musim panas, bagaimana boleh saya berbuat demikian? Namun, bagaimana dengan mahkota yang indah itu? Lama sekali sang putri tidak dapat mengambil keputusan, dengan demikian tidak lama kemudian, putri salju lalu berdiri di depan jendela besar yang digemarinya dan merenungkan dalam-dalam. Tidak lama kemudian tertidur.
    Dalam mimpinya, putri melihat si orang tua membawa sebuah mahkota yang indah sekali memakai kotak emas, bulu yang halus dan putih bersih, butir-butir berlian yang berkilauan. Sang putri yang memakai perhiasan mahkota, sangat mempesona dalam pernikahannya, semua orang melongo oleh paras putri yang cantik.
    Di musim panas setelah pernikahan itu, putri salju dan ayahandanya berkunjung lagi di padang rumput hijau yang sedang bersemi di luar istana, dan masuk ke semak perumpung.
    Di bawah langit biru, mengapa tak terlihat seekor burung kuntul pun? Sang putri merasa sangat aneh. Tiba-tiba, sang putri melihat ribuan ekor burung kuntul berbaring di depan, ada yang telah mati, ada yang mulutnya terbuka sedang mengembuskan napas terakhir. Saking terkejutnya, putri menutup matanya, dan berteriak panik: “Ya Tuhan, kenapa bisa begini?”
    Seekor burung kuntul yang akan segera mati berkata pada sang putri: “Kamulah orang pertama yang memakai bulu mahkota kami dan membuatnya sebagai perhiasan mahkota, dan mahkota burung kuntul yang sama yang diinginkan orang-orang sudah hampir musnah dibunuh, di atas dunia ini tidak akan ada lagi burung kuntul.” Sang putri yang sangat menyesal terjaga dalam teriakannya, dan baru menyadari ternyata hanya sebuah mimpi.
    Putri yang terjaga dari tidurnya mengenang kembali suasana dalam mimpinya, jantungnya terus berdetak: “Untung, masih belum membunuh seekor burung kuntul pun. Sang putri merasa bersalah dengan pikirannya yang menginginkan kecantikan sesaat dirinya yang membangkitkan pikirannya hendak membunuh seekor burung kuntul. Sang putri meminta ayahandanya memaklumatkan kepada pejabat dan rakyat seluruh negeri, dilarang melukai makhluk hidup lain hanya untuk beberapa hal yang tidak berarti.
    Musim panas telah tiba, dan pernikahan putri salju benar-benar akan dilaksanakan, ketika sang putri yang menggenggam bunga dan mengenakan busana pengantin melangkah keluar dari istana, langit tampak biru cerah, pejabat-pejabat seluruh negeri yang datang menghadiri pernikahan sang putri tidak melihat perhiasan (mahkota) apa-apa di atas kepalanya, namun hatinya yang baik membuat sang Putri Salju tampak semakin menggugah hati.
    Tiba-tiba, di bawah sinar mentari orang-orang melihat di atas langit yang tiada awan sedikit pun melayang seserpih bunga salju yang gemerlapan, ribuan serpihan bunga salju yang bening gemerlap berputar di atas langit, menari-nari, dan semakin lama semakin cepat, serta memancarkan cahaya warna-warni di bawah sinar mentari. Dan tiba-tiba, gumpalan cahaya warna-warni itu berhenti berputar dan tampak sebuah mahkota yang sangat indah, lembut gemerlap bercahaya sangat indah bagaikan berlian yang berkilauan di bawah sinar mentari perlahan-lahan melayang turun ke atas kepala sang putri.
    Ternyata, dewi kuntul yang berada di atas langit mengetahui hati sang putri salju yang baik, lalu menggunakan sari mujarab bunga salju menganyam mahkota itu dan dihadiahkan kepada sang putri sebagai penghargaan atas kebaikan hati sang putri salju. Dan sejak itu, kehidupan orang-orang negeri salju semakin makmur sejahtera dan harmonis, semua orang saling memperlakukan dengan baik, melindungi dan menyayangi segalanya, dan negeri salju pun menjadi semakin indah.
    (Artikel ini direvisi oleh Fei-Fei)
     
  • tituitcom 22.41 on 25 July 2012 Permalink  

    Dongeng Dewa Dapur 

    JANGAN DI HAPUS

    Dewa Dapur
    Dahulu kala tersebutlah seseorang yang bernama Zhao Wangye bermarga Zhang, sebenarnya dia seorang yang bertingkah laku buruk dan selalu melakukan kejahatan, tapi, mengapa Maharaja Giok (dewa tertinggi dalam agama Tao) mengizinkannya menjadi Zhao Wangye atau Dewa Dapur? Sebab meskipun dia telah banyak berbuat jahat, namun, begitu terlintas dalam benak sebersit ketulusan, telah melakukan satu hal yang baik, karena itu Maharaja Giok memaafkannya.
    Sebelum menjadi Zhao Wangye, dia adalah seorang yang pemalas, tidak bekerja dan gemar berjudi. Karena kegemarannya berjudi, ia dapat mempertaruhkan segala apa yang dimilikinya. Dia tidak memikirkan masa depannya. Hingga pada suatu ketika, dia bertaruh (judi) dengan seseorang, bukan saja menghabiskan seluruh harta keluarga, lebih buruknya lagi istrinya pun dipertaruhkan. Oleh karena itu istrinya kemudian menikah lagi dengan seorang pencari kayu bakar.
    Karena kalah berjudi itu habislah sudah seluruh harta benda keluarga yang dia miliki tanpa sisa bahkan dia masih memiliki sejumlah utang pada beberapa orang. Sampai suatu kali dia tidak dapat membeli makanan. Dia lalu menemui mantan istrinya yang dijual itu. Beruntunglah ia karena mantan istrinya sangat pengasih, meskipun telah dijual, dia tetap memberikan beberapa buah bacang, bahkan secara diam-diam menyelipkan 10 tael (mata uang Tiongkok kuno) ke dalam bacang, dan memberitahu kepadanya: “Ambillah bacang ini, jangan kasih orang lain ya!” Begitu dia pergi, kebetulan seseorang datang menagih utang padanya, “Cepat bayar utangmu!”
    Saya tidak punya uang,” jawabnya.

    Apa, tidak punya uang? Lalu yang ditanganmu itu apa?”
    Makanan!”
    Makanan juga boleh!” Akhirnya bacang itu dirampasnya.
    Setelah bacang itu dirampas, dia kembali menemui istrinya. Istrinya bertanya padanya, ”bacangnya mana?” Dirampas orang!” Katanya. Tepat ketika pembicaraan sampai di situ, si suami yang seorang penebang kayu bakar itu pun pulang, Zhao Wangye kebingungan mencari tempat untuk sembunyi, lalu dia bergegas masuk ke dalam tungku. Si penebang kayu bakar ini kelelahan peluhnya membasahi tubuhnya sambil memikul setumpuk kayu bakar, dia hendak mandi sekembalinya memotong kayu bakar. Dan dia benar-benar baik terhadap istrinya dengan mengatakan, “Biarlah air panasnya saya yang siapkan.” Istrinya bergegas berkata, “O, jangan! Jangan! Biarlah saya nyalakan!“ Tapi, suami barunya ini bersikeras, lalu mengambil kayu bakar dan dinyalakan di dalam tungku.
    Zhao Wangye bersembunyi di dalam dan memutuskan tidak keluar. Di benaknya dia berpikir, “jika saya keluar, sang istri pasti akan dipukul sama suaminya! Dia lebih baik mengorbankan diri, akhirnya dia tewas terbakar hidup-hidup.
    Setelah tewas terbakar, setiap pagi, siang maupun malam mantan istrinya itu membakar dupa dan sembahyang di depan tungku. Melihat itu, suaminya bertanya, “Lho! Aneh! Kenapa setiap pagi, siang atau malam kamu selalu menyembahyangi tungku?” Tentu saja dia tidak boleh mengatakan kalau mantan suaminya itu mati terbakar di tungku tersebut, dan dengan sangat terpaksa dia berkata, “Kita manusia bisa hidup di dunia, harus bersyukur pada tungku dan kompor, sebab benda-benda ini memasak nasi untuk kita.” Kemudian belakangan orang-orang merasa kata-katanya memang benar, “Kita harus bersyukur pada tungku dan kompor. Seandainya tidak ada tungku dan kompor, kita tidak bisa hidup!” Lalu, tiap-tiap keluarga menyembahyangi tungku dan kompor di rumah mereka.
    Setelah Maharaja Giok mengetahui hal ini, ia mengampuni semua kesalahan Zhao Wangye dan Maharaja Giok menobatkannya sebagai Zhao Wangye (Dewa Dapur), dan memberi perintah kepadanya bahwa setiap 24 Desember tahun Imlek naik ke istana langit untuk memberi laporan yang disebutKebaikan di langit, kedamaian di bumi. Demikianlah asal usul legenda tentang Zhao Wangye.
    Lihat hiburan dewa dapur berikut :


     
  • tituitcom 22.34 on 25 July 2012 Permalink  

    Cerita Tentang Manusia Kerdil Bagian II 

    JANGAN DI HAPUS

    Cerita Tentang Manusia Kerdil Bagian II

    Kulalo bertanya kepada papanya: “Apakah kekuatan misteri alam semesta?” setelah mendengar anaknya bertanya dia mengelengkan kepalanya menjawab: “Itu adalah misteri yang mempunyai kekuatan, disebut misteri sudah tentu tidak dapat dikatakan pada orang lain.”

    Kulalo berpikir, mungkin saja papa juga tidak mengerti apa itu?.

    Sehabis makan malam, teman baiknya Lalito mengajaknya ke suatu pertemuan, pertemuan kecil begitu sangat sering dilakukan, penduduk di sekitar lapangan menaruh meja dan memasang lampu, dan banyak makanan yang enak-enak. Lalito meninggalkan Kulalo menari dengan orang lain, Kulalo kemudian mengobrol dengan teman sebentar dan melihat ke sekeliling lapangan melihat papanya sedang bermain kartu dengan teman-temannya. Kulalo merasa bosan dan berpikir: “Lebih baik saya pergi melihat keadaan Dodo sekarang?” memikirkan gadis kecil ini membuat Kulalo tersenyum sendiri.

    Kulalo sampai di rumah Dodo, Kulalo berpikir : “Dodo mungkin sudah tidur?, hi…hi…, saya membangunkannya……aku akan gelitiki dia……”

    Kulalo memandang keadaan di sekelilingnya, hanya terlihat seorang anak lelaki kecil duduk dengan diam-diam di pinggir meja, tidak melakukan apapun.

    “Ada apakah kamu ke sini?” anak lelaki kecil ini bertanya.

    Kulalo kaget, dengan ketakutan dalam hati berpikir : “Dia sedang berbicara dengan sayakah ? Saya bersembunyi di belakang jendela, kenapa dia mengetahui keberadaanku ?”

    “Dapatkah kamu ke luar sebentar? Di dalam kamar ini hanya saya sendiri, saya tidak akan menyakitimu .”

    Kulalo dengan heran berpikir : “Wah, dia selain melihat saya, juga mengetahui apa yang saya pikirkan!” Kulalo dapat merasakan anak lelaki kecil ini adalah seorang yang baik hati dan seorang yang istimewa. Kulalo dengan malu-malu dari jendela mendekati anak kecil tersebut kemudia bertanya dengan suara perlahan : “Bagaimana kamu mengetahui saya berada di sini ?”

    Anak lelaki kecil berkata :”Saya juga tidak tahu, begitu hati saya berpikir saya sudah mengetahui. Kamu adalah orang kerdil ?”

    Kulalo dengan kaget membuka mulutnya lebar-lebar : “Bagaimana kamu mengetahuinya ?”

    Anak lelaki kecil menjawab : “Ehm, saya adalah adik Dodo, yang bernama Dada, hari itu sewaktu kamu datang ke kamar Dodo mengobati Dodo, sebenarnya saya di kamar sebelah merasakan kehadiran kamu.”

    Kulalo dengan heran berkata “Merasakan, perasaan yang bagaimana ?”

    Dada menjawab : “Ehm, pada saat itu saya mendengar ada suara di kamar Dodo, saya ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Dodo, sebab itu, dalam hati berpikir dan saya sudah mengetahuinya.”

    Kulalo dengan heran berpikir, dalam masyarakat orang kerdil juga terdapat orang yang demikian, karena indra keenam mereka sudah tinggi, sehingga mereka mempunyai kemampuan mengetahui apa yang dipikirkan orang lain, tidak disangka dalam masyarakat manusia biasa juga ada orang yang demikian.

    Kulalo teringat Dodo : “Oh ya, di mana Dodo sekarang ?”

    Dada menundukkan kepalanya, berpikir sebentar dan dengan sedih hati menjawab : “Kakak sudah lari dari rumah.”

    Kulalo menjerit : “Lari dari rumah ? Ada kejadian apa sebenarnya? “

    Dada menjawab : “Keesokan harinya kakak bangun tidur, luka di badannya sudah tidak sakit. Tetangga merasa heran, mereka berpikir kakak adalah iblis, karena lukanya dalam semalam sudah sembuh? Kemudian, papa mengetahui, dia menghendaki kakak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Karena kakak tidak bisa mengatakan tentang orang kerdil, karena itu dia tidak menjawab, papa hendak memukulnya, kakak merasa takut dan lari dari rumah. Saya mengetahui kamu akan datang melihat kakak, karena itu saya menunggu kamu di kamar kakak.”

    Kulalo berkata: “Kenapa Dodo tidak memanggil nama saya, saya akan datang menolongnya, Dodo sendirian akan ke mana?”

    Dada menjawab: “Saya hanya merasa kakak akan pergi ke suatu tempat yang siang malam penuh dengan sinar matahari, saya juga tidak mengetahui tempatnya di mana ?”

    Kulalo menggerutu: “Suatu tempat yang siang malam penuh sinar matahari ? Saya merasa sangat akrab dengan tempat itu?”

    Kulalo sambil menundukkan kepala berjalan ke sana ke mari.

    Tiba-tiba, Kulalo dengan gembira berteriak: ”Ah, saya mengetahui tempat itu !”

    Ketika papa menanyakan keadaan luka yang begitu cepat sembuh, Dodo sebenarnya tidak mau berbohong! Tetapi jika dia mengatakan yang sebenarnya, dia akan merasa mengkhianti temannya karena sudah berjanji tidak akan berbicara, dalam keadaan demikian Dodo tidak tahu apa yang harus dilakukannya, maka dia lari dari rumah.

    Kulalo akan berkata: “Lain kali jika kamu memerlukan bantuan, hanya dengan hati yang tenang menyebut nama saya, saya akan mendengarnya …..”

    Dodo teringat perkataan Kulalo tersebut, sangat ingin berteriak memanggil Kulalo, tetapi setelah berpikir kembali: “Tidak boleh, jika tidak hati-hati diketahui orang lain bisa bahaya, lebih bagus saya tidak memanggilnya.”

    Dodo merasa lebih baik dia sengsara sedikit tidak apa-apa, jangan karena dia hanya memikirkan diri sendiri, menyebabkan orang lain mendapat kesusahan, dia akan sangat sedih.

    Dodo memutarkan kepalanya memandang ke sekelilingnya, selain hutan, rerumput, bulan purnama di atas langit, tidak ada tempat persembunyian. Kemudian Dodo melihat sebuah batu besar di balik rumput, Dodo dalam hati berpikir: “Batu yang begitu besar, jika anak-anak bermain-main di sini tidak melihat batu tersebut dan tersandung gimana? Lebih baik saya memindahkannya ke dekat pohon besar itu !”

    Kemudian dodo dengan sekuat tenaga mendorong batu besar tersebut ke arah pohon, tetapi, karena batunya terlalu berat, Dodo mengeluarkan seluruh tenaganya sampai kecapekan batu tersebut hanya bergerak sedikit. Di saat Dodo sudah putus asa berpikir akan melepaskan niatnya, pada saat itu dia teringat pada Kulalo sewaktu dia terluka, bukankah Kulalo dengan sekuat tenaga mendorong mangkok, hanya untuk mengobati lukanya? Dodo dalam hati berpikir :”Jika Kulalo bisa, saya juga harus bisa !”

    Ketika berpikir sampai ke sana, tiba-tiba batunya terasa sangat ringan, sehingga dengan cepat dia dapat memindahkan batu tersebut. Dia merasa heran, dengan tubuh oleng dia merasa terjatuh, tetapi ajaib, Dodo bukan jatuh di atas tanah, tetapi terjatuh di sebuah terowongan yang dalam di bawah tanah.

    Pada saat terjatuh, dia merasakan tubuhnya menjadi sangat ringan, bagaikan mempunyai sayap, dengan lembut Dodo terjatuh di tanah. Dodo sangat kaget : Wah, sangat indah sekali ! Bukankah sekarang malam hari ? Kenapa tempat ini terang benderang disinari matahari?”

    Tiba-tiba, sebuah teriakan membuat Dodo terkejut, tidak, sebenarnya kemunculan Dodo yang membuat orang kerdil ini kaget. Dalam sekelompok ini terdapat lebih dari 10 orang kerdil, kemudian dalam sekejap, orang-orang kerdil ini mengetahui ada manusia biasa yang datang ke tempat orang kerdil. Orang-orang kerdil tersebut menjadi panik, dengan suara ribut membawa obor mengelilingi Dodo.

    Dodo setelah melihat orang kerdil tersebut, menjadi sangat gembira! Dalam hati dia berpikir “Apakah Kulalo ada di antara kerumunan orang?” Akhirnya Dodo bertanya dengan suara lembut :”Bolehkah saya bertanya ?” membuat orang kerdil tersebut terpaku sebentar “Apakah Kulalo ada di sini?”

    Papa dan mama Kulalo yang berada di antara kerumunan orang tersebut saling memandang, dengan curiga bertanya :”Kulalo? “ papanya menanyakan pada mamanya “Kulalo, bukankah anak kita ?” Pada saat mereka semua kebingungan, bayangan badan Kulalo dari jauh muncul sambil berlari dan berteriak : “Dodo! Dodo! Saya berada di sini!”

    Setelah mendengar suara Kulalo, sambil berlutut Dodo menyambut kedatangan Kulalo : “Kulalo, bagaimana kamu mengetahui saya berada di sini?” Kulalo dengan napas yang tersengal-sengal, tertawa dengan kedua pipi yang merah menjawab: “Karena saya telah bertemu dengan adikmu Dada, dia juga sekarang berada di sini, dia yang mengatakan kamu lari dari rumah, dan dia merasakan kamu berada di suatu tempat yang siang malam disinari matahari, oleh sebab itu saya mengetahui kamu berada di sini.”

    Pada saat ini kedua orang tua Kulalo menariknya dan berkata : “Ada apa sebenarnya ini?” takut Kulalo disalahkan orang tuanya, Dodo dengan segera berkata : “Kalian jangan menyalahkan Kulalo, semua ini adalah kesalahan saya!”

    Kulalo melihat Dodo sambil menunduk meminta maaf, kemudian dia membantu Dodo berbicara : “Bukan, bukan kesalahan Dodo, Dodo adalah seorang gadis yang baik hati, karena saya ……”

    Ketua orang kerdil berbicara : “Kulalo, kami bukan menyalahkan kamu, kami berpikir, kamu harus menceritakan apa yang terjadi pada kami semuanya”

    Kulalo berjalan ke depan Ketua, sambil mengaruk kepalanya dengan malu-malu berkata :
    “Maaf, saya menyebabkan kalian semua cemas, saya akan menceritakan keadaan sebenarnya……..”

    Ketika Kulalo selesai berbicara, mereka semuanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Pada saat itu Lalito dengan sedih berkata : “Saya bersalah, saya sebenarnya mengetahui Dodo tidak bersalah, tetapi karena saya penakut, tidak berani berbicara yang sebenarnya, jika pada saat itu saya mempunyai keberanian yang sama dengan Kulalo dan saya tidak menarik Kulalo pulang, mungkin Dodo tidak akan dipukuli demikian parah !” (Bersambung)

     
  • tituitcom 23.17 on 22 July 2012 Permalink  

    Buku Ajaib 

    (Erabaru.or.id) Dahulu kala, ada sebuah desa yang bernama “Desa bodoh”, kenapa desa ini dinamakan desa bodoh? Karena penduduk yang tinggal didesa ini sangat bodoh, karena terlalu bodoh untuk menghitung 1 + 1 = 2 saja mereka tidak bisa. Mereka selalu menjadi bahan tertawaan penduduk desa lain, sehingga penduduk desa bodoh menjadi minder tidak berani keluar dari desa mereka untuk bertemu dengan orang lain.

    Tetapi di desa bodoh ini terdapat seorang yang sangat pintar bernama cendekiawan, dia bisa menjawab semua pertanyaan penduduk desa bodoh ini. Penduduk desa sangat menghargai cendekiawan, setiap ada masalah yang berhubungan dengan dunia luar penduduk desa selalu meminta pendapatnya. Tetapi dia sangat sombong dan sangat malas. Dia selalu memerintah penduduk desa bodoh mengerjakan pekerjaannya, makanan dan minumannya juga disediakan oleh penduduk desa bodoh ini. Tetapi penduduk desa bodoh ini sangat baik, mereka tidak menganggap cendekiawan memperalat mereka, mereka selalu berpikir “sungguh bahagia! Dapat membantu orang lain!”

    Kenapa cendekiawan di desa bodoh ini bisa sangat pintar? Semua ini ada sebabnya, rupanya cendekiawan adalah seorang utusan dari penduduk “Desa Pintar” untuk mencari buku ajaib. Karena mereka mendapat kabar bahwa di desa bodoh terdapat sebuah buku ajaib. Didalam buku ini berisi sangat banyak pengetahuan, setiap orang yang membaca buku ini akan mendapat kepintaran yang tak terduga. Buku tersebut adalah peninggalan dewa pelindung desa bodoh untuk penduduk desa bodoh. Tetapi penduduk desa sangat bodoh sehingga mereka tidak mengetahui peninggalan ini. Sebuah buku yang begitu ajaib dibiarkan disana sungguh mubazir! Seharusnya buku ini diberikan kepada penduduk desa pintar. Dengan demikian dapat membuat buku ajaibnya menjadi lebih berharga! Sehingga mereka mengutus cendekiawan untuk datang ke desa bodoh mencari buku ajaib ini supaya dapat dibawa pulang ke desa pintar.

    Tidak berapa lama setelah cendekiawan datang ke desa bodoh dia sudah mengetahui bagaimana mendapatkan buku ajaib tersebut. Rupanya cara menemukan buku ajaib ini sangat gampang yaitu pergi ke tepi danau dekat pengunungan, menghadap ke danau dan berteriak “Buku ajaib! Buku ajaib! Cepat keluar!” maka buku ajaib akan muncul kepermukaan danau. Dengan mencuri-curi setiap malam Cendekiawan datang ke tepi danau membaca buku ajaib ini. Sudah pasti dia tidak bermaksud membawa pulang buku ajaib ini ke desa pintar. Jika setiap orang didesa pintar sudah membaca buku ajaib ini, maka dia bukan merupakan seorang yang paling pintar lagi demikianlah dia berpikir. Sehingga dia membohongi orang didesa pintar bahwa dia tidak dapat menemukan buku ajaib. Sedangkan dirinya sendiri tinggal didesa bodoh tidak bermaksud pulang kembali ke desa pintar lagi.

    Pada suatu malam, cendekiawan dengan mencuri-curi berjalan pergi ke tepi danau. Bersamaan, tetangganya Si Tolol keluar dari rumah hendak ke belakang, dia melihat cendekiawan malam-malam sendirian berjalan ke tepi danau, dan Si Tolol sangat khawatir dan berkata kepada dirinya sendiri, “Sudah tengah malam cendekiawan hendak pergi kemana? Bagaimana jika digigit ular? Tidak boleh kubiarkan cendekiawan sendiri berjalan ke tepi danau, sangat berbahaya. Saya akan mengikutinya.”

    Si Tolol mengikuti dia terus sampai ditepi danau dekat pengunungan, dia tidak berani terlalu dekat dengan cendekiawan karena dia takut akan membuat cendekiawan terkejut. Sehingga dia hanya dibelakang cendekiawan mengikutinya dan dia bermaksud melindungi cendekiawan jika terjadi sesuatu. Setelah sampai di tepi danau dia mendengar cendekiawan berkata “Buku ajaib! Buku ajaib! Keluarlah!” diatas danau muncullah sebuah benda. Si Tolol berpikir cendekiawan tentu kelaparan, saya sendiri juga kelaparan sebentar lagi saya juga pergi meminta makanan. Rupanya Si Tolol sama sekali tidak mengerti apa itu buku ajaib. Dia berpikir didalam buku ajaib berisi makanan lezat. Cendekiawan sangat lama masih belum meninggalkan tempat ini, sehingga Si Tolol menunggu-nunggu sampai ketiduran.

    Begitu Si Tolol terbangun, dia melihat cendekiawan telah meninggalkan tempat itu. Dan dia berkata, “sekarang giliran saya yang makan!” dan dia sambil berlutut ditepi danau dia berteriak “Buku ajaib! Buku ajaib! Keluarlah!” akhirnya muncullah sebuah benda yang berat dari dasar danau. Begitu Si Tolol membukanya dia melihat sebuah buku yang bersinar–sinar muncul dihadapannya. Si Tolol yang sama sekali tidak pernah berlajar membaca dapat membaca setiap huruf di buku ajaib ini. Setiap huruf dari buku ajaib ini langsung masuk kedalam otaknya, Si Tolol merasa sangat bahagia. Dia terus menerus membuka setiap lembar buku ajaib, dengan tiba-tiba dia merasa dia menjadi sangat pintar dan mengerti semua makna yang terdapat dibuku ajaib ini. Pikirannya menjadi jernih dan bersemangat, dia merasa buku ini sangat bagus dan ajaib, dia berpikir, “saya harus memberitahukan seluruh penduduk desa.” Begitu dia selesai membaca buku ini hari telah terang, dia lari pulang kedesa dan memberitahukan kepada seluruh penduduk desa untuk datang ke tepi danau membaca buku ajaib ini.

    Cendekiawan sedang tidur mendengar suara ribut-ribut diluar, dalam hatinya dia memaki, “benar-benar sekumpulan manusia tolol berbuat hal yang tolol” lalu dia tidur kembali tanpa memperdulikan mereka.

    Seluruh penduduk desa bodoh berkumpul ditepi danau, lalu Si Tolol berkata,“buku ajaib! Buku ajaib! Keluarlah!” didepan semua orang buku ajaib muncul. Begitu Si Tolol membuka buku tersebut secara ajaib huruf dibuku tersebut berubah menjadi besar sehingga seluruh penduduk dapat membaca dengan jelas, sambil membaca air mata mereka terus mengalir mereka berkata “rupanya begitu banyak hal yang kami tidak tahu ! rupanya buku ini mempunyai sebuah keajaiban yaitu orang yang hatinya tulus dan baik dapat mengetahui lebih banyak isi buku tersebut, sehingga setiap orang yang membaca buku ini mempunyai pengertian yang berbeda-beda sesuai dengan kebaikan hatinya, makin baik hatinya dia akan mengetahui lebih banyak makna yang terkandung dalam buku tersebut, orang yang seperti cendekiawan yang egois hanya mengerti sedikit permukaan tanpa memahami makna sebenarnya yang terkandung dalam isi buku, hanya bisa menjadi sedikit lebih “pintar”, tanpa mendapatkan “kecerdasan” yang sebenarnya.

    Penduduk desa kembali ke desa dengan hati yang puas, mereka tidak tamak, dan berjanji mereka bersama-sama setiap pagi akan datang ke tepi danau membaca buku ajaib. Lama kelamaan cendekiawan menyadari bahwa penduduk desa makin lama makin pintar, itu yang paling ditakutinya. Karena jika mereka semua berubah menjadi pintar dia sendiri sudah tidak berharga lagi di desa ini. Dengan hati geram dia lalu bertanya kepada Si Tolol, “kenapa penduduk desa sekarang tidak sama lagi?” rupanya selama ini dia tidak pernah bertanya suatu pertanyaanpun kepada orang lain, Si Tolol menjawab, “ini semua adalah berkat jasa kamu, sehingga penduduk desa menjadi pintar.” Lalu Si Tolol menceritakan asal mula penduduk desa menemukan buku ajaib, mendengar cerita Si Tolol muka cendekiawan langsung berubah menjadi pucat dalam hatinya berpikir, “kenapa bisa begitu? Kenapa bisa begitu?” Dia semakin menyadari sekarang penduduk desa sekarang sudah tidak memerlukan dia lagi, mereka dapat sendiri untuk berkomunikasi dengan penduduk desa lain.

    Sudah pasti, cendekiawan tidak dapat menerima hal yang demikian, oleh karena itu timbul niat jahatnya. Pada malam hari dengam mencuri-curi dia pergi ketepi danau, setelah buku ajaib muncul dia memasukan buku ajaib didalam sebuah kalung, lalu dengan tergesa-gesa keluar dari desa bodoh. Begitu keluar dari desa bodoh dia berpikir, “sekarang penduduk desa bodoh sudah tidak memerlukan saya lagi, saya akan kembali ke desa pintar membawa buku ajaib supaya mereka bangga dengan saya.”

    Setelah sampai di desa pintar, seluruh penduduk desa berebut untuk melihat buku ajaib, setelah keadaan agak tenang, cendekiawan lalu membuka buku ajaib. Tetapi begitu buku ajaib terbuka didalamnya kosong tidak ada huruf sama sekali, rupanya begitu buku ajaib keluar dari desa bodoh dia akan menjadi tidak berguna lagi. Seluruh penduduk desa pintar merasa dibohongi lalu mengusir cendekiawan dari desa pintar.

    Cendekiawan dengan lesu memeluk buku ajaib dalam hati berkata, “buku ini sudah tidak berguna lagi bagi saya, sebaiknya saya kembalikan kepada penduduk desa bodoh!” Pada dasarnya cendekiawan mempunyai sebuah hati yang baik, tetapi karena pendidikan dan masa pertumbuhannya didesa pintar yang penduduknya bersifat egois dan licik sehingga merubah sifat dasarnya menjadi jelek. Sekarang dia rindu kepada penduduk desa bodoh yang baik hati, apakah mereka akan memaafkannya?

    Begitu dia sampai di desa bodoh, penduduk desa dengan gembira menyambutnya, rupanya mereka sibuk mencari dia. Lalu cendekiawan memberitahukan kepada mereka dia telah mencuri buku ajaib, tetapi penduduk desa memaafkannya, mereka berkata cendekiawan dapat dengan selamat kembali ke desa, mereka sudah merasa gembira. Melihat kebaikan penduduk desa bodoh cendekiawan sampai terharu menetes air mata, dalam hati berjanji akan berbuat lebih banyak kebaikan untuk penduduk desa ini.

    Setiap hari semua penduduk desa beramai-ramai datang ketepi danau membaca buku ajaib, lama kelamaan seluruh penduduk desa menjadi pintar semua sehingga nama desa bodoh tidak ada lagi dan muncul sebuah desa baru yang bernama “desa cerdas.”

    (Sumber Minghui.net)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal