Updates from September, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 22.20 on 10 September 2012 Permalink  

    imana pun saya berada, kemana pun saya pergi, 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Cukup lama waktu yang saya butuhkan untuk mengembalikan kepercayaan diri setelah keterpurukan diri yang membuat garis hitam dalam catatan sejarah hidup saya. Catatan sejarah hitam yang tidak akan pernah bisa terhapus meski banyak air sudah yang keluar dari sudut mata, meski banyak doa yang saya harap bisa meringankan beban yang teramat berat menanggung malu dan dosa masa lalu.
    Saat merasa seperti sendiri, saya menjelajahi bumi mencoba menemukan seseorang yang bisa membantu. Saya datangi seorang guru untuk menceritakan semua gundah. Ia yang dengan penuh kesabaran mendengarkan hingga huruf terakhir terucap dari lidah ini. Kemudian ia menulis beberapa kalimat dalam secarik kertas. “Bawa surat ini ke Masjid, temui anak-anak muda disana” hanya itu kalimat penutupnya.
    Selepas maghrib, saya pun bergegas menuju tempat yang ditunjuk. Perlahan, malu dan merasa kotor diri ini untuk memasuki masjid, dan seketika saya merasa diri ini tidaklah berharga saat melihat wajah- wajah bersih, sebagian besar wanitanya menutup kepala mereka dengan jilbab, apalah diri ini. “Mari masuk, selamat datang. Kehadiran Anda sangat kami nantikan disini” Sungguh sebaris kalimat yang sangat hangat terdengar.
    Sejenak hati ini terpaku merasakan sentuhan persahabatan yang luar biasa dari tatapan, sapaan dan tangan terbuka dari semua yang berada di dalam masjid. Terlebih ketika seorang dari mereka, merangkul pundak saya, “Inilah kami, sebuah keluarga besar yang akan juga menjadi keluarga Anda.” Saya seperti baru saja mendapat peluk cium dan kehangatan yang luar biasa, nyaris menandingi kasih yang selama ini saya terima dari ibu. Ada keluarga baru disini, sahabat-sahabat baru dengan senyum dan sapa cintanya.
    Hari-hari sesudah itu membantu saya melupakan masa lalu, meringankan beban menanggung dosa masa lalu yang benar-benar tidak pernah bisa hilang dari kenangan. Sahabat-sahabat baru itu seolah tengah membantu saya mengangkat beban yang teramat berat meski hanya dengan senyum, tepukan di punggung atau menyediakan telinga mereka untuk tempat saya membuang sampah mulut ini. Ya, karena kadang yang saya bicarakan kepada mereka bisa jadi tak penting bagi mereka, tapi sungguh telinga mereka tetap tersedia untuk kisah-kisah tak penting saya.
    ***
    Dimana pun saya berada, kemana pun saya pergi, satu yang terpenting untuk saya temukan, yakni sebuah kekayaan bernama sahabat. Tidak seorang pun yang paling beruntung di dunia ini melainkan ia yang memiliki sahabat. Karena sahabat ada, untuk mereka yang terluka, untuk mereka yang tengah memikul berat beban, untuk menghapus air mata yang berduka, membantu seseorang berdiri dari keterpurukan dan menyediakan sayapnya untuk terbang bersama.
    Akhirnya, sampailah saya pada satu kepastian hakikat, bahwa sahabat adalah kekayaan sebenarnya. Hilang satu, miskinlah sudah. Bertambah satu, semakin beruntunglah. Terima kasih untuk semua sahabat, Anda adalah kekayaan saya sebenarnya.
    ————-
    Bayu Gawtama
    Iklan
     
  • tituitcom 21.25 on 24 August 2012 Permalink  

    Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Kediri 

     Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Kediri   Di kerajaan Kediri, seorang putera raja Jenggala bernama Raden Panji. Suatu saat Raden Panji berkelana sampai ke hutan Sigaluh. Waktu itu Raden Panji membabat hutan Sigaluh.

    Riwayat asal-usul Nyai Ratu Kidul sendiri sebenarnya sangat banyak
    versinya. Saya akan menceritakan  beberapa versi, sekedar sebagai
    contoh. Karena saya kesulitan mencari istilah yang pas maka akan saya
    gunakan Versi Beberapa Kerajaan di Jawa. Urutan tersebut hanya istilah yang
    saya gunakan, tidak menunjukkan tingkatan atau urutan kualitas atau
    kebenaran ceritanya.
    1.  Nyai Ratu Kidul Versi Kerajaan Kediri
    Di kerajaan Kediri, seorang putera raja Jenggala bernama Raden
    Panji. Suatu saat Raden Panji berkelana sampai ke hutan Sigaluh.
    Waktu itu Raden Panji membabat hutan Sigaluh. Padahal di hutan
    itu juga terdapat pohon beringin putih (waringin putih) yang
    menjadi pusat kerajaan lelembut (makhluk halus) yang rajanya
    bernama Prabu Banjaran Seta. Ketika melakukan pembabatan hutan
    itu ternyata pohon waringin putih  tersebut ikut terpotong. Dengan
    tumbangnya pohon waringin putih  tersebut Prabu  Banjaran Seta
    menjadi senang sebab ia dapat menyempurnakan hidupnya,
    sehingga akhirnya roh  Prabu Banjaran Seta  manjing  (masuk) ke
    dalam tubuh Raden Panji, sehingga Raden Panji bertambah
    kesaktiannya. Maka kekuasaan hutan Sigaluh dan kerajaan Prabu
    Banjaran Seta diambil-alih oleh Raden Panji.
    Prabu Banjaran Seta mempunyai adik perempuan bernama
    Retnaning Dyah Angin-angin, yang selanjutnya dijadikan isteri oleh
    Raden Panji. Dari perkawinan tersebut lahir anak perempuan
    bernama Ratu Hayu.  Pada hari kelahirannya tersebut datanglah
    kakek Ratu Hayu yang bernama Eyang Sindhula yang kemudian
    memberi nama Ratu Hayu tersebut dengan nama Ratu Pagedongan
    dengan harapan agar menjadi wanita tercantik di jagat raya. Setelah
    Ratu Pagedongan besar ia meminta kepada Eyang Sindhula agar
    kecantikannya abadi. Maka permintaan itu dikabulkan dan Ratu
    Hayu atau Ratu Pagedongan akan menjadi cantik terus sampai hari
    akhir jaman, dengan syarat ia harus menjadi lelembut.
    Setelah Ratu Pagedongan menjadi lelembut, maka Raden Panji
    memberikan kekuasaan kepada anaknya itu untuk memerintah di
    Laut Selatan, sampai saatnya nanti bertemu dengan Wong Agung
    yang memerintah Jawa. Hal ini juga disinggung dalam Serat
    Darmogandhul.
    Cerita tersebut mirip-mirip dengan kisah Pandawa dalam
    perjuangannya membuka Wonomarto (hutan Amarta) yang harus
    berlawanan dengan penguasa raksasa di Pringgondani yang
    dikalahkan oleh Bima,  sehingga akhirnya Bima mengawini puteri
    kerajaan Pringgondani bernama Dewi Arimbi. Kekuasaan
    Pringgondani selanjutnya diserahkan kepada Gatotkaca, anak hasil
    perkawinan Bima dengan Dewi Arimbi.
    Kisah asal-usul Nyai Ratu Kidul versi ini seolah-olah hendak
    memberikan gambaran bahwa penguasa jaman dahulu biasa kawin
    dengan lelembut, seperti halnya  akhirnya dikisahkan Nyai Ratu
    Kidul menjadi isteri Sutowijoyo, Raja Mataram, dan raja-raja
    keturunannya.

     
  • tituitcom 23.56 on 28 July 2012 Permalink  

    Kisah Biji Bunga Lotus 

    Kisah Biji Bunga Lotus
    Pada sebuah kolam yang tenang, tumbuh sekelompok bunga lotus yang cantik. Udara lingkungan sekitar sangat menyejukkan hati. Bunga-bunga lotus itu selalu bermandikan sinar matahari yang hangat, benar-benar sebuah tempat tinggal yang nyaman dan menyenangkan.
    Namun suatu hari, ujung buah lotus kering tiba-tiba menjatuhkan beberapa biji lotus ke dasar kolam yang keruh. Saat itu biji-biji lotus ini tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi mereka semua berpikir ingin segera kembali ke atas permukaan air tempat mereka berasal, dikarenakan dasar kolam ini begitu hitam, kotor dan dingin.
    Didalam lingkungan baru itu, biji-biji lotus ini menjadi sangat gugup. Tepat saat mereka sedang dalam kebingungan, Ibu Lotus menundukkan kepalanya dan berkata, ”Anak-anakku janganlah cemas, asalkan kalian sudah memutuskan keinginan untuk kembali, dengan giat terus tumbuh ke atas, maka tak lama kelak kalian akan kembali ke atas permukaan air yang hangat.”
    Setelah itu biji-biji lotus ini mulai berdebat dalam lumpur kolam. Permukaan kolam itu begitu tinggi, mereka berpikir rasanya sudah tak mungkin kembali lagi. Sehingga ada sebagian biji lotus sudah putus harapan. Bahkan diantaranya sudah terkelabui oleh pemandangan dasar kolam. Mereka melayang-layang ke lain tempat mengikuti aliran arus kolam itu.
    Namun ada sebagian biji lotus yang merasa yakin akan ucapan Ibu Lotus. Mereka lalu memutuskan untuk tumbuh ke atas. Terhadap berbagai ucapan sinis biji-biji lain mereka tidak menghiraukannya. Dan tak lama kemudian, mereka benar-benar mulai menancapkan akarnya, lalu tubuh mereka menjadi tinggi menjulang.
    Setiap hari mereka terlihat tumbuh dengan cepat, sedangkan bagi mereka yang tidak giat tumbuh ke atas telah tersesat di berbagai sudut kolam. Tepat saat sinar mentari pagi mulai muncul, sekelompok biji lotus yang berani dan rajin ini, akhirnya berhasil kembali ke atas permukaan air yang selama ini mereka dambakan. Terlihat sinar mentari hangat yang dahulu mereka kenal, tersenyum lembut menyambut mereka. Begitu juga mereka akhirnya dapat bertemu kembali dengan Ibu Lotus yang bersama lotus-lotus lainnya, telah sejak dini menantikan kedatangan mereka.
    Nah adik-adik sebuah akhir yang bahagia bukan? Jika kita selalu berpegang teguh pada kebenaran yang kita yakini serta tidak mudah tergoda pada penglihatan semu, yang kita peroleh adalah kenyataan yang benar-benar tak terbantah. Itulah yang disebut kebenaran yang sejati. Seperti yang telah dimiliki biji-biji lotus yang tumbuh teguh bersama keyakinannya. Demikian juga, percayalah Ibu Alam Semesta akan selalu memberimu semangat dan melindungimu
    lihat video bunga lotus berikut :
     
     
  • tituitcom 23.19 on 25 July 2012 Permalink  

    Hailibu, si Pemburu yang Baik Hati 

    JANGAN DI HAPUS

    Hailibu, si Pemburu yang Baik Hati
    Ada sebuah kisah rakyat Mongolia yang menarik untuk kita simak…
    Pada jaman dahulu, di dataran padang rumput Mongolia, hiduplah seorang pemburu yang baik hati yang bernama Hailibu. Tiap selesai berburu, dia akan selalu membagikan daging-daging tersebut untuk penduduk desa yang lain dan dia hanya menyisakan sedikit bagian untuk dirinya sendiri. Perhatiannya un-tuk orang lain membuat dia begitu dihargai di desa itu.
    Suatu hari, saat sedang berburu di dalam hutan, Hailibu mendengar suara tangisan dari langit. Sambil menatap ke atas, dia melihat seekor makhluk kecil yang ditangkap oleh seekor burung Hering yang amat besar. Dengan cepat, dia mengarahkan busur panahnya ke arah predator tersebut. Karena terkena bidikan panah tersebut, si burung raksasa melepaskan mangsanya.
    Hailibu menatap ke arah makhluk aneh tersebut yang memiliki tubuh menyerupai seekor ular. Dan berkata,“Makhluk yang menyedihkan (kasihan), cepat pulanglah.” Makhluk itu menjawab, “Wahai pemburu yang baik, saya sangat berterima kasih karena anda telah menyelamatkan nyawaku. Sebenarnya, saya adalah putri raja Naga, dan saya yakin ayahku akan memberikan anda hadiah sebagai ucapan terima kasih. Beliau mempunyai banyak harta benda yang dapat anda miliki. Tetapi jika tiada satu pun harta benda yang berkenan bagimu, anda dapat meminta batu ajaib yang beliau simpan di dalam mulutnya. Siapapun yang memiliki batu ajaib itu, dia akan memahami semua bahasa hewan.”
     Hailibu si pemburu tidak tertarik dengan segala harta benda, tetapi kemampuan untuk dapat memahami berbagai macam bahasa hewan membuatnya sangat tertarik. Kemudian, dia bertanya kepada si Putri Naga, “Apakah itu benar-benar batu ajaib?” Si putri menjawab, “Benar. Tetapi apapun yang anda dengar dari hewan-hewan tersebut, anda harus menyimpannya untuk diri anda sendiri. Jika anda memberitahukan kepada orang lain, maka anda akan berubah menjadi batu.”
    Lalu, si Putri Naga itu membawa Hailibu ke pinggir laut. Saat mereka mendekati laut, tiba-tiba air terbelah dengan cepat, sehingga Hailibu dapat berjalan seperti saat berada di jalan yang amat lebar. Tak lama kemudian, tampaklah sebuah istana yang berkilau, di mana tempat tinggal si raja Naga.
    Raja Naga amat bahagia saat mendengar Hailibu telah menyelamatkan putrinya, dan dia kemudian menawarkan segala harta benda yang Hailibu inginkan dari istananya. Setelah terdiam beberapa saat, Hailibu menjawab, “Jika Baginda ingin memberi saya sesuatu sebagai hadiah, bolehkah saya meminta batu ajaib yang ada di mulut Baginda raja?”
    Raja Naga menurunkan kepalanya, berpikir sejenak. Kemudian, dia mengeluarkan batu tersebut dari mulutnya dan memberikannya kepada Hailibu.
    Saat akan berpisah, si Putri Naga mengulangi kembali pesannya untuk Hailibu, “Pemburu yang baik, hendaklah anda ingat untuk tidak memberitahukan kepada siapapun tentang apapun yang dikatakan oleh para hewan, jika tidak, anda akan langsung berubah menjadi batu.”
    Setelah memiliki batu ajaib di mulutnya, Hailibu semakin menikmati perburuannya di hutan. Dia mengerti semua bahasa hewan, dan dia juga dapat mengetahui hewan apa saja yang dapat ia buru, beserta lokasi di mana hewan tersebut berada. Dengan kemampuan ini, dia menghasilkan lebih banyak lagi daging hewan buruannya dan ia dapat membagikannya kepada para penduduk desa.
    Beberapa tahun kemudian….
    Pada suatu hari, saat sedang berada di gunung, Hailibu mendengar sekumpulan burung sedang bercakap-cakap tentang sesuatu hal yang amat penting. Dia mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama. Sang pemimpin berkata, “Kita harus cepat-cepat pindah ke daerah lain. Malam ini, gunung akan meletus dan banjir akan menggenangi seluruh daerah ini. Banyak manusia yang akan mati”
    Hailibu amat kaget mendengar hal ini. Dengan tergesesa-gesa, dia lari pulang ke rumahnya, dan menyebarkan berita ini kepada penduduk desa. “Kita harus pergi dari daerah ini secepatnya, Kita tidak dapat tetap tinggal di sini lagi.!” Tentunya, penduduk desa bingung dan kaget,”Tidak ada yang salah selama kita tinggal di sini,lalu kenapa kita harus pindah?”. Hailibu tetap berkeras untuk menyampaikan berita ini, tapi tidak ada seorangpun yang percaya. Dengan menangis, Hailibu menjelaskan, “Tolong dengarkan saya, saya dapat bersumpah bahwa apa yang saya katakan itu benar. Percayalah saya, kita harus pergi sekarang sebelum semuanya terlambat”
    Seorang tetua mencoba untuk menenangkan Hailibu, “Engkau adalah pemuda yang baik dan selama ini engkau tidak pernah berdusta. Kami sudah menetap di sini dalam kurun waktu yang lama, tapi sekarang engkau meminta kami untuk pindah. Untuk pindah dari tempat ini bukanlah perkara mudah, karena itu engkau harus memberitahukan kepada kami apa alasanmu,anak muda?”
    Hailibu merasa putus asa dan tidak menemukan cara lain untuk menyelamatkan penduduk desa. Lalu, dia mencoba menenangkan diri sejenak. Dengan kesungguhan hati, dia berkata kepada penduduk desa. “Malam ini, gunung akan meletus dan sebuah banjir besar akan melanda tempat ini. Kalian dapat lihat sendiri, burungburung telah terbang meninggalkan daerah ini.” Kemudian Hailibu menjelaskan perihal bagaimana dia mendapatkan batu ajaib, yang membuatnya mengerti semua bahasa hewan, tapi seharusnya dia harus menyimpannya itu sebagai rahasia, jika tidak, dia akan berubah menjadi batu.
    Saat Hailibu bercerita, bagian bawah tubuhnya, mulai dari telapak kaki perlahan-lahan berubah menjadi batu. Setelah dia menyelesaikan seluruh cerita, dia berubah menjadi batu seutuhnya.
    Para penduduk desa amat kaget dan merasa amat kehilangan. Mereka menangis, mencurahkan kesedihan mereka yang sedalam-dalamnya, mereka menyesal mengapa tidak mempercayai Hailibu dari awal. Akhir-nya, dengan membawa barang-barang penting mereka dan persediaan makanan, semua penduduk desa (termasuk para tetua dan anak-anak), mereka berjalan dan meninggalkan daerah itu. Mereka terus berjalan hingga malam hari, tiba-tiba awan tebal menyelimuti langit dan angin telah bersiap untuk menderu. Tak lama, turunlah hujan yang amat sangat deras. Dari arah desa, mereka mendengar suara gemuruh dari letusan gunung……
    Sudah beberapa generasi telah berlalu, namun para nenek moyang dari desa tersebut tetap dapat mengingat Hailibu, si pemburu yang baik hati. Mereka juga tetap berusaha untuk mencari batu Hailibu. (The Epoch Times/YY)

     
  • tituitcom 00.11 on 24 July 2012 Permalink  

    Burung yang Kikir 

    Burung yang Kikir
    Di sebuah daerah pinggiran kota terdapat sebidang kebun buah luas tak bertuan, ditanami sejumlah besar pohon lohan, buahnya tidak saja sangat manis, lagi pula daunnya bisa dibuat ramuan obat-obatan untuk mengobati penyakit. Setiap tahun saat musim tiba dan buahnya sudah ranum, banyak sekali orang yang datang dari kota memetik buah dan daunnya.

    Ada seekor burung yang selalu berputar-putar di atas hamparan pohon buah ini, layaknya sedang menjaga kebun buah. Begitu ada orang yang mendekati pohon lohan, burung itu lantas mulai berkicau, jika menjulurkan tangan memetik buah lokat itu, ia akan berkicau lebih sayu dan nyaring. Coba dengarkan baik-baik suara kicauannya, persis seperti: “Semua milikku! Semua milikku!” Tahun demi tahun berlalu, selalu saja demikian.

    Suatu tahun, orang yang datang ke kebun buah untuk memetik lohan semakin banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya, dan burung itu berkicau nyaring di segala penjuru, begitu gelisah dan cemas sekali sepertinya, namun semua orang sudah merasa tidak aneh lagi, dan tidak menggubrisnya, terus melanjutkan memetik buahnya. Burung itu terus berkicau hingga kehabisan tenaga, sampai akhirnya lemas dan mati seketika.

    Ternyata di kehidupan sebelumnya, burung itu adalah orang yang serakah dan pelit. Karena masih tersimpan kebiasaan buruknya itu, menganggap bahwa kebun buah itu masih miliknya, merasa berat hati orang lain datang memetiknya, jadi terus berteriak: “Semua milikku! Semua milikku!” hingga lemas dan mati seketika.

    Dulu ada seorang pemuda di kota, setelah orang tuanya meninggal dunia, ia memperoleh sangat banyak harta warisan. Setiap hari ia menghitung ada berapa banyak harta pribadinya, ia selalu berharap hartanya semakin banyak semakin melimpah, sampai-sampai kebun buah dan ladang itu bisa menghasilkan berapa banyak hasil semuanya dimasukkan ke dalam hitungan hartanya. Dia tidak pernah berdana dan menolong orang yang kesusahan. bahkan semua pembantu yang semula dipekerjakan di rumah orang tuanya juga telah dipecat. Karena sifat serakah dan kikirnya, dia tidak dapat menemukan wanita yang mau menjadi istrinya, sehingga tidak mempunyai keturunan. Setelah usianya senja dan meninggal dunia, hartanya diambil alih dan dimasukkan ke kas negara karena tidak ada yang mewarisi hartanya.

    Akibat buruk serakah dan kikir, mendatangkan kepahitan kesengsaraan. Jika hendak meningkatkan diri, memperbaiki watak, terlebih dahulu harus mengutamakan cinta kasih membantu sesama makhluk hidup. Mengorbankan sekeping kasih sayang, maka akan mendapatkan sekeping berkah: Hilangkan sekeping keterikatan hati, maka bisa meningkatkan sekeping kecerdasan!

    (Dikutip dari Mingxin.net)

     
  • tituitcom 00.06 on 24 July 2012 Permalink  

    Burung Nuri Memadamkan Api 

    Burung Nuri Memadamkan Api
    Ada seekor burung Nuri, meninggalkan rumah pergi melihat dunia yang lebih luas. Beberapa hari setelah terbang, dengan rasa lelah dan lapar iapun tiba di sebuah hutan, dan bermaksud untuk menetap sementara disitu. Seekor Tupai yang melihat kedatangan Nuri itu, berloncatan gembira, lalu segera mengabarkan berita ini kepada seluruh binatang: “Hei, cepat lihat, ada tamu, ada tamu!” Para binatang mengadakan upacara penyambutan selamat datang yang meriah pada Nuri, burung-burung menyanyikan lagu yang merdu, rusa-rusa menari riang, dan para monyet memetik buah buni yang segar dan lezat untuk Nuri. Burung Nuri sangat terharu menghadapi semua penyambutan yang hangat ini.

    Selanjutnya, selama beberapa bulan di hutan itu, semua margasatwa memperlakukan dengan sangat baik terhadap Nuri, semua makhluk disana sangat menyukainya.

    Meskipun hidup dalam sukacita, tapi seiring dengan bergulirnya waktu, tak urung burung Nuripun menjadi rindu dengan kampung halamannya. Lalu ia mohon pamit pada semua binatang dengan mengatakan: “Selama beberapa hari ini, saya sangat berterimakasih sekali atas perhatian kalian semua terhadap saya, namun saya harus segera pulang, jaga diri kalian baik-baik.” Dengan perasaan berat, para binatang mengantar kepergian Nuri dalam perjalanan demi perjalanan, namun, meski dengan perasaan berat terpaksa mereka harus berpisah sampai disitu.

    Beberapa hari kemudian, peristiwa yang malangpun terjadi. Hutan itu tiba-tiba terbakar, kobaran api itu begitu besar menyala-nyala, membuat segenap hutan merah membara hingga tampak di kejauhan ratusan mil. Binatang-binatang dalam hutan tidak dapat menyelamatkan diri mereka, hingga banyak yang terluka maupun tewas, pemandangan demikian membuat kita tidak tega melihatnya.

    Dari kejauhan burung Nuri melihat kobaran api di ujung sana, dalam benaknya ia berpikir suatu “musibah” telah terjadi, siang malam dan tanpa mengenal lelah ia bergegas ke hutan yang terbakar itu. Ia terbang bolak balik ke sungai di sekitar hutan, dan membasahkan sayapnya ke air, kemudian menyemburkan air di sayapnya itu ke hutan. Tidak tahu berapa kali sudah ia terbang bolak balik seperti itu, hingga membuatnya kelelahan, beberapa kali nyaris terpanggang oleh gelombang panas, sayap di badannya juga sudah terbakar, namun, kobaran api sedikit pun tidak melemah, malah semakin berkobar. Sang Nuri sedikitpun tidak patah semangat, ia terus menyemburkan air.

    Dewa langit melihat usaha sang Nuri lalu berkata : “Kau benar-benar tidak tahu diri, hanya dengan sedikit air yang disemburkan dari sayapmu itu sama sekali tidak bisa memadamkan kobaran api, untuk apa kamu berbuat demikian, salah-salah malah akan membahayakan nyawamu sendiri!” sang Nuri menjawab dengan mengatakan : “Saya tahu mungkin tidak dapat membantu, tapi saya pernah tinggal di sini, binatang-binatang di sana sangat baik terhadap saya. Biar bagaimanapun, saya harus berusaha semampu saya, saya tidak bisa berpangku tangan melihat mereka semua mati terbakar hidup-hidup!”

    Mendengar kata-kata sang Nuri, dewa sangat terharu, lalu segera memadamkan kobaran api hutan tersebut, akhirnya teman-teman Nuri terselamatkan.

    Hikmah yang bisa diambil dari cerita ini: Tindakan Nuri ini sungguh layak kita tiru. Penuh perhatian, menekankan kesetiaan, tahu membalas budi adalah kebajikan tradisi bangsa Tionghua, ketika sahabat menemui kesulitan, sudah semestinya kita berusaha menjulurkan tangan memberikan bantuan. Meskipun bantuan kita tidak seberapa tetapi ketulusan dan keiklasan adalah lebih penting dari besarnya bantuan itu sendiri. (Sumber minghui-net)

     
  • tituitcom 23.59 on 23 July 2012 Permalink  

    Burung Membalas Budi 

    Burung Membalas Budi
    Dahulu kala ada seorang gadis kecil, namanya Yang Bao, ia sangat menyukai makhluk kecil, setiap saat bertemu dengan anjing atau kucing di luar yang dicampakkan orang, ia pasti dengan perasaan sedih akan memeluk dan membawanya pulang, merawat dan mengobati luka mereka, atau memberi makan mereka agar gemuk, dan merawat mereka dengan teliti. Ayahnya Yang Bao adalah seorang pedagang, tapi selalu tidak begitu menguntungkan, kesehatan ibu juga tidak begitu baik, meskipun begitu mereka tidak pernah mencela Yang Bao telah merepotkan atau membebani keluarga, selalu membiarkannya membawa pulang makhluk-makhluk kecil, merawatnya dengan sepenuh hati.

    Pada hari ini, ayah Yang Bao membawanya pergi bersama ke kota untuk membeli barang. Sepanjang jalan, kedua ayah dan anak ini melewati padang belantara melintasi jembatan, ketika mereka melintasi sebidang hutan, tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara kicauan burung yang tersengal-sengal, Yang Bao merasa suara cit… cit… itu sangat memilukan, lalu berkata pada ayahnya: “Ayah, coba dengar! Di sekitar sini sepertinya ada burung yang sedang bercicit (menangis).”

    Dengan tersenyum ayahnya menjawab: “Di dalam hutan, ada suara kicauan burung itu jamak, kamu jangan berpikir yang bukan-bukan. Ayo… kita segera ke kota untuk membeli barang, jika masih ada waktu, ayah akan membelikan pakaian baru untukmu atau membeli beberapa makanan enak, ayo… cepatlah!”

    Di saat itu, suara kicauan “cit… cit…” semakin terengah-engah, dengan cepat Yang Bao menarik pakaian ayahnya, dan dengan sedih mengatakan: “Ayah, kali ini kamu jelas mendengarnya bukan? Burung ini pasti mengalami luka yang sangat parah, dan perlu bantuan kita. Saya tidak mau pakaian baru dan makanan yang enak, hanya mohon padamu untuk berhenti sejenak, menolong burung itu, tidak keberatan bukan?”

    Ayah mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju, lalu dengan mengikuti suara kicauan burung, dan setelah berusaha mencarinya beberapa saat lamanya di semak-semak dan cabang pohon. Akhirnya, di bawah sebatang dahan rendah, mereka menemukan burung yang luka itu. Sayap di sebelah batu itu telah patah, dadanya juga robek, bulu-bulunya yang kuning menjadi merah oleh genangan darah! Bola matanya yang hitam pekat……………, persis seperti meneteskan air mata karena saking pedihnya.

    Ayah menggeleng-gelengkan kepala, dan sebuah tarikan napas panjang berkata: “Wah! Begitu parah lukanya, mungkin tidak tertolong lagi, lebih baik kita pergi saja! Jika tidak segera pergi juga, maka tidak akan keburu lagi ke pasar!”

    Hampir saja Yang Bao menangis, ia mengatakan: “Ayah mohon Anda tunggu sejenak, saya akan mencari daun-daunan (obat) di sekitar sini yang bisa digunakan untuk menghentikan darah, siapa tahu mungkin masih bisa menyelamatkan burung itu!”

    Ayahnya Yang Bao benar-benar tidak tega menolaknya, lantas menepuk-nepuk bahunya dan mengatakan: “Baiklah.” Yang Bao segera menerobos masuk ke semak belukar dan mencari ke sana kemari, setelah menemukan daun-daunan lalu Yang Bao mengunyah hancur daunan, kemudian ditempelkan ke dada , dan dalam sekejap darah itu berhenti. Ayah menyambung kembali sayap yang patah, lalu membetulkan letak sayapnya dengan dahan pohon. Dengan memanjatkan syukur Yang Bao berkata: “Terima kasih, ayah! Kita masukkan burung ini ke dalam sangkar, kita bawa pulang dan merawatnya baik-baik, sekarang marilah kita segera berangkat.”

    Ayah dan anak itu segera berangkat ke kota, namun waktu telah menjelang senja, para pedagang kios di pasar telah bubar, terpaksa dengan perasaan kecewa Yang Bao dan ayahnya pulang ke rumah.

    Melihat mereka tidak membawa barang-barang, ibu merasa aneh, dengan perasaan tidak tenang Yang Bao menceritakan peristiwa yang terjadi. Dengan tersenyum arif sang ibu membelai-belai kepala Yang Bao dan berkata: “Meskipun usiamu masih begitu belia, tapi penuh perhatian, saya dan ayah merasa sangat gembira!”

    Hari-hari berikutnya, Yang Bao merawat burung itu dengan telaten setiap hari. Ia menyediakan sebuah sangkar kayu untuk burung itu, di dalam sangkar tersebut dipenuhi dengan rumput yang lembut, supaya burung itu dapat berbaring di atasnya dengan nyaman. Ia memberi makan burung itu dengan beras yang dihaluskan atau memberinya makan serangga kecil, dan terkadang secara khusus memetik sejumlah bunga sebagai makanan tambahan untuk burung itu.

    Sayap yang patah dan luka di dadanya itu berangsur-angsur mulai membaik, bulu kuning yang halus lembut itu memancarkan kilau cahaya yang elok licin, matanya juga memancarkan kecemerlangan seperti gemerlapan bintang. Anak-anak tetanganya pada kagum sambil mengatakan: “Burung ini begitu elok, betapa beruntungnya seandainya ini milikku!”

    Suatu hari, Yang Bao menggantung sangkar kayu burung itu di depan rumah, agar burung itu bisa berjemur matahari. Tiba-tiba, tidak tahu dari mana datangnya sekelompok burung terbang berdatangan, ada burung kukuk, burung layang-layang, burung kepodang dan burung ketilang dll. Mereka bagaikan segumpalan mega yang berwarna-warni, bertengger di atas sebatang pohon tua di depan rumah, bercicit nyaring pada burung , dan burung itu menjulurkan lehernya mulai berkicau (nyanyi) di hadapan mereka.

    Melihat pemandangan ini, Yang Bao tahu persis bahwa rekan-rekan burung itu datang menyuruhnya pulang, dan setelah direnungkan sejenak, lalu Yang Bao membuka pintu sangkar itu. Namun tak disangka, begitu burung itu keluar dari pintu sangkar, ia tidak segera terbang berlalu, bahkan dengan bulunya yang lembut mengelus perlahan wajah Yang Bao. Yang Bao membelai-belai burung itu dan dengan perlahan berkata: “Terbanglah mungil! Teman-teman pada menunggumu!”

    Burung itu mengangguk-anggukkan kepalanya seakan-akan mengerti apa yang dikatakan Yang Bao, ia mengepak-ngepakkan sayapnya, dan akhirnya terbang ke langit yang jauh bersama dengan sekelompok burung itu. Meskipun Yang Bao merasa berat melepaskannya, namun ia tahu akhirnya mungil itu bisa terbang bebas di angkasa luas bersama dengan rekan-rekannya, dan jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga merasa bahagia atas kegembiraan mungil itu.

    Malam hari itu, Yang Bao terus merindukan burung itu, dan dengan susah payah akhirnya baru bisa tertidur. Di tengah keremangan tidurnya, seorang bocah laki-laki yang berpakaian kuning menghampiri Yang Bao. Raut wajah bocah laki-laki sangat rupawan, sepasang matanya yang hitam terang itu bersinar cerah. Tangannya menggenggam 3 buah giok putih yang terang berkilauan, dan setelah memberi hormat pada Yang Bao lalu berkata: “Saya adalah burung mungil itu, waktu itu karena tidak hati-hati, dada saya luka dipanah oleh anak-anak yang nakal, jatuh dari atas pohon dan malang sayap saya juga patah, untung saja kalian sekeluarga telah menyelamatkan saya. Sekarang saya datang untuk mengucapkan terima kasih, ke-3 gelang giok putih yang ajaib ini, dihadiahkan pada kalian sekeluarga untuk dikenakan, semoga gelang giok ini membawa berkah kesejahteraan untuk kalian sekeluarga.

    Yang Bao menerima gelang giok itu, dan dalam sekejap si bocah laki-laki yang berbusana kuning itu lenyap tak berbekas. Dengan rasa terkejut Yang Bao siuman dari tidurnya, dan baru menyadari bahwa semua itu hanya sebuah mimpi. Di saat itu, fajar juga telah menyingsing, dan Yang Bao mendapati ternyata di tangannya benar-benar telah menggenggam 3 buah gelang giok putih yang halus dan licin!

    Dan anehnya, sejak itu usaha dagang ayah Yang Bao dari hari ke hari semakin lancar, ibu yang sakit-sakitan juga mulai sehat kembali. Kemudian, Yang Bao tumbuh dewasa, dan setelah tumbuh dewasa, Yang Bao tetap masih seperti di waktu kecil yaitu penuh dengan cinta kasih dan perhatian, baik itu terhadap sesama atau makhluk kecil.

    Sumber: Dajiyuan.com

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal