Updates from September, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 22.18 on 10 September 2012 Permalink  

    Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti. 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Surat Untuk Yang Tersakiti    
    Oleh : Muhammad Baiquni
     
    Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti.
    Teruntuk seseorang yang kecewa dengan tingkahku selama ini, untuk dia yang terus berdiam diri, untuk seseorang yang pernah mengisi namanya dihatiku ini.

    Assalamu’alaikum wahai engkau yang pernah tersakiti,
    Lama kita tidak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama kita. Maafkanlah aku yang terus kecewa, maafkan aku yang begitu posesif ingin melindungimu namun aku tak pernah mengerti cara yang dewasa yang kau anggap baik untuk melindungimu. Maafkanlah aku yang tak pernah dewasa dalam mengambil sikap.
    Teramat lama aku ingin segera mengakhiri perang dingin ini. Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian antara aku dan kamu. Teramat lama dan telah teramat sesak aku menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan kata maaf ini. Maka maafkanlah aku.
    Apakah engkau harus terus memegang kata: tidaklah mudah untuk memaafkan.
    Bukankah Tuhan saja Maha Pemaaf, namun mengapa aku atau engkau tidak mampu memaafkan? Sudah menjadi tuhan-tuhan kecilkah kita?
    Atau memang engkau telah memaafkan segala kesalahanku? Namun mengapa telah terputus tali silaturahmi diantara kita?
    Jangan seperti itu. Sungguh jangan seperti itu. Janganlah begitu mudah memutuskan sesuatu yang berat, janganlah begitu mudah membenci sesuatu. Hal yang engkau anggap ringan itu sebenarnya adalah sesuatu yang berat di mata Allah. “Dan janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil.
    Masih ingatkah engkau suatu kisah, dimana engkau bercerita: “Aku pernah memiliki seekor domba, dulu domba itu begitu kusayang. Kemana aku pergi domba itu mengikutiku, dan kemana domba itu beranjak akupun mengikutinya. Namun suatu hari aku amat begitu buruk dan membencinya, domba itu mulai sering mengomel. Dia mengoceh betapa aku harus lebih sering mandi, dia terus berkelakar bahwa tidak baik jika aku tidak mandi. Dia mulai sering mengkritikku. Aku marah. Aku ku tinggalkan domba itu sendiri. Tidak peduli dia mau mati atau terisak nangis sendiri. Bahkan domba itu mulai membentak bahwa selama ini aku tidak ikhlas menemaninya, padahal aku ikhlas.
    Dan aku pun tersenyum mendengar kisahmu. Aku pun berkata, “Mengapa tidak kau temani lagi dombamu yang sedang merajuk itu?
    Kau pun ketus menjawab, “TIDAK! Dia bukan dombaku!
    Tahukah engkau wahai seseorang yang pernah ku sakiti, aku pun kini merasakan apa yang dialami oleh domba itu. Terlalu sakitkah dirimu sehingga engkau begitu membenciku dan menjadikan aku laksana domba dalam ceritamu?
    Jangan seperti itu. Sungguh jangan seperti itu. Janganlah engkau seperti Yunus ketika meninggalkan kaumnya karena kemarahannya akibat kezaliman kaumnya dan Allah pun memperingatkan Yunus, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.
    Dulu kita pernah berteman baik sekali, hingga aku pun mengerti kapan kau akan sakit dalam tiap-tiap bulanmu. Dulu engkau begitu pengasih, hingga tahu betapa aku menginginkan sesuatu dan engkaupun memberikannya. Dulu, kita berdua begitu baik.
    Namun mengapa setelah datang kebaikan, timbul keburukan?
    Sedari awal, aku telah memaafkanmu. Bahkan aku merasa, kesalahanmu di mataku adalah akibat salahku. Aku yang memulai menanam angin, dan aku melihat badai di antara kita. Badai dingin yang amat begitu menyesakkan. Paling tidak untukku.
    Jangan takut jika engkau khawatir perasaan cinta yang dulu melekat akan kembali timbul. Aku bukanlah seorang baiquni seperti yang dulu lagi. Aku telah mengubah sudut pandangku tentang seseorang yang layak aku cintai. Aku sekarang sedang mencari bidadari.
    Ingin aku bercerita kepadamu, kandidat-kandidat bidadariku.
    Mengapa setelah habis cinta timbul beribu kebencian. Mengapa tidak mencoba membuka hati untuk seteguk rasa maaf. Jujur, bukan dirimu saja yang tersakiti, namun aku juga. Namun aku mencoba membuang semua sakit yang begitu menyobek hati. Andai engkau tahu wahai engkau yang pernah kusakiti.
    Pernahkah engkau menangis karenaku seperti aku menangis karenamu? Seperti aku terisak dihadapanmu. Pernahkah?
    Mungkin dirimu telah menemukan seseorang yang begitu engkau sayangi. Seseorang yang mampu membangkitkan hidupmu lagi, tetapi aku? Pernahkah engkau berpikir betapa hal yang engkau lakukan terhadapku begitu berdampak laksana katrina. Bahkan setelah itu aku masih memaafkanmu, bahkan aku menunduk memintamu memaafkan aku.
    Sudah menjadi tuhan kecilkah dirimu? Bahkan Tuhan saja memaafkan.
    Tahukah wahai engkau yang pernah tersakiti, betapa aku meneteskan air mata saat menulis ini. Betapa aku seolah pendosa laksana iblis yang terkutuk. Apakah engkau mengerti apa yang kurasakan? Mengertikah dirimu?
    Tak pernah ada manusia yang luput dari suatu kekhilafan. Tidak aku, tidak juga kamu wahai engkau yang pernah tersakiti. Maka, bukalah pintu maafmu itu.
    Untuk surat ini, untuk kekhilafanku yang lampau, untuk kenangan yang membuatmu sakit, untuk segala sesuatu tentang kita, aku minta maaf.
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
     
  • tituitcom 21.19 on 9 August 2012 Permalink  

    SUTRAH DALAM SHALAT 

    SUTRAH  DALAM  SHALAT
     
    Dari Ibnu `Umar radliallahu `anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu shalat kecuali menghadap sutrah (batas tempat sholat) dan jangan biarkan seorang pun lewat di depanmu, jika ia enggan maka perangilah karena bersamanya ada qarin (teman).” (HR. Muslim dalam As-Shahih no. 260, Ibnu Khuzaimah dalam As-Shahih 800, Al- Hakim dalam Al-Mustadrak 1/251 dan Baihaqi dalam As-Sunan Al- Kubra 2/268)
    Dari Abu Said Al-Khudri radliallahu `anhu ia berkata: “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Jika shalat salah seorang diantara kalian, hendaklah shalat menghadap sutrah dan hendaklah mendekat padanya dan jangan biarkan seorangpun lewat antara dia dengan sutrah. Jika ada seseorang lewat (didepannya) maka perangilah karena dia adalah syaitan.” (HR. Ibnu Abi yaibah dalam Al-Mushannaf 1/279, Abu Dawud dalam As-Sunan 297, Ibnu Majah dalam As-Sunan no. 954, Ibnu Hibban dalam As-Shahih 4/48, 49-Al-Ihsan, dan Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra 2/267, sanadnya hasan) Di dalam riwayat lain (yang artinya): “(Karena) sesungguhnya setan lewat antara dia dengan sutrah.”
    Mengomentari hadits Abu Sa’id di atas As-Syaukani berkata: “Padanya (menunjukkan) bahwa memasang sutrah itu adalah wajib.” (Nailul Authar 3/2). Beliau juga berkata: “Dan kebanyakan hadits- hadits (dalam masalah ini) mengandung perintah dengannya dan dhahir perintah (menunjukkan) wajib. Jika dijumpai sesuatu yang memalingkan perintah-perintah ini dari wajib ke mandub maka itulah hukumnya. Dan tidak tepat dijadikan pemaling (pengubah hukum) sabda shallallahu `alaihi wa sallam (yang artinya): “Sesungguhnya tidak memudharatkan apapun yang lewat di depannya karena menghindarnya orang shalat dari perkara yang memudharatkan shalatnya dan menghindari hilangnya sebagian pahalanya adalah wajib atasnya.” (As-Sailul Jarar 1/176)
    Di antara perkara yang menguatkan wajibnya: Sesungguhnya sutrah merupakan sebab syar’i yang menyebabkan tidak sahnya shalat karena lewatnya wanita baligh, keledai dan anjing hitam sebagaimana telah sah yang demikian itu dalam hadits yang menyatakan larangan orang lewat di depan orang shalat, dan hukum-hukum lainnya yang berkaitan dengan sutrah. (Tamamul Minnah hal. 300)
    Qurrah bin Iyas berkata: “Umar melihatku sedangkan aku (ketika itu) shalat di antara dua tiang. Maka dia memegang tengkukku dan mendekatkan aku ke sutrah seraya berkata: ‘Shalatlah menghadap kepadanya.'” (HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya 1/577 [lihat pula Al-Fath] secara mu’allaq 3 dengan lafadz jazm (pasti datang dari Rasulullah, pent) dan disambungkan [sanadnya] oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 2/370)
    Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Umar memaksudkan perbuatannya itu agar shalat (Qurrah bin Iyas) menghadap sutrah.” (Fathul Bari 1/577)
    Dari Nafi’, ia berkata :“Bahwa Ibnu Umar jika tidak mendapati tempat yang menghadap tiang dari tiang-tiang Masjid, lalu ia berkata padaku: “Palingkan kepadaku punggungmu (untuk dijadikan sutroh,pent).(Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/279 dengan sanad shahih).
    (Dalam suatu riwayat) bahwa Salamah bin Al-Akhwa meletakkan batu di tanah.Jika dia mau mengejakan Sholat ,dia menghadap kepadanya.(Ibnu Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/278)
    Dari Ibnu Abbas r.a. “Aku memasang tongkat di depan Rosulullah SAW ketika di Arafah.Beliau sholat menghadapnya dan keledai lewat dibelakang tongkat.”(Ahmad dalam Al-Musnad 1/243,Ibnu Khuzaimah dalah As-Shahih 840,Thabari dalam Al-Mu’jamul Kabir 11/243 dan sanad dari Imam Ahmad:hasan)
    Jarak Dengan Sutrah
    Diriwayatkan bahwa :Rasulullah SAW berdiri di dekat tabir.Jarak antara beliau dengan tabir itu ada 3 hasta (HR.Bukhari dan Ahmad)
    Diantara tempat sujud beliau dengan dinding ada tempat berlalu kambing (H.R Bukhari dan Muslim)
    Beliau bersabda :“Apabila salah seorang di antara kamu sholat menghadap tabir, maka hendaklah ia mendekatkan dirinya kepada tabir itu, sehingga setan tidak memutuskan dia dari sholatnya “. (Abu Daud Al-Bazzar (p.54 Az-Zawa’id),Al-Hakim dan dishahihkan olehnya,dan disepakati oleh Adz-Dzahabi dan An-Nawawi)
    Benda Yang Dijadikan Sutrah
    Dan kadangkala beliau menjadikan kendaraannya sebagai tabir,lalu sholat dengan menghadap kendaraannya itu. (H.R Bukhari dan Ahmad)
    Hal ini berbeda dengan sholat di tempat berbaring unta. Karena beliau telah melarangnya (Muslim dan Ibnu Khuzaimah (92/2) dan Ahmad
    Kadangkala :“Beliau membawa semacam pelana ,lalu meluruskannya ,kemudian beliau sholat dengan menghadap kepada ujung pelana itu (H.R Bukhari dan Ahmad)
    Rasulullah SAW bersabda: “Apabila salah seorang diantara kamu meletakkan semacam ujung pelana di hadapannya,maka hendaklah ia shalat dengan tidak menghiraukan orang yang berlalu di belakangnya (ujung pelana itu)” (H.R Mulim dan Abu Daud)
    Diriwayatkan bahwa :”Sesekali beliau shalat dengan menghadap ke sebuah pohon.(H.R Nasa’i dan Ahmad dengan sanad yang shahih).
    “Kadangkala beliau shalat dengan menghadap ke tempat tidur, sedangkan ‘Aisyah r.a berbaring di atasnya -dibawah beludrunya- (Al Bukhari,Muslim,dan Abu Ya’la(3/1107 -Mushawwaratu ‘l-Maktab)
    Rasulullah SAW tidak pernah membiarkan sesuatu berlalu diantara dirinya dengan tabir. Dan pernah : “Beliau shalat, tiba-tiba datanglah seekor kambing berlari di hadapannya, lalu beliau berlomba dengannya hingga beliau menempelkan perutnya ke tabir -dan berlalulah kambing itu di belakang beliau-“ (Ibnu Khuzaimah di dalam ash-Shahih (1/95/1),Ath-Thabrani(3/104/3),Al-Hakim dan dishahihkan olehnya,dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.
    Peringatan Bagi Yang Melanggar Sutrah
    “Sekiranya orang yang berlalu di hadapan orang yang shalat itu mengetahui apa yang akan menimpanya,niscaya untuk berhenti selama 40 tahun,adalah lebih baik baginya daripada untuk berlalu dihadapannya “.(H.R Al – Bukhari dan Muslim,riwayat lainnya adalah riwayat Ibnu Khuzaimah(1/94/1)).
    Yang Membatalkan Shalat
    Rasulullah SAW bersabda: “Shalat seorang laki-laki,apabila tidak ada semacam ujung pelana dihadapannya, maka akan diputus oleh: “Wanita -yang haid (atau balighah), keledai dan anjing hitam “.

    Abu Dzar berkata bahwasanya ia berkata, “Wahai Rasulullah,apa bedanya antara anjing hitam dengan anjing merah ?” beliau bersabda, “Anjing hitam adalah setan “. (H.R Muslim,Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah (1/95/2). (Al-Qaulul Mubin fi Akhta’il Mushallin dan Kitab Sifat Sholat Nabi).

     
  • tituitcom 21.05 on 9 August 2012 Permalink  

    SILATURRAHIM 

    SILATURRAHIM
    Rahim secara bahasa berarti rahmah yaitu lembut dan kasih sayang. Tarahamal qaumu artinya saling berkasih sayang.
    Imam Al-Azhary berkata yang dimaksud dengan firman Allah: “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Al-Anbiya’: 107) adalah kasih sayang.
    Tarahhama ‘alaihi berarti mendoakan seseorang agar mendapatkan rahmat, istarhama berarti memohon-kan rahmat. Rajulun rahumun (orang laki-laki yang penyayang) dan imra’atun rahumun (perempuan yang penyayang). Ar-Rahmah fi bani adam, berarti kelem-butan dan kebaikan hati.
    Seseorang dikatakan dekat dengan kerabat apabila dia telah memiliki kasih sayang dan kebaikan sehingga menjadi betapa baik dan sayang. Abu Ishaq berkata: Dikatakan paling dekat rahimnya yaitu orang yang paling dekat kasih sayangnya dan paling dekat hubungan kerabatnya.
    Ar-ruhmu dan ar-ruhumu secara bahasa adalah ka-sihan dan simpati. Allah menyebut hujan dengan nama rahmat. Ibnu Sayyidih berkata bahwa yang dimaksud dengan ar-rahim dan ar-rihimu adalah rumah tempat tumbuhnya anak, dan jamaknya arhaam.
    Al-Jauhary berkata ar-rahim berarti kerabat.
    Imam Ibnu Atsir berkata bahwa dzu rahim adalah orang-orang yang memiliki hubungan kerabat yaitu setiap orang yang memiliki hubungan nasab dengan anda.
    Imam Al-Azhary berkata ar-rahim adalah hubung-an dekat antara bapak dan anaknya dengan kasih sayang yang sangat dekat.
    Allah Ta’ala berfirman:  “Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan sila-turrahim.” (An-Nisa’: 1)
    Orang Arab mengatakan: ” Saya ingatkan engkau dengan takut kepada Allah dan hubungan silatur-rahim”.
    Dalil-dalil
    Allah Ta’ala berfirman:  “Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling memin-ta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim.” (An-Nisa’: 1).
    Keluarga adalah pondasi utama terbangunnya se-buah lingkungan masyarakat. Dan perekat pertama hubungan antar manusia adalah perekat hubungan yang bernilai rububiyah yang merupakan perekat hubungan yang paling dasar. Allah memuji hubungan manusia karena ikatan kekerabatan. Maka bertakwalah kepada Allah yang kamu saling berjanji dan berikrar dengan keagungan nama-Nya, kamu saling meminta satu sama lain dengan kebesaran nama-Nya dan kamu saling bersumpah satu sama lain dengan nama-Nya. Tumbuh-kanlah nilai takwa di antara kalian agar hubungan kerabat tetap bersambung dan langgeng. Hubungan kerabat adalah hubungan yang sangat penting setelah hubungan rububiyah dan perasaan takut kepada Allah. Kemudian, takut untuk memutuskan silaturrahim, selalu memperhatikan hak-haknya, menjaga kelestarian hu-bungan jangan sampai menghancurkan dan menganiaya kemesraannya, jangan sekali-kali mencoba mengusik dan menyentuh keutuhannya. Berusahalah untuk selalu dekat, cinta, hormat dan memuliakan silaturrahim. Jadikanlah kerinduan dan keteduhan hidup anda di bawah naungan dan kemesraan silaturrahim, Allah berfirman :  “Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan meng-awasi kamu”. (An-Nisa’: 1)
    Dan Allah Ta’ala berfirman:  “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mereka takut kepada Tuhannya”. (Ar-Ra’d: 21)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar kita menyambung hubungan baik dengan orang faqir, hubungan baik dengan tetangga dan hubungan baik dengan kerabat dan sanak famili. Apabila manusia memutuskan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan, maka ikatan sosial masyarakat akan hancur berantakan, kerusakan menyebar di setiap tempat, kekacauan terjadi di mana-mana dan gejala sifat egoisme dan mau menang sendiri akan timbul dalam kehidupan sosial. Sehingga setiap individu masyarakat menjalani hidup tanpa petun-juk, seorang tetangga tidak tahu hak bertetangga, se-orang faqir merasakan penderitaan dan kelaparan sendirian dan hubungan kerabat berantakan, sehingga kehidupan manusia berubah menjadi kehidupan hewani serba tidak berharga.
    Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan ditunda umurnya, maka hendaklah bersilatur-rahim”. (Muttafaq ‘alaih)
    Nasehat-Nasehat
    Hiasilah wahai manusia hubungan kerabatmu dengan ridha Allah, langkah-langkahmu menuju ke tempat tinggal kerabatmu adalah keberkahan dan derajatmu akan tinggi di sisi Allah bila engkau melangkahkan kaki untuk bersilaturrahim. Malaikat rahmah selalu mengiringimu dan merupakan ibadah kepada Allah pada saat engkau bersilaturrahim serta engkau akan mendapatkan pahala dan pengampunan dari Allah. Tatkala engkau mengunjungi bibimu yang sedang sakit berarti engkau telah menghiburnya dan sebagai tanda keberhasilan dalam mendidikmu.
    Saudara laki-laki dan saudara perempuan baik sekandung maupun hanya saudara sebapak atau seibu, atau sepersusuan, semuanya hendaklah saling menyayangi, menghormati dan menyambung hubungan kera-bat baik pada saat berdekatan atau berjauhan.
    Hubungan persaudaraan khususnya antara saudara laki-laki dengan saudara perempuan memiliki sentuhan yang sangat unik yaitu sentuhan batin yang sangat lembut serta kesetiaan yang sangat dalam dan semakin hari semakin bertambah subur walaupun berjauhan jarak tempatnya.
    Wahai saudariku sekandung, Allah mewasiatkan kepadaku agar aku selalu menyambung silaturrahim, secara fitrah kita bersaudara dan dengan Kitabullah kita diperintahkan bersilaturrahim serta Allah mengancam dengan siksa dan celaka bagi orang yang memutuskan hubungan kerabat.
    Dari Jubair bin Muth’im bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk Surga orang yang memutuskan hubungan kerabat”. (Muttafaq ‘alaih)
    Menyambung silaturahim dengan paman dan bibi adalah termasuk bagian dari silaturrahim, berdasarkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kamu tidak sadar bahwa paman seseorang adalah saudara bapaknya”.
    Menyambung hubungan kerabat dengan anak pe-rempuan dari saudara perempuan termasuk bersilatur-rahim dengan ibunya dan demikian pula bersilatur-rahim dengan saudara perempuan ibu. Dari Barra’ bin Azib bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saudara perempuan ibu (bibi) memiliki keduduk-an seperti ibu”. (Muttafaq ‘alaih)
    Dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saudara perempuan ibu (bibi) adalah ibu”. (HR. Ath-Thabrani)
    Wanita adalah makhluk yang lemah dan menjadi kuat karena dengan adanya laki-laki. Pada saat saudara laki-laki berkunjung ke rumah saudara perempuan, maka dia bergembira dan berbahagia dengan kunjungan tersebut. Suami dan keluarganya juga ikut bergembira, dengan rasa bangga saudara perempuan tersebut bercerita kepada penduduk kampungnya bahwa saudara laki-laki tersebut datang berkunjung untuk mengetahui keadaan dan kesehatannya dan mereka itulah yang menjadi penopang hidupnya setelah Allah pada saat-saat susah dan kesulitan.
    Betapa lezatnya makanan yang datang dari sauda-ra, bapak atau paman serta betapa berharganya hadiah yang datang dari saudara dan kerabat.
    Saudara perempuan tersebut mengungkapkan kegembiraan dengan mengucapkan semoga Allah melu-ruskan niatmu wahai saudaraku, semoga Allah senantiasa memberi keselamatan kepada kalian dari setiap musibah, saya sangat berbahagia atas kehadiran kalian dan saya sangat bergembira dan bangga dengan kunjungan kalian di hadapan suami saya dan keluarganya. Wahai saudaraku tatkala kalian masuk ke rumahku seakan ruangan rumahku bercahaya dan seluruh rahasiaku ingin aku ungkapkan serta keadaanku berubah semua. Hadiah yang kalian berikan walaupun sederhana akan tetapi sangat berharga bagiku bukan karena mahalnya akan tetapi pemberian itu dari tangan kalian. Saya merasa bangga dan mulia dari seluruh manusia di dunia ini.
    Wahai saudaraku, kunjungan kalian mendatangkan suasana baru bagi hidupku dan saya melihat ruangan rumahku seakan semakin cerah setelah kedatangan kalian. Kegembiraan yang tak mungkin dunia memberikannya kepadaku dan kebahagiaan seakan aku mampu memeluk bintang gejora. Tidak ada saat yang paling bahagia dalam umurku tatkala kalian memuliakan rumahku dengan kunjungan kalian.
    Ya Allah saya bersaksi di hadapanMu bahwa sau-dara-saudaraku telah bersilaturrahim, maka sambunglah ya Tuhan Dzat Yang Maha Penyayang.
    Wahai saudaraku, kalian hanya sekedar menunaikan kewajiban dan tugas kemasyarakatan, tetapi saya berbahagia selamanya yang tidak mungkin terhargai oleh apa pun.
    Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan makhluk sehingga setelah selesai menciptakan mereka, maka rahim berdiri dan berkata: Ini adalah kedudukan yang tepat bagi orang yang berlindung dari memutuskan hubungan silaturrahim, Allah Ta’ala berfirman: “Benar, bukankah engkau senang jika Aku menyambung orang yang menyambung silatur-rahim dan saya memutus orang yang memutuskan silaturrahim. Dia berkata: “Ya, Allah Ta’ala berfirman: “Itulah permohonanmu yang Aku kabulkan.”
    Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah jika kalian mau firman Allah Ta’ala (artinya): “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (Muhammad: 22)
    Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    “Rahim bergantung di ‘Arsy, lalu berkata: “Barangsiapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutuskanku, maka Allah akan memutuskannya”.
    Sesungguhnya orang-orang yang berakal dan berfikir serta berhati yang jernih akan mampu mencerna makna nasihat kebenaran dan kemudian menjadi peringatan baginya.
    Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hari hisab yang buruk”. (Ar-Ra’d: 21)
    Inilah sifat seorang mukmin, setiap apa-apa yang diperintahkan Allah Ta’ala untuk menghubungkan, maka mereka pun menghubungkan. Mentaati secara sempurna dan istiqamah di atas kebenaran dan berjalan di atas manhaj Kitabullah dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan mampu menyelamatkan kita dari penyelewengan dan kesesatan.

    Orang yang terbiasa tidak menjaga janji Allah dan tidak istiqamah di atas jalan lurus sesuai kehendak Allah, maka dia tidak mungkin mampu memegang janji dan ikatan dengan siapa pun. (Kholid Ar Rasyid)

     
  • tituitcom 20.57 on 9 August 2012 Permalink  

    SIHIR DAN DUKUN 

    SIHIR DAN DUKUN
      Segala puji hanya kepunyaan Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan umat, Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tiada lagi Nabi sesudahnya.
    Akhir-akhir ini banyak sekali tukang-tukang ramal yang mengaku dirinya sebagai tabib, dan mengobati orang sakit dengan jalan sihir atau perdukunan. Mereka kini banyak menyebar di berbagai negeri; orang-orang awam yang tidak mengerti sudah banyak menjadi korban pemerasan mereka.
    Maka atas dasar nasihat (loyalitas) kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladan kepada hamba-hambaNya, saya ingin menjelaskan tentang betapa besar bahayanya terhadap Islam dan umat Islam adanya ketergantungan kepada selain Allah dan bahwa hal tersebut bertolak belakang dengan perintah Allah dan RasulNya.
    Dengan memohon pertolongan Allah Ta’ala saya katakan bahwa berobat dibolehkan menurut kesepakatan para ulama. Seorang muslim jika sakit hendaklah berusaha mendatangi dokter yang ahli, baik penyakit dalam, pembedahan, saraf, maupun penyakit luar untuk diperiksa apa penyakit yang dideritanya. Kemudian diobati sesuai dengan obat-obat yang dibolehkan oleh syara’, sebagaimana yang dikenal dalam ilmu kedokteran. Dilihat dari segi sebab dan akibat yang biasa berlaku, hal ini tidak bertentangan dengan ajaran tawakkal kepada Allah dalam Islam. Karena Allah Ta’ala telah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya. Ada di antaranya yang sudah diketahui oleh manusia dan ada yang belum diketahui. Akan tetapi Allah Ta’ala tidak menjadikan penyembuhannya dari sesuatu yang telah diharamkan kepada mereka.
    Oleh karena itu tidak dibenarkan bagi orang yang sakit, mendatangi dukun-dukun yang mendakwakan dirinya mengetahui hal-hal ghaib, untuk mengetahui penyakit yang dideritanya. Tidak diperbolehkan pula mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakan, karena sesuatu yang mereka katakan mengenai hal-hal yang ghaib itu  hanya didasarkan atas perkiraan belaka, atau dengan cara mendatangkan jin-jin untuk meminta pertolongan kepada jin-jin tersebut sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Dengan cara demikian dukun-dukun tersebut telah melakukan perbuatan-perbuatan kufur dan sesat.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa mendatangi ‘arraaf’ (tukang ramal) kepadanya, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (HR.Muslim).
    “Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:‘Barangsiapa yang mendatangi kahin (dukun))dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Daud).
    “Dikeluarkan oleh empat Ahlus Sunan dan dishahihkan oleh Al-Hakim dari Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafazh: ‘Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
     “Dari Imran bin Hushain radhiallahu anhu, ia berkata: ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Bukan termasuk golongan kami yang melakukan atau meminta tathayyur (menentukan nasib sial berdasarkan tanda-tanda benda,burung dan lain-lain),yang meramal atau yang meminta diramalkan, yang menyihir atau meminta disihirkan dan barangsiapa mendatangi peramal dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Bazzaar, dengan sanad jayyid).
    Hadits-hadits yang mulia di atas menunjukkan larangan mendatangi peramal, dukun dan sebangsanya, larangan bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang ghaib, larangan mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakan, dan ancaman bagi mereka yang melakukannya.
    Oleh karena itu, kepada para penguasa dan mereka yang mempunyai pengaruh di negerinya masing-masing, wajib mencegah segala bentuk praktek tukang ramal, dukun dan sebangsanya, dan melarang orang-orang mendatangi mereka.
    Kepada yang berwenang supaya melarang mereka melakukan praktek-praktek di pasar-pasar, mall-mall atau di tempat-tempat lainnya, dan secara tegas menolak segala yang mereka lakukan. Dan hendaknya tidak tertipu oleh pengakuan segelintir orang tentang kebenaran apa yang mereka lakukan. Karena orang-orang tersebut tidak mengetahui perkara yang dilakukan oleh dukun-dukun tersebut, bahkan kebanyakan mereka adalah orang-orang awam yang tidak mengerti hukum, dan larangan terhadap perbuatan yang mereka lakukan.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang umatnya mendatangi para peramal, dukun dan tukang tenung. Melarang bertanya serta membenarkan apa yang mereka katakan. Karena hal itu mengandung kemungkaran dan bahaya besar, juga berakibat negatif yang sangat besar pula. Sebab mereka itu adalah orang-orang yang melakukan dusta dan dosa.
    Hadits-hadits Rasulullah  tersebut di atas membuktikan tentang kekufuran para dukun dan peramal. Karena mereka mengaku mengetahui hal-hal yang ghaib, dan mereka tidak akan sampai pada maksud yang diinginkan melainkan dengan cara berbakti, tunduk, taat, dan menyembah jin-jin. Padahal ini merupakan perbuatan kufur dan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang membenarkan mereka atas pengakuannya mengetahui hal-hal yang ghaib dan mereka meyakininya, maka hukumnya sama seperti mereka. Dan setiap orang yang menerima perkara ini dari orang yang melakukannya, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari mereka.
    Seorang muslim tidak boleh tunduk dan percaya terhadap dugaan dan sangkaan bahwa cara seperti yang dilakukan itu sebagai suatu cara pengobatan, semisal tulisan-tulisan azimat yang mereka buat, atau menuangkan cairan timah, dan lain-lain cerita bohong yang mereka lakukan.
    Semua ini adalah praktek-praktek perdukunan dan penipuan terhadap manusia, maka barangsiapa yang rela menerima praktek-praktek tersebut tanpa menunjukkan sikap penolakannya, sesungguhnya ia telah menolong dalam perbuatan bathildan kufur.
    Oleh karena itu tidak dibenarkan seorang muslim pergi kepada para dukun, tukang tenung, tukang sihir dan semisalnya, lalu menanyakan kepada mereka hal-hal yang berhubungan dengan jodoh, pernikahan anak atau saudaranya, atau yang menyangkut hubungan suami istri dan keluarga, tentang cinta, kesetiaan, perselisihan atau perpecahan yang terjadi dan lain sebagainya. Sebab semua itu berhubungan dengan hal-hal ghaib yang tidak diketahui hakikatnya oleh siapa pun kecuali oleh Allah Subhanahhu wa Ta’ala.
    Sihir sebagai salah satu perbuatan kufur yang diharamkan oleh Allah, dijelaskan di dalam surat Al-Baqarah ayat 102 tentang kisah dua Malaikat:Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syetan-syetan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir  kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan:”Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarkan ayat (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di Akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 102)
    Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa orang-orang yang mempelajari ilmu sihir, sesungguhnya mereka mempelajari hal-hal yang hanya mendatangkan mudharat bagi diri mereka sendiri, dan tidak pula mendatangkan sesuatu kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan ancaman berat yang menunjukkan betapa besar kerugian yang diderita oleh mereka di dunia ini dan di Akhirat nanti. Mereka sesungguhnya telah memperjualbelikan diri mereka dengan harga yang sangat murah, itulah sebabnya Allah berfirman: “Dan alangkah buruknya perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir itu, seandainya mereka mengetahui.”
    Kita memohon kepada Allah kesejahteraan dan keselamatan dari kejahatan sihir dan semua jenis praktek perdukunan serta tukang sihir dan tukang ramal. Kita memohon pula kepadaNya agar kaum muslimin terpelihara dari kejahatan mereka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pertolongan kepada kaum muslimin agar senantiasa berhati-hati terhadap mereka, dan melaksanakan hukum Allah dengan segala sangsi-sangsinya kepada mereka, sehingga manusia menjadi aman dari kejahatan dan segala praktek keji yang mereka lakukan. Sungguh Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia ! (Risalah Sihir dan Perdukunan Syeikh bin Baz)

     

     
  • tituitcom 01.24 on 8 August 2012 Permalink  

    keutamaan doa 

    keutamaan doa[1]
    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
    “Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan kabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.'”[2]
    وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia memohon kepada-Ku. Karena itu, hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada di atas kebenaran. “[3]
    Nabi صلي الله عليه وسلمbersabda:
    الدُّعَاءُ هُوَالعِبَادَةُ، قَلَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
    “Doa adalah ibadah. Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan”[4]
    اِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَيْ حَيِيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِيْ مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّ هُمَاصِفْرًا
    “Sungguh, Rabb kalian Tabaraka wa ta ‘ala Maha Pemalu dan Mahamulia. Dia malu kepada hamba-Nya jika ia mengangkat kedua tangannya (berdoa) kepada-Nya, lalu membiarkan tanpa memberinya. “[5]
    مَامِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ اللهَ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيْعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَيْ ثَلاَثٍ: إِمَّاأَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَالَهُ فِيْ اللآخِرَةِ وَإِمَّ أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِسْلِهَا. قَالُوْا: إِذًا نُكْثِرَ. قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ.
    “Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah yang di dalammya tidak ada unsur dosa dan pemutusan hubungan keluarga kecuali Allah pasti memberikan salah satu di antara tiga hal ini: doanya segera dikabulkan, Dia menyimpannya di akhirat untuknya, atau Dia menghindarkan orang tersebut dari kejelekan yang sebanding. ” Mereka berkata, “Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa.” Beliau bersabda, “Allah lebih banyak (mengabulkan). “[6]
    adab-adab dan sebab-sebab terkabulnya doa
    1.      Ikhlas untuk Allah semata.
    2.      Memulai dan menutup doa dengan memuji Allah, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama.
    3.      Mantab dalam berdoa dan yakin akan dikabulkan.
    4.      Sungguh-sungguh dan terus-menerus dalam berdoa serta tidak tergesa-gesa
    5.      Menghadirkan hati dalam berdoa
    6.      Berdoa dalam keadaan suka maupun duka.
    7.      Hanya meminta kepada Allah.
    8.      Tidak mendoakan kejelekan untuk keluarga, harta, anak, dan jiwa.
    9.      Merendahkan suara ketika berdoa, yakni tengah-tengah antara pelan dan keras.
    10.  Mengakui dosa, lalu memohon ampunan dan mengakui nikmat, lalu bersyukur kepada Allah.
    11.  Tidak bersajak dalam mengucapkan doa.
    12.  Merendahkan diri, khusyu’, penuh harap, dan takut.
    13.  Mengembalikan setiap hal yang diambil secara zhalim kepada yang berhak dengan disertai taubat.
    14.  Mengucapkan doa tiga kali.
    15.  Menghadap kiblat.
    16.  Mengangkat dua tangan ketika berdoa.
    17.  Berwudhu sebelum berdoa jika mudah dilakukan.
    18.  Tidak melampaui batas dalam berdoa.
    19.  Memulai doa untuk dirinya sendiri lebih dahulu jika berdoa untuk orang lain.[7]
    20.  Bertawassul kepada Allah dengan menggunakan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang mulia, atau dengan amal shalih yang pernah ia kerjakan, atau dengan cara minta didoakan oleh orang shalih yang masih hidup dan ada bersamanya.
    21.  Hendaknya makanan, minuman, dan pakaiannya berasal dari hasil yang halal.
    22.  Tidak berdoa untuk melakukan perbuatan dosa atau memutus tali silaturrahim.
    23.  Menyuruh perkara yang baik dan mencegah perbuatan yang mungkar.
    24.  Menjauhkan diri dari segala bentuk kemaksiatan.


    [1]     Dikutip dari: Sembuh dan Sehat Cara Nabi صلي الله عليه وسلم Karya: Syaikh Dr. Sa’id bi Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan: Maktabah Al-Hanif
    [2]     Surat Ghafir (al-Mu’min): 60
    [3]    Surat al-Baqarah: 186.
    [4]    Abu Dawud: 5/211 dan Ibnu Majah: 2/1258. Lihat: Shahih al-Jami’ish-Shaghir. 3/150 dan ShahihIbni Majah: 2/324.
    [5]    Ditakhrij (dikeluarkan) oleh Abu Dawud: 2/78, at-Tirmidzi: 5/557, dan Ibnu Majah: 2/1271. Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya bagus.” Lihat: Shahih at-Tirmidzi: 3/ 179
    [6]    At-Tirmidzi: 5/566, 5/462 dan Ahmad: 3/18. Lihat: Shahih al-Jami’: 5/116 dan Shahih at-Tirmidzi: 3/ 140
    [7]     Terdapat riwayat dari Nabi صلي الله عليه وسلم bahwa beliau memulai doa untuk dirinya sendiri, tetapi juga ada riwayat dari beliau bahwa beliau tidak memulai berdoa untuk dirinya lebih dahulu, seperti doa beliau untuk Anas, Ibnu ‘Abbas, Ummu Ismail, dan lain-lain. Lihat masalah ini secara rinci dalam Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi: 15/144, Tuhfatul-Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi: 9/ 328, dan al-Bukhari dalam Fathul-Bari: 1/218.
     
  • tituitcom 01.09 on 8 August 2012 Permalink  

    PEMBATAL PUASA DI ZAMAN MODERN 8 

    8. التبرّع بالدم (Donor Darah)
    Yaitu mengeluarkan sebagian darahnya untuk diberikan kepada orang lain yang membutuhkan. Masalah ini belum pernah dibahas oleh para ulama terdahulu. Hanya saja, para ulama kontemporer menyamakan/meng-qiyas-kan donor darah dengan masalah bekam/cantuk (pengobatan dengan cara mengeluarkan sebagian darah kotor), yang keduanya sama-sama mengeluarkan darah. Oleh sebab itu, sebelum menentukan hukum donor darah bagi orang yang berpuasa, perlu dijelaskan hukum bekam bagi orang berpuasa.
    Hukum bekam ketika berpuasa
    Para ulama berbeda pendapat tentang pembekaman, termasuk membatalkan puasa ataukah tidak.
    Pendapat pertama. Mereka mengatakan bahwa bekam membatalkan puasa. Ini adalah madzhab Hambali, Ishaq, Ibnul Mundzir, dan mayoritas fuqaha (ahli fikih),1 dan dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, dan juga Ibnu Utsaimin dalam fatwanya.
    Dalil mereka:
    *   Menurut mereka bekam adalah salah satu hal yang dapat membatalkan puasa.
    عَنْ رَافِعِ بْنِ خَادِجٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ : أَفْطَرَ الحَاجِمُ وَ المَحْجُوْمُ
    Dari Rafi’ bin Khadij رضي الله عنه berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: ”Berbuka (batal puasa) orang yang membekam dan dibekam.”2
    Pendapat kedua. Menurut pendapat kedua, bekam tidak membatalkan puasa. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama secara umum, baik dari kalangan ulama salaf (terdahulu), maupun khalaf (ulama masa kini).3
    Dalil mereka:
    *   Menurut mereka ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم pernah berbekam sedangkan beliau sedang dalam keadaan puasa, sebagaimana dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما beliau berkata:
    احْتَجَمَ رَسُوْلُ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ وَ هُوَ صَائِمٌ
    “Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah berbekam sedangkan beliau berpuasa.”4
    Pendapat yang kuat. Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, yaitu berbekam tidak membatalkan puasa, dengan alasan dalil yang tersebut di atas; dan dikuatkan oleh beberapa hal di antaranya:
    *   Hadits Ibnu Abbas رضي الله عنهما yang menyatakan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم berbekam dalam keadaan puasa adalah me-nasakh (menghapus) hadits yang mengatakan batalnya puasa seorang yang berbekam dan yang dibekam. Hal ini dibuktikan bahwa Abu Sa’id al Khudri رضي الله عنه mengatakan:
    رَخَّصَ رَسُوْلُ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ لِاصَّائِمِ فِي الحِجَامَةِ
    “Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberi rukhshah (keringanan) bagi orang yang berpuasa untuk berbekam.”5
    Berkata Ibnu Hazm رحمه الله: “Perkataan Nabi صلى الله عليه وسلم ‘memberi rukhshah’ tidak lain menunjukkan arti larangan sebelum datangnya rukhshah (sehingga asalnya dilarang, lalu diizinkan). Oleh karenanya, benarlah perkataan/pendapat bahwa ini (hadits Ibnu Abbas رضي الله عنهما) me-nasakh hadits yang pertama.” (al Muhalla 6/204)
    * Pendapat ini diperkuat dengan adanya hadits-hadits lain yang mengisyaratkan bahwa hadits Rafi’ bin Khadij رضي الله عنه dihapus, seperti:
    عَنْ ثَابِتٍ البُنَّانِي قَالَ سُئِلَ أَنَسٌ بْنُ مَالِكِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كُنْتُمْ تَكْرَهُوْنَ الحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ عَلَي عَهْدِ رَسُوْلِ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ؟ قَالَ لاَ إِلَّا مِنْ أَجْلِ الضَّعْفِ
    “Dari Tsabit al Bunani beliau berkata: Telah ditanya Anas bin Malik رضي الله عنه: “Apakah kalian (para sahabat) di zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم membenci bekam bagi orang yang berpuasa?” Beliau menjawab: “Tidak (kami tidak membencinya), kecuali kalau menjadi lemah (karena bekam).”6
    Dari penjelasan di atas, menjadi jelas bahwa donor darah tidak membatalkan puasa, karena di-qiyas-kan kepada masalah bekam menurut pendapat yang kuat adalah tidak membatalkan puasa.
    Demikianlah, pembahasan singkat tentang pembatal-pembatal puasa di zaman modern ini. Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus dan selalu memberikan petunjuk-Nya, sehingga kita dapat menaati-Nya dalam setiap perintah-Nya; demikian juga dalam kewajiban berpuasa, sehingga kita berhak memasuki pintu surga yang bernama ar Rayyan. Amiin.


    1.      Lihat al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab 6/349.
    2.      HR. Tirmidzi: 774, Ahmad 3/465, Ibnu Khuzaimah: 1964, Ibnu Hibban: 3535; hadits ini telah dishahihkan oleh imam Ahmad, imam Bukhari, Ibnul Madini (lihat al Istidzkar 10/122). Demikian juga al Albani menshahihkannya dalam Irwa’ul Ghalil: 931, Misykatul Mashabih: 2012, dan Shahih Ibnu Khuzaimah: 1983.
    3.      Lihat al Fatawa al Hindiyyah 1/199, Bidayatul Mujtahid 1/281, dan al Majmu’ 6/349.
    4.      HR. Bukhari:1838,1939, Muslim: 1202.
    5.      HR. Nasa-i 3/432, Daruquthni 2/182, Baihaqi 4/264; Daruquthni mengatakan seluruh perawinya terpercaya, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Shahih Ibnu Khuzaimah: 1969
    6.      HR. Bukhari 4/174; lihat Fathul Bari dalam penjelasan hadits ini, dan juga perkataan al Albani رحمه الله yang menguatkan masalah ini dalah Misykatul Mashabih: 2016

     
  • tituitcom 01.03 on 8 August 2012 Permalink  

    PEMBATAL PUASA DI ZAMAN MODERN 4 

    4. قطرة الأنف (Obat Tetes Hidung)
    Hidung adalah saluran (jalan) yang sangat berkaitan erat dengan tenggorokan dan dapat mengantarkan sesuatu yang masuk melalui hidung menuju tenggorokan, diteruskan ke dalam rongga manusia, sebagaimana telah diketahui dengan kenyataan dan juga dengan dalil syar’i, sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
    وَ بَالِغْ فِي الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ اَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا
    “Hiruplah air dalam-dalam ke hidung kecuali kalau engkau berpuasa”1
    Hukumnya?
    Para ulama berbeda pendapat dalam penggunaan tetes hidung ketika sedang berpuasa.
    Pendapat pertama. Mereka mengatakan tidak membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Syaikh Haitsam al Khayyath dan ‘Ajil an Nasyami.2
    Dalil mereka:
    *   Menurut mereka bahwa tetes hidung yang masuk ke dalam rongga sangat sedikit, dan cairan yang sangat sedikit itu kalau dibandingkan dengan bekas berkumur ketika wudhu masih jauh lebih sedikit; padahal seorang yang berkumur ketika berwudhu bisa dipastikan ada sisa-sisa airnya masuk ke rongganya dan sudah dimaklumi bersama bahwa puasanya tidak batal.
    *   Tetes hidung walaupun masuk ke dalam rongga manusia tetapi dia tidak berfungsi sebagai pengganti makan dan minum.
    Pendapat kedua. Mereka mengatakan bahwa tetes hidung membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Syaikh Bin Baz,3 Ibnu Utsaimin,4 Muhammad as Salami, dan DR. Muhammad al Alfi.5
    Pendapat yang kuat. Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, yaitu tetes hidung yang sampai masuk ke dalam rongga membatalkan puasa. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hal, diantaranya:
    *   Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang telah lalu:
    وَ بَالِغْ فِي الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ اَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا
    “Hiruplah air dalam-dalam ke hidung kecuali kalau engkau berpuasa”
    Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang orang yang berpuasa untuk terlalu dalam ketika menghirup air ke hidungnya. Tidaklah kita mengetahui hikmahnya melainkan bahwa dikhawatirkan (apabila terlalu kuat menghirup air ke dalam hidung) air akan masuk ke dalam rongga sehingga membatalkan puasa, lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarangnya, dan sudah kita maklumi bersama bahwa air yang masuk ke hidung ketika berwudhu (ber-istinsyaq) tidak akan menggantikan makan dan minum.6
    *   Hidung adalah saluran yang berkaitan sangat erat dengan mulut dan keduanya adalah jalan (saluran) menuju rongga manusia; ini terbukti dengan kenyataan, berbeda dengan mata. Oleh karena itu, suatu ketika seorang yang tersedak akan keluar makanan dan minuman dari mulut dan hidungnya. Begitu juga kita menjumpai suatu ketika ada seorang muntah dari mulut dan hidungnya secara bersama-sama.
    *   Bahkan akhir-akhir ini telah digunakan cara memasukkan cairan pengganti makanan dan minuman melalui hidung bagi orang yang sedang mengalami gangguan pada mulutnya (NGT = Nasogastric Tube, selang untuk memasukkan makanan dan minuman dari hidung dan terhubung sampai ke lambung -admin). Wallahu a’lam.


    1.      HR. Tirmidzi: 27, Abu Dawud: 2366, Ibnu Majah: 407, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 935
    2.      Lihat majalah al Majma’ thn. ke-10, juz 2, hal. 385 dan 399.
    3.      Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 15/261.
    4.      Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 19/206.
    5.      Lihat majalah al Majma’ thn. ke-10, juz 2, hal. 81.
    6.      Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 15/280.
     
  • tituitcom 01.00 on 8 August 2012 Permalink  

    PEMBATAL PUASA DI ZAMAN MODERN 2 


    2. الإبر العلاجيّة (Jarum Suntik/Injeksi)

     Yaitu penggunaan obat yang dimasukkan dengan jarum dan disuntikkan kepada bagian tubuh seperti paha dan semisalnya.
    Hukumnya?
    Apabila jarum suntik tidak berfungsi sebagai pengganti makan atau minum, maka para ulama kontemporer mengatakan bahwa jarum suntik tidak membatalkan puasa. Sebagaimana pendapat Syaikh Bin Baz,1 Ibnu Utsaimin,2 Ibnu Bakhith,3 Muhammad Saltut,4 DR. Fadhl Hasan Abbas,5 dan keputusan Majma’ al Fiqhi,6 dan tidak diketahui perbedaan pendapat dalam masalah ini.7
    Dalil mereka:
    *   Menurut mereka, jarum suntik yang tidak berfungsi sebagai pengganti makanan dan minuman adalah sekedar memasukkan obat ke aliran darah dan tidak sampai ke rongga manusia. Sehingga tidak dapat dikatakan sebagai makanan dan minuman, dan tidak dapat dikatakan sebagai pengganti keduanya, juga tidak semakna dengan makanan dan minuman; bahkan tidak termasuk ke dalam semua kaidah pembatal puasa.
    *   Asal hukum puasa adalah sah (tidak batal), kecuali ada pembatal yang jelas dengan dalil yang jelas pula, dan dalam hal ini tidak ada dalil bahwa sekedar penggunaan jarum suntik membatalkan puasa.


    1.      Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 15/257.
    2.      Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 19/220-221.
    3.      Lihat ad Din al Khalish oleh as Subki 8/457.
    4.      Lihat al Fatawa hal. 136.
    5.      Lihat at Tibyan wal Ithaf hal. 109.
    6.      Lihat majalah al Majma’ thn. ke-10, juz 2, hal. 464.
    7.      Lihat Mufaththirat ash Shaum al Mu’ashirah hal. 65.

     
  • tituitcom 00.58 on 8 August 2012 Permalink  

    PEMBATAL PUASA DI ZAMAN MODERN 

    1. بخاخ الربو (Bronkodilator)
    Yaitu sebuah alat yang berisikan obat pembuka saluran bronki yang menyempit oleh denyutan, yang disemprotkan ke mulut untuk mengobati atau meredakan penyakit sejenis asma/sesak napas.1
    Alat ini mengandung beberapa unsur di dalamnya, antara lain: air, oksigen, dan bahan-bahan kimia lainnya.
    Hukumnya?
    Para ulama berbeda pendapat tentang alat ini menjadi dua pendapat:
    Pendapat pertama. Mereka mengatakan bahwa alat ini tidak membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Syaikh Bin Baz,2 Ibnu Utsaimin,3 Ibnu Jibrin,4 dan keputusan Lajnah Da’imah.5
    Dalil mereka:
    *   Menurut mereka alat ini tidak membatalkan puasa lantaran bukan termasuk makan dan minum, bahkan unsur yang masuk ke dalam rongga hanya angin saja.
    *   Andaikata kita katakan ada unsur kimia yang masuk ke dalam rongga walaupun sedikit, maka ini hanyalah perkiraan yang belum pasti, dan ini adalah sesuatu yang meragukan. Sedangkan asal hukum puasa adalah sah/tidak batal, sampai ada pembatal yang jelas.
    Pendapat kedua. Mereka mengatakan bahwa alat seperti ini membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Fadhl Hasan Abbas,6 Syaikh Muhammad Mukhtar as Salami, dan para ahli medis di zaman ini.7
    Dalil mereka:
    *   Menggunakan alat ini hampir dipastikan adanya unsur kimia yang masuk ke dalam rongga sehingga membatalkan puasa.
    Pendapat yang kuat. Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama, yaitu alat ini tidak membatalkan puasa, lantaran tidak bisa dipastikan unsur bahan kimia dari alat ini yang masuk ke dalam rongga, sehingga asal hukum puasa adalah sah. Kemudian alat ini di-qiyas-kan dengan siwak yang mempunyai beberapa unsur bahan kimia, yang apabila siwak digunakan, pasti unsur-unsur kimia8 yang berupa angin itu masuk ke rongga, padahal Rasulullah صلى الله عليه وسلم menggunakan siwak walaupun beliau sedang berpuasa.9
    Walaupun demikian, sebaiknya tidak menggunakan alat (bronkodilator) ini ketika berpuasa kecuali terpaksa.10


    1.      Dokter di Rumah Anda hal. 296 pada kolom “Informasi Penting”
    2.      Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 15/265.
    3.      Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 19/209-210.
    4.      Fatawa ash Shiyam hal. 49.
    5.      Fatawa Islamiyyah 2/131.
    6.      At Tibyan wal Ithaf fi Ahkam ash Shiyam wal I’tikaf hal. 115.
    7.      Lihat majalah al Majma’ thn. ke-10, juz 2, hal 65,76,364,dan 378.
    8.      Sebagaimana telah dilakukan penelitian medis terhadap siwak yang mempunyai delapan unsur bahan kimia yang sangat bermanfaat untuk memelihara gigi, gusi, lidah, dan sebagainya (majalah Majma’ al Fiqhi thn ke-10, juz 2, hal. 259).
    9.      Sebagaimana dalam HR. Bukhari dan Fathul Bari 4/158.
    10.  Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 15/265.
     
  • tituitcom 00.55 on 8 August 2012 Permalink  

    KAIDAH-KAIDAH PEMBATAL PUASA 

    KAIDAH-KAIDAH PEMBATAL PUASA
    Para ulama dari berbagai madzhab telah menyebutkan di dalam kitab-kitab fikihnya beberapa hal yang dapat membatalkan puasa yang dapat kita simpulkan dalam beberapa kaidah di antaranya:
    1.      Al Jima’ (الجماع) atau bersetubuh (hubungan intim antara suami dan istri), yaitu memasukkan dzakar (penis) ke dalam farji (kemaluan) wanita. Ini adalah pembatal yang paling besar, serta pelakunya waib membayar kafarat. Hal ini didasari oleh sebuah hadits yang menceritakan seorang laki-laki menyetubuhi istrinya ketika berpuasa kemudian diperintahkan membayar kafarat (HR. Bukhari 11/56, Muslim 1111).
    2.      Ikhrajul Mani (إخراج المني) atau mengeluarkan air mani (sperma) dengan sengaja, seperti onani dan semisalnya, sebagaimana dalam hadits qudsi Allah berfirman:
    يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِيْ
    “Dia (orang yang berpuasa) meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena Aku.” (HR. Bukhari kitab shaum: 3)
    3.      Al Aklu wa asy Syurbu Amdan (الأكل و الشرب عَمْدًا) atau makan dan minum dengan sengaja, yaitu memasukkan sesuatu ke dalam rongga1-nya melalui mulut atau hidung. Adapun makan dan minum termasuk pembatal puasa, maka didasari firman-Nya (yang artinya):

    فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ

    “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam…” (QS. al Baqarah [2] : 187).
    Dan adapun memasukkan sesuatu ke dalam rongganya lewat hidung termasuk juga membatalkan puasa, karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang orang yang berwudhu menghirup air dalam-dalam ke hidungnya. Sabda beliau:
    وَ بَالِغْ فِي الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ اَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا
    “Hiruplah air dalam-dalam ke hidung kecuali kalau engkau berpuasa”2


    1.      Terjadi perselisihan pendapat di kalangan ulama tentang batasan dan definisi “rongga”. Madzhab Hanafi berkata termasuk “rongga” adalah dada, punggung, perut, dua lempeng kiri dan kanan,, dan antara kemaluan dengan dubur (Bada’i ash Shana’i 7/297). Madzhab Maliki mengatakan termasuk “rongga” adalah punggung dan perut (Hasyiyah al Khurasyi 3/50). Madzhab Syafi’i mengatakan termasuk “rongga” ialah mencakup semua yang berongga seperti perut, bagian dalam hidung, bagian dalam tengkorak kepala, bagian dalam kemaluan dan tenggorokan bagian dalam (lihat al Ghurar al Bahiyah 2/213 dan asy Syarh al Kabir oleh ar Rafi’ 3/192-193). Madzhab Hambali mengatakan “rongga” terbatas pada dua hal, yaitu perut dan bagian dalam tengkorak kepala  (lihat al Kafi oleh Ibnu Qudamah 1/352). Adapun pendapat yang kuat dan sesuai dengan dalil adalah “apa saja yang dimasukkan melalui mulut dan hidung baik makanan atau minuman, maka membatalkan puasa; sedangkan apa saja yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia yang tidak melalui mulut dan hidung, maka asal hukumnya tidak membatalkan puasa kecuali apabila berfungsi sebagai makanan atau minuman.” (lihat penjelasannya pada bab berikut, yaitu “Alat-alat modern dan hukumnya untuk orang yang berpuasa”)
    2.      HR. Tirmidzi: 27, Abu Dawud: 2366, Ibnu Majah: 407, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 935

    KAIDAH-KAIDAH PEMBATAL PUASA_Lanjutan

    4.      Maa Kaana fii Ma’na al Akli wa asy Syurbi (ما كان في معني الأكل و الشرب) atau segala sesuatu yang semakna dengan makan dan minum, seperti menggunakan cairan infus yang berfungsi menggantikan makan dan minum, dan semisalnya; hal ini lantaran termasuk memasukkan sesuatu yang sama dengan makanan dan minuman ke dalam rongganya, walaupun tidak melalui mulut dan hidungnya.
    5.      Al Qai-u Amdan (القيء عمدا) atau muntah dengan sengaja. Adapun kalau tidak sengaja, tidak membatalkan puasanya, sebagaimana Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
    مَنْ ذَرَعَهُ قَيْءٌ وَ هُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ فَإِنْ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ
    “Barangsiapa muntah secara tidak sengaja sedangkan dia berpuasa, maka tidak ada qadha baginya; dan barangsiapa menyengaja muntah, maka dia harus meng-qadha-nya.”1 .
    Hadits di atas mengatakan bahwa orang yang muntah dengan sengaja harus meng-qadha puasa. Ini menunjukkan bahwa puasanya tidak sah, sehingga harus di-qadha (diganti).
    6.      Khuruju dammi al haidh wan nifas (خروج دم الحيض و النّفاس) atau keluarnya darah haid dan nifas, sebagaimana hadits Aisyah رضي الله عنها tatkala ditanya tentang masalah haid, beliau mengatakan:
    كَانَ يُصِيْبُنَا ذَالِكَ فَنُئْمَرُ بِقَضَاءِ الصَوْمِ وَ لَمْ نُئْمَرْ ِقَضَاءِ الصَلاَةِ
    “Hal itu (haid) telah kami alami juga, maka kami diperintah meng-qadha puasa dan tidak meng-qadha shalat.” (HR. Bukhari 4/329 dan Muslim; 335).
    Adapun nifas juga termasuk pembatal puasa. Hal ini didasari oleh hadits Ummu Salamah رضي الله عنها dalam riwayat Abu Dawud: 311-312, Tirmidzi: 139, Ibnu Majah: 648, dan telah dishahihkan oleh al Albani.
    Demikianlah kaidah pembatal-pembatal puasa sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah dalam al Qur’an dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam berbagai sabdanya. Adapun masalah-masalah baru yang tidak terdapat dalilnya secara khusus, maka para ulama meng-qiyas-kan (menggabungkan kepada dalil/kaidah di atas kemudian menarik hukumnya) disesuaikan dengan masalah tersebut.


    1.      HR. Tirmidzi 3/79, Abu Dawud 2/310, Ibnu Majah 1/536, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Misykatul Mashahih; 2007, dan lihat Silsilah Shahihah: 923

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal